Filsafat Hidup


“Aku tidak akan menyembah kepada Tuhan yang takut dengan pikiran

manusia.” Ditengah diskusi pelik tentang Manusia-Tuhan-Alam; di

suatu sore menjelang maghrib; begitulah kata-kata yang terbersit.

Ketika aku berkata demikian di depan teman-teman kuliahku,

terperanjat kaget semuanya. Lalu kujelaskan bahwa ini sebuah ucapan

yang sama uniknya yang keluar dari mulut Nietzsche, “God is Dead”.

Sebuah kata-kata radikal yang keluar dari insan yang selalu

disudutkan sebagai makhluk pesakitan yang terjebak dalam kecipak

kubangan filsafat. Segitu mengerikannya filsafat. Sebegitu

mengerikannya kegiatan berpikir. Lantas kenapa ada pikiran? Tapi,

tetap saja mereka kaget. Dan aku kembali ke posisi semula; merasa

bersalah karena pikiran nylenehku. Dan aku belajar banyak dari

peristiwa itu. Don’t act like philosopher if you can’t act like one.

 

Ya, benar! Seorang filusuf sejati adalah seperti Nabi Muhammad SAW;

yang mengeluarkan sabda tergantung siapa yang diajak berbicara.

Semisal ia takkan bersabda: “Barang siapa ingin mengenal Tuhannya,

maka kenalilah dirimu sendiri” kepada sembarang orang. Nabi SAW

memilih Ali bin Abi Thalib yang menerima sabdanya pertama kali.

Karena tahu bahwa Ali bisa memahami apa yang dimaksud. Nabi SAW tak

mungkin akan bersabda sedemikian tingginya jika tidak ke sahabat

pilihannya itu. So, pleasseee deh, Ai! Don’t act like philosopher if

you can’t act like one, okay??

 

### *** ###

 

Ketika mendengar kata “Filsafat”, apa yang ada dibenak kebanyakan

orang adalah terlihat sosok tua bangka yang keluarganya sedikit

berantakan lantaran si tua terlalu banyak merenungkan hal-hal yang

tidak perlu direnungkan. Kita akan dihantui oleh rasa mengerikan dan

wasting time ketika “mempelajari” filsafat. Bahkan ada pelarangan

untuk mempelajari filsafat karena bisa menjadi gila jika otak tidak

kuat. Dan untuk apa kita mengambil resiko yang menakutkan ini kalau

sekedar mempelajari sesuatu yang abstarak, yang jauh pada kehidupan

sehari-hari. Padahal sebenarnya, setiap filsafat justru membawa kita

kedalam kehidupan penuh makna dan setiap waktu perenungan adalah

waktu yang penuh manfaat. Karena hal-hal yang dipertanyakan dalam

filsafat adalah hal yang radix dan comprehensive yaitu mendasar dan

menyeluruh mengenai hal ihwal permasalahan manusia baik semasa hidup

maupun life after life.

 

Ketika beberapa pertanyaan diajukan, seperti “Bagaimana dunia

diciptakan”, “Apakah makna penciptaaan dunia”, “Adakah kehidupan

setelah kematian”, “Siapakah saya”, kita sudah mengajukan pertanyaan-

pertanyaan filosofis dan inilah langkah pertama sekaligus merupakan

cara yang terbaik dalam mendekati filsafat.

 

Filsafat lahir dari rasa keingintahuan manusia. Dan apakah bisa rasa

ini dihilangkan atau dieliminate begitu saja? Jika kita membunuh

rasa keingintahuan, maka kita akan merasa puas dan keenakan dengan

hidup yang penuh misteri; kita akan menganggap biasa ketika dunia

yang indah ini beraksi; kita akan menganggap hidup ini sebagai hal

yang biasa saja dan tidak lagi merasa heran jika muncul hal-hal baru

di jagad raya ini. Tidak hanya itu saja. Ketika rasa keingintahuan

seseorang dibunuh, itu sama halnya juga membunuh kekreatifitasan

diri. Matinya kreatifitas diri akan membat seseorang nampak monoton

seperti robot yang hanya hidup untuk menjalankan rutinitas harian.

Sebenarnya, filsafat (dari kitab Ta’rifat, karya Sayyid Syarif Al

Jurjani) adalah daya upaya menyerupai Tuhan dengan kemampuan manusia

yang sekadarnya untuk mencapai kebahagiaan yang langgeng sebagaimana

diperintahkan oleh yang mempunyai kebenaran, dalam

sabdanya: “Pakailah budi pekerti Allah”; yaitu tirulah yang serupa

itu dalam menangkap wujud isi pengetahuan terlepas dari

keberadaannya.

Selama beberapa halaman ini, mungkin akan membuat sebagian

orang masih terheran-heran mengapa filsafat sedemikian rupa masih

dijunjung meski faedahnya tidak seberapa nampak. Karena sesungguhnya

itulah Filsafat sebenarnya, “Keheranan, ketakjuban, keingintahuan”.

Berfilosofis adalah ingin tahu tentang kehidupan, tentang yang benar

dan yang salah, tentang kebebasan, kebenaran, keindahan, ruang dan

waktu, dan ribuan hal  yang lainnya. Berfilosofis adalah

mengeksplorasi kehidupan, yang maksudnya adalah memecah

ketidakbebasan dengan mempertanyakan banyak hal. Mempertanyakan

pertanyaan yang membingungkan atau bahkan menyakitkan sekalipun.

 

Filsafat laksana mitos. Seperti, once upon a time lives a

tree, named Philosophy. Maksudnya adalah filsafat berasal dari pola

pikir mitologis. Mitos adalah sebuah cerita mengenai dewa-dewa untuk

menjelaskan mengapa kehidupan berjalan seperti adanya; dewa-dewa

tempat mengadukan segala macam pertanyaan-pertanyaan manusia yang

dijawab oleh berbagai agama dan secara turun temurun jawaban ini

diterapkan. Inilah mitos. Dan filsafat terlibat didalamnya.

 

Simply, tujuan filusuf dengan filsafatnya adalah untuk menemukan

bukti-bukti alamiah dan bukannya berbau supernatural dalam berbagai

macam proses alam. Kerja para filusuf ini tidaklah sendirian, karena

mitos kemudian dipertanyakan bahkan cenderung diabaikan oleh para

peminat sains. Karena akhirnya dijawab kalau awan-awan yang

bermuatan positif dan negatif itulah yang menghasilkan gemuruh

gelegar dan kilatan cahaya, dan bukannya Tuhan yang sedang berburu

setan.

 

Karena ulah mitos inilah maka filusuf mulai giat untuk lebih

memahami apa yang terjadi di sekitar mereka tanpa harus kembali pada

mitos-mitos kuno itu. Mereka ingin memahami proses sesungguhnya

dengan menelaah alam itu sendiri. Keinginan ini membuat filusuf

mengambil langkah menuju penalaran ilmiah, yang dinamakan sains.

Sains inilah pedang yang menebas segala mitos yang beredar di

masyarakat. Termasuk menebas kisah Tuhan berburu setan. Akan tetapi

beda sekali antara filusuf dengan ilmuwan. Meski keduanya berada

pada lingkup sains, akan tetapi filusuf bersikap lebih lunak

terhadap mitos. Filusuf mempertanyakan kebenaran mitos (dalam arti

masih membuka kemungkinan untuk mencari kebenaran didalamnya),

sedangkan ilmuwan benar-benar menolak mitos dan mengatai mitos

sebagai cerita bohong.

 

Dilihat dari kisah “munculnya” filsafat saja sudah sebegitu

menarik. Jadi tidaklah mungkin kalau penerapan filsafat dalam

kehidupan sehari-hari akan membuat kehidupan menjadi susah dan

menakutkan. Bahkan, dipercaya bahwa erat kaitannya antara filsafat

dengan kebermaknaan hidup.

 

### *** ###

 

Dipercaya juga bahwa menulis juga erat kaitannya dengan kebermaknaan

hidup. Mungkinkah menulis sebuah filsafat tersendiri? Kebijaksanaan

tersendiri untuk memahami apa arti kehidupan. Apakah arti kematian;

Mengapa kita harus tetap hidup dan mengapa kita memilih untuk mati.

 

Menulis mampu melakukan ini semua jika sistem kerjanya mengalir

begitu saja. Fokus boleh hadir dan dirajut. Tapi biarkan dulu

semuanya keluar dengan jujur. Dan membiarkan diri kita menari-nari

diatas pertanyaan-pertanyaan seputar Manusia, Tuhan dan Alam

Semesta. Kita akan bertanya banyak hal, menjawab sedikit hal dan

kemudian memunculkan banyak pertanyaan. Semuanya takkan pernah

berhenti dan terus berputar; berotasi-evolusi. Percayalah! Menulis

itu selalu to be continued. Meski diakhir tulisan tertera kata THE

END / TAMAT atau berbagai macam simbol seperti *** atau ### atau *

=== *, dsb; tetap saja apa yang kita tulis itu to be continued.

Kalau tidak oleh orang lain, ya oleh diri kita sendiri. Mungkin akan

dibantah, ditambahi, didukung atau dibantai. Yah! Terserah! Yang

penting, akan selalu bersambung. Maka itu nasibnya sama dengan

falsafah hidup kita. Dibantah, didukung dan bersambung.

 

Menulis tidak mengkhawatirkan apakah hal yang ingin ditulis. Sama

halnya dengan ucapan “Aku tidak akan menyembah kepada Tuhan yang

takut dengan pikiran manusia.” Tak usah khawatir bahwa ucapan itu

akan dihakimi karena alasan ada di dalam hati. Ah!!! Ini semacam

ujian. Apakah kata-kata diatas adalah kumpulan kata yang tak mampu

dihindari   terelakkan? Dan akankah kalimat nakal diatas akan terus

mengganggu seperti pemikiran Demian yang tertanam perlahan di

Sinclair (dalam novel Hermann Hesse), atau kah hanya akan jadi angin

lalu.

 

Yang manapun itu tidak jadi masalah. Yang penting, aku sudah

merekamnya dalam sebuah tulisan. Kelak, jika kubaca lagi tulisan

ini, aku akan terkenang oleh banyak hal. Sekian??!!??

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s