Pengaruh Pelatihan Berpikir Positif Terhadap Efikasi Diri Akademik Mahasiswa


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang Masalah

Pengembangan diri individu dalam pendidikan menjadi suatu alternatif mempersiapkan individu menghadapi persaingan global yang menuntut adanya penguasaan terhadap kemampuan tertentu. Sejalan dengan itu, pendidikan selalu menyesuaikan dengan kemajuan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan serta teknologi, sehingga lulusannya mampu bersaing di kancah global. Hal ini secara tidak langsung mensyaratkan individu untuk lebih mengembangkan kemampuannya, agar pencapaian prestasi akademik dapat optimal. Untuk itu, individu sebagai mahasiswa selayaknya memiliki efikasi diri akademik yang tinggi dalam pencapaian prestasi akademik, terutama mahasiswa tahun pertama yang baru saja mengalami peralihan dari SMA. Efikasi diri akademik dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu untuk melakukan tugas akademik yang diberikan dan menandakan level kemampuan dirinya (Baron & Byrne, 2003, h. 183).

Park dan Kim (2006, h. 276) menyebutkan efikasi diri sangat penting bagi pelajar untuk mengontrol motivasi mencapai harapan-harapan akademik. Penelitian Nugroho (2007, h. 16) juga menyimpulkan mahasiswa dengan efikasi diri yang tinggi memiliki prestasi akademik yang tinggi. Efikasi diri akademik jika disertai dengan tujuan-tujuan yang spesifik dan pemahaman mengenai prestasi akademik, maka akan menjadi penentu suksesnya akademik (Bandura, dalam Alwisol, 2004, h. 363). Pemahaman ini menggambarkan bahwa efikasi diri akademik dapat menjadi suatu sumber daya yang sangat penting bagi pengembangan diri melalui pilihan aktivitas mahasiswa (Schunk, dalam Santrock, 2008, h. 532).

Peneliti dalam survey awal terhadap empat mahasiswa tahun pertama menemukan beberapa indikator yang melemahkan efikasi diri akademik, diantaranya keraguan terhadap kemampuan mengerjakan tugas, kemampuan untuk berhasil dalam kuliah, dan rendahnya motivasi belajar. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa subjek merasa cemas terhadap kemampuan akademiknya dan cita-citanya dapat tercapai.  Efikasi diri akademik berhubungan dengan cara berpikir individu dalam menghadapi masalah dan arah berpikir individu dalam memandang masalah, secara optimis atau pesimis, karena nantinya menentukan cara menghadapi hambatan akademik akan dihadapi (Bandura, dalam Pervin & John, 2001, h. 407). Efikasi diri akademik yang rendah mengindikasikan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan-kesulitan akademik dan individu dengan efikasi diri yang tinggi akan bertahan dalam menghadapi kesulitan, dan mencoba mengatasinya hingga tuntas.

Salah satu upaya meningkatkan efikasi diri akademik adalah melalui pelatihan (Sdorow, 1990, h. 461). Ellis (dalam Corey, 2007, h. 243) menambahkan seseorang mampu memodifikasi keyakinan-keyakinannya dengan melatih kemampuan berpikirnya. Cara dan pola berpikir seseorang mempengaruhi perilaku dan perasaan yang akan dimunculkan dalam situasi spesifik (Hayes & Rogers, 2008, h. 32). Bandura (dalam Santrock, 2003, h. 567) menambahkan bahwa sikap optimis memberikan perasaan dapat mengendalikan lingkungan.

Penelitian Loehr (dalam Santrock, 2003, h. 567) menunjukkan suasana hati negatif memungkinkan untuk marah, merasa bersalah, dan memperbesar kesalahan yang telah terjadi. Berpikir positif berkaitan dengan hidup positif yang berorientasi pada keyakinan dan bermanfaat bagi kesehatan serta coping stres yang adaptif. Hal ini yang menjelaskan bahwa dengan berpikir positif, seseorang mampu bertahan pada situasi yang penuh stres (Brissette, dkk, dalam Kivimaki, dkk, 2005, h. 413).  Jadi, pola berpikir positif memungkinkan mahasiswa untuk mampu menghadapi tantangan dan tugas akademik dengan optimal.

Berdasarkan paparan mengenai hubungan erat antara efikasi diri akademik dan berpikir positif di atas, peneliti melihat pentingnya pengembangan model pelatihan berpikir positif untuk meningkatkan efikasi diri akademik. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan model berpikir positif Elfiky (2008) yang dikolaborasikan dengan beberapa pendekatan psikologi lainnya, diantaranya afirmasi, visualisasi, relaksasi, dan penentuan tujuan. Pendekatan berpikir positif pada dasarnya tidak hanya sebatas ranah kognitif. Elfiky (2008, h. 269) menyebutkan saat seseorang berpikir, informasi yang dipikirkannya akan dimaknai dan pada akhirnya memanifestasikan perasaan tertentu. Oleh sebab itu, berpikir positif pada hakikatnya juga berkaitan erat dengan emosi, sehimgga Elfiky dalam pendekatannya selalu memasukkan perasaan dalam rangkaian proses berpikir.

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti ingin mengkaji secara empiris pengaruh pelatihan berpikir positif terhadap efikasi diri akademik mahasiswa tahun pertama.

  1. B. Rumusan Masalah

Permasalahan dalam penelitian ini adalah adakah pengaruh pemberian pelatihan berpikir positif terhadap efikasi diri akademik pada mahasiswa Universitas Diponegoro? Adakah perbedaan efikasi diri akademik pada mahasiswa Universitas Diponegoro yang diberi pelatihan berpikir positif dan yang tidak mendapatkannya?

  1. C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui  melihat secara empiris pengaruh pemberian pelatihan berpikir positif terhadap efikasi diri akademik mahasiswa Universitas Diponegoro.

  1. D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penelitian di bidang psikologi terutama berkaitan dengan psikologi positif terkhusus pada topik pola berpikir positif dan efikasi diri akademik. Selain itu, diharapkan penelitian ini juga dapat menjadi bahan pertimbangan bagi penelitian-penelitian selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang manfaat berpikir positif bagi kehidupan terutama berkaitan dengan efikasi diri akademik pada mahasiswa, terkhusus mahasiswa Universitas Diponegoro.

BAB II

LANDASAN TEORETIS

  1. A. Efikasi Diri Akademik
  2. 1. Definisi Efikasi Diri Akademik

Efikasi diri dapat diartikan sebagai keyakinan manusia akan kemampuan dirinya untuk melatih sejumlah ukuran pengendalian terhadap fungsi diri mereka dan kejadian di lingkungannya (Bandura, dalam Feist & Feist, 2006, h. 415). Efikasi diri akademik merupakan keyakinan seseorang tentang kemampuan atau kompetensinya untuk mengarahkan motivasi, kemampuan kognisi, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi tantangan akademik.

2. Aspek-aspek efikasi diri akademik

Menurut Bandura (1997, h.42) efikasi diri individu terdiri atas tiga aspek, yaitu level, generality, dan strength, maka aspek-aspek efikasi diri akademik mengacu pada tiga aspek tersebut.

3. Proses-proses yang mengiringi efikasi diri akademik

Bandura (1997, h. 116-159) menyebutkan empat proses yang mengiringi efikasi diri, termasuk efikasi diri akademik, yaitu proses kognitif, motivasi, afeksi, dan seleksi.

 

 

 

4. Sumber-sumber efikasi diri akademik

Bandura (dalam Feist & Feist, 2006, h. 416-418) efikasi diri akademik dibentuk, dikembangkan, atau diturunkan melalui satu atau kombinasi dari keempat sumber, yaitu pengalaman-pengalaman tentang penguasaan, pemodelan sosial, persuasi sosial, dan kondisi fisik serta emosional individu.

  1. B. Pelatihan Berpikir Positif
  2. 1. Definisi Berpikir Positif

Elfiky menyebutkan bahwa proses berpikir berkaitan erat dengan konsentrasi, perasaan, sikap, dan perilaku. Berpikir positif dapat dideskripsikan sebagai suatu cara berpikir yang lebih menekankan pada sudut pandang dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi (Elfiky, 2008, h. 269). Pelatihan berpikir positif dapat diidentifikasikan sebagai pelatihan yang menekankan suatu cara berpikir yang lebih menekankan pada sudut pandang dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi.

  1. 2. Manfaat Berpikir Positif

Penelitian Herabadi (2007, h. 23) membuktikan adanya hubungan kebiasaan berpikir secara negatif dengan rendahnya harga diri. Selain itu, Fordyce (dalam Seligman, dkk, 2005, h. 419) juga menemukan bahwa kondisi psikologis yang positif pada diri individu dapat meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan beragam masalah dan tugas. Berpikir positif juga membantu seseorang dalam memberikan sugesti positif pada diri saat menghadapi kegagalan, saat berperilaku tertentu, dan membangkitkan motivasi (Hill & Ritt, 2004, h. 175).

3. Ciri-ciri individu yang berpikir positif

Individu yang cenderung berpikir positif dapat dideteksi melalui beberapa kriteria, yaitu percaya pada kuasa Tuhan Yang Maha Esa, selalu menjauh dari perilaku negatif, memiliki cara pandang dan tujuan yang jelas, memiliki keyakinan yang positif, mencari jalan keluar berbagai masalah yang dihadapi, belajar dari masalah, tidak membiarkan masalah mempengaruhi hidupnya, memiliki rasa percaya diri, menyukai perubahan, dan berani menghadapi tantangan, dan pandai bergaul dan suka membantu orang lain.

  1. 4. Pelatihan berpikir positif

Pelatihan berpikir positif dalam penelitian ini dikembangkan dari model pendekatan berpikir positif Elfiky (2008) yang dikombinasikan dengan beberapa pendekatan psikologi, yaitu anchor, relaksasi, visualisasi, dan afirmasi. Pelatihan berpikir positif didasarkan pada asumsi bahwa manusia memiliki kesanggupan untuk berpikir, maka manusia mampu untuk melatih dirinya sendiri untuk mengubah atau menghapus keyakinan yang merusak dirinya sendiri (Ellis, dalam Corey, 2007, h. 243).

  1. 5. Komponen-komponen pelatihan berpikir positif

Pelaksanaan pelatihan ini terdiri dari tiga kali pertemuan. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan efikasi diri akademik mahasiswa. Pelatihan berpikir positif juga tidak hanya sekedar menekankan pada level kognitif saja, tetapi juga pada level emosi, dimana menurut Elfiky level kognitif individu selalu berkaitan secara simultan terhadap level emosional individu tersebut. Setiap sesi dalam tiap pertemuan memiliki tujuan terhadap sumber-sumber efikasi diri akademik mahasiswa (dalam Feist & Feist, 2006, h. 416-418).

  1. C. Pengaruh Berpikir Positif Terhadap Efikasi Diri Akademik Mahasiswa

Manusia dalam setiap aspek kehidupan tidak lepas dari proses berpikir dan merasakan. Setiap kali berpikir, individu membentuk keyakinan dan prinsip dalam dirinya. Kemudian keyakinan membentuk perasaan terhadap keyakinan itu.  Untuk itu, pendekatan berpikir positif selayaknya juga mencakup level emosional seseorang selain mencakup level kognitif.  Berpikir positif membantu mahasiswa mampu untuk mengarahkan motivasi, kemampuan kognisi, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi tantangan akademik dengan optimal. Dengan mengubah cara berpikirnya menjadi positif, efikasi diri akademik dapat ditingkatkan, karena berpikir positif membuat individu cenderung berperasaan positif serta memandang tujuan akademik tertentu dapat diraihnya apabila mau mengarahkan dan memotivasi dirinya sendiri untuk mencapai harapan akademiknya, sehingga efikasi diri akademiknya menjadi tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

  1. D. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengajukan dua hipotesis penelitian, yaitu:

  1. Ada perbedaan efikasi diri akademik pada kelompok yang mendapat pelatihan berpikir positif antara sebelum dan sesudah perlakuan.
  2. Ada perbedaan efikasi diri akademik antara kelompok yang mendapat pelatihan berpikir positif dengan kelompok yang tidak mendapatkan pelatihan berpikir positif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Variabel tergantung    :    Efikasi Diri Akademik.
  2. Variabel bebas            :    Pelatihan Berpikir Positif.

B. Definisi Operasional

1. Efikasi diri akademik

Efikasi diri akademik adalah keyakinan yang dimiliki seseorang tentang kemampuan atau kompetensinya untuk mengarahkan motivasi, kemampuan kognisi, dan mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi tantangan akademik.

  1. 2. Pelatihan berpikir positif

Pelatihan berpikir positif merupakan pelatihan yang menekankan pada cara berpikir yang lebih menekankan pada sudut pandang dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang dihadapi.

C. Subjek penelitian

  1. Mahasiswa Fakultas Psikologi Reguler Satu Universitas Diponegoro Semarang dengan skor efikasi diri akademik yang sedang dan rendah.
  2. Bersedia mengikuti pelatihan berpikir positif selama tiga pertemuan.
  3. Belum pernah mengikuti penelitian skripsi berjudul pengaruh pelatihan berpikir positif terhadap efikasi diri akademik mahasiswa.

D. Desain Eksperimen

KE à X à O2

O1,3 à R

KK à – à O4

Desain eksperimen yang digunakan peneliti adalah Randomized Pre-Post Test Control Group Design (Latipun, 2002, h. 87). Berikut adalah desain penelitiannya.

 

 

Gambar 4.  Desain Eksperimen

Keterangan:

O1 adalah pretes awal pada kelompok eksperimen

O2 adalah posttes akhir pada kelompok eksperimen

O3 adalah pretes awal pada kelompok kontrol

O4 adalah posttes akhir pada kelompok kontrol

R adalah randomisasi subjek

X adalah perlakuan

E. Prosedur Eksperimen

Langkah-langkah persiapan dan pelaksanaan prosedur eksperimen diawali dengan mempersiapkan skala efikasi diri akademik yang disusun dalam 54 item untuk diuji cobakan terhadap 60 mahasiswa fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Diponegoro Semarang. Uji coba modul dilakukan dalam pilot study.

Penelitian dilakukan di kampus Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro dengan diawali screening untuk mendapatkan calon subjek penelitian. Data yang diperoleh dari screening sekaligus berguna sebagai data skor pretest subjek yang terpilih. Setelah dilakukan tes awal, kemudian perlakuan yang diberikan kepada kelompok eksperimen yaitu pelatihan berpikir positif, sedangkan kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan. Setelah perlakuan diberikan, kemudian terhadap kedua kelompok diberikan posttest.

E. Metode Pengumpulan Data

Proses pengumpulan data dalam penelitian eksperimen ini, peneliiti menggunakan beberapa metode, yaitu skala efikasi diri akademik mahasiswa. Skala efikasi diri akademik ini menggunakan skala likert dengan empat kategori jawaban yaitu Sangat Sesuai (SS), Sesuai (S), Tidak Sesuai (TS), dan Sangat Tidak Sesuai (STS). Selain itu, peneliti juga menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam penelitian ini.

F. Metode Analisis Data

  1. 1. Uji Normalitas

Uji normalitas penelitian ini menggunakan teknik Kolmogorov Smirnov Goodness of Fit Test, dengan menggunakan SPSS 17.0 Statistic for Windows.

  1. 2. Uji Homogenitas

Uji homogenitas dalam penelitian ini menggunakan levene test, dengan menggunakan SPSS 17.0 Statistic for Windows.

  1. 3. Uji Hipotesis

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik statistik parametrik uji-t dua sampel independen (Independent Sample t-test) dan uji berpasangan (Paired t-test).

 

 

BAB IV

PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Persiapan Penelitian

Penelitian ini menggunakan skala efikasi diri akademik mahasiswa dan modul pelatihan berpikir positif. Modul pelatihan diuji melalui pilot study. Hasil uji coba skala efikasi diri akademik adalah sebagai berikut.

Putaran Rix Minimal Rix Maksimal Koefisien Reliabiltas Jumlah Item Lolos
I -0,131 0,636 0,879 33
II 0,288 0,650 0,898 31
III 0,309 0,653 0,897 31

Dalam penelitian ini, kelompok eksperimen terdiri dari 25 subjek dan kelompok kontrol terdiri dari 25 subjek. Setelah terjadi mortalitas, pada kelompok eksperimen terdapat 21 subjek dan kelompok kontrol terdapat 23 subjek.

B. Hasil Analisis Data dan Interpretasi

1. Uji Asumsi

Hasil dari uji normalitas Kolmogorov Smirnov Goodness of Fit Test menunjukan bahwa kedua variabel dalam penelitian ini memiliki distribusi normal.

2. Uji Hipotesis

Hasil uji hipotesis independent sample t-test menunjukkan bahwa antara kelompok eksperimen dan kontrol sebelum adanya perlakuan menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan (p = 0,316 > 0,05 dan nilai te sebesar 1,014 < ttabel sebesar 2,018, dF = 42). Akan tetapi, setelah diberikan perlakuan terdapat perbedaan yang signifikan yang terlihat adanya perbedaan rataan (M) pada kedua kelompok sebesar 16,7 dengan te > ttabel = 6,607 > 2,018 dan p = 0,000 < 0,05. Ini membuktikan bahwa pemberian pelatihan berpikir positif mempengaruhi efikasi diri akademik mahasiswa.

Paired sample t-test menunjukkan pada kelompok kontrol tidak ada perubahan signifikan antara sebelum dan setelah perlakuan (–ttabel ≤ te ≤ ttabel (-2,074 < 1,713 < 2,074) serta p = 0,101 > 0,05). Akan tetapi, pada kelompok eksperimen terjadi perubahan yang signifikan antara sebelum dan setelah perlakuan (te > ttabel (11,325 > 2,086) serta p = 0,000 < 0,05).

 

BAB V

PENUTUP

  1. A. Pembahasan

Berdasarkan pengolahan data diperoleh bahwa pada kelompok eksperimen terdapat peningkatan skor sebesar 17,62 dan p = 0,000 (p<0,05). Pada kelompok kontrol terlihat tidak ada perbedaan skor yang signifikan (p>0,05. Uji independent sample t-test menunjukkan bahwa perbedaan skor pretest antara kelompok eksperimen dan kontrol adalah tidak signifikan (p> 0,05).

Perbedaan terlihat setelah perlakuan yang ditunjukkan adanya peningkatan skor yang signifikan pada kelompok eksperimen (te = 11,325 > ttabel = 2,086, p<0,05) dan subjek kontrol tidak menunjukkan perbedaan skor yang signifikan (te = 1,713 ≤ ttabel = 2,074, p> 0,05). Dengan demikian hipotesis penelitian dapat diterima yaitu ada pengaruh pelatihan berpikir positif terhadap efikasi diri akademik.

Terlihat perbedaan tingkat kenaikan skor, yang disebabkan adanya perbedaan menginternalisasi materi pelatihan secara aplikatif dan beragam faktor individual yang menyebabkan terjadinya perbedaan efektivitas dalam belajar, misalnya kematangan dan kondisi kesehatan fisik serta psikologis. Selain itu, individu sebagai manusia lahir dengan sejumlah potensi hereditas yang dibawa dari orangtuanya melalui kromosom (Soemanto, 1998, h. 93). Potensi bawaan ini turut berperan dalam perkembangan dan proses belajar individu, misalnya inteligensi dan fungsi fisiologis lainnya.

 

  1. A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pelatihan berpikir positif memiliki pengaruh dalam meningkatkan efikasi diri akademik mahasiswa. Efikasi diri akademik kelompok eksperimen terbukti lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Terjadi juga peningkatan skor yang signifikan pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah diberi perlakuan berupa pelatihan berpikir positif. Signifikansi peningkatan skor ditunjukkan oleh nilai signifikansi yang kurang dari taraf nyata (0,000 < 0,005). Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini dapat diterima.

  1. B. Saran

Mahasiswa yang telah mengikuti pelatihan berpikir positif hendaknya menerapkan cara-cara praktis dalam berpikir positif yang telah diperoleh selama pelatihan dalam kehidupan akademik dan sehari-hari.

Peneliti berharap kepada institusi pendidikan untuk senantiasa memandang secara positif potensi mahasiswa dan berperan membantu mahasiswa dalam mengembangkan potensinya secara positif.

Peneliti juga berharap adanya peneliti-peneliti selanjutnya yang melakukan penelitian tentang berpikir positif. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menemukan manfaat yang besar dari berpikir positif. Perluasan penerapan prinsip-prinsip berpikir positif dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Allen, J., & Allen, M. 2008. As A Man Thinketh. Yogyakarta: Baca

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press

Azwar, S. 2004. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Mahasiswa Offset

_________. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Mahasiswa Offset

_________. 2004. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Mahasiswa Offset

Bandura, A. 1986. Social Foundation of Thought and Action: A Social Cognitive Theory. New York: Prentice Hall

_________. 1997. Self Efficacy: The Exercise of Control. New York: W. H. Freeman and Company

Baron, RA., & Byrne, D. 2003. Social Psychology. Boston: Pearson Education

Bassi, M, dkk. 2007. Academic Self-Efficacy Beliefs and Quality of Experience in Learning. Springer Science and Business Media Inc, vol. 36, h. 301-312http://www.springerlink.com/index/L0H8820651404782.pdf

Betz, N E. 2004.Contributions of Self-Efficacy Theory to Career Counseling. The Career Development Quarterly, 52, 340-353. http://goliath.ecnext.com/ coms2/gi_0199-23508/Contributions-of-self-efficacy-theory.html

Bong, M. 2001. Between-and Within-Domain Relations of Academic Motivation Among Middle and High School students: Self-Efficacy, Task-Value, and Achievement Goals. Journal of Educational Psychology. Vol. 91, No. 1, 23-34

_________. 1997. Generality of Academic Self-Efficacy Judgments: Evidence of Hierarchical Relations. Journal of Educational Psychology. Vol. 89, No. 4, 696-709

Corey, G. 2007. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

Corsini, R J 1994. Encyclopedia of Psychology (2nd ed., vol 1). New York: John Wiley and Sons

_________. 1994. Encyclopedia of Psychology (2nd ed., vol 3). New York: John Wiley and Sons

Vellis, R F De. 1991. Scale Development: Theory and Application. New York: Sage Publication

Djiwandono, S E W. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo

Dwoskin, Hale. 2005. The Sedona Method. Jogjakarta: Ufuk

Elfiky, I. 2009. Terapi Berpikir Positif. Jakarta: Zaman

Fauzy, H., & ShahI M. (2007, November). Efikasi Diri dan Pencapaian Akademik: Kajian Ke Atas Pelajar Institusi Pengajian Tinggi Awam. Simposium Pengajaran dan Pembelajaran UTM 2007 (SPPUTM 07). h. 4-5. http://www.ctl.utm.my/spputm07/abstrakspputm07.pdf

Feist, J., & Feist, G J. 2006. Theories of Personality, ed. VI. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ferla, J., dkk. 2007. Academic Self-Efficacy and Academic Self-Concept: Reconsidering Structural Relationship. h. 1-25. http://users.ugent.be/~mv alcke/CV/selfeffiacy_selfconcept.pdf

Franckh, Pierre. 2009. Law of Resonance. Jakarta: Ufuk Press

Frankl, V E. 2008. Optimisme Di Tengah Tragedi: Analisis Logoterapi, edisi revisi. Bandung: Nuansa

Gawain, Shakti. 2000. Visualisasi Kreatif. Jakarta: Pustaka Delapratasa

Handoz. (2009, April). Hubungan Antara Student Outcomes Dengan Lingkungan Pembelajaran di Kelas. (Online Serial). Diadaptasi Dari: http://handoz.blogspot.com/2007/04/hubungan-antara-student-outcomes den gan.html

Hasan, M I. 1999. Pokok-Pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif). Jakarta: Bumi Aksara

Hayes, P., & Rogers, J. 2008. NLP -  Neuro-Linguistic Programming-  for the Quantum Change. Yogyakarta: Pustaka Baca

Heartsill, W. 2008. The Miracle of Positive Thinking. Jogjakarta: Quills Book Publisher

Hill, N., & Ritt, M J. 2004. Keys to Positive Thinking. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer

Irwanto. 2002. Psikologi Umum: Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta: Prenhallindo

Janis, I L., & Mann, L. 1979. Decision Making: A Psychological Analysis of Conflict, Choice And Commitment. New York: The Free Press

Judge, T A., dkk. (2007, Januari). Self-Efficacy and Work-Related Performance: The Integral Role of Individual Differences. Journal of Applied Psychology. Tahun 2007, vol. 92, No. 1, h. 107-127

Kim, U., Park, Young-Shin. 2006. Factor Influencing Academic Achievement in Relational Cultures: The Role of Self-, Relational, and Collective Efficacy. In F. Pajares & T. Urdan (ed.). The Self-Efficacy Beliefs of Adolescents. pp. 267-285. Connecticut: Information Age Publishing

Kivimaki., dkk. 2005. Optimism and Pessimism as Predictors of Change in Health After Death or Onset of Severe Illness in Family.Journal of Health Psychology, Vol. 24, No. 4, 413-421

Klassen, R. M. 2006. Too Much Confidence? The Self-Efficacy of Adolescents with Learning Disabilities. In F. Pajares & T. Urdan (eds.). The Self-Efficacy Beliefs of Adolescents. pp. 181-200. Connecticut: Information Age Publishing

Latipun. 2002. Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press

Lestari, A. 1998. Pelatihan Berpikir Positif Untuk Menangani Sikap Pesimistik dan Gangguan Depresi. Jurnal Psikologi. Tahun XXIV Nomor 2, Desember 2007. h. 1-9

Marsidi, Agus. 2007. Konsep dan Metode Pembelajaran Untuk Orang Dewasa. Jurnal Penelitian dan Rangkaian Pendidikan Non-Formal. Makassar: Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jendral Pendidikan Luar Sekolah BPPNFI Regional V Makassar

Nugroho, N. 2008. Transformasi Diri. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Nugroho, O A. 2007. Hubungan Antara Self-Efficacy, Penyesuaian Diri Dengan Prestasi Akademik Mahasiswa.Universitas Widya Mandala Madiun, h. 1-22. http://lib.atmajaya.ac.id/default.aspx?tabID=61&id=116048&src=a

Oettingen, G., & Zosuls, K M. 2006. Culture and Self-Efficacy in Adolescents. In F. Pajares & T. Urdan (eds.). The Self-Efficacy Beliefs of Adolescents. pp. 245-265. Connecticut: Information Age Publishing

Pajares, F. 2006. Self-Efficacy During Childhood and Adolescence: Implications for Teachers and Parents. In F. Pajares & T. Urdan (ed.). The Self-Efficacy Beliefs of Adolescents. pp. 339-367. Connecticut: Information Age Publishing

Peale, N V. 2009. The Power of Positive Thinking. Yogyakarta: Ragam Media

Pervin, L A., & John. 2001. Personality: Theory and Research (8thed.). New York: John Wiley and Sons

Prawitasari., dkk, editor: Subandi, M.A. 2002. Psikoterapi: Pendekatan Konvensional dan Kontemporer. Yogyakarta: Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM

Quilliam, S. 2003. Positive Thinking: Essential Managers. United States: DK Publishing

Rahardjo, W. 2007. Kontribusi Hardiness dan Self-Efficacy Terhadap Stress Kerja (Studi Pada Perawat RSU DR. Soeradji Tirtonegoro Klaten). Indonesian Journal. http://www.ebook-search-engine.com/Kontribusi-Hardiness-dan-Self-Efficacy-Terhadap-Stress-Kerja-%28Studi-PadaPerawat -RSU-DR.-Soeradji-Ti-ebook-pdf.html

Ryan, A M., dkk. 1998. Why Do Some Students Avoid Asking For Help? An Examination of The Interplay Among Students’ Self Academic Efficacy, Teachers’ Social Emotional Role, and The Classroom Goal Structure. Journal of Educational Psychology. Vol. 90, No. 3, 528-535

Santrock, J W. 2008. Life-Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Jakarta: Erlangga

___________. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja (6th ed. Alih Bahasa: Shinto B. Adelar dan Sherly Saragih). Jakarta: Erlangga

Schunk, D H., & Pajares, F. 2001. The Development of Academic Self Efficacy. http://www. des.emory.edu/mfp/SchunkPajares 2001.PDF

Sdorow, L. 1990. Psychology.New York: WM. C. Brown Publishers

Seligman, M E P. 2008. Menginstall Optimisme. Bandung: Momentum

Seligman., dkk. 2005. Positive Psychology Progress: Empirical Validation of Interventions. Diadaptasi Pada: 10 Mei 2009. Journal of American Psychologist. Vol. 60, No. 5, 410-421.

Seniati, L. 2005. Psikologi Eksperimen. Jakarta: Indeks Kelompok Gramedia

Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: Grasindo

Snyder, C R., & Lopez, S J. 2007. Positive Psychology: The Scientific and Practical Explorations of Human Strengths. United States: Sage Publication Inc

Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan (Landasan Kerja Pimpinan Pendidikan) Edisi Baru. Jakarta: Rineka Cipta

Solso, R L. 1991. Cognitive Psychology, Third Edition. United States: Allyn and Bacon

Steinberg, L D. 2002. Adolescence (6thed.). New York: McGraw-Hill

Subandi, M A. 2002. Psikoterapi: Pendekatan Konvensional dan Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset

Suharnan. 2005. Psikologi Kognitif, edisi revisi. Surabaya: Srikandi

Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta

Suryabrata. 2000.Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta: Andi

Tracy, B. 2003. Change Your Thinking, Change Your Life. New York: John Wiley & Sons, Inc

Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi

Zimmerman, B J. 1989. A Social Cognitive View of Self Regulated Learning. Contemporary Educational Psychology, 307-313

One thought on “Pengaruh Pelatihan Berpikir Positif Terhadap Efikasi Diri Akademik Mahasiswa

  1. “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.
    Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.
    Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.
    Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.
    Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

    Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.
    Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.”
    Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub.

    Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu.
    Kemudian datanglah kepadanya semua saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia uang satu kesita dan sebuah cincin emas.
    TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina.
    Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan;
    dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh.
    Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki.
    Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat.
    Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s