Keluarga Broken Home


BAB I

PEMAPARAN KASUS

Kasus :

Keluarga kami dibangun bukanlah atas dasar cinta, melainkan atas suatu perjodohan yang bapak dan mamaku tidak saling mengasihi satu sama lain. Sejak mereka menikah hingga kami, anak-anaknya, beranjak remaja, jarang sekali mereka akur. Hampir setiap hari mereka bertengkar. Dulu aku tidak mengerti apa yang menjadi sumber pertengkaran mereka. Terkadang aku dan adik-adikku menjadi pelampiasan kemarahan mama, karena kalah berantem sama bapak semasa kami kecil. Dengan beragam cara, dicebur ke dalam got jorok dan bak mandi, dihajar di depan teman-teman sepermainan, dan dipukuli. Begitu juga bapak, selalu memarahi kami tanpa alasan yang tidak bisa dimengerti oleh anak kecil. Dan itu kami rasakan hingga bertahun-tahun. Pahit memang, biarpun tidak “sekeras” apa yang dirasakan oleh Dave Pelzer. Ketakutan, kepahitan, dan kemarahan adalah yang tertanam dalam jiwa kami. Kamipun sebagai anak-anak dituntut untuk menjalani hidup yang tidak normal, berbeda dengan orang kebanyakan (aku memilih untuk tidak menuliskan semua, yang pasti sangat menyedihkan dan sama seperti anak-anak korban broken home lain). Aku dan adik-adikku menjadi orang yang pendiam di rumah, tetapi menjadi sedikit liar di sekolah (bikin konser kecil-kecilan di kelas, gangguin teman, pokoknya menutupi apa yang terjadi di dalam keluargaku), dan ribut di rumah jika orangtua kebetulan tak ada. Aku juga menjadi “tukang siksa” bagi adikku yang bungsu, aku sering menakut-nakuti dia, memeras uang jajannya dan banyak lagi yang sering menyakiti hatinya sebagai anak kecil. Yang ada di pikiranku saat itu, dia harus merasakan sakit hati yang aku rasakan atas orangtuaku. Tapi aku sebenarnya sangat menyayanginya saat itu, aku sering nangis setelah selesai “menghajarnya”. Pada pertengahan tahun 1997, orangtuaku sudah tak lagi sekamar. Saling benci. Yang aku tahu, mereka ribut mulai, karena isu orang ketiga, mama dituduh mencuri uang kios (kami dulu jualan) dan prasangka bapakku atas mama yang pakai dukun (mau katanya dukun ilmu hitam kek, ilmu putih kek, semua itu kerjaan setan) untuk membunuh bapak. Bapakpun balas pakai dukun dari Medan. Hancur sudah saat itu, makanpun jadi situasi yang tak enak. Pernah juga timbul niatku untuk bunuh diri saat itu. Aku saat itu tak kenal sama yang namanya Tuhan. (Pemaparan Adi, 17 tahun)

BAB II

LANDASAN TEORETIS

1. Pengertian dan Keadaan Keluarga Broken Home

Tak luput dari realitas bahwa semakin hari, faktanya semakin banyak keluarga yang mengalami broken home. Beberapa kasus diantaranya mungkin disebabkan perbedaan prinsip hidup, dan diantara lainnya bisa disebabkan oleh masalah-masalah pengaturan keluarga. Akan tetapi, yang jelas kasus-kasus broken home itu sama halnya dengan kasus-kasus sosial lainnya, yaitu sifatnya multifaktoral. Satu hal yang pasti, hubungan interpersonal diantara suami-istri dalam keluarga broken home telah semakin memburuk. Kedekatan fisikal juga menjadi alasan bagi pasangan suami istri dalam menyikapi masalah broken home, meskipun dalam beberapa sumber disebutkan bahwa kedekatan fisik tidak mempengaruhi kedekatan personal antarindividu. Inti dari semuanya adalah komunikasi yang baik antarpasangan. Dalam komunikasi ini, berbagai faktor psikologis termuat di dalamnya, sehingga patut mendapat perhatian utama.

Memburuknya komunikasi diantara suami istri ini seringkali menjadi pemicu utama dalam keluarga broken home. Hartley (1993) melalui Sarwono menjelaskan peranan penting rasa saling percaya, saling terbuka, dan saling suka diantara kedua pihak agar terjadi komunikasi yang efektif. Dalam keadaan ini, kematangan kepribadian menentukan penerimaan peran dari pasangan komunikasinya (Kabul, 1978). Aspek lain yang penting menurut Hartley adalah adanya hubungan dua arah dalam komunikasi ini, artinya di sini terjadi saling pengertian akan makna tersirat dalam komunikasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa komunikasi antarpasangan merupakan sarana penting dalam menuju hubungan antarpasangan yang efektif. Sejalan dengan itu, dorongan berkomunikasi ini merupakan efek disposisi biologis manusia (Wright, 1989). Dalih mengenai asumsi bahwa komunikasi merupakan efek disposisi genetis adalah bahwa tiap individu dilahirkan dengan tipe kepribadian tertentu, baik intovert maupun ekstrovert (Jung, melalui Hall, 1993). Adanya perbedaan tipe kepribadian inilah yang mengarahkan perkembangan komunikasi individu. Meskipun demikian, Carl Gustav Jung juga mengakui adanya pengaruh faktor lingkungan yang membentuk persona individu dalam prosesnya merespons tuntutan-tuntutan lingkungan.

Dalam suasana keluarga yang broken home bukan hanya komunikasi yang memburuk, tetapi juga terdapat aspek yang tidak relevan dalam hubungan itu, sehingga menyebabkan berkurangnya ketertarikan antardiri pasangannya. Lemahnya ketertarikan ini bisa berdampak pada pengabaian sosial termasuk pengabaian afektif (Affective Disregard). Dalam hal ini, dapat diuraikan bahwa dalam keluarga yang broken home antarpasangan terjadi pelemahan rasa saling menilai secara positif, yang terjadi penilaian menjadi cenderung negatif antara satu pasangan dengan pasangannya. Dari semua fenomena di atas, akan bisa berdampak pada perkembangan psikologis anak dalam keluarga itu. Remajalah yang dalam hal ini sangat rentan. Masa remaja, seperti yang dikatakan oleh Erickson bahwa masa remaja merupakan masa pencarian identitas. Masa remaja ditandai dengan pergolakan internal untuk menemukan identitas dirinya berkaitan dengan eksistensi hidupnya. Pengaruh faktor broken home keluarga menjadi faktor negatif dalam penemuan identitas yang sehat, sehingga remaja cenderung mengalami fase kebingungan identitas. Perkembangan afeksi juga bisa mengalami hambatan. Hal ini dikarenakan adanya pengabaian afek oleh orangtuanya. Lebih jauh, terdapat sifat-sifat penghambat perkembangan kepribadian yang sehat yang terwujud dalam kepribadian anak, sehingga mereka mungkin mengalami schizoid atau bisa berdampak hingga schizophrenia.

Broken home sebenarnya merupakan realitas yang cukup berimplikasi negatif bagi perkembangan kepribadian yang sehat, meskipun kita mengakui peranan lingkungan dalam perkembangan individu. Akan tetapi, faktor broken home nampaknya memainkan peranan cukup signifikan dalam beberapa penelitian.

Dalam hubungan keluarga yang sehat, nilai-nilai subjektivitas antarpasangan harus saling mengakuinya. Jikalau tidak, hubungan interpersonal keduanya menjadi memburuk dan menyebabkan keretakan dalam keluarga. Dengan begitu, kedua pasangan telah melebihkan kapasitas egonya saja. Di sisi lain, Freud dalam psikoanalisisnya menyebutkan pentingnya keselarasan antara fungsi id, ego, dan superego agar tercipta suatu hubungan interpersonal yang sehat. Inilah yang seharusnya ada dalam hubungan sebuah keluarga yang harmonis.

Sebenarnya broken home dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Akan tetapi, yang jelas semua berawal dari rasa ketidakcocokan antarpasangan suami istri. Peran psikologi nampak jelas dalam realitas ini. Psikologi mendapat beban berat untuk mencarikan alternatif terhadap masalah ini. Untuk itu, penulis ingin mengungkap realitas yang ada dalam fenomena broken home dengan harapan bisa memberikan bahan analisis guna mengembangkan intervensi yang selayaknya terhadap kasus-kasus broken home yang kian hari kian meningkat.

Ayah, ibu, dan anak adalah keluarga inti yang merupakan organisasi terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. Pada hakikatnya, keluarga merupakan wadah pertama dan utama yang fundamental bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Di dalam keluarga, anak akan mendapatkan pendidikan pertama mengenai berbagai tatanan kehidupan yang ada di masyarakat. Keluargalah yang mengenalkan anak akan aturan agama, etika sopan santun, aturan bermasyarakat, dan aturan-aturan tidak tertulis lainnya yang diharapkan dapat menjadi landasan kepribadian anak dalam menghadapi lingkungan. Keluarga juga yang akan menjadi motivator terbesar yang tiada henti saat anak membutuhkan dukungan dalam menjalani kehidupan.

Namun, melihat kondisi masyarakat saat ini, fungsi keluarga sudah mulai tergeser keberadaannya. Semua anggota keluarga khususnya orangtua menjadi sibuk dengan aktivitas pekerjaannya dengan alasan untuk menafkahi keluarga. Peran ayah sebagai kepala keluarga menjadi tidak jelas keberadaannya, karena seringkali ayah zaman sekarang bekerja di luar kota dan hanya pulang satu minggu sekali ataupun pergi pagi dan pulang larut malam. Ibulah yang menggantikan peran ayah di rumah dalam mendidik serta mengatur seluruh kepentingan anggota keluarganya.

Masalah akan semakin berkembang tatkala ibupun menjadi seorang wanita pekerja dengan berdalih membantu perekonomian keluarga ataupun berambisi menjadi wanita karir, sehingga melupakan anak dan keluarganya. Banyak ditemukan ibu menjadi seorang super woman yang bekerja dua puluh empat jam sehari tanpa henti, barangkali waktu istirahat ibu hanyalah beberapa jam dalam sehari. Itupun jika ibu mampu dengan cerdas mengelola waktu bekerja di luar rumah dan bekerja di rumah tangganya. Ketika ayah dan ibu sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, lalu ke manakah anak-anak mereka? Anak yang seharusnya memiliki hak mendapatkan kehangatan dalam keluarganya.

Kecenderungan yang terjadi, keluarga menjadi pecah dan tidak jelas keberadaannya. Ketika ayah dan ibu sudah tidak dapat berkomunikasi dengan baik, karena kesibukan masing-masing atau karena egonya, maka mereka memilih untuk bercerai. Namun, di saat orangtua dapat mempertahankan keluarganya secara utuh tanpa ada komunikasi yang hangat antara anggota keluarganya, secara psikologis merekapun bercerai.

Oleh karena orangtua tidak punya waktu banyak untuk berdialog, berdiskusi atau bahkan hanya untuk saling bertegur sapa. Saat orangtua pulang bekerja, anak sudah tertidur dengan lelapnya dan saat anak terbangun tidak jarang orangtua sudah pergi bekerja atau anaknya yang harus pergi ke sekolah. Ketika anak protes dan mengeluh, orangtua hanya cukup memberikan pengertian bahwa ayah dan ibu bekerja untuk kepentingan anak dan keluarga juga. Orangtua zaman sekarang sering merasa kesulitan mengerti keinginan anaknya, tanpa mereka sadari bahwa orangtualah yang selalu membuat anak harus mengerti keadaan orangtuanya.

Anak yang broken home bukanlah hanya anak yang berasal dari ayah dan ibunya bercerai, namun anak yang berasal dari keluarga yang tidak utuh, dimana ayah dan ibunya tidak dapat berperan dan berfungsi sebagai orangtua yang sebenarnya. Tidak dapat dimungkiri kebutuhan ekonomi yang semakin sulit membuat setiap orang bekerja semakin keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Namun, orangtua seringkali tidak menyadari kebutuhan psikologis anak yang sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan hidup. Anak membutuhkan kasih sayang berupa perhatian, sentuhan, teguran dan arahan dari ayah dan ibunya, bukan hanya dari pengasuhnya atau pun dari nenek kakeknya.

Perhatian yang diperlukan anak dari orangtuanya adalah disayangi dengan sepenuh hati dalam bentuk komunikasi verbal secara langsung dengan anak, meski hanya untuk menanyakan aktivitas sehari-harinya. Menanyakan sekolahnya, temannya, gurunya, mainannya, kesenangannya, hobinya, cita-cita dan keinginannya. Ada anak di sekolah yang merasa aneh, jika temannya mendapatkan perhatian seperti itu dari orangtuanya, karena zaman sekarang hal tersebut menjadi sangat mahal harganya dan tidak semua anak mendapatkannya.

Anak sangat membutuhkan sentuhan dari orangtuanya, dalam bentuk sentuhan hati yang berupa empati dan simpati untuk membuat anak menjadi peka terhadap lingkungannya. Selain itu, belaian, pelukan, ciuman, kecupan, dan senyuman diperlukan untuk membuat kehangatan jiwa dalam diri anak dan membantu anak dalam menguasai emosinya.

Arahan dibutuhkan oleh anak untuk memberikan pemahaman bahwa dalam kehidupan bermasyarakat ada aturan tidak tertulis yang harus ditaati dan disebut sebagai norma masyarakat. Norma agama, norma sosial, norma adat atau budaya dan norma hukum sebaiknya diberikan kepada anak sejak masih usia kecil. Dengan diberikannya pemahaman dalam usia sedini mungkin, diharapkan anak dapat menjadi warga masyarakat yang baik, khususnya saat anak mulai mengenal lingkungan selain keluarganya.

Jika anak melanggar norma tersebut, sudah merupakan kewajiban orangtua sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya untuk memberikan teguran yang disertai penjelasan logis sesuai dengan perkembangan usianya supaya anak mengerti dan memahami bagaimana bersikap dan berperilaku yang sesuai dengan norma-norma masyarakat.

Dampak dari keegoisan dan kesibukan orangtua serta kurangnya waktu untuk anak dalam memberikan kebutuhannya menjadikan anak memiliki karakter mudah emosi (sensitif), kurang konsentrasi belajar, tidak peduli terhadap lingkungan dan sesamanya, tidak tahu sopan santun, tidak tahu etika bermasyarakat, mudah marah dan cepat tersinggung, senang mencari perhatian orang, ingin menang sendiri, susah diatur, suka melawan orang tua, tidak memiliki tujuan hidup, dan kurang memiliki daya juang.

Solusi terbaik untuk anak-anak tersebut bukanlah psikolog, guru dan ulama, melainkan orangtua yaitu ayah dan ibunya di rumah yang dapat berperan dan berfungsi selayaknya orang tua. Anak-anak tidak akan berbicara secara verbal mengenai kebutuhan dan keinginan hati kecilnya, tetapi mereka akan berbicara dalam bentuk perilaku yang diperlihatkannya dalam keseharian. Alangkah bahagia dan senangnya anak-anak, jika orangtua dapat mengerti dan memahami fungsi dan peran orang tua sebagaimana mestinya. Andai saja orangtua dapat mengurangi keegoisannya dan menyisihkan waktu memenuhi kebutuhan psikologis anak-anaknya, maka anak akan menjadi generasi yang berintelektual tinggi dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan harapan dan cita-cita orangtuanya.

2. Ciri-Ciri Psikologis Keluarga Broken Home

Berdasarkan beberapa asumsi dalam literatur, penulis menemukan bahwa keluarga broken home bukan hanya keluarga dengan kasus perceraian saja. Keluarga broken home secara keseluruhan berarti keluarga dimana fungsi ayah dan ibu sebagai orangtua tidak berjalan baik secara fungsional. Fungsi orangtua pada dasarnya adalah sebagai agen sosialisasi nilai-nilai baik-buruk, sebagai motivator primer bagi anak, sebagai tempat anak untuk mendapatkan kasih sayang, dan sebagainya. Jikalau fungsi orangtua ini terhambat, maka aspek-aspek khusus dalam keluarga bisa dimungkinkan tak terjadi.

Pada hakikatnya, anak membutuhkan orangtuanya untuk mengembangkan kepribadian yang sehat. Pada masa remaja, berdasarkan asumsi Erickson, remaja memerlukan figur tertentu yang nantinya bisa menjadi figure sample dalam internalisasi nilai-nilai remajanya. Dengan tidak berfungsinya peran orangtua sebagaimana mestinya, maka hal in bisa terhambat. Proses pencarian identitas dalam kondisi serupa ini bisa jadi meriam bagi remaja itu. Remaja itu dimungkinkan membentuk kerpibadian yang kurang sehat dengan perasaan terisolasi. Proses pencarian identitas akan terhambat dan menimbulkan rasa kebingungan identitas (confused of Identity). Penambahan juga, remaja itu mungkin bisa mengembangkan perilaku yang delinquency, atau bahkan patologis, jika keadaan keluarga yang broken home itu dirasakannya sangat menekan dirinya.  Seperti penelitian yang dilakukan oleh Yeri Abdillah (2003) dalam penelitiannya, menyimpulkan bahwa agresivitas pada remaja dalam keluarga broken home mempunyai taraf lebih tinggi daripada rekannya yang tidak mengalami kasus broken home.

Masih banyak kasus lagi yang mungkin dirasakan anak dalam keluarga broken home. Efeknya akan lebih terasa jika anak berada dalam masa remaja. Masa remaja dalam psikologi diasumsikan sebagai masa yang penuh dengan strom and stress. Jikalau dianalisis lebih lanjut keadaan broken home bisa memperburuk keadaan remaja itu. Keadaan itu akan diartikan sebagai tekanan yang bisa menjadi sumber awal penyebab patologis sosial.

Cinta adalah suatu perasaan yang tulus terhadap orang yang dicintai.
mampu memahami mengerti, menyayangi orang yang dicintainya.
berjiwa besar, dan mau membahagiakan orang yang dicintainya (http://mtdw.blogspot.com/2006/04/apa-makna-cinta-cinta-adalah-suatu.html, Disadur tanggal 7 mei 2008). Cinta merupakan suatu perasaan yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membahagiakan umatnya. Cinta merupakan sesuatu yang sakral, suatu perasaan yang selalu digunakan dalam kehidupan. Kehidupan tanpa cinta seperti ”sayur tanpa garam”. Walaupun cinta itu mungkin jarang diungkapkan, tetapi cinta itu sebagian besar ditunjukkan dengan perasaan-perasaan, perhatian-perhatian atau mungkin tindakan-tindakan yang positif terhadap orang-orang yang dicintai.

Cinta orangtua tehadap anaknya, dengan bimbingan melalui perasaan dan tindakan sebagai ungkapan cinta mereka kita sebagainya anaknya akan berkembang lebih baik. Sebagai manusia sangat wajar jika kita memiliki perasaan cinta itu. Kita menyayangi sesorang dan mencintainya itu merupakan suatu komitmen untuk bersamanya dalam mengarungi kehidupan ini, atau paling tidak kita dapat saling membahagiakan. Cinta juga dapat tumbuh seiring dengan waktu, jika ada perasaan yang tulus maka awalnya kita menganggap suatu hubungan biasa saja namun seiring dengan perjalan waktu kita menemukan kecocokan dengan hubungan tersebut, maka akan tumbuh rasa yang dinamakan cinta.

Cinta akan datang sekali dalam hidup pada satu pintu hati kita, maka gunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Dalam perjalanannya cinta itu akan mengalami banyak sekali rintangan. Seperti halnya perjalanan hidup, akan banyak mengalami cobaan halangan dan rintangan untuk mencapai kebahagian cinta. Kita bisa belajar dari rintangan-rintangan itu, sehingga dapat memahami cinta dan tahu apa yang harus dilakukan demi cinta.

Cinta orangtua merupakan konsep dasar yang bisa diasumsikan sebagai segala yang diberikan oleh ayah dan ibu dalam perannya sebagai orangtua terhadap anaknya. Anak secara umum akan mengidentifikasikan dirinya pada orangtua. Beberapa penelitian mengidentifikasikan bahwa kelekatan anak hingga remaja pada umumnya terletak pada orangtuanya. Apabila orangtuanya tidak memberikan kasih sayang yang cukup kepada anaknya, maka kelekatan itu tidak aka ada. Untuk mendapatkan sumber kelekatan selain orangtua adalah hal yang rumit. Untuk itu, di sini peran orangtua secara fungsional merupakan aspek penting dalam perkembangan anak.

Munculnya masalah broken home menimbulkan suatu perasaan menyesal pada remaja, dan melakukan identifikasi ulang. Ketiadaannya dukungan sosial menyebabkan kurangnya alternatif masukan bagi remaja itu untuk melakukan reidentifikasinya. Orangtua yang semulanya menjadi teladan, akan dianggap sebagai pembawa petaka baginya. Dari asumsi ini muncullah rasa ketidakpercayaan pada diri remaja itu. Munculnya rasa ketidakpercayaan ini menyebabkan cinta kepada orangtuanya semakin menipis atau berkurang. Kelekatan dengan orangtua semakin kecil, sehingga asumsi-asumsi negatif kepada orangtua mulai muncul. Dari asumsi itu muncullah asumsi bahwa orangtuanya sudah tidak menyayanginya lagi. Perkuatan muncul apabila tidak adanya perhatian secara fisikal yang ditujukan pada remaja itu.

Pemaknaan cinta orangtua akan semakin mengarah pada negativitas seiring dengan munculnya beberapa hal berikut ini:

  1. a. Ketiadaan perhatian fisikal yang dirasakan oleh remaja dalam keluarga broken home,
  2. b. Konfliks antara orangtuanya dirasakan semakin mengarah pada egoisme ayah-ibunya tanpa mempertimbangkan eksistensi remaja itu,
  3. c. Kurangnya pemahaman spiritualisme dalam menghadapi kenyataan hidup berkaitan dengan situasi broken home,
  4. d. Kurangnya sosialisasi dari lingkungan sosialnya untuk memandang hal itu dari sisi positif, dan
  5. e. Taraf perkembangan sosioemosional yang belum dewasa.

Freud dalam psikonalisis paradoksnya mengasumsikan bahwa konfliks sebagian besar hanya muncul dalam taraf ketidaksadaran individu. Meskipun sacara fisikal terlihat senyum, bukan berarti mood orang itu juga posiitif. Konfliks internal yang mungkin lebih parah akan muncul dan bermula dari ketidaksadarannya. Sifat inilah yang menentukan kesadaran manusia berkaitan dengan ego, ego ideal, superego, dan id-nya. Sistem ini akan berdinamika sesuai pengalaman. Faktor broken home dapat secara kuat menyebabkan perasaan subjektif akan cinta orangtua semakin berkurang atau mengarah pada hal negatif. Bukan tidak mungkin remaja dalam keluarga broken home akan menyalahkan atau memandang secara negatif terhadap salah satu orangtua atau bahkan kedua orangtuanya, jika orangtuanya itu dianggap penyebab penderitaan yang dirasakannya. Ini merupakan suatu bentuk kompensasi tak langsung atas asumsi subjektif diri remaja itu atas penderitaan yang seharusnya tidak ia dapatkan. Dalam teori klasik Sigmund Freud, hal ini menyebabkan pemasakan intrapsikis yang salah, dan dapat mengarah pada suatu bentuk patologis apabila tidak mendapatkan pemecahan masalah yang efektif.

Remaja dalam tahapan psikososial Erik H. Erickson disebutkan adalah masa pencarian identitas. Dalam tahapan ini, peran orangtua dalam membentuk identitas nampak jelas, apalagi bagi remaja putri (Margareth Rosario, 2007). Remaja putri dalam masa pencarian identitas dirinya sangat bergantung pada orangtuanya sebagai figur teladan, berbeda pada remaja putra yang lebih ditentukan oleh peer-group-nya. Fakta penelitian ini sudah seharusnya mempertimbangkan individual differences, yang menyadari bahwa itu semua bergantung dan khas pada tiap individu.

3. Peran Dukungan Sosial Terhadap Perkembangan Kepribadian Anak Pada Keluarga Broken Home

Dalam psikologi individual yang dikemukakan oleh Alfred Adler (melalui Hall, 1993) disebutkan bahwa lingkungan sosial memainkan peran penting dalam perkembangan individu dalam rentang yang ada. Manusia pertama-tama dimotivasi oleh dorongan-dorongan sosialnya. Menurut Adler, pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial. Mereka menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kegiatan sosial, dan sebagainya. Dorongan sosial Adler merupakan dorongan yang bersifat herediter atau bawaan genetis, yang kemudian mendapat stimulus-stimulus untuk perubahan perkembangannya dari lingkungan sosialnya. Adler mengatakan bahwa manusia adalah diri yang kreatif. Psikologi Individual Adler merupakan kombinasi sistem subjektif yang sangat dipersonalisasikan, yang menginterpretasikan pengalaman-pengalaman penuh arti. Sejalan dengan pandangan Soren Kierkegaard bahwa manusia adalah subjektif, sehingga kebenaran subjektif merupakan hal utama yang pertama.

Adler juga menambahkan bahwa diri mencari pengalaman-pengalaman yang membantu pemenuhan gaya hidup sang pribadi yang unik, apabila tak ditemukan, maka diri akan berusaha menciptakannya. Ini menjelaskan bahwa dukungan sosial sangat penting bagi remaja dalam keluarga broken home. Dengan adanya dukungan sosial dari lingkungan sosialnya, maka pengalaman dalam hal problem solving masalah keluarga yang dihadapinya akan didapatkannya. Masih dalam hal dukungan sosial, intensi perilaku juga dipengaruhi oleh arah vektor kontinumnya. Arahnya ditentukan oleh masukan dari agen dukungan sosialnya. Agen yang tepat berarti agen tersebut dapat memberi masukan saran yang tepat bagi diri itu dan dapat mengarahkannya untuk menghambat lajunya masalah yang dihadapi agar tidak semakin memburuk.

Manusia sebagai diri, menurut Adler merupakan pribadi yang unik yang terdiri atas konfigurasi unik dari motif-motif, sifat-sifat, minat-minat, dan nilai-nilai, dimana setiap perbuatan yang dilakukan mencerminkan gaya hidup yang khas baginya. Manusia menjalani hidupnya dengan motivasi dorongan sosial. Hilangnya dorongan sosial dapat berakibat munculkan gangguan perkembangan atau gangguan psikis lainnya.

Adler juga menjelaskan bahwa manusia lebih didorong oleh harapan-harapan di masa depan daripada kenangan masa lalunya. Harapan yang pupus akibat broken home ini, membuat diri remaja itu berupaya untuk melakukan dinamika diri ke arah kemajuan. Lagi-lagi di sini nampak peran dukungan sosial dalam dinamika diri. Harapan yang pupus menyebabkan perilaku sekarang menjadi terhambat dengan adanya broken home. Hilangnya harapan ini akan mempengaruhi perilaku dalam parameter sejauhmana harapan itu menjadi prioritas hidupnya. Apabila itu sangat penting bagi dirinya, maka simtom negatif tertentu akan mungkin muncul, misalnya menjadi suka menyendiri, mudah tersinggung, dan sebagainya. Akan tetapi, Adler menyebutkan bahwa orang norma pasti dapat membebaskan diri dari harapan fiktif ini, sehingga diri terbebas dalam menghadapi kenyataan dari fiktif-fiktif ini. Apabila diri tidak demikian, maka gangguan psikis atau gangguan perkembangan akan muncul.

Adler menambahkan setiap diri memiliki kecenderungan untuk mengarah pada superioritas dengan tiga cirinya yaitu menjadi agresif, bekuasa, dan superior. Superior di sini bukanlah bersifat individualisme, melainkan sejalan dengan konsep aktualisasi diri Abraham Maslow. Superioritas merupakan gejala adanya aktualisasi diri. Ini terjadi pada orang normal. Ketidakberdayaan fisik dan kelemahan yang tak nampak lainnya menjadi faktor pendukung munculnya perasaaan inferioritas. Pada remaja dalam keluarga broken home, broken home ini akan menjadi bahan bagi munculnya rasa inferior pada dirinya, tergantung sejauhmana masalahnya dirasakan membuat dirinya tak berdaya. Adakah kompensasinya? Adler menjawab bahwa dari adanya inferioritas itu muncullah kompensasi atas rasa inferior itu. Metode kompensasi ini diperoleh selama proses belajar sosialnya terhadap lingkungan, sedangkan pertimbangan untuk menggunakannya ditentukan secara subjektif oleh diri remaja itu. Kompensasi yang mungkin muncul adalah semakin melekatnya remaja itu dengan peer-group-nya, atau menjadi seorang penyendiri, dan peka perasaannya. Adler menyebutkan bahwa rasa inferior ini muncul bukan sebagai abnormal, melainkan sebagai bentuk penyempurnaan dalam perkembangan dirinya. Manifestasi atas perkembangan yang tak dapat dilakukan remaja mengakibatkan adanya gejala abnormalitas, misalnya gangguan penyesuaian.

Adler kemudian menekankan peranan dukungan sosial dalam perkembangan diri remaja yang mengalami broken home. Lingkungan sosial yang mendukung positif menjadi sumber inspirasi penting bagi individu, sehingga diri mampu mengembangkan dirinya ke arah kesempurnaan, yang menjadi tujuan perkembangan diri menurut Adler. Ketiadaan dukungan sosial yang memadai bagi diri menyebabkan semakin besarnya intensitas inferioritas yang dirasakannya, dan ini dapat mengarahkan pada gejala keabnormalitasan diri. Akan tetapi, Adler percaya bahwa tiap diri adalah kreatif untuk mencari alternatif penyelesaian bagi setiap masalah yang dihadapinya, sehingga apabila abnormalitas itu muncul, maka dapat disimpulkan bahwa stimulus broken home yang dirasakannya melebihi taraf intensitas kemampuannya dalam mereduksi masalah.

 

BAB III

ANALISIS KASUS DAN PEMECAHAN MASALAH

Dalam kasus yang telah dipaparkan di atas, penulis melihat bahwa keluarga di atas dibentuk bukan atas dasar cinta. Sejalan dengan konsep segitiga cinta yang dikemukakan oleh Robert Stenberg bahwa cinta yang baik dibangun atas tiga aspek yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Sangat jelas bahwa cinta dalam kasus di atas sangatlah minim dari kesemua aspeknya. Dari aspek keintiman, keluarga yang dibangun bukan atas dasar cinta tentunya sangatlah kecil kemungkinan terdapat keintiman. Keintiman merupakan aspek yang membangun suasana yang hangat dalam keseharian keluarga. Bukan tidak dapat disangkal lagi bahwa kehilangan aspek keintiman dalam keluarga menjadikan suasana dalam keluarga seperti kuburan. Dari aspek gairahpun demikian, sangat jelas kaitan antara keintiman dan gairah. Adanya keintiman akan memunculkan rasa gairah diantara pasangan suami istri.dalam kasus di atas, penulis mengilustrasikan bahwa gairah yang muncul hanyalah sebagai suatu keterpaksaan. Hal ini sering terjadi pada perjodohan yang tidak didasarkan atas dasar suka sama suka. Dan dari aspek komitmen, penulis mengidentifikasikan bahwa komitmen yang terbentuk kurang efektif. Komitmen yang efektif setidak-tidaknya merupakan komitmen yang dibangun demi keselarasan hubungan keluarga, prinsip-prinsip yang dianut keluarga, dan mungkin mengarah pada peraturan yang menjaga kelangsungan dan keberadaan keluarga itu. Akan tetapi, dalam kasus ini penulis melihat adanya kesenjangan dalam komitmen.

Sebenarnya broken home dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Akan tetapi, yang jelas semua berawal dari rasa ketidakcocokan antarpasangan suami istri. Ayah, ibu, dan anak adalah keluarga inti yang merupakan organisasi terkecil dalam kehidupan bermasyarakat. Pada hakikatnya, keluarga merupakan wadah pertama dan utama yang fundamental bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Di dalam keluarga, anak akan mendapatkan pendidikan pertama mengenai berbagai tatanan kehidupan yang ada di masyarakat. Keluargalah yang mengenalkan anak akan aturan agama, etika sopan santun, aturan bermasyarakat, dan aturan-aturan tidak tertulis lainnya yang diharapkan dapat menjadi landasan kepribadian anak dalam menghadapi lingkungan. Keluarga juga yang akan menjadi motivator terbesar yang tiada henti saat anak membutuhkan dukungan dalam menjalani kehidupan. Dalam kasus di atas terlihat jelas keretakan hubungan suami dan istri mengakibatkan terjadinya pengabaian pada anak. Lebih ironis lagi, sang anak menjadi pelampiasan kemarahan ibunya karena kalah bertengkar dengan ayah. Tentunya ini menjadi faktor negatif dalam perkembangan kepribadian anak. Perkembangan kepribadian anak yang sehat akan terhambat, dan bisa jadi anak akan mengembangkan suatu kepribadian yang menyimpang sebagai kompensasi perlakuan orangtuanya.

Perhatian yang diperlukan anak dari orangtuanya adalah disayangi dengan sepenuh hati dalam bentuk komunikasi verbal secara langsung dengan anak, meski hanya untuk menanyakan aktivitas sehari-harinya. Menanyakan sekolahnya, temannya, gurunya, mainannya, kesenangannya, hobinya, cita-cita dan keinginannya. Ada anak di sekolah yang merasa aneh, jika temannya mendapatkan perhatian seperti itu dari orangtuanya, karena zaman sekarang hal tersebut menjadi sangat mahal harganya dan tidak semua anak mendapatkannya.

Anak sangat membutuhkan sentuhan dari orangtuanya, dalam bentuk sentuhan hati yang berupa empati dan simpati untuk membuat anak menjadi peka terhadap lingkungannya. Selain itu, belaian, pelukan, ciuman, kecupan, dan senyuman diperlukan untuk membuat kehangatan jiwa dalam diri anak dan membantu anak dalam menguasai emosinya.

Lalu bagaimana solusi untuk masalah dalam bab I di atas? Penulis melihat bahwa keluarga yang tidak dilandaskan atas rasa suka sama suka atau singkatnya disebut cinta, tentunya tidak akan membuahkan hasil yang baik. Dalam arti Stenberg mengatakan tidak terpenuhinya ketiga aspek cinta secara seimbang. Di sini terlihat jelas bahwa komitmen yang seharusnya tumbuh dari rasa keintiman tidak nampak. Lebih diperburuk lagi tidak adanya gairah dalam keluarga tersebut. Hal ini akan lebih parah dengan fakta bahwa anak-anak menjadi tempat pelampiasan kemarahan salah seorangtua setelah kalah bertengkar dengan pasangannya. Dalam kasus ini adalah ibu yang melampiaskan kemarahannya kepada anak-anak setelah kalah berselisih dengan ayahnya. Sangat nampak jelas ego keduanya sangatlah tinggi, sehingga kasih sayang terhadap anak-anaknya seakan-akan tidak terlihat.

Bukan demi maksud memberikan penilaian atau apapun itu, penulis berasumsi keluarga tersebut tidak layak dipertahankan mengingat anak-anak dalam keluarga itu menjadi korban KDRT. Menurut penulis sudah tidak terdapat alasan positif untuk mempertahankan keluarga serupa demikian. Acapkali seharusnya kita terlebih dahulu mempertimbangkan bakal keputusan yang akan kita jalani, termasuk halnya keputusan untuk berkeluarga. Hal ini dikarenakan dalam setiap keputusan mengandung resiko tersendiri. Untuk itu, kita harus siap dengan resiko atas keputusan yang telah kita ambil. Resiko yang penulis maksud dalam hal ini adalah resiko antara menerima status janda-duda atau cerai. Dalam kelayakan berkeluarga, penulis melihat pentingnya komunikasi yang sehat diantara kedua pasangan dan anak-anaknya. Keluarga dalam kasus ini nampaknya telah menyimpang dari keluarga yang sehat dalam arti selain terjadi ketidakharmonisan hubungan suami-istri, juga terjadi pengabaian afek serta KDRT dari orangtua atas anak-anaknya.

Itulah sekilas pemaparan alasan penulis untuk menyarankan kedua pasangan untuk bercerai. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anaknya? Penulis hanya bisa berasumsi bahwa itulah resiko lain yang harus ditanggung atas perceraian. Menjadi seorang single-parent bukanlah hal yang mudah, tetapi bukan juga hal yang susah. Lebih baik seperti itu daripada harus tetap menjaga kelangsungan pertengkaran dalam keluarga itu. Asumsinya jika stressor yang menimbulkan KDRT pada anak (yaitu pertengkaran dengan pasangan) masih ada atau dalam arti belum dihapus, maka bukan tidak pasti hal ini lebih buruk daripada harus bercerai. Harapannya setelah bercerai orangtua dapat lebih memperhatikan anak-anaknya.

Di sisi lainnya, seperti yang telah penulis paparkan dalam bab sebelumnya bahwa peran dukungan sosial dari kerabat dekat maupun lingkungan sekitar sangatlah berarti bagi kondisi seperti ini, dimana kakek atau nenek, bibi atau paman, atau tetangga dapat memberikan dukungan yang selayaknya bagi langkah selanjutnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. 2002. Analisis Eksistensial Untuk Psikologi dan Psikiatri. Bandung: Refika

Hall, Calvin S, Gardner Lindzey. 1993. Teori-Teori Psikodinamik (Klinis). Yogyakarta: Kanisius

Palmer, Donald D. 2001. Kierkegaard: Untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius

Santrock, John W. 2002. Adolescence: Perkembangan Masa Remaja. Yogyakarta: Erlangga

___.http://mtdw.blogspot.com/2006/04/apa-makna-cinta-cinta-adalah-suatu.html. Disadur pada tanggal 7 mei 2008

___.http://www.eramuslim.com/konsultasi/klg/6c12111326-keluarga-broken-home.htm. Disadur pada tanggal 5 April 2008

___.file:///F:/Psi%20Keluarga%20Indv/Racauan%20Manda%20%20%20Broken%20Home%20%20%20%20February%20%20%202007.htm. Disadur pada tanggal 5 April 2008

___.http://www.smpn28-bdg.sch.id/modules.php?name=News&file=article&sid=8. Disadur pada tanggal 5 April 2008

___.http://4ri3e.wordpress.com/2007/12/24/broken-homeso-what-gitoeh-loehh/. Disadur pada tanggal 5 April 2008

___.http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2003-yeriabdill-290&q=Anak. Disadur pada tanggal 5 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s