Tes-Tes Berbasis Psikologi


Sejarah Asesmen Psikodiagnostika

Sejarah tes psikologi dapat dihubungkan dengan praktek sehari-hari. Tes psikologi selalu berkembang. Tes psikologi pada awalnya berfokus pada pengukuran intelegensi di Eropa selama abad ke-19 dan di awal perang dunia pertama. Sebenarnya tes-tes berbasis psikologis ini telah digunakan di Cina sekitar tahun 2200 sebelum masehi. Kerajaan Cina menggunakan tes tertulis untuk memilih para pejabat negara. Hingga pada pertengahan tahun 1800an, beberapa fisikawan dan psikiatris mengembangkan prosedur standar untuk mengungkap gejala alam dan gejala-gejala sakit mental serta kerusakan pada otak.

Awal dari penyusunan tes psikologis secara sistematis diawali dari Teori Darwin dengan Teori Evolusinya pada tahun 1860. Kecerdasan setiap spesies makhluk hidup berbeda-beda dan semua makhluk berevolusi mulai dari taraf makhluk yang paling rendah hingga ke taraf makhluk yang sempurna. Hal ini berlaku pula pada manusia. Ini yang mengakibatkan beberapa orang meyakini bahwa manusia memiliki strata kemampuan berkaitan dengan akalnya. Tahun 1900, Alfred Binnet, Psikolog dari Prancis yang tertarik pada anak dan pendidikan. Bersama dengan temannya, Theodore Simon diminta oleh Menteri Pendidikan untuk dapat memprediksi kondisi anak mana yang menanggung resiko mengalami kegagalan dalam sekolah mereka. Berdasakan pengalaman mereka, mereka membuat pertanyaan-pertanyaan yang diklaim dapat menentukan tingkat keberhasilan anak dalam belajar. Tes yang dibuat sangat kental dengan kemampuan-kemampuan sekolah yang menekankan pada kemampuan-kemampuan sekolah. Hingga muncul tes psikologi Binnet-Simon dan diikuti oleh tes-tes psikologi lainnya. Tes psikologi yang semula hanya mengukur kemampuan akademis seseorang mulai diyakini bahwa bila seseorang meraih nilai yang tinggi dari tes tersebut maka akan berdampak bahwa orang tersebut akan berhasil di masa depan, sebaliknya bila seseorang meraih nilai yang rendah dari tes tersebut, maka orang tersebut dipastikan akan gagal di masa depan. Ini merupakan asumsi yang keliru.

Asesmen psikologi memiliki rentang cakupan yang luas. Dalam asesmen, Psikolog mengintegrasi informasi dari berbagai sumber, salah satunya tes psikologi. Tes psikologi merupakan instrumen penting dalam proses asesmen. Awalnya fungsi tes psikologi adalah untuk mengukur perbedaan-perbedaan antara individu atau antara reaksi individu yang sama dalam situasi yang berbeda. Namun, dewasa ini tes psikologi digunakan untuk pemecahan permasalahan praktis yang berskala luas, baik di bidang pendidikan, klinis, maupun organisasi. Asesmen psikologi merupakan tahapan yang penting sebelum intervensi psikologis dapat dilakukan. Dengan melakukan asesmen psikologi, psikolog dapat memperoleh informasi mengenai individu.

Konsep Dasar Instrumen Asesmen

Tes pada dasarnya adalah alat ukur atribut psikologis yang objektif atas sampel perilaku tertentu. Bagi Anda sebagai pendidik, tes merupakan salah satu instrumen asesmen yang banyak digunakan untuk menggali informasi tentang sejauh mana tingkat penguasaan kompetensi siswa terhadap kompetensi yang dipersyaratkan. Tes pada dasarnya merupakan alat ukur pembelajaran yang paling banyak digunakan dalam melakukan asesmen proses dan hasil belajar siswa dalam pengajaran klasikal.

Terdapat lima jenis atau cara pembagian tes yaitu: a) Pembagian jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan, b) Jenis tes berdasarkan waktu penyelenggaraan, c) Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan, d) Pembagian jenis tes berdasarkan cara penyusunan, e) Pembagian jenis tes berdasarkan bentuk jawaban.

Jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan terdiri dari Tes Seleksi, Tes Penempatan, Tes Hasil Belajar, Tes Diagnostik, dan Tes Uji Coba. Sedangkan Jenis tes berdasarkan tahapan atau waktupenyelenggaraannya meliputi Tes Masuk (Entrance Test), Tes Formatif (Formative Test),Tes Sumatif (Summative Test), Pra-Testdan Post-Test. Secara umum, tes dapat dikerjakan secara tertulis dan secara lisan dalam bentuk tes essai maupun objektif.

FUNGSI, TARAF VALIDASI, DAN APLIKATIF TES-TES PSIKOLOGI

Secara mendasar, fungsi tes psikologi adalah untuk mengestimasi perbedaan antara individu serta reaksi-reaksi individu yang muncul pada situasi yang sama ataupun berbeda.

Awalnya tes psikologi berkembang dari asumsi untuk mengidentifikasi individu yang mengalami keterbelakangan mental, hingga sekarang penggunaannya secara klinis mencakup subjek-subjek dengan gangguan emosional yang parah maupun masalah-masalah perilaku yang lainnya. Salah satu motivasi perkembangan tes psikologi juga mendasar pada kebutuhan untuk memberikan penilaian dalam bidang pendidikan, misalnya Tes Inteligensi Binnet yang masih digunakan hingga sekarang. Selain itu, peranan lainnya adalah untuk menyeleksi dan klasifikasi sumber daya manusia yang digunakan dalam industri-industri dalam memilih karyawannya, dalam memilih personil militer, dan lain sebagainya.

Penggunaan tes psikologi dalam konseling perorangan mencakup dari aspek perencanaan pendidikan, pekerjaan, hingga pada semua aspek kehidupan yang lebih luas, misalnya kestabilan emosi, pola-pola hubungan interpersonal, pemahaman diri, pengembangan diri, hingga sarana untuk mencari solusi bagi beragam gangguan dan disfungsi psikologis seperti gangguan perilaku pada remaja, bahkan lebih luas lagi berguna dalam penelitian-penelitian dasar.

Suatu tes psikologi akan berbeda fungsinya dengan tes psikologi lainnya. Ini mengilustrasikan bahwa suatu tes psikologi disusun dengan sifat-sifat tes dan fungsi yang berbeda. Beberapa tes berfokus pada penilaian ciri-ciri atau kognitif yang berkisar mengestimasi kemampuan dan potensi pada individu hingga keterampilan sensorimotor yang spesifik.

Secara paktis, tes psikologi adalah alat ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu. Dalam penyeleksian item-item soal tes juga dipertimbangkan dengan jumlah subjek yang menjadi sampel perilaku yang melewati tiap item soal tersebut. Hal ini memungkinkan ada sejumlah item tes akan dieliminasi. Mengenai seberapa besar keakuratan suatu alat tes psikologi nampaknya tidak dapat ditentukan secara pasti. Kadang-kadang dalam suatu situasi kehandalannya dapat teruji. Di sisi lainnya, pendapat-pendapat subjektif, dugaan-dugaan, dan bias-bias pribadi bias mengarah pada klaim-klaim berlebihan mengenai apa yang dicapai oleh tes tersebut. Evaluasi objektif tes-tes psikologi adalah suatu solusi untuk mengetahui validitas dan kehandalan alat tes dalam situasi-situasi khusus.

Langkah-langkah Menyusun tes

Penyusunan tes sangat besar pengaruhnya terhadap peserta yang akan mengikuti tes, untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran maka tes harus direncanakan secara cermat. Dalam perencanaan tes ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan tester yaitu :

1.Menentukan cakupan materi yang akan diukur. Ada tiga langkah dalam mengembangkan kisi-kisi tes dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dasar, yaitu (1) Menulis kompetensi dasar, (2) Menulis materi pokok, (3) Menentukan indikator, dan (4) Menentukan jumlah soal.

2. Memilih Bentuk Tes. Pemilihan bentuk tes akan dapat dilakukan dengan tepat bila didasarkan pada tujuan tes, jumlah peserta tes, waktu yang tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes, cakupan materi tes, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan.

3. Menetapkan panjang Tes. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah soal, yaitu : bobot masing-masing bagian yang telah ditentukan dalam kisi-kisi, kehandalan yang diinginkan, dan waktu yang tersedia.

Kriteria Tes Yang Baik

Ada beberapa kriteria yang dapat dipakai untuk menyusun butir-butir tes yang berkualitas yaitu a) Valid, b) Relevan, c) Spesifik, d) Representatif, e) Seimbang, f) Sensitif , g) Fair, dan h) Praktis. Kualitas instrumen sebagai alat ukur ataupun alat pengumpul data diukur dari kemampuan alat ukur tersebut untuk dapat mengungkapkan dengan secermat mungkin fenomena-fenomena ataupun gejala yang diukur. Kualitas yang menunjuk pada tingkat keajegan, kemantapan, serta konsistensi dari data yang diperoleh itulah yang disebut dengan validitas dan reliabilitas.

Validitas alat ukur menunjukkan kualitas kesahihan suatu instrument, Alat pengumpul data dapat dikatakan valid atau sahih apabila alat ukur tersebut mampu mengukur apa yang seharusnya diukur/ diingikan. Jenis-jenis validitas yang dapat dipakai sebagai kriterium, dalam menetapkan tingkat kehandalan tes, diantaranya adalah : a) Validitas Permukaan (Face Validity), b) Validitas Konsep (Construct Validity), dan c)Validitas Isi (Content Validity).

Kerlinger (1986:443) mengemukakan bahwa reliabilitas dapat ukur dari tiga kriteria yaitu: (1) Stabilityyaitu kriteria yang menunjuk pada keajegan (konsistensi) hasil yang ditunjukan alat ukur dalam mengukur gejala yang sama pada waktu yang berbeda. (2) Dependability yaitu kriteria yang mendasarkan diri pada kemantapan alat ukur atau seberapa jauh alat ukur dapat diandalkan. (3) Predictability: Oleh karena perilaku merupakan proses yang saling berkait dan berkesinambungan, maka kriteria ini mengidealkan alat ukur yang dapat diramalkan hasilnya dan meramalkan hasil pada pengukuran gejala selanjutnya.

Cara mencari koefisien reliabilitas alat ukur, dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, dimana masing-masing cara mempunyai kekurangan dan keunggulan tersendiri. Berbagai pilihan tentang cara menetapkan tingkat reliabilitas alat ukur tersebut adalah : a) Teknik Pengulangan (Test and Re Test Reliability, b). Teknik Bentuk Paralel (Alternate Form Reliability), c) Teknik belah dua (Split Half reliability). Oleh karenanya, untuk mendapatkan gambaran koefisien secara keseluruhan, koefisien antar belahan tersebut masih perlu dikoreksi dengan formula berikut ini : N r x1 x2

Reliability = 1 + r x1 x1

Dimana :

x1adalah skor dari belahan satu,

x2 adalah skor dari belahan kedua, dan

n adalah banyaknya subjek pada setiap bagian (belahan).

d) Kuder Richardson Reliability. Cara ini diberlakukan bila instrumen digunakan untuk mengukur satu gejala psikologis atau perilaku yang sama, artinya alat ukur tersebut dapat dikatakan reliabel bila terbukti ada konsistensi jawaban antaritem yang satu dengan item yang lain. e) Cronbach Alpha Reliability. Cara ini juga dikembangkan untuk menguji konsistensi internal dari suatu alat ukur.Perbedaan pokok dengan Model Kuder Richardson adalah bahwa teknik ini tidak hanya untuk instrumen dengan dua pilihan tetapi tidak terikat pada dua pilihan saja, sehingga penerapannya lebih luas, misalnya untuk menguji reliabilitas skala pengukuran sikap dengan 3, 5 atau 7 pilihan.

Macam-Macam tes Psikologis

Berdasarkan aspek mental dan psikologis yang diungkap, maka secara garis besar tes psikologis dibagi menjadi dua macam berdasarkan sasaran yang hendak dicapai, yaitu:

1. Mengungkap aspek kognitif (intelegensi)

  1. Tes Binnet

  2. Tes Wechsler (Wechsler Adult Intelligence Scale, Wechsler Intelligence Scale for Children, Wechsler Preschool and Primary Scale for Intelligence)

  3. Tes Raven (Standard Progressive Matrices, Coloured Progressive Matrices, Advanced Progressive Matrices)

  4. TIKI (Tes Intelegensi Kolektif Indonesia)

2. Mengungkap aspek kepribadian

a. Teknik Non-Proyektif (Objektif)

  1. EPPS (Edwards Personal Preference Schedule)

  2. MMPI (Minessota Multiphasic Personality Inventory)

  3. 16 PF

  4. CAQ (Clinical Analysis Questionnaire)

b. Teknik Proyektif

  1. TAT (Thematic Apperception Test)

  2. Tes Grafis

  3. Tes Wartegg

  4. SSCT (Sack Sentence Completion Test)

  5. Tes Szhondi (sarana proyeksinya foto)

  6. Tes Rorschach (salah satu tes bercak tinta)

Tes Kepribadian Laporan diri

Tes kepribadian adalah instrumen untuk mengukur ciri-ciri emosi, motivasi, antarpribadi, dan sikap, yang dibedakan dari kemampuan. Dalam perkembangan tes kepribadian, berbagai pendekatan yang digunakan dewasa ini antara lain berdasarkan pada relevansi isi, pemasukan kriteria empiris, analisis faktor, dan teori kepribadian. Pendekatan tersebut saling melengkapi satu sama lain. Dalam pratek sesungguhnya, inventori saat ini menggunakan dua atau lebih prosedur laporan diri ini.

Beberapa prosedur pendekatan tes kepribadian antara lain adalah :

  1. Prosedur yang terkait dengan isi butir soal

Keuntungan : sederhana dan langsung, relatif ringkas, ekonomis, kemungkinan manipulasi hasil lebih rendah dibanding metode lain.

Kerugian : sulit diandalkan menjadi dasar dalam mengambil keputusan apapun karena efek bias dan subjektivitas yang sangat besar.

1). Lembar Data Pribadi Woodworth

- Dikembangkan untuk digunakan selama perang dunia I

- Dibuat sebagai upaya untuk membakukan wawancara psikiatris dan prosedur testing secara massal.

- Pertanyan inventori : perilaku menyimpang seperti phobia, obsesi kompulsi, mimpi buruk dan gangguan tidur lain, kelelahan yang berlebihan, simtom psikosomatis, perasaan tidak nyata, dan gangguan motorik yang tidak nyata.

2). Symptom Checklist-90-Revised

SCL-90-R dirancang untuk menyaring masalah sosial dan simtom psikopatologi.

Butir soalnya diorganisir dalam Sembilan dimensi psikopatologi, yaitu somatisasi, depresi, kecemasan, permusuhan, psikotisme, sensitivitas antar pribadi, kecemasan fobia, ideasi paranoid, dan gejala-gejala obsesif kompulsif.

  1. Pemasukan Kriteria Empiris

Pemasukan kriteria empiris merujuk pada pengembangan kunci scoring dalam kaitan dengan kriteria ekternal tertentu.

1) Minnesota Multiphasic Personality Inventories

Contoh terkenal tentang pemasukan kriteria empiris dalam penyusunan tes kepribadian adalah MMPI. MMPI adalah tes kepribadian yang paling luas digunakan dan paling dalam diteliti. Saat ini, MMPI telah direvisi dan disusun ulang menjadi dua versi yang berbeda, MMPI-2 (1989), dan MMPI-Adolescent (MMPI-A;1992). MMPI dihasilkan tahun 1930an oleh Starke R. Hathaway, seorang psikolog klinis dan J. Charnley McKinley, seorang neuropsikiater. MMPI pada awalnya diterbitkan sebagai rangkaian artikel pada tahun 1940an untuk berfungsi sebagai alat bantu dalam proses diagnosis psikiatris.

MMPI-2

Butir soal MMPI-2 terdiri dari 567 pertanyaan afirmatif yang ditanggapi peserta dengan jawaban “Benar” dan “Salah.” Butir soalnya mempunyai rentang yang sangat luas dalam isi, mencakup bidang-bidang seperti kesehatan umum; simtom afektif, neurologis, motorik, sikap, pertanyaan tentang pendidikan, pekerjaan, keluarga, dan pernikahan, dan berbagai macam manifestasi perilaku neurotis. Ilustrasi pertanyaannya antara lain :

  • Tidur saya gelisah dan terganggu

  • Saya percaya ada yang berkomplot terhadap saya

  • Saya cemas terhadap seks

MMPI-2 memberikan skor pada 10 skala klinis dasar :

1. Hs : Hipokondriasis 6. Pa : Paranoia

2. D : Depresi 7. Pt : Psikasthenia

3. Hy : Histeria 8. Sc : Schizophrenia

4. Pd : Penyimpangan Psikopatis 9. M : Mania

5. Mf : Maskulinitas-Femininitas 0. Si : Introversi Sosial

Segi yang menonjol dari MMPI adalah penggunaan tiga skala yang disebut skala-skala validitas. Skor validitas mencakup :

  1. Skor Bohong (L) : didasarkan pada sekelompok butir soal yang tampaknya dipahami dengan baik oleh responden tetapi tidak mungkin dijawab dengan benar dalam arah yang dikehendaki (missal : saya tidak suka setiap orang yang saya kenal).

  2. Skor Infrekuensi (F) : ditentukan dari seperangkat 60 soal yang dijawab dalam arah yang diskor tidak lebih daripada 10% kelompok standardisasi MMPI. Skor F bisa menunjukkan kesalahan pemberian skor, kurangnya perhatian dalam pemberian respon, atau kepura-puraan yang disengaja.

  3. Skor Koreksi (K) : skor K yang tinggi mengindikasikan sifat defensive atau usaha untuk “memalsukan yang baik.” Skor K rendah menunjukkan sikap terus terang yang berlebihan dan kritik diri atau usaha sengaja untuk “memalsukan yang buruk”.

Skor L dan F digunakan untuk evaluasi secara keseluruhan atas dokumen tes, jika salah satu skor tersebut melampaui nilai yang khusus, maka dokumen tersebut dianggap tidak valid. Skor K dirancang sebagai variabel penekan.

Diantara 21 skala suplementer MMPI-2, ada tiga indikator “validitas” baru yang dapat menaksir tingkat perhatian dan ketelitian para peserta tes, yaitu: skala Back F (Fb), Variable Response Inconsintency Scale (VRIN), dan True Response Inconsistency Scale (TRIN). Fb adalah perluasan skor F, sedangkan VRIN dan TRIN adalah skala baru yang terdiri dari pasangan butir soal dengan makna yang sama atau bertentangan dan bertujuan mendeteksi respon yang inkonsisten dan kotradiktoris.

MMPI-A

MMPI-A adalah bentuk baru MMPI yang dikembangkan secara spesifik untuk digunakan untuk digunakan pada remaja. MMPI A memuat hampir semua segi dari MMPI dan MMPI-2, menckup 13 skala dasar yang terdiri dari 478 butir soal. Soal-soal tersbeut mencakup bidang seperti sekolah dan keluarga, dan di atas segala-segalanya, persyaratan, norma kecocokan usia.

  1. Analisis faktor

Contohnya adalah Kuesioner 16 faktor kepribadian (16-PF)

  1. Teori kepribadian

Contohnya: Milloen Clinical Multiaxial Inventory, Edwards Personal Preference Schedule.

PROJECTIVE APPROACHES

        Dalam tes-tes kepribadian dengan pendekatan proyektif, klien berespon terhadap stimulus yang tidak terstruktur dan ambigu, sehingga tanpa sadar klien mengungkap struktur dasar dan dinamika kepribadiannya. Beberapa teknik proyektif yang terkenal dan digunakan secara luas antara lain tes Rorschach, Thematic Apperception Test (TAT), Children’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tes Make-A-Picture Story (MAPS), Michigan Picture Story Test, dan Sentence Completion Test.

  1. Thematic Apperception Test (Tat)

Dalam tes ini, klien diminta membuat cerita dari beberapa kartu bergambar yang disajikan satu persatu. Klien dapat menulis sendiri ceritanya atau examiner yang menulis cerita klien. Tugas klien adalah menceritakan apa yang sedang terjadi saat ini, sebelumnya (situasi apa yang menimbulkan peristiwa saat ini), bagaimana pikiran dan perasaan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, dan bagaimana akhir dari cerita yang dibuat klien.

Cerita yang dibuat klien dianggap memiliki implikasi terhadap konflik ataupun masalah yang dialami klien. Interpretasi klinis yang dilakukan terfokus pada dimensi-dimensi seperti bagaimana tokoh-tokoh berinteraksi, tingkat kehangatan atau konflik dari interaksi tokoh-tokoh, impian atau cita-cita tokoh, harapan tokoh terhadap diri dan lingkungannya, dan level kematangan secara umum yang diindikasikan dari bentuk cerita. Tema-tema dari TAT dapat menggambarkan fungsi kepribadian secara luas dan bermanfaat dalam mengidentifikasi sumber utama konflik sehingga dapat ditentukan intervensi terapeutik yang sesuai. Cerita TAT pada dasarnya menggambarkan lingkungan seperti apa yang klien lihat di sekitar dirinya dan orang-orang seperti apa yang ia rasakan tinggal bersamanya di dunia ini.

Bentuk modifikasi dari TAT adalah CAT (Children’s Apperception Test) yang menyediakan gambar yang terfokus pada konflik, hubungan orangtua, permusuhan dengan saudara kandung, toilet training, dan situasi lain yang sering ditemui pada anak-anak.

Tes lain yang mirip dengan TAT dan CAT adalah Michigan Picture Story Test (MPST)terdiri dari material yang menggambarkananak-anak dalam hubungannya dengan orangtua, polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bermanfaat dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan teman-teman, sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul.

Selain itu, ada juga tes Make-A-Picture Story (MAPS), yang memiliki kesamaan dengan MPST dalam hal tujuan dan potensi interpretasi yang dimiliki. Perbedaan MAPS dengan tes lain yaitu, pada MAPS klien diperbolehkan memilih karakter yang akan diletakkan pada latar belakang panggung yang kecil, untuk kemudian klien membuat cerita berdasarkan situasi tersebut.

  1. Figure Drawing

Beberapa pendekatan dalam mengevaluasi kepribadian dengan menggunakan gambar yang dibuat klien telah berkembang. Dalam hal ini, kemampuan menggambar bukanlah faktor utama. Salah satu bentuk tesnya adalah Draw-A-Person (DAP), dimana klien diminta untuk menggambar seorang lelaki dan perempuan menggunakan pensil dan kertas. Gambar orang dapat memberikan kesan pertama dengan segera, seperti sikap bermusuhan atau agresif, atau orang yang pasif dan submisif. Interpretasi juga didasarkan pada ukuran gambar, posisi, postur, apakah gambar orang terlihat percaya diri, ramah, dan sebagainya. Sebaiknya, dalam menginterpretasi DAP juga dikaitkan dengan temuan-temuan dari tes-tes lain.

  1. Incomplete Sentence Test

Dalam metode proyektif ini, klien diberikan sejumlah kalimat yang belum selesai dan diminta untuk melengkapi kalimat sehingga menjadi kalimat yang memiliki arti. Kalimat-kalimat ini memiliki kecenderungan dalam aspek-aspek seperti preokupasi terhadap seksual, perasaan religius, hubungan dengan orang tua, teman, rasa takut, cemas, perasaan bersalah, sikap bermusuhan dan impuls agresi. Bentuk respon klien dapat memberikan insight ke dalam area konflik, termasuk juga kelebihan dan kekurangan dari kepribadian klien.

  1. Competency Screening Test

Psikolog terkadang dipanggil ke pengadilan untuk mengevaluasi status mental atau inteligensi seseorang untuk membantu pengadilan terkait dengan kasus orang tersebut. Untuk keperluan inilah Competency Screening Test dikembangkan. Tes ini dilakukan dengan cara melengkapi 22 kalimat, dimana setiap kalimat terkait dengan aspek peran terdakwa dalam pengadilan kriminal. Setiap item diskor 0, 1 atau 2 secara manual. Terdakwa yang mendapatkan skor 21 ke atas telah terbukti kompeten dalam pengadilan dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Tes ini membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.

  1. Rorschach Test

Metode proyektif yang paling dikenal dan digunakan secara luas dalam melihat kepribadian seseorang adalah tes Rorschach. Dalam tes ini, klien diperlihatkan sepuluh kartu dengan bentuk ambigu hasil dari cipratan tinta yang hampir simetris. Lima kartu berwarna hitam, putih dan abu-abu yang berbayang, sedangkan lima kartu lainnya memiliki warna. Kebanyakan ahli setuju bahwa tes Rorschach ini merupakan teknik psikodiagnostik yang signifikan dan sensitif. Tes ini mengevaluasi emosi-emosi yang dialami klien dalam hidupnya, tingkat intelektual dan membantu menjelaskan komponen-komponen kepribadian seseorang.

Ada tiga kategori penting dalam memberikan skor pada tes ini, yaitu lokasi yang menunjukkan pada bagian mana respon dilihat oleh klien dalam kartu, determinan yang menunjukkan bagaimana respon tersebut dilihat, dan konten yang menunjukkan apa yang dilihat klien dalam kartu.

Para psikolog ahli yang sudah berpengalaman dalam tes ini, menemukan bahwa respon yang diberikan klien, baik anak-anak maupun dewasa, mengindikasikan beberapa tipe dari gangguan kepribadian dengan karakteristik respon tertentu. Misalnya pada gangguan psikotik dan skizofrenia lainnya, ditemukan bahwa respon yang diberikan seringkali ganjil dan aneh, kualitas bentuk biasanya lemah, dan ada ketidaksesuaian antara yang dilihat klien dengan stimulus sebenarnya dalam kartu. Klien-klien ini biasanya memfokuskan seluruh perhatian mereka pada detail-detail sementara komponen-komponen utama diabaikan. Kadang-kadang mereka juga terlalu melibatkan emosi mereka pada kartu-kartu dan mempersonalisasikan persepsi mereka dalam cara tertentu, sehingga mereka tidak mampu membedakan antara diri mereka dan kartu Rorschach.

Dalam beberapa kasus diagnostik dimana terdapat gangguan psikologis seperti gangguan pikiran yang signifikan, penggunaan tes Rorschach sangat disarankan. Tidaklah sulit dalam mengadministrasi maupun menskor tes ini.Namun, dalam menginterpretasi dibutuhkan psikolog yang handal dan berpengalaman.

Pentingnya Pengembangan Asesmen Psikodiagnostik

Asesmen psikologi sedang berada dalam lajur perubahan yang cepat. terdapat pergeseran orientasi, aliran tetap yang konstan dari tes-tes baru, bentuk-bentuk tes lama yang direvisi, dan data tambahan yang bisa menghaluskan atau mengubah interpretasi skor-skor pada tes yang ada. Laju perkembangan yang semakin cepat ini mendorong dikembangkannya alat-alat psikodiagnostika yang telah ada, agar mutu tes dan efek testing terhadap kesejahteraan individu dapat menjadi lebih baik.

Teori Kecerdasan Berganda (Theory of Multiple Inteligences) adalah salah satu penemuan yang paling penting dalam perkembangan pendidikan saat ini. Howard Gardner, seorang psikolog dari Universitas Harvard yang mengembangkan teori ini berdasarkan dari Teori Psikologi Perkembangan dan Teori Kognisi. Dalam bukunya, Frame of Mind tahun 1983 mendefinisikan tujuh dasar kecerdasan manusia dan kemudian berkembang menjadi sembilan kecerdasan yang meruntuhkan Teori Psikologi Tradisional dengan tes IQ-nya. Pangkal dari teori kecerdasan berganda adalah pengakuan sepenuhnya pada perbedaan individu (individual deferences). Setiap orang memiliki kekhususan dalam mengembangkan kemampuannya. Gardner mengelompokkan kecerdasan tersebut dalam tujuh kecerdasan, yaitu :

  1. Kecerdasan Linguistik/Bahasa (Linguistic-intelligence)

Merupakan kecerdasan yang mewakili kemampuan bahasa secara keseluruhan.

  1. Kecerdasan Logika-Matematika (Logical-matematical Intelligence)
    Merupakan kemampuan mengenai logika-matematika di samping kemampuan ilmu pengetahuan.

  2. Kecerdasan Ruang (Spacial Intelligence)

Adalah kemampuan membentuk model mental dari dunia ruang dan mampu melakukan berbagai tindakan operasional menggunakan model itu.

  1. Kecerdasan Musik (Musical Intelligence)

  2. Kecerdasan Gerak Badan-Kinestetik (Body-kinesthetic Intelligence)

Adalah kemampuan menyelesaikan masalah menggunakan seluruh anggota badan atau sebagian badan.

  1. Kecerdasan AntarPribadi (Interapersonal Intelligence)

Adalah kemampuan untuk memahami orang lain mencakup apa yang memotivasi mereka, bagai mana mereka bekerja, serta bagaimana bekerja sama.

  1. Kecerdasan Intra-pribadi (Intrapersonal Intelligence)

Merupakan kemampuan yang mengarah ke dalam diri, yaitu kemampuan membentuk model yang akurat, dapat dipercaya dari diri sendiri dan mampu menggunakannya untuk berprestasi dalam hidup.

Dalam perkembangannya, jumlah aspek kecerdasan bertambah terus. Ada juga yang menambahkan Kreativitas Intuitif sebagai satu aspek kecerdasan manusia, yang paling tinggi. Malah belakangan, Gardner sendiri menambahkan satu lagi unsur kecerdasan yang disebutnya Kecerdasan Eksistensial yang lebih mirip dengan kecerdasan spiritual. Kedua kecerdasan ini belum terdefinisi secara spesifk, namun ada anggapan bahwa Gardner sedikit mengakui kecerdasan spiritual dalam kecerdasan eksistensialnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anastasi, Anne, Susana Urbina. 1997. Tes Psikologi : Psychological Testing 7th Edition : Edisi Bahasa Indonesia; Jilid 2. Jakarta : Prenhallindo

___.Inisiasi II Asesmen Pembeljaran SD (Mengembangkan Tes Sebagai Instrumen Asesmen). Dikutip Dari : http://fip.uny.ac.id/pjj/wp-content/uploads/2008/03/ semester_3_inisia si_2_asesmen pembelajaran_sd_2.pdf. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

___.Sejarah dari Psikometri. Dikutip Dari : http://muhamadikhsan.multi ply.com/item/reply/muhamadikhsan:journal:2?xurl=/journal/item/2/KETIKA_KECERDASAN_DI_TATA_ULANG_Telaah_Ulang_Makna_dari_Kecerdasan_Manusia. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

___.Tes Psikologis. Dikutip Dari : http://hil4ry.wordpress.com/2007/08/05/tes-psikologis/. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

___.Unit Pengembangan Alat Psikodiagnostika. Dikutip Dari : http://psikologi.ugm.ac.id/ utama/artikel.php?p=15&n=1. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

___.Unit Pengembangan Alat Psikodiagnostika. Dikutip Dari : upap_psikologi ugm@yahoo.co.id. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

Download File format MS word: http://upload.ugm.ac.id/342Edo.docx

Contoh Penyusunan Skala Psikologi: Efikasi Diri


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam beberapa hal kehidupan manusia hidup dengan kekurangan-kekurangan tertentu, baik itu yang sifatnya diperoleh dari lingkungan aataupun yang dibawa sejak tahun awal kelahirannya. Individu pada dasarnya dilahirkan dengan berjuta masalah, dimana masalah terbesar yang dihadapinya adalah hidup di dunia yang merupakan sarang kehidupan. Eksistensi manusia yang penuh penderitaan ini mengisyaratkan hal bahwa manusia harus berupaya mengaktualisasikan dirinya dalam rangka mengkompensasikan kelemahan-kelemahannya tersebut.

Jika dihadapkan dengan masalah penyakit mungkin sebagian besar dari kita akan menganggap agar hal itu tidak terjadi pada dirinya, karena hal penyakit bisa membuat kita terkekang dan tak berdaya. Lalu, bagaimana sebagian dari manusia yang kurang beruntung? Yang dalam hal ini mengidap penyakit yang mungkin tidak dapat tersembuhkan lagi atau belum dapat tersembuhkan? Tentunya respons individu akan berbeda-beda dalam hal menanggapi masalah ini. Idealnya pendapat mengatakan jika hal itu terjadi tentunya dunia serasa telah di telapak kaki, tinggal menunggu waktu saja.

Satu hal yang dapat anda percayai menurut Rene Descartes adalah kepastian kesadaran itu bersumberdari diri anda sendiri, sebab setiap kali anda bekata pada diri anda bahwa anda sedang berpikir, maka anda benar sekalipun pancindera anda sedang menipu anda. Jadi jika anda berpikir hidup anda menyedihkan, maka itulah realitas anda. Ini berkaitan dengan konsep efikasi diri yaitu kepercayaan pada kemampuan diri dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam rangka pencapaian hasil usaha. Jadi efikasi diri ini bisa mempengaruhi segi-segi vital kehidupan dalam berkarya dan beraktivitas sehari-hari.

  1. Tujuan

Adapun tujuan dari pengukuran ini adalah untuk mengetahui bagaimana dinamika efikasi diri seorang yang mengalami gangguan kronis atau menahun. Pembatatasan usia yang menjadi tolak ukur pengukuran adalah remaja hingga dewasa akhir.

  1. Manfaat

Manfaat dari penulisan ini dapat dikonstruksikan dalam beberapa kriteria utama yaitu antara lain sebagai berikut :

  1. Memberikan paparan dinamika efikasi diri pada penderita gangguan kronis, sehingga memperkaya khasanah ilmu pengetahuan psikologis.

  2. Mampu memberikan masukan teoretis berkaitan dengan konstruk efikasi diri pada penderita gangguan kronis.

  3. Mengembangkan model pengukuran psikologis yang terstandarisasi.

BAB II

LANDASAN TEORETIS

  1. Efikasi Diri

Beberapa pakar psikologi seperti Adler mengatakan bahwa gangguan kronis yang dialami diri seseorang bisa menjadi salah satu sumber munculnya perasaan inferioritas diri bahkan kompleksnya, karena gangguan kronis diasumsikan secara subjektif sebagai kelemahan diri. Respons individu terhadap gangguan yang dihadapinya oleh Adler akan melahirkan kompensasi atas kelemahan tersebut. Indvidu dapat secara optimal merasa baik atau buruk atas responsnya itu tergantung dari mekanisme ego yang bekerja (Freud melalui Hall, 2003).

Bandura pernah berasumsi bahwa perasaan lemah atas bagian-bagian tertentu secara fisik maupun psikis, bisa berpengaruh pada self-regulation dan self-efficacy seseorang. Efikasi diri merupakan keyakinan atas kemampuan dirinya. Efikasi ini dibentuk dari penilaian pribadi atas kondisi dirinya dengan mengadopsi pemikiran-pemikiran lingkungan sosialnya tentunya.

Freud (melalui Nevid, dkk, 2003) pernah mengilustrasikan bahwa ide-ide pembangkit anxietas yang muncul dalam kesadaran dan tidak dapat diterima oleh ego atas pertimbangan realitas dapat menyebabkan perilaku neurotik seseorang berkembang. Adanya ego defense mechanism dalam diri individu mendorong ego untuk mempertahankan eksistensinya melawan simtom-simtom pembangkit anxietas atau kecemasan, dimana ide-ide tersebut ditekan dan dipendam ke alam ketidaksadaran manusia. Secara struktural, ego seseorang masing-masing memiliki ambang toleransi terhadap mekanisme pertahanan diri, sehingga ide-ide pembangkit anxietas (kecemasan) yang berlebihan terhadap ambang toleransi ego akan bergerak keperilaku overt, karena ketidakmampuan ego untuk menekan semuanya keketidaksadaran melalui fungsi defense yang dimiliki ego.

Pada hakikatnya hidup manusia itu penuh dengan berbagai masalah yang menuntut perhatian manusiawi individu dalam kehidupan. Kierkegaard menambahkan bahwa pengalaman subjektif manusia merupakan sumasi dari pemikiran positif dan pemikiran negatif, dimana keduanya ini secara bersama-sama membentuk efikasi diri seseorang sebagai individu. Hal ini dijelaskan Kierkegaard karena pemikiran subjektif memikirkan kehampaan yang meresapi keberadaannya (esistensinya). Kierkegaard menjelaskan juga bahwa kesadaran merupakan penyebab munculnya masalah-masalah pribadi diri.

Sejalan dengan konsep Rene Descartes (1596-1650) yang mengatakan “de omnibus dubitandum est” (segala sesuatu harus diragu-ragukan). Descartes juga mengatakan bahwa “Dengan berpikir, maka aku ada” yang menjadi landasan bagi Kierkegaard dalam menguraikan tentang kesadaran. Kierkegaard berasumsi bahwa kita tidak dapat mempercayai pikiran sehat atau cara biasa kita berpikir tentang dunia, sebab mustahillah untuk membuktikannya secara pasti pada saat khusus manapun bahwa kita tidak bermimpi meskipun dalam keadaan jaga sekalipun.

Satu hal yang dapat anda percayai menurut Rene Descartes adalah kepastian kesadaran anda sendiri, sebab setiap kali anda bekata pada diri anda bahwa anda sedang berpikir, maka anda benar sekalipun pancindera anda sedang menipu anda. Kierkegaard juga mengatakan bahwa kesadaran mempersatukan pasangan-pasangan kontradiksi. Dalam kesadaran, apa yang ada (aktualitas) dihadapkan pada apa yang tidak ada (kemungkinan).

Berpikir itu merupakan pintu tunggal menuju ke alam kesadaran. Pintu yang dapat terbuka suatu kali dan dapat tertutup suatu ketika, sehingga mengurung diri dalam kehampaan. Inilah alasan mengapa Kierkegaard mengatakan bahwa kesadaran menjadi penyebab adanya ketegangan atau masalah dalam diri psikis pada individu. Pada saat diri dihadapkan dengan masalah tertentu, misalnya pada penderita gangguan kronis, maka kontradiksi-kontradiksi tertentu terjadi.

Kesadaran mempersatukannya dengan kontradiksi pertentangannya, sehingga menimbulkan rasa kecemasan, ketakutan, pasrah, putus asa. Kesadaran kemudian mengeksternalkannya pada realita perilaku, sehingga muncul simtom tertentu yang menunjukkan gejala penderitaan. Kesadaran inilah yang seharusnya diubah. Dengan mengubah perspektif kesadaran, maka realita eksistensialis penderitaan itu tidak seharusnya dirasakan meskipun terjadi riil.

Asumsi di atas dapat menjelaskan bahwa bagi penderita gangguan kronis, faktor gangguan tersebut menjadi beban yang cukup berat. Beban ini secara spekulatif tetapi pasti mempengaruhi perkembangan individu, termasuk dalam efikasi dirnya. Pemaknaan terhadap dirinya yang memiliki gangguan sebagai inferior factor adalah buah hasil kesadaran yang normal terjadi pada manusia.

Permasalahan ini semakin kompleks ketika individu berada pada masa perkembangan dewasa awal, dimana terdapat tuntutan yang besar secara intern maupun eksternal atas pengambilan tanggung jawab pribadi dan kemandirian personal. Kesemuanya ini mempengaruhi perkembangan dan pembentukan efikasi diri. Arah perkembangan efikasi ini bisa positif maupun negatif pada penderita gangguan kronis, tergantung dari multifaktor dalam kehidupan individu yang bersangkutan.

Bandura (1997, hal 3) mendefinisikan efikasi diri sebagai kepercayaan pada kemampuan diri dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam rangka pencapaian hasil usaha. Efikasi diri menurut Bandura akan mempengaruhi segala rangkaian tindakan yang dilaksanakan individu, sebarapa lama individu akan kuat dan gigih dalam menghadapi masalah-masalahnya, kegagalan upaya, keuletan di dalam kesengsaraan hidupnya, jumlah stress dan depresi yang dialami dalam menghadapi tuntutan sosial dari lingkungannya yang bersifat menekan, dan tingkat prestasi yang diperoleh.

Di sisi lainnya Baron dan Byrne (1997, hal 183) memaparkan bahwa efikasi diri sebagai evaluasi diri terhadap kemampuan dan kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan, mencapai suatu tujuan dan dalam menghadapi kendala yang terjadi. Sejalan dengan itu, Corsini (1994, hal 368) menyebutkan efikasi diri sebagai pernyataan subjektif berupa keyakinan individu akan kemampuan dirinya dalam mengontrol perilaku dan tuntutan sosial lingkungan, sehingga memperoleh hasil yang maksimal bagi dirinya. Jelasnya, Corsini menyebut adanya aspek keyakinan dalam mengontrol lingkungan dan perilakunya bagi individu yang bersangkutan.

Efikasi diri beragam dalam tiap-tiap situasi, individu dapat memiliki efikasi diri yang relatif tinggi dalam satu situasi, tetapi tidak pada situasi lainnya, misalnya. Hal ini tergantung dari kompetensi dirinya bagi aktivitas yang berbeda-beda dalam tuntutan, tingkat persaingan diantara individu, predisposisi pribadi dalam menghadapi kegagalan, dan kondisi fisiologis berkaitan juga dengan kesehatan diri secara fisikal mapun psikis.

Di sisi lainnya, efikasi juga dipengaruhi oleh penilaian pribadi tentang hal kemampuan dirinya tersebut. Penilaian yang salah atau keliru terhadap kemampuan diri akan berdampak signifikan terhadap efikasi diri orang tersebut. Penilaian diri yang tepat akan mendorong individu untuk melakukan suatu tugas atau tantangan dengan realistis dan memberikannya motivasi internal untuk pengembangan diri dalam mencapai proses aktualisasi diri yang sehat (Maslow, melalui Hall, 1993).

Berkaitan dengan fungsi efikasi diri yang lainnya, Bandura (1986, hal 393-395) mengungkapkan fungsi efikasi diri sebagai penentu aktif tindakan atau perilaku yang harus dipilih, menentukan besarnya usaha yang harus dilakukan, serta mempengaruhi pola pikir dan reaksi emosi yang harus dilakukan individu.

Secara esensial efikasi diri memiliki dua pengertian penting, yaitu :

  1. Efikasi diri atau efikasi ekspektasi (self effication – efficacy expectation) adalah Persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu.Efikasi diri berhubungan  dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan; dan

  2. Ekspektasi hasil (outcome expectation) atau perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah laku yang dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu.

Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi menggambarkan penilaian kemampuan diri.Perubahan tingkah laku dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan, atau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi empat sumber yakni :

  1. Pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment),

  2. Pengalaman Vikarius (vicarious experience),

  3. Persuasi Sosial (Social Persuation) dan

  4. Pembangkitan Emosi (Emotional/ Psysilogical states).

Berikut ini adalah strategi pengubahan sumber efikasi diri :

Sumber

Cara Induksi

Pengalaman Performasi

Participant Modelling

Meniru model yang berprestasi

Performance desensilization

Menghilangkan pengaruh buruk prestasi masa lalu

Performance Exposure

Menonjolkan keberhasilan yang pernah diraih

Self-instructed performance

Melatih diri untuk melakukan yang terbaik

Pengalaman Vikarius

Live Modelling

Mengamati Model yang nyata

Symbolic Modelling

Mengamati model simbolik, film, komik, cerita

Persuasi Verbal

Sugestion

Mempengaruhi dengan kata-kata berdasar kepercayaan

Exhortation

Nasihat, peringatan yang mendesak/memaksa

Self-instruction

Memerintah diri sendiri

Intrepretive Treatment

Interpretasi baru memperbaiki interpretasi lama yang salah

Pembangkitan Emosi

Attribution

Mengubah atribusi, penanggungjawab suatu kejadian emosional

Relaxation biofeedback

Relaksasi

Symbolic desensilization

Menghilangkan sikap emosional dengan modeling simbolik

Symbolic Exposure

Memunculkan emosi secara simbolik

Efikasi yang tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkah laku, yaitu : 

Efikasi

Lingkungan

Prediksi hasil tingkah laku

Tinggi

Responsif

Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya

Rendah

Tidak Responsif

Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit

Tinggi

Tidak Responsif

Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsif, melakukan protes, aktivitas sosial, bahkan memaksakan perubahan

Rendah

Responsif

Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu

Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil. Menurut Bandura (1994), individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak merasa ragu, karena ia memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. Individu ini menurut Bandura (1994) akan cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang ia alami.

BAB III

PERENCANAAN SKALA

  1. Nama Skala

Skala ini berjudul Skala Efikasi Diri Pada Penderita Gangguan Kronis.

  1. Konseptualisasi

Berdasarkan uarian pada subbab di atas, dapat dikonsepkan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan seseorang pada kemampuan dan kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan, mencapai suatu tujuan, dan dalam menghadapi kendala yang terjadi, serta dalam dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam rangka pencapaian hasil usaha.

  1. Definisi Nominal

Adapun berdasarkan konseptualisasi di atas, terdapat beberapa aspek utama dari efikasi diri, yaitu :

  1. Aspek Keyakinan Diri

Keyakinan Diri merupakan kemampuan untuk menilai diri sendiri secara positif dalam hal potensi yang dimiliki untuk melakukan suatu tugas, kendala, atau tauntutan sosial.

  1. Aspek Afeksi

Afeksi merupakan kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan isyarat atau gejolak mental, termasuk perasaan, emosi, maupun suasana hati.

  1. Aspek Motivasional

Motivasional merupakan keinginan untuk melakukan suatu tugas, kendala, mapun tuntutan sosial dalam rangka pencapaian hasil yang maksimal.

  1. Aspek Seleksi

Seleksi adalah kemampuan untuk memilah situasi sosial yang dihadapi dan menyesuaikan diri dengan situasi tersebut secara tepat.

  1. Definisi Operasional

Adapun indikator perilaku pada setiap aspek efikasi diri adalah sebagai berikut :

  1. Aspek Keyakinan Diri

Indikator Perilaku :

  1. Merasa mampu untuk melakukan tugas yang diemban dengan baik

  2. Menganggap penyakit yang dideritanya adalah cobaan yang bisa ia lalui

  3. Merasa mampu menghadapi kendala yang terjadi dengan baik

  4. Memiliki keyakinan bahwa ia mampu meraih hasil yang ia harapkan dari sesuatu yang ia kerjakan

  1. Aspek Afeksi

Indikator Perilaku :

  1. Menghindari mengatakan dan memikirkan hal-hal yang bermotif kematian

  2. Merasa tidak ada gunanya meratapi nasib hidup yang hanya akan membuat sedih

  1. Aspek Motivasional

Indikator Perilaku :

  1. Lebih menonjolkan kisah-kisah keberhasilan dirinya ketimbang kegagalan

  2. Mampu melihat gambaran sisi kehidupan secara positive thinking

  3. Menganggap penyakit yang dihadapinya justru menjadi motivasinya untuk lebih maju

  1. Aspek Seleksi

Indikator Perilaku :

  1. Tenang dalam menghaadapi tugas, cobaan hdiup yang dirasakan cukup berat

  2. Jika menghadapi tugas yang sulit cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan.

 

  1. Subjek

Subjek yang memenuhi kriteria kawasan ukur skala ini adalah penderita gangguan kronis atau menahun. Jenis gangguan atau penyakit kronis tidak dibatasi. Rentang usia yang memenuhi kriteria ukur adalah usia remaja (11 tahun) hingga dewasa akhir. Dengan asumsi baru pada usia remaja itulah pemikiran-pemikiran operasinal formal berkembang dengan baik, sehingga seseorang mampu melakukan self-introspection dengan efektif. Berkaitan dengan jenis kelamin, tidak dipertimbangkan dalam pemilihan sampel.

  1. Tujuan Pengukuran

Tujuan pengukuran dalam hal ini adalah untuk mengetahui bagaimana dinamika efikasi diri pada pednerita gangguan kronis atau menahun pada usia remaaja hingga dewasa awal.

  1. Waktu

Lama pengisian skala adalah 15 detik untuk setiap item pada skala tersebut. Total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh item pada skala yaitu kurang lebih 25 menit. Penyebaran skala dilakukan selama satu minggu yaitu pada tanggal 1 Januari 2009 hingga 7 Januari 2009.

  1. Blue Print

Aspek

Indikator Perilaku

F

UF

Frek

%

Keyakinan Diri merupakan kemampuan untuk menilai diri sendiri secara positif dalam hal potensi yang dimiliki untuk melakukan suatu tugas, kendala, atau tauntutan sosial.

  1. Merasa mampu untuk melakukan tugas yang diemban dengan baik

  2. Menganggap penyakit yang dideritanya adalah cobaan yang bisa ia lalui

  3. Merasa mampu menghadapi kendala yang terjadi dengan baik

  4. Memiliki keyakinan bahwa ia mampu meraih hasil yang ia harapkan dari sesuatu yang ia kerjakan

5

5

5

5

5

5

5

5

40

40

Afeksi merupakan kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan isyarat atau gejolak mental, termasuk perasaan, emosi, maupun suasana hati.

  1. Menghindari mengatakan dan memikirkan hal-hal yang bermotif kematian

  2. Merasa tidak ada gunanya meratapi nasib hidup yang hanya akan membuat sedih

4

3

5

3

15

15

Aspek Motivasional merupakan keinginan untuk melakukan suatu tugas, kendala, mapun tuntutan sosial dalam rangka pencapaian hasil yang maksimal.

  1. Lebih menonjolkan kisah-kisah keberhasilan dirinya ketimbang kegagalan

  2. Mampu melihat gambaran sisi kehidupan secara positive thinking

  3. Menganggap penyakit yang dihadapinya justru menjadi motivasinya untuk lebih maju

4

4

7

4

3

8

30

30

Aspek Seleksi adalah kemampuan untuk memilah situasi sosial yang dihadapi dan menyesuaikan diri dengan situasi tersebut secara tepat.

  1. Tenang dalam menghaadapi tugas, cobaan hdiup yang dirasakan cukup berat

  2. Jika menghadapi tugas yang sulit cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan

3

5

3

4

15

15

Total Item Soal =

50

50

100

100

Rekaan Teoritik

Komponen

Indikator

Butir Pertanyaan

FAVOURABLE

UNFAVOURABLE

Efikasi Diri merupakan keyakinan seseorang pada kemampuan dan kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan, mencapai suatu tujuan, dan dalam menghadapi kendala yang terjadi, serta dalam dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam rangka pencapaian hasil usaha. Keyakinan Diri

Merasa mampu untuk melakukan tugas yang diemban dengan baik

Saya sanggup menyelesaikan pekerjaan sesuai harapan saya

Saya mengalami kesusahan dalam menyelsaikan pekerjaan sesuai harapan saya

Tugas yang diberikan kepada saya dapat saya selesaikan dengan baik

Tugas yang diberikan kepada saya mustahil saya selesaikan dengan baik

Menganggap penyakit yang dideritanya adalah cobaan yang bisa ia lalui

Penyakit yang saya derita hanyalah sebagian kecil dari cobaan hidup

Penyakit yang saya derita adalah jalan hidup yang terasa berat bagi saya

Saya mampu menghadapi dengan tegar hidup saya sekalipun penyakit yang saya derita cukup terasa membebani saya

Saya merasa rapuh menjalani kehidupan saya dengan penyakit yang saya derita ini

Merasa mampu menghadapi kendala yang terjadi dengan baik

Saya mampu menghadapi beban hidup saya dengan baik

Saya seringkali sukar menghadapi beban hidup saya dengan baik

Bagi saya, saya mampu menjalani hidup yang penuh rintangan

Sukar bagi saya dalam menjalani hidup yang penuh rintangan

Memiliki keyakinan bahwa ia mampu meraih hasil yang ia harapkan dari sesuatu yang ia kerjakan

Saya yakin apa yang saya kerjakan akan membawa selalu keuntungan bagi saya

Saya sering ragu apakah sesuatu yang saya kerjakan membawa selalu keuntungan bagi saya

Saya percaya sesuatu yang saya kerjakan akan sesuai dengan apa yang saya harapkan

Seringkali saya ragu apakah sesuatu yang saya kerjakan akan sesuai dengan harapan saya

Afeksi

Menghindari mengatakan dan memikirkan hal-hal yang bermotif kematian

Saya lebih suka memikirkan apa yang dapat saya kerjakan dalam hidup saya

Saya benci memikirkan apa yang dapat saya kerjakan dalam hidup saya

Saya sebisa mungkin menghindari perkataan yang bermotif kematian

Saya lebih suka mengatakan hal-hal yang bermotif kematian

Merasa tidak ada gunanya meratapi nasib hidup yang hanya akan membuat sedih

Bagi saya meratapi nasib hidup adalah hal yang sia-sia

Saya suka meratapi nasib hidup saya yang terkadang bisa membuat saya sedih

Saya merasa meratapi kesedihan hidup adalah hal yang membuang waktu saja

Bagi saya meratapi kesedihan hidup memang perlu

Aspek Motivasional

Lebih menonjolkan kisah-kisah keberhasilan dirinya ketimbang kegagalan

Saya lebih suka menceritakan kisah keberhasilan dalam hidup saya

Saya benci menceritakan kisah keberhasilan dalam hidup saya

Saya merasa lebih banyak keberhasilan yang saya dapatkan dalam hidup ketimbang kegagalan

Saya merasa lebih banyak kegagalan yang saya dapatkan dalam hidup ketimbang keberhasilan

Mampu melihat gambaran sisi kehidupan secara positive thinking

Saya melihat kehidupan saya lebih berarti

Saya melihat kehidupan yang saya jalani sia-sia saja

Saya lebih suka berpikir postif dalam menjalani hidup

Saya benci berpikir postif dalam menjalani hdiup

Menganggap penyakit yang dihadapinya justru menjadi motivasinya untuk lebih maju

Penyakit yang saya derita adalah suatu motivasi tersendiri bagi saya untuk lebih maju

Penyakit yang saya derita adalah suatu hambatan hidup tersendiri bagi saya untuk lebih maju

Dalam keadaan saya ini, saya lebih tertantang untuk sukses

Dengan keadaan saya ini, saya pasrah dengan nasib saya

Aspek Seleksi

Tenang dalam menghaadapi tugas, cobaan hdiup yang dirasakan cukup berat

Saya lebih tenang dalam menghadapi tugas yang saya rasa cukup berat

Saya gelisah dalam menghadapi tugas yang saya rasa cukup berat

Saya cukup tenang menghadapi cobaan hidup

Saya resah menghadapi cobaan hidup

Jika menghadapi tugas yang sulit cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan.

Ketika menghadapi tugas, saya lebih memikirkan cara untuk menyelesaikannya

Ketika menghadapi tugas, saya sering memikirkan hambatan-hambatan dalam menyelesaikannya

Dalam menghadapi tugas, saya cenderung memikirkan peluang kesuksesan saya

Dalam menghadapi tugas, saya cenderung memikirkan kekurangan yang saya miliki

Referensi Acuan

Erikson, E. H. 1968. Identity: Youth and Crisis. New York : Norton

Kroger, J. 1993. Ego Identity : An Overview In J. Kroger (Ed) : Discussion on Ego Identity. Hillsdale, NJ : Elbaum

Mönks, F. J, Knoers, A. M. P. & Haditono, S. R. 2001. Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Santrock, J. W. 1995. Life Span Development – Perkembangan Masa Hidup, Alihbahasa Ahmad Chusairi, Jakarta : Erlangga

———-. Relationship : Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 77. No. 5, 942-966

Hall, Calvis S; Gardner Lindzey. 1993. Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian – Edisi Revisi. Malang : UMM Press

Davindoff. Linda L. 1981. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta : Erlangga

Abidin, Zainal. 2002. Analisis Eksistensial Untuk Psikologi dan Psikiatri. Bandung : Refika

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://www.indopos.co.id/index .php?act=cetak&id=28. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pem bicaraan:Resiliensi&action=edit. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://one.indoskripsi.com/. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://adianfuadi.wordpress.com/2008/04/23/super ioritas-dan-inferioritas/#comments. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://smartpsikologi.blogspot.com/. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

 Download versi MS Word: http://upload.ugm.ac.id/210Skala Individual Menjelang AjaL.docx

EFIKASI DIRI PADA DEWASA AWAL PENDERITA GANGGUAN KRONIS


  1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Individu pada dasarnya dilahirkan dengan berjuta masalah, dimana masalah terbesar yang dihadapinya adalah hidup di dunia yang merupakan sarang kehidupan. Eksistensi manusia yang penuh penderitaan ini mengisyaratkan hal bahwa manusia harus berupaya mengaktualisasikan dirinya dalam rangka mengkompensasikan kelemahan-kelemahannya tersebut. Jika dihadapkan dengan masalah penyakit mungkin sebagian besar dari kita akan menganggap agar hal itu tidak terjadi pada dirinya, karena hal penyakit bisa membuat kita terkekang dan tak berdaya. Lalu, bagaimana sebagian dari manusia yang kurang beruntung? Yang dalam hal ini mengidap penyakit yang mungkin tidak dapat tersembuhkan lagi ? Tentunya respons individu akan berbeda-beda dalam hal menanggapi masalah ini. Idealnya pendapat mengatakan jika hal itu terjadi tentunya dunia serasa telah di telapak kaki, tinggal menunggu waktu saja (telusuran asumsi masyarakat oleh observer).

Beberapa pakar psikologi seperti Alfred Adler mengatakan bahwa gangguan kronis yang dialami diri bisa menjadi salah satu sumber munculnya perasaan inferioritas diri bahkan kompleksnya, karena gangguan kronis diasumsikan secara subjektif sebagai kelemahan diri. Respons individu terhadap gangguan yang dihadapinya oleh Adler akan melahirkan kompensasi atas kelemahan tersebut. Indvidu dapat secara optimal merasa baik atau buruk atas responsnya itu tergantung dari mekanisme ego yang bekerja (Freud melalui Hall, 2003).

Bandura pernah berasumsi bahwa perasaan lemah atas bagian-bagian tertentu secara fisik maupun psikis, bisa berpengaruh pada self-regulation dan self-efficacy seseorang. Efikasi diri merupakan keyakinan atas kemampuan dirinya. Efikasi ini dibentuk dari penilaian pribadi atas kondisi dirinya dan mengadopsi pemikiran-pemikiran lingkungan sosialnya tentunya.

Kasus :

Seseorang berkata pada observer dua tahun yang lalu bahwa dirinya telah divonis terkena kanker paru-paru dan hidupnya akan berakhir kurang dari 3 tahun lagi. Dia merasa tidak berdaya dan menganggap dirinya tidak berarti lagi dan lebih baik mati saja. Berkat bantuan dukungan sosial yang mantap dari kedua orangtua, adiknya, dan beberapa sahabatnya, akhirnya dia mampu mengembalikan kepositivan efikasinya. Dia lebih optimistik dalam menjalani hidupnya, meskipun setahun tiga bulan kemudian dia meninggal akibat penyakit kanker kronisnya itu. Individu tersebut telah melihatkan suatu bentuk efikasi diri yang positif bagi lingkungan sosialnya. Sedangkan, pada bebarapa kasus lainnya banyak yang menunjukkan efikasi diri yang buruk (dokumentasi pengalaman pribadi subjek oleh partisipasi aktif observer).

Freud (melalui Nevid, dkk, 2003) mengilustrasikan bahwa ide-ide pembangkit anxietas yang muncul dalam kesadaran dan tidak dapat diterima oleh ego atas pertimbangan realitas dapat menyebabkan perilaku neurotik berkembang. Adanya ego defense mechanism dalam diri individu mendorong ego untuk mempertahankan eksistensinya melawan simtom-simtom pembangkit anxietas atau kecemasan. Secara struktural, ego seseorang masing-masing memiliki ambang toleransi terhadap mekanisme pertahanan diri, sehingga ide-ide pembangkit anxietas (kecemasan) yang berlebihan terhadap ambang toleransi ego akan bergerak keperilaku overt, karena ketidakmampuan ego untuk menekan semuanya keketidaksadaran melalui fungsi defense yang dimiliki ego. Ide-de anxietas (kecemasan) yang bangkit kealam sadar ini dalam pandangan psikodinamika diproyeksikan dalam perilaku overt individu. Ini yang menjadi landasan utama dalam melihat atau mengobservasi perilaku efikasi diri pada subjek melalui indikator perilaku yang telah dirumuskan.

Pada hakikatnya hidup manusia itu penuh dengan berbagai masalah yang menuntut perhatian manusiawi individu dalam kehidupan. Kierkegaard menambahkan bahwa pengalaman subjektif manusia merupakan sumasi dari pemikiran positif dan pemikiran negatif, dimana keduanya ini secara bersama-sama membentuk efikasi diri seseorang sebagai individu. Hal ini dijelaskan Kierkegaard karena pemikiran subjektif memikirkan kehampaan yang meresapi keberadaannya (esistensinya). Kierkegaard menjelaskan juga bahwa kesadaran merupakan penyebab munculnya masaah-masalah pribadi diri.

Sejalan dengan konsep Rene Descartes (1596-1650) yang mengatakan “de omnibus dubitandum est” (segala sesuatu harus diragu-ragukan). Descartes juga mengatakan bahwa “Dengan berpikir, maka aku ada” yang menjadi landasan bagi Kierkegaard dalam menguraikan tentang kesadaran. Kierkegaard berasumsi bahwa kita tidak dapat mempercayai pikiran sehat atau cara biasa kita berpikir tentang dunia, sebab mustahillah untuk membuktikannya secara pasti pada saat khusus manapun bahwa kita tidak bermimpi meskipun dalam keadaan jaga sekalipun. Mengapa? karena informasi yang diasampaikan oleh pancaindera tidak dapat dipercaya. Mengapa? karena pancaindera dikenal sebagai penipu. Kierkegaard menjelaskan bahwa kita behubungan langsung dengan isi pikiran kita sendiri, tetapi tidak langsung terhadap isi dunia luar. Dikotomi atau pemetakan adalah efek tipuan pancaindera.

Satu hal yang dapat anda percayai menurut Rene Descartes adalah kepastian kesadaran anda sendiri, sebab setiap kali anda bekata pada diri anda bahwa anda sedang berpikir, maka anda benar sekalipun pancindera anda sedang menipu anda. Kierkegaard juga mengatakan bahwa kesadaran mempersatukan pasangan-pasangan kontradiksi. Dalam kesadaran, apa yang ada (aktualitas) dihadapkan pada apa yang tidak ada (kemungkinan).

Berpikir itu merupakan pintu tunggal menuju ke kesadaran. Pintu yang dapat terbuka suatu kali dan dapat tertutup suatu ketika sehingga mengurung diri dalam kehampaan. Inilah alasan mengapa Kierkegaard mengatakan bahwa kesadaran menjadi penyebab adanya ketegangan atau masalah dalam diri psikis pada individu. Pada saat diri dihadapkan dengan masalah broken home, maka kontradiksi-kontradiksi tertentu terjadi.

Kesadaran mempersatukannya dengan kontradiksi pertentangannya, sehingga menimbulkan rasa kecemasan, ketakutan, pasrah, putus asa. Kesadaran kemudian mengeksternalkannya pada realita perilaku, sehingga muncul simtom tertentu yang menunjukkan gejala penderita broken home. Kesadaran inilah yang seharusnya diubah. Dengan mengubah perspektif kesadaran, maka realita eksistensialis penderitaan itu tidak seharusnya dirasakan meskipun terjadi riil.

Asumsi di atas dapat menjelaskan bahwa bagi penderita gangguan kronis, faktor gangguan tersebut menjadi beban yang cukup berat. Beban ini secara spekulatif tetapi pasti mempengaruhi perkembangan individu, termasuk dalam efikasi dirnya. Pemaknaan terhadap dirinya yang memiliki gangguan sebagai inferior factor adalah buah hasil kesadaran yang normal terjadi pada manusia.

Permasalahan ini semakin kompleks ketika individu berada pada masa perkembangan dewasa awal dimana terdapat tuntutan yang besar secara intern maupun eksternal atas pengambilan tanggung jawab pribadi dan kemandirian perosnal. Kesemuanya ini mempengaruhi perkembangan dan pembentukan efikasi diri. Arah perkembangan efikasi ini bisa positif maupun negatif pada penderita gangguan kronis, tergantung dari multifaktor dalam kehidupan individu yang bersangkutan.

  1. FUNDAMENTAL TEORETIS

  1. EFIKASI DIRI (SELF-EFFICACY)

Bandura (1997, hal 3) mendefinisikan efikasi diri sebagai kepercayaan pada kemampuan diri dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam rangka pencapaian hasil usaha. Efikasi diri menurut Bandura akan mempengaruhi segala rangkaian tindakan yang dilaksanakan individu, sebarapa lama individu akan kuat dan gigih dalam menghadapi masalah-masalahnya, kegagalan upaya, keuletan di dalam kesengsaraan hidupnya, jumlah stress dan depresi yang dialami dalam menghadapi tuntutan sosial dari lingkungannya yang bersifat menekan, dan tingkat prestasi yang diperoleh.

Di sisi lainnya Baron dan Byrne (1997, hal 183) memaparkan bahwa efikasi diri sebagai evaluasi diri terhadap kemampuan dan kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan, mencapai suatu tujuan dan dalam menghadapi kendala yang terjadi. Sejalan dengan itu Corsini (1994, hal 368) menyebutkan efikasi diri sebagai pernyataan subjektif berupa keyakinan individu akan kemampuan dirinya dalam mengontrol perilaku dan tuntutan sosial lingkungan sehingga memperoleh hasil yang maksimal bagi dirinya. Jelasnya, Corsini menyebut adanya aspek keyakinan dalam mengontrol lingkungan dan perilakunya bagi individu yang bersangkutan.

Efikasi diri beragam dalam tiap-tiap situasi, individu dapat memiliki efikasi diri yang relatif tinggi dalam satu situasi, tetapi tidak pada situasi lainnya, misalnya. Hal ini tergantung dari kompetensi dirinya bagi aktivitas yang berbeda-beda dalam tuntutan, tingkat persaingan diantara individu, predisposisi pribadi dalam menghadapi kegagalan, dan kondisi fisiologis berkaitan juga dengan kesehatan diri secara fisikal mapun psikis.

Di sisi lainnya juga dipengaruhi oleh penilaian pribadi tentang hal kemampuan dirinya tersebut. Penilaian yang salah atau keliru terhadap kemampuan diri akan berdampak signifikan terhadap efikasi diri orang tersebut. Penilaian diri yang tepat akan mendorong individu untuk melakukan suatu tugas atau tantangan dengan realistis dan memberikannya motivasi internal untuk pengembangan diri dalam mencapai proses aktualisasi diri yang sehat (Maslow, melalui Hall, 1993).

Berkaitan dengan fungsi efikasi diri yang lainnya, Bandura (1986, hal 393-395) mengungkapkan fungsi efikasi diri sebagai penentu aktif tindakan atau perilaku yang harus dipilih, menentukan besarnya usaha yang harus dilakukan, serta mempengaruhi pola pikir dan reaksi emosi yang harus dilakukan individu.

Secara esensial efikasi diri memiliki dua pengertian penting, yaitu :

  1. Efikasi diri atau efikasi ekspektasi (self effication – efficacy expectation) adalah Persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu. Efikasi diri berhubungan  dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan; dan

  2. Ekspektasi hasil (outcome expectation) atau perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah laku yang dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu.

Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bias atau tidak bias mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi menggambarkan penilaian kemampuan diri. Perubahan tingkah laku dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan, atau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi empat sumber yakni :

  1. Pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment),

  2. Pengalaman Vikarius (vicarious experience),

  3. Persuasi Sosial (Social Persuation) dan

  4. Pembangkitan Emosi (Emotional/Psysilogical states). ]

Berikut ini adalah strategi pengubahan sumber efikasi diri :

Sumber

Cara Induksi

Pengalaman Performasi

Participant Modelling

Meniru model yang berprestasi

Performance desensilization

Menghilangkan pengaruh buruk prestasi masa lalu

Performance Exposure

Menonjolkan keberhasilan yang pernah diraih

Self-instructed performance

Melatih diri untuk melakukan yang terbaik

Pengalaman Vikarius

Live Modelling

Mengamati Model yang nyata

Symbolic Modelling

Mengamati model simbolik, film, komik, cerita

Persuasi Verbal

Sugestion

Mempengaruhi dengan kata-kata berdasar kepercayaan

Exhortation

Nasihat, peringatan yang mendesak/ memaksa

Self-instruction

Memerintah diri sendiri

Intrepretive Treatment

Interpretasi baru memperbaiki interpretasi lama yang salah

Pembangkitan Emosi

Attribution

Mengubah atribusi, penanggungjawab suatu kejadian emosional

Relaxation biofeedback

Relaksasi

Symbolic desensilization

Menghilangkan sikap emosional dengan modeling simbolik

Symbolic Exposure

Memunculkan emosi secara simbolik

 Efikasi yang tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkah laku, yaitu :

Efikasi

Lingkungan

Prediksi hasil tingkah laku

Tinggi

Responsif

Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya

Rendah

Tidak Responsif

Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit

Tinggi

Tidak Responsif

Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsif, melakukan protes, aktivitas sosial, bahkan memaksakan perubahan

Rendah

Responsif

Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu

Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil. Menurut Bandura (1994), individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak merasa ragu karena ia memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. Individu ini menurut Bandura (1994) akan cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang ia alami.

Dalam bebarapa pemaparannya dalam sumber kepustakaan yang penulis temukan, Reivich dan Shatté (2002) mengasumsikan adanya keterkaitan antara efikasi diri terhadap resiliensi. Resiliensi adalah kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit (Reivich dan Shatté, 2002). Dalam hal ini mengasumsikan bahwa perilaku individu yang mencerminkan efikasi yang efektif baik berkaitan dengan lima aspek Resiliensi itu sendiri, yakni :

  1. Regulasi emosi

Menurut Reivich dan Shatté (2002) regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah tekanan. Individu yang memiliki kemampuan meregulasi emosi dapat mengendalikan dirinya apabila sedang kesal dan dapat mengatasi rasa cemas, sedih, atau marah sehingga mempercepat dalam pemecahan suatu masalah. Pengekspresian emosi, baik negatif ataupun positif merupakan hal yang sehat dan konstruktif asalkan dilakukan dengan tepat. Pengekpresian emosi yang tepat menurut Reivich dan Shatté (2002) merupakan salah satu kemampuan individu yang resilien.

Reivich dan Shatté (2002) mengemukakan dua hal penting yang terkait dengan regulasi emosi, yaitu ketenangan (calming) dan fokus (focusing). Individu yang mampu mengelola kedua keterampilan ini, dapat membantu meredakan emosi yang ada, memfokuskan pikiran-pikiran yang mengganggu dan mengurangi stress.

  1. Pengendalian impuls

Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan pengendalian impuls sebagai kemampuan mengendalikan keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri seseorang. Individu dengan pengendalian impuls rendah sering mengalami perubahan emosi dengan cepat yang cenderung mengendalikan perilaku dan pikiran mereka. Individu seperti itu seringkali mudah kehilangan kesabaran, mudah marah, impulsif, dan berlaku agresif pada situasi-situasi kecil yang tidak terlalu penting, sehingga lingkungan sosial di sekitarnya merasa kurang nyaman yang berakibat pada munculnya permasalahan dalam hubungan sosial.

  1. Optimisme

Individu yang resilien adalah individu yang optimis. Mereka memiliki harapan di masa depan dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah hidupnya. Dalam penelitian yang dilakukan, jika dibandingkan dengan individu yang pesimis, individu yang optimis lebih sehat secara fisik, dan lebih jarang mengalami depresi, lebih baik di sekolah, lebih peoduktif dalam kerja, dan lebih banyak menang dalam olahraga (Reivich & Shatté, 2002). Optimisme mengimplikasikan bahwa individu percaya bahwa ia dapat menangani masalah-masalah yang muncul di masa yang akan datang (Reivich & Shatté, 2002).

  1. Gaya Berpikir

Seligman (melalui Reivich & Shatté, 2002) mengungkapkan sebuah konsep yang berhubungan erat dengan analisis penyebab masalah yaitu gaya berpikir. Gaya berpikir adalah cara yang biasa digunakan individu untuk menjelaskan sesuatu hal yang baik dan buruk yang terjadi pada dirinya. Gaya berpikir dibagi menjadi tiga dimensi, yaitu : 1)Personal (saya dan bukan saya) individu dengan gaya berpikir ‘saya’ adalah individu yang cenderung menyalahkan diri sendiri atas hal yang tidak berjalan semestinya. Sebaliknya, Individu dengan gaya berpikir ‘bukan saya’, meyakini penjelasan eksternal (di luar diri) atas kesalahan yang terjadi. 2)Permanen (selalu-tidak selalu) : individu yang pesimis cenderung berasumsi bahwa suatu kegagalan atau kejadian buruk akan terus berlangsung. Sedangkan, individu yang optimis cenderung berpikir bahwa ia dapat melakukan suatu hal lebih baik pada setiap kesempatan dan memandang kegagalan sebagai ketidakberhasilan sementara. 3)Pervasive (semua-tidak semua) : individu dengan gaya berpikir ‘semua’, melihat kemunduran atau kegagalan pada satu area kehidupan ikut menggagalkan area kehidupan lainnya. Individu dengan gaya berpikir ‘tidak semua’, dapat menjelaskan secara rinci penyebab dari masalah yang ia hadapi. Individu yang paling resilien adalah individu yang memiliki fleksibilitas kognisi dan dapat mengidentifikasi seluruh penyebab yang signifikan dalam permasalahan yang mereka hadapi tanpa terperangkap dalam explanatory style tertentu.

  1. Peningkatan Aspek Positif

Menurut Reivich dan Shatté (2002), resiliensi merupakan kemampuan yang meliputi peningkatan aspek positif dalam hidup. Individu yang meningkatkan aspek positif dalam hidup, mampu melakukan dua aspek ini dengan baik, yaitu : (1) mampu membedakan resiko yang realistis dan tidak realistis, (2) memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan. Individu yang selalu meningkatkan aspek positifnya akan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan hidup, serta berperan dalam meningkatkan kemampuan interpersonal dan pengendalian emosi (Reivich dan Shatte, 2002)

 Corsini (1994, hal 369) menyatakan ada beberapa aspek efikasi diri, yaitu kognitif, motivasi, afeksi, dan seleksi. Motivasi dalam efikasi diri digunakan dalam memprediksikan kesuksesan dan kegagalan yang dialaminya. Individu memiliki kontrol emosi yang baik akan dapat berpikir jernih ketika dihadapkan dengan kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya, sehingga dapat mencapai hasil yang baik. Dimensi ini merupakan aspek afeksi dari efikasi diri. Tentunya, efikasi melibatkan kognisi, dimana mencakup perilaku antisipasi, perencanaan, penetapan tujuan, pengevaluasian, dan penetapa standar pribadi yang relevan dengan kemampuan dan temapt individu bekerja. Aspek seleksi berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menampilkan perilaku yang sesuai dengan suatu keadaan yang tengah dihadapinya. Kemampuan dalam menyeleksi ini sangat berkaitan dengan proses pencapaian tujuan yang diharapkan.

Berbeda dengan Corsini, Bandura (1997, hal 42) lebih menekankan aspek efikasi diri dari perspektif persepsi diri subjektif terhadap situasi. Bandura menyatakan ada 3 aspek efikasi diri, yaitu tingkat kesulitan (level), penguasaan terhadap esensi materi (generality), dan tingkat kekuatan dan kemantapan individu terhadap keyakinannya itu (strength). Bagaimana individu mempersepsikan tingkat kesulitan masalah mempengaruhi kinerja individu dalam tugasnya. Individu yang mempersepsikan tugasnya mudah akan bekerja dengan tenang dan dingin hati dalam menyikapi situasi yang dihadapinya. Selain itu, persepsi indvidu dalam hal penguasaan esensi materi dan situasi yang dihadapinya juga sangat berpengaruh. Individu yang mempersepsikan ia mampu dan sanggup, maka ia akan melakukan dan menghadapi situasi tertentu dengan lebih baik, dibandingkan dengan individu yang mempersepsikan secara negatif.

  1. MASA PERKEMBANGAN DEWASA AWAL DAN ASPEK-ASPEK PERKEMBANGANNYA

Melalui Santrock (1995) disebutkan bahwa masa dewasa awal (± 20-30 Tahun) merupakan masa dimana individu mengembangkan suatu kemandirian secara personal. Kemandirian ini bisa dikategorikan kedalam dua hal yaitu kemandirian secara ekonomi dan psikososial. Berkaitan dengan efikasi diri pada dewasa awal penderita gangguan kronis, kemandirian lebih mengarah pada psikososial. Piaget (melalui Santrock, 1995) mengasumsikan bahwa usia dewasa awal adalah usia pemikiran formal. Individu dalam fase ini mnugkin merencanakan dan mensintesis masalah-masalahnya dengan konsep yang diyakininya. Optimisme menjadi aspek penting dalam mewujudkan diri yang teraktualisasi.

Mengacu pada asumsi Gisela Labouvie-Vief (1982, 1986 melalui Santrock, 1995) integrasi baru atas pola kognitif pada masa dewasa awal menghasilkan pembatasan-pembatasan pragmatis yang memerlukan strategi penyesuaian diri yang sedikit mengandalkan analisis logis dalam memecahkan problematika yang dihadapinya. Dalam konsep yang dipaparkan oleh William Perry (1970) bahwa pandangan dualisme remaja tergantikan pada masa dewasa awal menjadi penyadaran adanya perbedaan yang tidak sekedar dualisme.

Tahun-tahun dewasa awal ditandai dengan adanya upaya berpikir secara multiperspektif, dengan asumsi bahwa tidak semua pertanyaan selalu memiliki jawaban. Pemikiran dewasa awal juga ditandai dengan adanya pola kerelativan dan pengakuan bahwa segala sesuatunya adalah relatif. Individu dewasa awal mengakui bahwa kebenaran adalah relatif. Ini disebut dengan konsep relativitas menyeluruh. Pemikiran-pemikiran yang kontekstual dan tidak absolut mulai berkembang dengan efektif pada masa ini.

Berkaitan dengan tugas dewasa awal yang penting adalah pengambilan tanggung jawab. Indvidu secara personal merasakan bahwa setiap apa yang dilakukan memiliki tanggungan atas tanggung jawab pribadi. Salah satu kunci utama kesuksesan dalam menjalankan tanggung jawab adalah motivasi yang kuat untuk tetap menjalankannya. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan motivasi adalah keyakinan bahwa seseorang memiliki kemampuan melakukan sesuatu atau lebih dikenal dengan istilah efikasi diri. Keyakinan individu pada saat belum terjadi tindakan, dengan action self efficacy akan memberikan perbedaan pada saat sebelum terjadi tindakan. Berdasarkan hal tersebut, menurut Elissa, action self efficacy akan memberikan peran terhadap proses kognitif, motivasi, dan perilaku.

Seseorang yang memiliki efikasi diri tinggi akan membayangkan kesuksesan sebuah tugas yang berkaitan dengan perilaku sehat. Begitu pula sebaliknya, mereka yang memiliki efikasi diri rendah cenderung membayangkan kesulitan dan kegagalan dari sebuah tugas. Perlu diketahui juga bahwa efikasi diri akan menimbulkan tindakan antisipasi berbagai macam strategi untuk mensukseskan perilaku hidup, termasuk dalam memaknai hidup, sekalipun hal terberat sedang dihadapinya (dalam konteks ini adalah gangguan kronis). Munculnya tindakan antisipasi yang dimiliki individu akan digerakkan motivasi kognitif, sedangkan motivasi tersebut digerakkan efikasi diri.

Karena itu, efikasi diri akan memengaruhi inisiatif seseorang untuk mengadopsi perilaku hidup sehat misalnya menjalankan hidup dengan efektif sekalipun kanker yang dihadapinya telah begitu partah, misalnya. Begitu pula sebaliknya, individu yang memiliki efikasi diri rendah akan memandang dunia dan kehidupannya telah mati, tidak ada harapan lagi. Keyakinan individu mengenai kemampuan yang dimiliki untuk mengatasi rintangan yang muncul selama mengadopsi perilaku hidup sehat, akan membentuk karakter pada usaha dan ketekunan seseorang yang mengalami gangguan kronis untuk menjalani hidupnya secara sehat, baik secara fisikal maupun secara psikologis.

Berkaitan dengan efikasi diri, keyakinan atas diri ini dapat ditentukan oleh kesadaran diri. Kesadaran diri adalah keadaan dimana seseorang bisa memahami dirinya sendiri dengan setepat-tepatnya. Seseorang disebut memiliki kesadaran diri jika memahami emosi dan mood yang sedang dirasakan, kritis terhadap informasi mengenai diri sendiri, dan sadar tentang diri yang nyata.

Singkatnya, kesadaran diri adalah jika sadar mengenai pikiran, perasaan, dan evaluasi diri yang ada dalam diri. Orang sedang berada dalam kesadaran diri memiliki kemampuan memonitor diri, yakni mampu membaca situasi sosial dalam memahami orang lain dan mengerti harapan orang lain terhadap dirinya. Kalau orang lain mengharapkan berbicara, maka bicara. Kalau orang lain mengharapkan diam, maka diam. Kalau orang lain mengarapkan yang maju duluan, maka maju duluan.

Orang yang bisa memonitor diri pasti disukai orang lain. Namun, jika kemampuan monitor dirinya sangat tinggi malah bisa menjadi bunglon, alias tidak memiliki identitas karena dimana-mana selalu berusaha menyesuaikan diri. Sebaliknya, orang yang rendah monitor dirinya selalu berperilaku konsisten karena tidak ada usaha untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi.

  1. PENDERITA GANGGUAN KRONIS DAN KAITANNYA DENGAN INFERIORITAS DIRI DAN HARAPAN HIDUPNYA

 Gangguan adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi, atau kesukaran terhadap orang dipengaruhinya. Untuk menyembuhkan Gangguan, orang-orang biasa berkonsultasi dengan seorang dokter. Gangguan kronis memiliki arti Gangguan yang sudah berlangsung lama dan bisa menyebabkan kematian. Bila manusia sudah menderita Gangguan kronis seperti jantung, kanker, atau AIDS, bisa dibilang tinggal menunggu hari saja. Masalah-masalah rumit yang dialami manusia, seringkali dan bahkan hampir semua, sebenarnya berasal dari dalam diri. Mereka tanpa sadar menciptakan mata rantai masalah yang berakar dari problem konsep diri. Dengan kemampuan berpikir dan menilai, manusia malah suka menilai yang macam-macam terhadap diri sendiri maupun sesuatu atau orang lain – dan bahkan menyakini persepsinya yang belum tentu objektif. Dari situlah muncul problem seperti inferioritas, kurang percaya diri, dan hobi mengkritik diri sendiri.

Secara potensial faktor gangguan kronis yang dihadapi individu dapat menjadi toak ukur pemunculan rasa inferioritas dalam dirinya. Alfred Adler, seorang  psikolog asal Austria satu generasi di bawah Freud, mempunyai satu teori yang menarik tentang hal superioritas dan inferioritas . Adler meyatakan bahwa pada  diri setiap manusia memiliki kekurangan-kekurangan (inferioritas). Makanya manusia selalu berusaha berjuang untuk menutupi kekurangan-kekurangan itu supaya mencapai kesempurnaan (superioritas) diri.

Menurut Adler, perjuangan untuk memperbaiki diri sebetulnya suatu hal yang positif, namun bisa menjadi tidak positif, tergantung pada keadaan orang itu sendiri. Orang yang neurotik dan depresi akan berjuang mencapai kesempurnaan ini secara negatif atau tidak sehat. Sebaliknya bagi yang sehat, pertama-tama ia akan mengakui kekurangannya tersebut dan kemudian akan berusaha belajar memimpin. Mungkin ia tak akan segan meminta petunjuk orang lain yang lebih berpengalaman dan mengakui kesalahannya. Sepertinya superioritas dan Inferioritas dapat membuat individu menjadi sempurna.

Berkaitan dengan individu yang memiliki gangguan kronis, faktor gangguan yang dihadapinya dapat menjadi sumber potensial bagi pemunculan inferioritas diri dalam egonya. Kompensasi akan dikembangkan sebagai tindak lanjut atas rasa inferior ini. Semua bentuk kompensasi secara kasarnya ditentukan oleh efikasi diri, dalam hal ini adanya keyakinan bahwa dirinya bisa dan mampu. Keberhasilan kompensasi tergantung dari efikasi tersebut.

  1. TUJUAN OBSERVASIONAL

Dalam kerangka observasi yang observer rancangkan ini, guna menghindari bias-bias, diberikan batasan-batasan ruang lingkup yang tersaji dalam tujuan-tujuan observasi ini, yaitu :

  1. Melihat secara kasat mata perilaku overt yang mengindikasikan dan mengidentifikasikan tanda-tanda efikasi diri pada individu dewasa awal yang mengalami gangguan kronis;

  2. Mengidentifikasikan apakah tanda-tanda efikasi diri yang dikonstrukkan dalam konstruk-konstruk teoretikal berkenaan dengan kondisi observasi yang dilakukan.

  3. Melihat seberapa besar frekuensi kemunculan tanda-tanda efikasi diri tersebut terjadi pada subjek observasi.

  4. Melihat dan mengestimasi perbedaan kemunculan indikator perilaku pada pria dan wanita.

  5. Melihat seberapa besar hubungan antara indikator efikasi diri yang satu dengan yang lainnya berkenaan dengan kondisi observasi yang dilakukan dalam kaitannya dengan konstruk-konstruk teoretis yang digunakan sebagai pertimbangan asumsi teoretikal.

  1. OBSERVEE (SUBJEK)

Dalam kegiatan observasi yang dilakukan ini, diberikan sejumlah karakteristik subjek observasi, yaitu berciri-ciri sebagai berikut :

  1. Berada pada rentang usia ± 20-30 tahun atau masa dewasa awal;

  2. Mengidap gangguan fisik ataupun psikologis yang sifatnya kronis atau menahun;

  3. Berjenis kelamin laki-laki maupun wanita;

  4. Tingkat pendidikan subjek tidak dibatasi; dan

  5. Status pernikahan maupun pekerjaan tidak diperhatikan dalam hal ini.

  1. SETTING OBSERVASI

 Observasi Efikasi Diri Pada Dewasa Awal Penderita Gangguan Kronis ini dilakukan dalam setting suasana yang semiterencana dan semisistematis. Dalam arti suasana observasi dilakukan secara tidak kaku dan dilakukan dalam setting keseharian subjek, yang berarti sifat kegiatan observasi ini adalah partisipatif. Observasi partisipatif ini mengisyaratkan asumsi bahwa observer masuk dalam keseharian subjek untuk melihat kemunculan indikator perilaku target observasi. Meskipun sifat observasi ini adalah semiterstruktur bukan berarti tanpa aturan yang berlaku. Observasi ini dilengkapi dengan sejumlah guide yang berfungsi sebagai acuan dalam proses pengambilan data dan pengolahan data. Penyusunan guider ini bertujuan agar bias-bias penelitian, terutama bias asumsi observer dapat diminimalisir.

Observasi dilakukan selama 3 hari dengan sistem time sampling, dimana waktu observasi dipilih ketika subjek terlibat kegiatan yang sama dengan observer, sehingga observee atau subjek tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diobservasi. Setting tempat berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan observasi sifatnya natural, dimana tidak dilakukan manipulasi terhadap situasi. Harapannya dengan model seperti ini data yang diperoleh lebih representatif dan ajeg serta meminimalisir terjadinya bias asumsi persona dari subjek, yaitu bias dimana subjek resisten dan tidak memunculkan perilaku yang sesungguhnya, karena alasan-alasan personal tertentu (bekerjanya sistem mekanisme dego diri subjek).

  1. PERILAKU TARGET

 Berdasarkan landasan teoretikal yang telah dipaparkan dalam subbab sebelumnya, definisi operasional terhadap variabel atau konstruk efikasi diri dapat definisikan sebagai suatu perasaan dan penilaian tentang kemampuan diri dalam menangani maslaah-masalah yang dihadapi berkaitan dengan esensi subjektivitas ego diri yang dirasakan oleh tiap-tiap pribadi manusia.

Dengan berdasarkan pada derfinisi operasional yang telah diformulasikan tersebut, maka dapat ditentukan beberapa perilaku overt target yang menjadi objek observasi, yaitu :

  1. Efikasi Diri Pribadi yang positif

Indikator Efikasi diri yang positif berdasarkan landasan teoretis, adalah sebagai berikut :

  1. Dapat bersosialisasi secara hangat dengan lingkungan sosialnya secara intensif;

  2. Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah sesuatu cobaan (melalui pendekatan personal);

  3. Memiliki keyakinan dan perasaan mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu;

  4. Optimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban;

  5. Menganggap bawa kegagalan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, skill, atau usaha.

  6. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kemungkinan untuk sukses;

  7. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan tersebut;

  8. Pantang menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek;

  9. Lebih banyak membicarakan dan membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinnya;

  1. Efikasi Diri Pribadi yang negatif

Indikator Efikasi diri yang positif berdasarkan landasan teoretis, adalah sebagai berikut :

  1. Menarik diri dalam pergaulan sosial dengan lingkungannya;

  2. Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah suatu takdir yang tidak dapat diubah (melalui pendekatan personal);

  3. Memiliki keyakinan tidak mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu;

  4. Pesimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban;

  5. Menganggap kegagalan disebabkan oleh karena mereka tidak berbakat.

  6. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kekurangan dirinya, melihat hambatan-hambatannya, dan mengira-ngira berbagai kemungkinan hasil pekerjaan, daripada berusaha untuk sukses;

  7. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung tidak berusaha untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh;

  8. Mudah menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek;

  9. Lebih banyak membicarakan dan mempermasalahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinnya;

  1. METODE OBSERVASI

 Observasi yang dilakukan ini, memiliki beberapa pertimbangan khusus yaitu menghindari bias perilaku yang dimunculkan oleh subjek (observee), maka kami menggunakan metode atau teknik observasi semisistematis partisipatif natural tertutup (SS-P-N-C), dimana observer tidak berperan serta dalam objek atau gejala yang sedang diobservasi dan subjek tidak mengetahui bahwa dirinya sedang tidak diobservasi.

Observasi ini bersifat tertutup atau covert(C) dengan pertimbangan untuk menjaga data observasi dari bias perilaku yang dimunculkan dalam proses observasi. Asumsinya dalam keadaan cemas, apabila subjek mengetahui dirinya sedang diobservasi, maka secara prediktif kami subjek akan mengembangkan pola perilaku yang menggunakan topeng (persona) (Gustav Jung melalui Hall, 1993), sehingga tidak memunculkan perilaku yang mencerminkan keadaan subjek itu sebenarnya.

Observasi ini bersifat natural (N), asumsinya yaitu kondisi atau setting suasana dikondisikan secara alamiah yang menunjukkan kondisi yang sebenarnya tanpa kontrol perilaku apapun yang akan dimunculkan oleh subjek. Di sisi lainnya, observer ditugaskan untuk melakukan observasi tanpa mengubah situasi natural, seperti memberikan pandangan pribadinya, merespons secara non-verbal kepada perilaku yang dimunculkan oleh subjek, dan sebagainya. Asumsinya dengan kondisi yang natural, maka data yang diperoleh akan lebih representatif dengan keadaan yang sebanarnya terjadi pada subjek observasi.

Adapun beberapa hal yang diobservasi berdasarkan penerapan asumsi Webb, dkk (1966) dan Denzin (1970) dalam kegiatan observasi ini, yaitu :

  1. Expressive Movements yang meliputi gerakan-gerakan dan respons-respons yang menunjukkan indikator atas konstruk efikasi diri pada subjek.

  2. Language Behavior yang meliputi ekspresi non-verbal yang ditunjukkan oleh subjek yang mengidentifikasikan indikator atas konstruk efikasi diri.

Observasi juga dilakukan dengan konsep yangsemi-sistematik (SS) dengan asumsi kegiatan observasi yang dilakukan lebih fleksibel tetapi terencana dengan baik. Dengan melandaskan kegiatan observasi ini pada asumsi perilaku target yang didapatkan dari landasan teoretis dan asumsi di atas, sekiranya kegiatan observasi akan lebih terarah dan terpadu.

Dalam melakukan observasi ini, metode pemilihan subjek dilakukan secara non-random sampling (non-R) dengan asumsi subjek memiliki hubungan yang memungkinkan observer masuk kedalam kegiatan sehari-harinya, sehingga dapat melakukan observasi tanpa diketahui oleh subjek tersebut bahwa dirinya sedang diobservasi. Ini berkaitan dengan teknis penyelenggaraan yang natural (N) dan tertutup (C).

Dalam hal berkaitan dengan pelaksanaan observasi, observer menggunakan metode time-sampling dimana waktu observasi dipilih ketika subjek melakukan aktivitas yang sama dengan observer. Observasi dilakukan selama 3 sesi dalam 3 hari dengan pemilihan hari yang non-R, dan tiap sesi kegiatan observasi berdurasi 120 menit.

  1. MODEL PENCATATAN

 Dalam melakukan kegiatan observasi ini, observer menggunakan beberapa model pencatatan informasi observasi, yaitu model anecdottal record, rating scale, dan model checklist.

Sistem pencatatan dalam observasi ini bersifat campuran, dimana observer melakukan pencatatan dengan menggunakan ketiga metode ini dalam proses pengumpulan data observasi.Pencatatan hasil observasi bersifat tertutup dengan asumsi observer melakukan pencatatan secara tidak diketahui oleh subjek yang bersangkutan. Berkaitan dengan format tiap teknik pencatatan, penulis telah melampirkannya dalam bagian lampiran.

Penggunaan metode checklist dan ratting scale dalam kegiatan observasi yang berjudul Efikasi Diri Pada Dewasa Awal Penderita Gangguan Kronis ini menggunakan sistem time-sampling, dimana dalam tiap sesi observasi (setiap harinya) dibagi kedalam 6 kelas waktu observasi dan tiap-tiap kelas waktu berdurasi 20 menit, yaitu :

  1. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 0-20 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  2. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 20-40 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  3. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 40-60 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  4. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 60-80 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  5. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 80-100 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  6. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 100-120 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

Setiap sesi kegiatan observasi dilakukan selama 120 menit dengan jumlah sesi sebanyak 3 kali. Setiap sesinya dilaksanakan dalam hari yang berbeda. Sesi pertama dilakukan pada hari pertama. Sesi kedua dilakukan pada hari kedua. Sesi ketiga dilakukan pada hari ketiga. Dengan aturan tambahan yaitu pengenaan ketiga sesi berlaku untuk tiap-tiap subjek observasi (observee). Jadi, terdapat 9 sesi total kegiatan observasi pada 3 subjek yang berbeda.

  1. DURASI DAN FREKUENSI OBSERVASI

 Dalam pelaksanaan kegiatan observasi, observer membagi waktu pelaksanaan kedalam 3 sesi, dimana tiap sesinya dilakukan perhari, selama 3 hari. Durasi waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan observasi adalah 120 menit. Setiap sesinya dilaksanakan dalam hari yang berbeda. Sesi pertama dilakukan pada hari pertama. Sesi kedua dilakukan pada hari kedua. Sesi ketiga dilakukan pada hari ketiga. Dengan aturan tambahan yaitu pengenaan ketiga sesi berlaku untuk tiap-tiap subjek observasi (observee). Jadi, terdapat 9 sesi total kegiatan observasi pada 3 subjek yang berbeda atau 9 hari pelaksanaan kegiatan observasi total per 3 subjek.

  1. HASIL OBSERVASI

 Hasil observasi yang dilakukan selama 3 hari yang terdiri dari 3 sesi dimana tiap sesinya terdiri atas durasi 120 menit, dan dilakukan terhadap 3 subjek, terbagi dalam 3 hasil data yaitu data yang diperoleh dari hasil checklist, anecdottal recording, dan rating scale. Berikut adalah penyajian hasil pelaksanaan observasinya.

  1. Hasil Anecdottal Recording

Subjek I (Sampel) :

Hasil kumpulan pemaparan pada sesi pertama hingga ketiga kegiatan observasi menunjukkan bahwa subjek lebih menarik diri dalam pergaulannya. Hal ini terlihat bahwa ketika dalam menyelesaikan tugas-tugas yang harus diselesaikan secara kelompok, subjek terlihat pasif dan kurang aktif berkomunikasi secara verbal dengan anggota kelompoknya sendiri. Akan tetapi, bukan berarti subjek tidak berpartisipasi dalam menyumbangkan ide berkaitan dengan penyelesaian tugas tersebut. Indikaor penarikan diri ini terlihat frekuentif pada subjek selama 3 sesi kegiatan observasi dilakukan. Subjek dalam kelompok cenderung terlihat dominan dalam hal berpendapat. Meskipun selama sesi pengamatan observer, subjek lebih banyak menyendiri dan tidak mau diganggu orang lain, bukan berarti subjek sepenuhnya menarik diri dari pergaulan sosialnya. Subjek dalam keadaannya itu, mengembangkan hubungan pertemanan yang cukup intens dan hangat dengan individu-indvidu tertentu yang dipercayainya.

Subjek terlihat kurang bisa mempercayai orang lain dalam menyimpan rahasianya. Hal ini terdeskripsikan dalam ucapan subjek kepada observer, ketika observer mengajukan pertanyaan pemancing respons (secara tidak disadari oleh subjek tentunya) yaitu berkaitan dengan mengapa subjek kurang suka berkumpul dengan teman-temannya. Subjek menjawab bahwa dirinya kurang suka bergaul dengan orang lain. Akan tetapi, observer memancing dengan pertanyaan lainnya yaitu berkaitan dengan hubungan dengan terman tertentu yang begitu nampak hangat, tetapi hanya pada sebagian kecil temannya saja.

Subjek merespons dengan jawaban bahwa ia kurang bisa bergaul, karena ia kurang begitu percaya dengan teman-temannya secara keseluruhan. Subjek hanya bisa mempercayai sebagian kecil temannya untuk dijadikan teman dekat yang mana teman dekat inilah yang menjadi tempat curahan hati subjek. Subjek merasa takut dan cemas jikalau rahasia mengenai keadaan dirinya selama ini diketahui orang lain yang tidak ia percayai, karena itu bisa direspons negatif oleh lingkungan sosialnya (menurut subjek). Subjek sendiri menganggap bahwa gangguan yang dideritanya sebagai takdir hidup yang harus dijalani saja. Subjek nampak pasrah dengan keadaannya itu dan berusaha menutupi masalah itu dari teman-teman dan orang lain di sekitarnya karena pernah suatu ketika, saat dia merasa bisa terbuka atas masalahnya terhadap orang lain, dan ia sudi menceritakan masalahnya pada beberapa temannya, subjek merasa setelah dia menceritakan masalahnya justru dirinya dijauhi teman-temannya. Jadi, subjek hingga kini merasa itu sebagai rahasia yang harus disimpan dan tidak boleh diketahui oleh orang lain.

Subjek mengindikasikan pandangan yang pesimistik terhadap lingkungan sosialnya, tetapi tidak bagi keadaan dirinya (optimis terhadap harapan-harapannya). Pesimistik ini terlihat dari ungkapan verbal subjek yang merasa kelompok sosial hanya sebagai beban hidupnya saja, karena terdapat tuntutan-tuntutan yang mengikat. Di sisi lain, subjek merasa lingkungan sosialnya mengacuhkan dirinya atas sikapnya tersebut. Subjek menjadi pesimistik terhadap teman-temannya, terlihat dari ketidakhangatan hubungan sosial dengan sebagian besar temannya.

Subjek juga menunjukkan perilaku yang ambigu dimana sesekali dirinya yakin akan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas, tetapi sesekali pula merasa tidak yakin. Kecenderungan memperspektifkan masalah secara negatif terlihat dari ucapan subjek yang menunjukkan belief yang negatif terhadap sikap teman-temannya. Menurut subjek sikap teman-temannya inilah yang membuat dirinya merasa tidak nyaman berada dalam hubungan sosial dengan mereka.

Sisi positifnya subjek menunjukkan sikap dan pandangan yang positif akan kemampuan dirinya dalam menyelesaikan tugas. Subjek berasumsi bahwa dirinya harus berusaha keras untuk tampil sempurna sebagai bentuk pernyataan diri kepada lingkungan sosialnya. Ini merupakan bentuk kompensasi yang positif dari subjek. Subjek selalu berusaha mandiri dan sebisa mungkin tidak tergantung dengan individu lainnya. Asumsi yang diutarakan subjek adalah bahwa ia harus bisa melakukan hal-hal sepele sendirian terlebih dahulu sebelum bisa menaklukkan rasa takutt terhadap gangguan kronis yang dihadapinya saat ini.

Berdasarkan hal itu, perilaku subjek terlihat sangat dingin dan terkesan perfeksionis. Subjek pantang untuk dihina dan ketika dihina cenderung menghindari kontak fisik dan menghindari kontak verbal dengan orang lain. Subjek juga memiliki pandangan bahwa hidup itu tidak dapat dielakkan dan tidak bisa diubah manusia. Subjek yakin kematian akan dihadapi ooleh setiap orang, hanya berbeda dalam hal waktunya saja. Ketika subjek diajukan stimulus tentang pandangannya mengenai sisa hidupnya, subjek hanya mengatakan pasrah saja. Jika ia meninggal, tidak ada yang harus ditakuti lagi dan dicemaskan lagi. Subjek juga mengatakan bahwa ia memiliki satu harapan dimana sebelum meninggal dirinya harus memiliki nama besar dalam pandangan orang lain kepadanya, agar dirinya tidak mati sia-sia. Subjek cenderung termotivasi untuk maju dalam kognitifnya atas asumsinya tersebut.

Kegagalan dianggap sebagai sesuatu hal karena dirinya kurang memiliki kemampuan. Untuk itu, dirinya harus lebih giat dalam mendalami kemampuan itu. Ia mengatakan akan berusaha lebih keras agar performansi dirinya itu meningkat. Subjek cenderung membicarakan hal-hal berkenaan dengan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinya mencakup kecakapan fisik, kurang tinggi, kurang tegas, cenderung suka menangis (cengeng), kurang suka bergaul, dan tidak suka dikritik oleh orang lain. Hal yang diucapkan subjek ini terlihat dalam keperilakuannya selama bekerja dalam kelompok atau dalam situasi kelompok, dimana subjek kurang bisa menerima kritik, dan cenderung mendominasi asumsi dalam kelompok, serta kurang atentif terhadap anggota kelompoknya.

  1. Hasil Checklist

Berikut ini adalah hasil perolehan checklist terhadap 3 subjek yang dilakukan dalam tiga sesi observasi per subjek (9 sesi total kegiatan) :

  1. Hasil Checklist Subjek I Kumulatif dalam 3 sesi pelaksanaan observasi

Inisial Subjek : MRS

Usia : 20 Tahun

Jenis Kelamin : Pria

Jenis Gangguan Kronis : Kanker Darah (Leukemia)

No

Kemunculan Indikator Perilaku Positif

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

Dapat bersosialisasi secara hangat dengan lingkungan sosialnya secara intensif

1.3

2,3

1

1,2,3

8

2

Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah sesuatu cobaan

1,3

2

3

4

3

Memiliki keyakinan dan perasaan mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu

1,2,3

1

3

1

6

4

Optimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban

2

2

2

1

4

5

Menganggap bawa kegagalan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, skill, atau usaha

1,2

1

3

1,3

6

6

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kemungkinan untuk sukses

1

1,2

2

4

7

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan tersebut

2,3

1

3

8

Pantang menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek

3

1

1

2

1,3

6

9

Lebih banyak membicarakan dan membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinnya

1,2,3

3

2

1

6

Jumlah Perilaku Target Muncul ∑ =

10

7

4

5

9

12

47

No

Kemunculan Indikator Perilaku Negatif

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

Menarik diri dalam pergaulan sosial dengan lingkungannya

1,3

3

2

1

5

2

Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah suatu takdir yang tidak dapat diubah

1,3

2,3

1

1,2

7

3

Memiliki keyakinan tidak mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu

3

2

2

1

1

1

6

4

Pesimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban

2,3

1,2

2,3

2

1

8

5

Menganggap kegagalan disebabkan oleh karena mereka tidak berbakat

2

2,3

1,3

1,2

7

6

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kekurangan dirinya, melihat hambatan-hambatannya, dan mengira-ngira berbagai kemungkinan hasil pekerjaan, daripada berusaha untuk sukses

2

1

3

1,2

2,3

7

7

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung tidak berusaha untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh

2,3

1,2

2

1,3

1,3

9

8

Mudah menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek

2

1,2

1

4

9

Lebih banyak membicarakan dan mempermasalahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinnya

2,3

1

1

2,3

1,3

8

Jumlah Perilaku Target Muncul ∑ =

12

7

5

12

11

14

61

  1. Hasil Checklist Subjek II Kumulatif dalam 3 sesi pelaksanaan observasi

Inisial Subjek : NNG

Usia : 21Tahun

Jenis Kelamin : Wanita

Jenis Gangguan Kronis : Kanker Paru-Paru

No

Kemunculan Indikator Perilaku Positif

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

Dapat bersosialisasi secara hangat dengan lingkungan sosialnya secara intensif

2,3

2,3

1

1

3

7

2

Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah sesuatu cobaan

1

3

1

2

4

3

Memiliki keyakinan dan perasaan mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu

1

2,3

1

1,2,3

7

4

Optimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban

1,2

1

1,3

5

5

Menganggap bawa kegagalan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, skill, atau usaha

3

1,2,3

2

1,2,3

1

9

6

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kemungkinan untuk sukses

1,3

1

3

1,2

6

7

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan tersebut

1

1,2,3

1,3

2,3

8

8

Pantang menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek

2,3

3

3

9

Lebih banyak membicarakan dan membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinnya

1,3

1,2

1,2

1

7

Jumlah Perilaku Target Muncul ∑ =

10

14

7

8

8

9

56

No

Kemunculan Indikator Perilaku Negatif

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

Menarik diri dalam pergaulan sosial dengan lingkungannya

1,2,3

1

2.3

2

2

8

2

Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah suatu takdir yang tidak dapat diubah

2.3

1

1,2,3

6

3

Memiliki keyakinan tidak mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu

2.3

1

3

2.3

6

4

Pesimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban

1

2.3

1

4

5

Menganggap kegagalan disebabkan oleh karena mereka tidak berbakat

3

1,2,3

2

5

6

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kekurangan dirinya, melihat hambatan-hambatannya, dan mengira-ngira berbagai kemungkinan hasil pekerjaan, daripada berusaha untuk sukses

1

1,2,3

1,2,3

7

7

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung tidak berusaha untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh

1,3

3

1,3

1

6

8

Mudah menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek

1

1

1

3

2,3

6

9

Lebih banyak membicarakan dan mempermasalahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinnya

2,3

2

1,3

5

Jumlah Perilaku Target Muncul ∑ =

10

9

7

10

10

7

53

  1. Hasil Checklist Subjek III Kumulatif dalam 3 sesi pelaksanaan observasi

Inisial Subjek : SDS

Usia : 24 Tahun

Jenis Kelamin : Pria

Jenis Gangguan Kronis : Skizofrenia Paranoid Ringan

No

Kemunculan Indikator Perilaku Positif

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

Dapat bersosialisasi secara hangat dengan lingkungan sosialnya secara intensif

1

2,3

3

2

Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah sesuatu cobaan

1,3

1,2,3

5

3

Memiliki keyakinan dan perasaan mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu

2,3

1

1

4

4

Optimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban

1,3

2,3

4

5

Menganggap bawa kegagalan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, skill, atau usaha

1

1,2,3

3

1

6

6

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kemungkinan untuk sukses

1

2

2

3

7

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan tersebut

3

1,2,3

2

2,3

7

8

Pantang menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek

2,3

1,2,3

5

9

Lebih banyak membicarakan dan membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinnya

1,3

1,2,3

2

3

7

Jumlah Perilaku Target Muncul ∑ =

9

12

7

3

8

5

43

No

Kemunculan Indikator Perilaku Negatif

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

Menarik diri dalam pergaulan sosial dengan lingkungannya

1,3

3

2

4

2

Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah suatu takdir yang tidak dapat diubah

2,3

1

3

3

Memiliki keyakinan tidak mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu

1

1,2,3

2,3

6

4

Pesimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban

2,3

3

2,3

5

5

Menganggap kegagalan disebabkan oleh karena mereka tidak berbakat

2,3

2

3

6

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kekurangan dirinya, melihat hambatan-hambatannya, dan mengira-ngira berbagai kemungkinan hasil pekerjaan, daripada berusaha untuk sukses

3

2,3

3

7

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung tidak berusaha untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh

1,3

2,3

3

5

8

Mudah menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek

1

1,2,3

1

5

9

Lebih banyak membicarakan dan mempermasalahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinnya

1,3

2,3

2

3

1,2,3

9

Jumlah Perilaku Target Muncul ∑ =

5

10

7

5

5

11

43

Keterangan :

  1. Label 1 tanda indikator keluar pada sesi 1 kegiatan observasi;

  2. Label 2 tanda indikator keluar pada sesi 2 kegiatan observasi;

  3. Label 3 tanda indikator keluar pada sesi 3 kegiatan observasi;

Dari perolehan total ketiga subjek yang masing-masing subjek dikenai 3 sesi observasi, maka distribusi frekuensi data checklist dapat disajikan dalam tabel berikut ini :

Untuk kemunculan indikator perilaku efikasi diri yang positif :

No Indikator Perilaku

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

2

4

3

3

3

3

18

2

5

0

4

1

1

2

14

3

4

5

0

2

1

5

17

4

4

1

2

0

5

1

13

5

4

6

1

2

4

4

21

6

1

3

1

2

3

3

13

7

2

8

0

2

2

4

18

8

2

1

4

1

4

2

14

9

5

5

3

3

2

2

20

Total ∑=

29

33

18

16

25

26

146

 Untuk kemunculan indikator perilaku efikasi diri yang negatif :

No Indikator Perilaku

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

5

3

0

4

2

3

17

2

4

2

2

2

4

2

16

3

4

1

5

2

1

5

18

4

3

6

2

2

1

3

17

5

0

4

0

5

3

3

15

6

2

1

4

1

2

7

17

7

4

2

3

3

5

3

20

8

2

3

1

5

3

1

15

9

4

4

2

2

5

5

22

Total ∑=

28

26

19

26

26

32

157

  1. Hasil Rating Scale

 Tabel sebaran frekuensi data dari hasil perolehan model pencatatan rating scale terhadap 3 subjek observasi yang masing-masing dikenai 3 sesi observasi, adalah sebagai berikut :

 Hasil pada indikator efikasi diri yang positif :

No Indikator Postif

Sesi Observasi ke-

TOT

I

II

III

A

B

C

A

B

C

A

B

C

1

4

1

2

3

1

1

2

1

5

20

2

2

4

2

3

2

2

1

5

3

24

3

1

2

4

2

3

2

5

1

1

21

4

1

1

2

4

1

5

1

1

2

18

5

3

1

1

3

4

2

3

3

2

22

6

3

2

1

5

1

4

1

2

3

22

7

1

2

5

1

2

1

4

2

3

21

8

2

5

1

2

1

2

3

4

1

21

9

5

1

3

2

2

3

4

2

4

26

=

22

19

21

25

17

22

24

21

24

195

 Hasil pada indikator efikasi diri yang negatif :

No Indikator Negatif

Sesi Observasi ke-

TOT

I

II

III

A

B

C

A

B

C

A

B

C

1

4

2

2

3

1

1

2

1

5

21

2

2

4

2

3

2

2

2

5

3

25

3

1

2

4

4

3

2

5

3

1

25

4

2

2

2

4

3

5

2

1

2

23

5

3

3

3

4

4

2

3

3

2

27

6

3

2

1

5

1

5

1

2

3

23

7

3

2

6

3

2

7

4

2

3

32

8

2

5

1

2

1

2

3

5

1

22

9

5

1

3

2

2

3

4

2

4

26

=

25

23

24

30

19

29

26

24

24

224

Keterangan : Label A menunjukkan subjek pertama, label B menunjukkan subjek kedua, dan label C menunjukkan subjek ketiga.

Angka dalam tabel menrupakan kuantitas perilaku keluaran yang diperoleh dari rating scale selama 3 sesi observasi.

  1. INTERPRETASI HASIL OBSERVASI

Dari hasil atau data yang diperoleh selama proses kegiatan observasi dilakukan, terlihat bahwa pada 3 subjek yang menderita gangguan kronis pada dasarnya subjek-subjek dalam observasi ini menganggap gangguan yang dihadapinya sebagai suatu rahasia yang tidak boleh dipaparkan pada orang lain yang sekiranya tidak berkepentingan dan memiliki keterikatan emosional dengan subjek, seperti orangtua, saudara, ataupun sahabat akrab. Sebagai suatu rahasia hal ini ditutupi dan direpresi sedemikian rupa sehingga muncullah indikator perilaku efikasi diri yang negatif pada subjek.

Mengenai sumasi kualitatif dan kuantittatif atas kemunculan indikator perilaku terlihat dalam hasil checklist kumulatif terhadap 3 subjek yang masing-masing dikenai 3 sesi observasi partisipan yang berbeda-beda, yaitu dimana indikator efikasi diri yang positif muncul sejumlah 146 dan indikator perilaku yang negatif muncul sejumlah 157. Selain itu, terlihat juga dalam hasil rating scale dimana perolehan pada indikator efikasi diri yang positif (∑= 195) terlihat lebih sedikit muncul pada subjek dibandingkan dengan indikator efikasi diri yang negatif (∑= 224). Hal ini menandakan besarnya represi diri pada subjek-subjek dalam menekan masalah itu, sehingga perilaku atau ide-ide yang direpresi tersebut muncul dalam keperilakuan subjek sebagai proyeksi atau refleksi atas mekanisme pertahanan dirinya (Adaptasi asumsi Sigmund Freud, melalui Hall, 1993).

Efikasi diri pada seorang yang menderita gangguan kronis tidak selalu cenderung lebih negatif dibandingkan dengan orang normal pada umumnya. Pada sebagian penderita gangguan kronis seperti kanker dan skzofrenia, mungkin saja menunjukkan efikasi diri yang cukup adaptif seperti orang normal lainnya. Hal ini sejalan dengan konsep Adler (melalui Hal, 1993) bahwa manusia bisa saja menimbulkan respons negatif ataupun positif atas permasalahan yang dihadapinya.

Permasalahan yang dihadapi oleh subjek diasumsikan sebagai indikator pemunculan rasa inferioritas diri, dimana perasaan ini memicu individu untuk mengembangkan perilaku kompensasi kearah superioritas diri sebagai tindak lanjut atas penanganan subjektif pada masalah. Perilaku kompensasi positif digunakan sebagai strategi untuk mempertinggi ego dirinya yang menrupakan bagian dari proses adaptasi diri. Sejalan dengan itu, Bandura pernah berasumsi bahwa perasaan lemah atas bagian-bagian tertentu secara fisik maupun psikis, bisa berpengaruh pada self-regulation dan self-efficacy seseorang. Efikasi diri merupakan keyakinan atas kemampuan dirinya. Efikasi ini dibentuk dari penilaian pribadi atas kondisi dirinya dan mengadopsi pemikiran-pemikiran lingkungan sosialnya tentunya.

Bukti yang menunjukkan adanya kompensasi yang cenderung positif terlihat pada hasil checklist subjek B (Inisial : NNG) dimana perolehan checklist pada tabel positif adalah sejumlah 56, sedangkan pada tabel negatif sebesar 53. Perbedaan yang mendasar atas respons terhadap gangguan kronis sebagai indikator kemunculan rasa inferioritas diri yakni ditentukan oleh 2 faktor utama yaitu predisposisi biologis dan lingkungan subjek, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Predisposisi genetis mencakup kecenderungan-kecenderungan bawaan pada dir dalam menanggapi stressor, faktor lingkungan fisik mencakup geografis sekitar individu seperti kepadatan wilayah, kebersihan lingkungan, dan sebagainya. Faktor lingkungan fisik ini diasumsikan sebagai situasi penunjang saja. Di sisi lain, lingkungan sosial yang mencakup dukungan sosial, motivasi eksternal, dan nilai-nilai yang dikemas masyarakat dan di internalisasikan oleh individu secara subjektif menjadi tolak ukur penting dalam penentuan proses pembelajaran individu berkaitan dengan respons pembelajaran Bandura (melalui Djiwandono, 2002).

Dari hasil model pencatatan anekdotal, observer menemukan bahwa secara fisikal atau nampak permukaan memang 3 subjek yang menjadi sampel populasi memang ada dalam situasi sosial yang dekat secara fisik. Akan tetapi, bukan berarti mereka secara hubungan interpersonal dekat. Artinya, mereka merasa terindividuasi atau perasaan sendiri dalam situasi sosial tersebut. Hal ini terlihat pada penrikan diri secara sosial, tetapi ketika bekerja dalam kelompok kerja untuk penyelesaian tugas, subjek mampu mengeluarkan ide-ide yang konstruktif bagi tugas yang diembannya.

Keyakinan yang kuat untuk menyimpan rahasia terlihat dari asumsi subjek yang kurang bisa mempercayai teman-teman dan orang lain di sekitarnya dengan mudah untuk mengungkap rahasia pribadinya ini. Hal ini dikarenakan subjek pernah merasa diabaikan dan dikucilkan ketika pada waktu sebelumnya ia dapat mempercayai dan menceritakan rahasianya pada orang lain, tetapi orang lain justru mengabaikan dan menjauhinya. Oleh Freud ini disebut sebagai pengalaman traumatis atau getir (Adaptasi melalui Hall, 1993).

Pengalaman terjauhi secara emosional dengan orang lain ini menyebabkan subjek bertindak dan bersikap lebih teliti dan selektif untuk mempercayai orang lain. Implikasi tidak langsungnya yaitu subjek mulai mengembangkan sikap pesimistik terhadap lingkungan sosialnya, sebagai kompensasi atas pengabaian yang secara subjektif dirasakan tidak sepatutnya diterima oleh dirinya. Dalam asumsi Freudianisme ini adalah perilaku defense ego mechanism atau dalam istilah lazimnya dikenal sebagai coping masalah.

Tidak hanya sebatas itu, selain membentuk kompensasi eksternal (kepada lingkungannya), subjek juga mengembangkan kompensasi internal (kepada dirinya sendiri) yang terlihat dari upaya subjek untuk berusaha keras untuk tampil sempurna sebagai bentuk pernyataan diri kepada lingkungan sosialnya. Subjek selalu berusaha mandiri dan sebisa mungkin tidak tergantung dengan individu lainnya. Asumsi yang diutarakan subjek adalah bahwa ia harus bisa melakukan hal-hal sepele sendirian terlebih dahulu sebelum bisa menaklukkan rasa takutt terhadap gangguan kronis yang dihadapinya saat ini.

Sikap kompensasi ini menyebabkan subjek nampak terlihat berupaya menutupi perasaan inferior dalam dirinya, yaitu dengan pemunculan kemampuan diri. Refleksi perilaku ini adalah wajar secara psikologis kemanusiawian. Hal ini sejalan dengan konsep aktualisasi diri yang dikemukakan oleh Abraham Maslow (melalui Hall, 1993).

Singkatnya, ketika masalah itu disikapi oleh individu, individu tidak hanya mengembangkan kompensasi menagtif, tetapi juga positif yang sifatnya lebih konstruktif. Selain itu, tidak hanya memberikan kompensasi terhadap diri sendiri ataupun orang lain saja, tetapi kedua-duanya sisi dikompensasi. Hal ini dilakukan untuk mengembalikan situasi agar kembali seimbang lagi (prinsip homeostatis psikis), yang menurut Maslow merupakan wujud aktualisasi potensi diri subjek.

  1. KESIMPULAN PELAKSANAAN OBSERVASI

 Berdasarkan atas hasil observasi yang telah dilakukan, observer dapat menyimpulkan beberapa hal, yaitu :

  1. Suatu gangguan kronis yang ada pada diri manusia dapat menjadi sumber inferioritas diri baginya, dan menjadi tolak ukur keperilakuan diri dalam situasi-situasi sosial;

  2. Rasa inferioritas diri yang muncul pada seseorang bisa dikompensasi secara positif maupun negatif dan kompensasi dapat berarah kelingkungan maupun kediri sendiri;

  3. Perilaku kompensasi dan defense ego mechanism dibentuk dengan mempertimbangkan 3 faktor utama, yaitu predisposisi genetis, faktor keadaan fisik lingkungan, dan faktor keadaan lingkungan sosial tempat individu berinteraksi;

  4. Wujud keperilakuan pada penderita gangguan kronis (usia dewasa awal) dalam konteks pemunculan efikasi diri bersifat kompleks, dimana ditentukan oleh multifaktor, dan berarah kemultidimensi perilaku; dan

  5. Setiap individu memiliki tendensional untuk mengaktualisasikan dirinya secara sehat, sekalipun pada penderita gangguan kronis.

DAFTAR PUSTAKA

Djiwandono, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia

Erikson, E. H. 1968. Identit y: Youth and Crisis. New York : Norton

Kroger, J. 1993. Ego Identity : An Overview In J. Kroger (Ed) : Discussion on Ego Identity. Hillsdale, NJ : Elbaum

Mönks, F. J, Knoers, A. M. P. & Haditono, S. R. 2001. Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Santrock, J. W. 1995. Life Span Development – Perkembangan Masa Hidup, Alihbahasa Ahmad Chusairi, Jakarta : Erlangga

———-. 2003. Adolescence – Perkembangan Remaja, Alihbahasa Shinto B. Adeler. Jakarta : Erlangga

———-. Relationship : Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 77. No. 5, 942-966

Hall, Calvis S; Gardner Lindzey. 1993. Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta.: Penerbit Kanisius

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian – Edisi Revisi. Malang :UMM Press

Davindoff. Linda L. 1981. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta: Erlangga

Abidin, Zainal. 2002. Analisis Eksistensial Untuk Psikologi dan Psikiatri. Bandung: Refika

Palmer, Donald D. 2001. Kierkegaard: Untuk Pemula. Yogyakarta: Kanisius

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://www.indopos.co.id/index.php?act=cetak&id=28. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pem bicaraan:Resiliensi&action=edit. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://one.indoskripsi.com/. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://adianfuadi.wordpress.com/2008/04/23/super ioritas-dan-inferioritas/#comments. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://smartpsikologi.blogspot.com/. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://www.indopos.co.id/index.php. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://rizafahlevi.blogspot.com/2008/10/inferioritas-complex.html. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pem bicaraan:Kanker&action=edit. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://dianekawati.wordpress.com/. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://ardi-ardo.blogspot.com/2007/11/penyakit-kronis.html. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://qalbinur.wordpress.com/. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/24/per kembangan-individu/. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

LAMPIRAN

PEDOMAN ANEKDOTAL OBSERVASI

Dalam kegiatan observasi ini, teknik anekdotal yang digunakan adalah model specimen anekdotal descriptions, yaitu pencatatan naratif terhadap kemunculan perilaku-perilaku target berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Berkaitan dengan panduan pengamatan, observer dalam model anekdotal berpondasi pada indikator perilaku target yang telah dioperasionalisasikan sebelumnya dalam proses administrasi dan perencanaan pengukuran dalam kegiatan observasi. Adapun indikator perilaku target yang harus diperhatikan mencakup 2 dimensi, yakni dimansi perilaku overt efikasi diri yang positif dan dimansi perilaku overt efikasi diri yang negatif. Selain itu, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah perilaku diobservasi dalam rentang waktu yang telah ditentutan. Hal ini beraitan dengan model setting observasi yang time-sampling. Indikator yang muncul di luar rentang waktu yang telah ditentukan dianggap tidak terjadi dan tidak dicatat sebagai hasil observasi. Adapun indikator perilaku yang diobservasi adalah sebagai berikut :

  1. Efikasi Diri Pribadi yang positif

Indikator Efikasi diri yang positif berdasarkan landasan teoretis, adalah sebagai berikut :

  1. Dapat bersosialisasi secara hangat dengan lingkungan sosialnya secara intensif;

  2. Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah sesuatu cobaan (melalui pendekatan personal);

  3. Memiliki keyakinan dan perasaan mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu;

  4. Optimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban;

  5. Menganggap bawa kegagalan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, skill, atau usaha.

  6. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kemungkinan untuk sukses;

  7. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan tersebut;

  8. Pantang menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek;

  9. Lebih banyak membicarakan dan membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinnya;

  1. Efikasi Diri Pribadi yang negatif

Indikator Efikasi diri yang positif berdasarkan landasan teoretis, adalah sebagai berikut :

  1. Menarik diri dalam pergaulan sosial dengan lingkungannya;

  2. Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah suatu takdir yang tidak dapat diubah (melalui pendekatan personal);

  3. Memiliki keyakinan tidak mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu;

  4. Pesimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban;

  5. Menganggap kegagalan disebabkan oleh karena mereka tidak berbakat.

  6. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kekurangan dirinya, melihat hambatan-hambatannya, dan mengira-ngira berbagai kemungkinan hasil pekerjaan, daripada berusaha untuk sukses;

  7. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung tidak berusaha untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh;

  8. Mudah menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek;

  9. Lebih banyak membicarakan dan mempermasalahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinnya;

FORMAT ANEKDOTTAL RECORDING

Inisial Subjek : ________

Usia : ___ Tahun

Jenis Kelamin : ________

Jenis Gangguan Kronis : ________

Sesi Observasi ke- : ___

Deskripsi Naratif Hasil Pencatatan :

_______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________ …dst

LAMPIRAN

PEDOMAN CHECKLIST OBSERVASI

Penggunaan metode checklist dalam kegiatan observasi yang berjudul Efikasi Diri Pada Dewasa Awal Penderita Gangguan Kronis ini menggunakan sistem time-sampling, dimana dalam tiap sesi observasi (setiap harinya) dibagi kedalam 6 kelas waktu observasi dan tiap-tiap kelas waktu berdurasi 20 menit, yaitu :

  1. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 0-20 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  2. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 20-40 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  3. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 40-60 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  4. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 60-80 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  5. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 80-100 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

  6. Kelas waktu yang dimulai dari menit ke 100-120 menit sejak proses observasi pada tiap sesinya dilaksanakan;

Setiap sesi kegiatan observasi dilakukan selama 120 menit dengan jumlah sesi sebanyak 3 kali. Setiap sesinya dilaksanakan dalam hari yang berbeda. Sesi pertama dilakukan pada hari pertama. Sesi kedua dilakukan pada hari kedua. Sesi ketiga dilakukan pada hari ketiga. Dengan aturan tambahan yaitu pengenaan ketiga sesi berlaku untuk tiap-tiap subjek observasi (observee).

Berkaitan dengan perilaku yang diperhatikan atau diobservasi, seperti yang telah tercantum dalam laporan kegiatan observasi, yaitu terdiri dari 9 indikator perilaku dalam 2 kelompok indikator, yaitu respons negatif dan positif. Berikut ini adalah indikator-indikator perilaku yang diobservasi, yaitu :

 

  1. Efikasi Diri Pribadi yang positif

Indikator Efikasi diri yang positif berdasarkan landasan teoretis, adalah sebagai berikut :

  1. Dapat bersosialisasi secara hangat dengan lingkungan sosialnya secara intensif;

  2. Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah sesuatu cobaan (melalui pendekatan personal);

  3. Memiliki keyakinan dan perasaan mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu;

  4. Optimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban;

  5. Menganggap bawa kegagalan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, skill, atau usaha.

  6. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kemungkinan untuk sukses;

  7. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan tersebut;

  8. Pantang menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek;

  9. Lebih banyak membicarakan dan membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinnya;

  1. Efikasi Diri Pribadi yang negatif

Indikator Efikasi diri yang positif berdasarkan landasan teoretis, adalah sebagai berikut :

  1. Menarik diri dalam pergaulan sosial dengan lingkungannya;

  2. Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah suatu takdir yang tidak dapat diubah (melalui pendekatan personal);

  3. Memiliki keyakinan tidak mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu;

  4. Pesimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban;

  5. Menganggap kegagalan disebabkan oleh karena mereka tidak berbakat.

  6. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kekurangan dirinya, melihat hambatan-hambatannya, dan mengira-ngira berbagai kemungkinan hasil pekerjaan, daripada berusaha untuk sukses;

  7. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung tidak berusaha untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh;

  8. Mudah menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek;

  9. Lebih banyak membicarakan dan mempermasalahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinnya;

Dalam mengobservasi perilaku target, observer semaksimal mungkin berupaya seobjektif mungkin dan menghindari terjadinya interpretasi subjektif pengamat, agar hasil atau informasi yang diperoleh memiliki reliabilitas dan validitas yang akurat, sehingga data yang diperoleh dari kegiatan checklist bersifat komprhensif.

Operasionalisasi konstruk Efikasi Diri berdasarkan landasan teoretikal yang telah dipaparkan dalam subbab sebelumnya, definisi operasional terhadap variabel atau konstruk efikasi diri dapat definisikan sebagai suatu perasaan dan penilaian tentang kemampuan diri dalam menangani maslaah-masalah yang dihadapi berkaitan dengan esensi subjektivitas ego diri yang dirasakan oleh tiap-tiap pribadi manusia. Dalam pelaksanaan kegiatan observasi juga perlu mempertimbangkan tujuan kegiatan seperti yang telah dipaparkan dalam laporan observasi, yaitu :

  1. Melihat secara kasat mata perilaku overt yang mengindikasikan dan mengidentifikasikan tanda-tanda efikasi diri pada individu dewasa awal yang mengalami gangguan kronis;

  2. Mengidentifikasikan apakah tanda-tanda efikasi diri yang dikonstrukkan dalam konstruk-konstruk teoretikal berkenaan dengan kondisi observasi yang dilakukan.

  3. Melihat seberapa besar frekuensi kemunculan tanda-tanda efikasi diri tersebut terjadi pada subjek observasi.

  4. Melihat dan mengestimasi perbedaan kemunculan indikator perilaku pada pria dan wanita.

  5. Melihat seberapa besar hubungan antara indikator efikasi diri yang satu dengan yang lainnya berkenaan dengan kondisi observasi yang dilakukan dalam kaitannya dengan konstruk-konstruk teoretis yang digunakan sebagai pertimbangan asumsi teoretikal.

Format respons observasinya adalah sebagai berikut :

FORMAT CHECKLIST I

Inisial Subjek : ________

Usia : ___ Tahun

Jenis Kelamin : ________

Jenis Gangguan Kronis : ________

Sesi Observasi ke- : ___

No

Kemunculan Indikator Perilaku Positif

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

Dapat bersosialisasi secara hangat dengan lingkungan sosialnya secara intensif

       

2

Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah sesuatu cobaan

       

3

Memiliki keyakinan dan perasaan mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu

       

4

Optimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban

       

5

Menganggap bawa kegagalan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, skill, atau usaha

       

6

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kemungkinan untuk sukses

       

7

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan tersebut

       

8

Pantang menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek

       

9

Lebih banyak membicarakan dan membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinnya

             

Jumlah Perilaku Target Muncul ∑ =

             

Beri tanda cek () pada indikator yang terjadi dalam rentang durasi observasi yang telah ditentukan

Penting : 1. Penandaan Indikator tidak boleh diketahui oleh observee (berkaitan dengan model

atau pendekatan observasi.

  1. Pendekatan bertanya dapat dilakukan terhadap subjek, hanya saja motif dan tujuan bertanya observer sebaiknya tidak boleh diketahui oleh subjek.

FORMAT CHECKLIST II

Inisial Subjek : ________

Usia : ___ Tahun

Jenis Kelamin : ________

Jenis Gangguan Kronis : ________

Sesi Observasi ke- : ___

No

Kemunculan Indikator Perilaku Negatif

0-20

20-40

40-60

60-80

80-100

100-120

Total 120 Menit

1

Menarik diri dalam pergaulan sosial dengan lingkungannya

     

2

Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah suatu takdir yang tidak dapat diubah

     

3

Memiliki keyakinan tidak mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu

     

4

Pesimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban

     

5

Menganggap kegagalan disebabkan oleh karena mereka tidak berbakat

     

6

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kekurangan dirinya, melihat hambatan-hambatannya, dan mengira-ngira berbagai kemungkinan hasil pekerjaan, daripada berusaha untuk sukses

     

7

Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung tidak berusaha untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh

     

8

Mudah menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek

     

9

Lebih banyak membicarakan dan mempermasalahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinnya

           

Jumlah Perilaku Target Muncul ∑ =

             

Beri tanda cek () pada indikator yang terjadi dalam rentang durasi observasi yang telah ditentukan

Penting :

                     1. Penandaan Indikator tidak boleh diketahui oleh observee (berkaitan dengan model atau pendekatan observasi.

  1. Pendekatan bertanya dapat dilakukan terhadap subjek, hanya saja motif dan tujuan bertanya observer sebaiknya tidak boleh diketahui oleh subjek.7

LAMPIRAN

PEDOMAN RATING SCALE OBSERVASI

Dalam pelaksanaan kegiatan observasi yang berjudul Efikasi Diri Pada Dewasa Awal Penderita Gangguan Kronis ini, Observer menggunakan 3 model pengumpulan data, satu diantaranya adalah rating scale. Rating scale yang digunakan adalah model komparatif yang dikembangkan oleh Thurstone dan Cave (1929). Skala kontinum ini dalam pelaksanaannya akan diadministrasikan oleh observer untuk melihat taraf kontinum dari indikator perilaku target yang ada pada subjek sebagai observee. Dalam pengisian skala kontinum ini, subjek tidak menyadari bahwa dirinya sedang diobservasi oleh peneliti selaku observer. Hal ini sejalan dengan ciri pendekatan yang digunakan dalam administrasi kegiatan observasi yaitu model setting observasi yang sifatnya alamiah (natural) dan tertutup (covert).

Dalam skala kontinum Thurstone yang digunakan dalam kegiatan ini, terdapat garis lurus yang menunjukkan rentang kontinum dari dimensi atribut (indkator perilaku) yang sedang diobservasi. Garis tersebut terdiri dari 7 titik kontinum yang menunjukkan taraf kualitas indikator yang muncul pada subjek. Observer dalam mengukur perilaku terget pada subjek, dengan memberikan tanda pada rentang kontinum pada garis tersebut.

Berikut ini adalah format model pencatatan langsung Likert yang dimaksud :

FORMAT RATING SCALE

Inisial Subjek : ________

Usia : ___ Tahun

Jenis Kelamin : ________

Jenis Gangguan Kronis : ________

Sesi Observasi ke- : ___

Keterangan : Label 1 menandakan indkator muncul dalam intensitas terendah, penilaian taraf kualitas bergerak maju hingga label 7 yang menandakan indikator muncul dalam intensitas tertinggi.

  1. Efikasi Diri Pribadi yang positif

Indikator Efikasi diri yang positif berdasarkan landasan teoretis, adalah sebagai berikut :

  1. Dapat bersosialisasi secara hangat dengan lingkungan sosialnya secara intensif;

  1. Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah sesuatu cobaan (melalui pendekatan personal);

  1. Memiliki keyakinan dan perasaan mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu;

  1. Optimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban;

  1. Menganggap bawa kegagalan disebabkan oleh kurangnya kemampuan, skill, atau usaha;

  1. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kemungkinan untuk sukses;

  1. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan tersebut;

  1. Pantang menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek;

  1. Lebih banyak membicarakan dan membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada pada dirinnya;

  1. Efikasi Diri Pribadi yang negatif

Indikator Efikasi diri yang positif berdasarkan landasan teoretis, adalah sebagai berikut :

  1. Menarik diri dalam pergaulan sosial dengan lingkungannya;

  1. Menganggap gangguan yang dihadapinya adalah suatu takdir yang tidak dapat diubah (melalui pendekatan personal);

  1. Memiliki keyakinan tidak mampu melakukan tindakan tertentu atau mendapatkan hasil yang diharapkan pada suatu situasi tertentu;

  1. Pesimistik dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diemban;

  1. Menganggap kegagalan disebabkan oleh karena mereka tidak berbakat;

  1. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung memperhatikan kekurangan dirinya, melihat hambatan-hambatannya, dan mengira-ngira berbagai kemungkinan hasil pekerjaan, daripada berusaha untuk sukses;

  1. Jika menghadapi tugas yang sulit mereka cenderung tidak berusaha untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh;

  1. Mudah menyerah yang terlihat dalam ucapan verbal subjek;

  1. Lebih banyak membicarakan dan mempermasalahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada dirinnya;

Sekilas Tentang TPA (Tes Potensi Akademik)


Apa perbedaan soal TPA dengan soal bidang studi?
Tes Potensi Akademik (TPA) adalah jenis tes yang ingin mengetahui kemampuan (talenta) seseorang yang sifatnya granted (terberi, udah dari sononya), soal-soal yang dirancang bangun dalam TPA ini diharapkan mampu memotret kemampuan-kemampuan dasar seseorang yang ‘agak’ sulit mengalami perubahan karena faktor berlatih! Berbeda dengan tes akademik (bidang studi) yang dikelompokkan dalam tes achievement yang artinya kemampuan siswa dapat dikembangkan secara signifikan oleh setiap pribadi sesuai dengan ketekunan, latihan, dan paparan beraneka macam hal yang merupakan antisipasi atas apa-apa yang akan dihadapi kemudian (drilling, repetisi).
Ranah TPA biasanya berupa kemampuan verbal, kemampuan numerik, dan kemampuan spatial (ruang). Kematangan tiga ranah kemampuan itu dianggap sudah ‘lengkap’ dimiliki oleh setiap orang yang sudah berada dalam usia tertentu.

Jika kemampuan TPA bersifat granted, apakah berarti pemberian soal dan pembahasan TPA di Superintensif tidak bermakna?
Jawaban pertanyaan ini bisa ya atau tidak. Pemberian soal dan pembahasan TPA menjadi tidak bermakna apa-apa, jika: 1. Soal-soal yang diteskan nanti sama sekali berbeda dengan soal-soal yang dilatihkan. Menjadi makin tidak berpengaruh sessi TPA yang kita berikan jika perbedaan soal ini tidak hanya pada kata-kata, angka (saja) tapi juga macam logika yang ditanyakan. Hal ini hanya akan terjadi jika soal-soal yang muncul benar-benar baru baik dari segi logika yang ditanyakan atau kata-kata yang dipergunakan. Berdasarkan pengalaman tes TPA selama dua tahun ini kayaknya asumsi ini tidak berlaku. 2. Siswa yang diberikan dan dibahas soal-soal TPA tersebut (memang) tidak mampu memahami penjelasan yang diberikan pengajar terkait dengan bagaimana menjawab soal-soal tersebut. Misalnya, terkait dengan penjelasan soal gambar tiga dimensi, dimana memang ada beberapa orang yang ‘sulit’ menangkap penjelasan mengenai keruangan tersebut. Pada sisi ini berarti kita tidak mampu mengangkat pengertian anak karena punya keterbatasan dalam kemampuannya.
Namun pemberian soal dan pembahasan TPA menjadi sangat bermanfaat jika soal-soal yang kita berikan relatif sama dengan yang nanti akan mereka hadapi nanti. Termasuk pemberian soal dan pembahasan TPA itu merupakan suatu bentuk memberikan pengalaman buat para siswa yang belum pernah menghadapi soal-soal TPA, apalagi berdasarkan pengalaman orang yang kemampuan yang sama akan memiliki nilai TPA yang lebih besar jika salah satunya telah mengenal/mengerjakan soal TPA sebelumnya!

Bagaimana cara mengajarkan TPA nanti?
Pada soal-soal kemampuan verbal, seperti pada soal-soal asosiasi, terangkan bentuk asosiasi yang paling tepat dari beberapa pilihan jawab yang tersedia (gunakan asosiasi yang paling logis). Pada soal logika verbal pergunakan sebanyak mungkin alat bantu (simbol matematik, gambar, diagram venn, aturan-aturan logika, dan lain-lain) untuk lebih mempermudah menyimpulkan keterkaitan antar pernyataan yang ada. Untuk soal-soal sinonim dan antonim,
siswa dihimbau untuk mulai menambah perbendaharaan kata melalui memvariasikan bacaan yang dibaca (tidak hanya komik, he he he).
Demikian juga dilakukan untuk soal-soal kemampuan numerik, sangat penting untuk mulai sensitif dengan ciri-ciri pola bilangan (1 type atau 2 type bahkan 3 type), pola-pola yang ada (ditambah (+), dikurang (-), dikali (x), dibagi (:), atau kombinasi), pemanfaatan rumus-rumus sederhana yang ada pada materi matematika smp (dalil phitagoras, rumus bangun, dan lain-lain).
Sedangkan jika berhubungan dengan soal kemampuan ruang/sequensial, jika perlu membawa alat peraga yang diperlukan. Kesimpulannya yang kita perlu ajarkan bukan hanya menjawab soal tapi penjelasan mengapa jawabannya seperti itu. Dengan menyampaikan kemungkinan-kemungkinan alternatif jawaban lain namun secara logika lemah/ada cacatnya!

Bagaimana sih sistem penilaian TPA di SNMPTN?
Berdasarkan penjelasan web site resmi SNMPTN, proses penilaian sama dengan soal bidang studi yakni (+4) jika benar, (-1) jika salah, dan (0) jika tidak mengisi. Kemudian secara total nilai TPA menyumbang 30% dan bidang studi 70%.
Bagaimana perlakuan nilai TPA dibandingkan dengan bidang studi? Apakah ada hal yang bersifat khusus atau diperlakukan sama?
Karena keterbatasan data yang dimiliki (mungkin diantara teman-teman ada yang memiliki info), maka untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu kita melihat ‘ latar belakang’ mengapa ada tes TPA di SNMPTN. Dari beberapa keterangan yang sempat dirilis ke publik adalah: ada banyak mahasiswa yang lolos ujian PTN namun terpuruk prestasinya karena tidak bisa mengikuti proses studi dengan baik di PTN, adanya pandangan bahwa nilai tinggi pada bidang studi yang dicapai calon mahasiswa bisa didongkrak secara instan dengan melakukan drilling soal (bimbel sebagai tertuduh!), kemampuan/kapasitas intelektual seseorang lebih valid jika dilihat dari nilai TPA. Dari ketiga hal itu saja, Kami menyimpulkan adanya perlakuan khusus pada nilai TPA terkait dengan kelulusan siswa di SNMPTN. Alasannya, jika tidak ada perlakuan khusus pada nilai TPA itu maka nilai TPA sudah terdegradasi menjadi setara dengan nilai bidang studi, sehingga fungsi agung komponen TPA dalam proses penilaian calon mahasiswa menjadi tidak lagi berpengaruh.

Bagaimana kira-kira perlakuan khusus itu?
Kami menganggap ada skor minimal nilai TPA (bisa lewat statistik atau penetapan di awal) untuk suatu program studi tertentu. Program studi eksak tentu berbeda dengan humaniora atau sastra. Kemudian nilai TPA itu dijadikan barrier pada dua kemungkinan (di awal atau di akhir proses penyeleksian nilai bidang studi). Menurut Kami lebih mungkin nilai TPA ini menjadi penentu untuk kelulusan pada program studi setelah proses –seperti pada pengolahan UMPTN tanpa TPA—sehingga di dapat ranking yang peserta yang lolos nilai bidang studi dan nilai TPA.
Wallahua’lam

 

Download Contoh Soal TPA; http://upload.ugm.ac.id/452TPA KOmplet ok.doc

Contoh Surat Kuasa KRS


Yth. Ibu Dosen Dra. Nida Ul Hasanat, Msi

Di Kampus Psikologi UGM

 

Dengan hormat, Saya mahasiswa perwalian yang bernama:

Nama : Aswendo Dwitantyanov

NIM : 11/321662/PPS/02328

Mahasiswa Magister Psikologi Profesi Angkatan VIII/2011

Memohon ijin memberikan kuasa pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) semester genap tahun ajaran 2012/ 2013 kepada saudari:

Nama : Anggiastri Hanantyasari Utami

NIM : 11/323356/PPS/02449

Saya berhalangan dalam pengisian KRS dikarenakan saya harus pergi keluar propinsi untuk keperluan tertentu. Demikian surat ini saya buat, atas perhatian dan bantuan Bapak/ Ibu, saya ucapkan terimakasih.

 

Penerima Kuasa,                                                                                                                                        Pemberi Kuasa,

 

 

 

Anggiastri Hanantyasari Utami                                                                                                                 Aswendo Dwitantyanov

11/323356/PPS/02449                                                                                                                              11/321662/PPS/02328

Benang Kata


Seperti tulisan-tulisan sebelumnya yang pernah saya susun sebelumnya untuk orang-orang yang pernah mengisi hidupku ini dengan rasa cinta. Tetapi semuanya pergi jauh dengan alasan yang berbeda-beda. Tulisan ini saya susun teruntuk seseorang yang begitu spesial yang hadir dalam kehidupanku.

Mungkin sebelumnya saya mengenal dirimu hanya dari sebuah tulisan elektronik singkat yang kukirim untuk berkenalan dengan dirimu. Tapi semua itu kini memberikan kesan yang dalam bagi saya untuk lebih jauh ingin mengenal dirimu. Sadar maupun tidak, sesuatu telah mengisi jiwaku yang terdalam sejak itu. Hingga lama cukup sudah saya bertemu orang lain yang mengisi hari-hariku.

Ia selalu berkata manis padaku, tetapi pada akhirnya aku terluka oleh perkataannya juga. Entah semua itu membuatku bingung dengan “topeng” yang sering manusia pakai. Saya menjadi kalut dengan orang, karena kini saya sadar senyum dan kata-kata manis yang kuterima selama ini berpuisikan dusta dan kebohongan belaka. Rasa sayang yang terucap dari bibir hanyalah formalitas di balik sebuah kehidupan demi keegoisan “topeng” diri. Janji yang telah terpatri seakan-akan berlalu tanpa sebab. Kebohongannya dalam diam memberikanku isyarat yang lama baru kusadari semua yang selama ini dia berikan adalah palsu.

Entah untuk apa dia begitu memberikanku harapan bila akhirnya rasa percayanya harus berlogika belaka. Apakah segala rasa cinta itu harus dijelaskan dengan logikamu? Sungguh ironisnya diri manusia jika semua harus berlogika. Ketika amarahmu dilandasi oleh logikamu itu, maka sebenarnya logikamu lah yang telah dikuasi oleh amarahmu. Kepalsuan demi kepalsuan engkau sembunyikan dalam sikap diammu sekian lama kita bersama. Hingga engkau mengabaikan perasaanku dan menuduhku dengan hal yang tidak pernah kulakukan.

Padahal diriku tahu kekhilafan-kekhilafanmu telah terjadi dan tidak juga diriku menuduhmu dengan beribu kata-kata pahit yang menyakitkan hatimu, seperti yang telah engkau lakukan padaku. Hingga dengan susah payah aku harus melupakan rasa sakit ini. Engkau telah berhasil membangkitkan semua kenangan lamaku yang seharusnya kulupakan lama.mulutmu adalah palsu. Kenangan yang sudah sekian lama ingin kulupakan terjadinya. Kenangan tentang kehadiran seseorang yang pernah menemani langkah kehidupanku, tapi dia harus pergi kembali ke Sang Pencipta Yang Kuasa.

Dirimu hingga aku masuk rumah sakitpun engkau tak peduli lagi. Sebegitukah rasa cintamu sirna dengan cepat? Mungkin semua itu kau lakukan karena diriku yang tak setampan pria harapanmu, dan aku tak sebaik malaikat, ataupun saya tak sesempurna yang engkau harapkan, hinga dirimu membanding-bandingkan diriku ini dengan orang lain yang pernah menyakiti hatimu. Saya juga manusia biasa yang butuh kasih sayang. Kuberdoa semoga Allah membalas semua perbuatanmu dengan sebaik-baiknya perbuatan. Jangan engkau dibalas serupa dengan yang pernah engkau lakukan padaku, karena saya tidak ingin orang lain merasakan apa yang kurasakan saat engkau mencercai diriku.

Kini “dirimu” hadir mengisi hari-hariku, walau kita berkenalan dengan singkat dan saya pun tak pernah bersua dengan engkau. Tapi saya menemukan satu kekuatan baru dalam hatiku dan secercah harapan baru terhadap dirimu. Ku berdoa engkau adalah “tulang rusukku”, karena hatiku yakin engkaulah yang terbaik. Satu hal yang sampai hari ini saya yakini bahwa Allah tidak akan salah mempertemukanku dengan “tulang rusukku”. Ku hanya bisa berharap itulah dirimu. Yang akan mengubah hari-hariku lebih bermanfaat. Dan akan kuserahkan hati dan ketulusan ini hanya untuk dirimu. Bersusah payah untuk masa depan kita berdua dan tersenyum untuk menerobos cita-cita bersama. Aku akan bejanji padamu bahwa engkau adalah pendampingku kelak jika Allah menghendaki demikian dan mulutmu berkata demikian. Tidak dapat kuhaturkan jauh dalam kata-kata karena saya orang yang sungguh aneh dan tidak biasanya. Begitu menurut orang lain. Kuharap engkau mengerti apa yang ingin kusampaikan dalam tulisan ini. Dan nazarku pada Allah, semoga terkabul dan diberikan kekuatan atas pintaku.

Diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiallahu anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda “Apabila ada seorang dari kalian mencintai temannya hendaklah dia datangi rumahnya dan mengkabarinya bahwa ia mencintainya (seorang temannya tadi) karena Allah Ta’ala (HR. Ibnu Mubarok).

Sekian sebait ungkapan hati dari diri saya, yang mungkin tidak dapat menjelaskan semua apa yang kurasakan selama ini padamu. Ingin rasanya saya bertemu dengan dirimu, dan menjadikanmu sang bidadari hatiku yang selalu bersamaku di hati ini. Memberikanku inspirasi dan ku beri engkau inspirasi, tersenyum bersama, dan bahagia bersama.

Sekilas Mengenai Nokia E63


Cara Hacking Nokia E63 dan symbian lainnya…

Info :  Cara Hacking Nokia E63 dan symbian lainnya…
Tags : Cara Hacking Nokia E63 dan symbian lainnya…
Keys : Cara Hacking Nokia E63 dan symbian lainnya…

Diawal kemunculannya Nokia E63 termasuk salah satu ponsel ber-os Symbian S60 v 3 yang berada dijajaran ponsel Nokia unhackable. Tapi seiring perkembangan ilmu ‘perhackingan’, E63 menjadi begitu mudah ditaklukkan. Sebuah hacking tool bernama HelloOX mampu membuat sekuriti E63 tak berkutik hanya dalam hitungan detik.

Mungkin ada yang bertanya, apa sih yang didapat dari hacking ini? Sebagaimana yang seringkali disebutkan oleh para Symbianer bahwa dengan hacking, instalasi piranti lunak jadi lebih leluasa dan melakukan kustomisasi/personalisasi ponsel jadi lebih memungkinkan. Pada dasarnya hacking ditujukan buat mereka yang punya minat lebih terhadap kemampuan sebuah sistem operasi atau mereka yang menginginkan kendali penuh atas milik pribadinya. Jadi jika anda menggunakan ponsel hanya untuk telepon, sms, internet atau fungsi dasar lainnya dan anda merasa puas dengan segala fitur maupun tampilan yang ada maka anda tak perlu menghacking ponsel anda .

 

Hacking

Langkah
Pertama
Siapkan sebuah sertifikat untuk men-sign perkakas hacking yang akan kita pakai. Andai belum punya dan belum mengerti cara membuat sertifikat silakan tengok tulisan saya sebelumnya tentang
panduan membuat sertifikat di Opda.
Langkah
Kedua
Silakan
download HelloOX (versi 2.03). Rasanya versi ini yang paling pas untuk E63 karena versi sebelumnya masih tak mampu membuat E63 bergeming.
Langkah
Ketiga
Signing HelloOX dengan sertifikat yang telah ada dan lantas instal.
Langkah
Keempat
Buka HelloOX yang telah terinstalasi dan secara otomatis akan melakukan proses hacking serta menginstalasi RomPatcher.
Urutan kerjanya terbagi dalam 6 langkah :
1. Mapping drive
2. Unpacking file
3. Activating file system
4. Unmapping drive
5. Installing root certificate
6. Install ROMPatcher+
Selesai dan kini anda resmi menjadi tuan bagi milik anda sendiri, selamat
.

RomPatcher

RomPatcher adalah tool untuk mengaktifkan atau menerapkan berbagai patch – patch agar file eksekutor yang terinstal di ROM (Read Only Memory) bekerja sesuai yang kita inginkan. Saat instalasi, RomPatcher hanya membawa patch Open4All yang fungsinya adalah untuk memberikan kita hak akses penuh pada system folder dan file. Kelak kita bisa menambahkan patch – patch lain yang tentunya sesuai dengan E63. Jadi setelah berhasil melakukan hacking, buka ROMPatcher, apply dan add to auto patch Open4All-nya agar bisa mengakses serta menulis dan membaca di folder – folder dengan akses dibatasi seperti folder Private atau Sys.

Unhacking

Hacking ini sifatnya tidaklah permanen. Kapan saja kita mau kita bisa mengembalikannya ke kondisi awal/unhacking. Caranya?
Buka lagi HelloOX dan disana kita akan mendapati opsi Unhack. Pilih opsi tersebut maka HelloOX akan memulai proses unhacking. Lalu uninstall HelloOX, restart ponsel dan selesai. Ponsel kita kembali seperti semula. Keren kan?

Mainkan Game N-Gage di HP Symbianmu….

Info : Cara Install Game N-Gage di Nokia S60v3 dan S60v5 ( E63, E71, dll )
Keys : Cara Install Game N-Gage di Nokia S60v3 dan S60v5 ( E63, E71, dll )
Tags : Cara Install Game N-Gage di Nokia S60v3 dan S60v5 ( E63, E71, dll )

N-Gage, sebuah ponsel berdedikasi untuk gaming dengan interface dan sound effect mempesona, yang kini tinggal menuju ajal. Namun game di dalam n-gage masih bisa kalian mainkan di HP kamu.. N-gage belum mati !!!! Berikut  Cara Install Game N-Gage di Nokia S60v3 dan S60v5 ( E63, E71, dll ) untuk memainkannya di hp kamu… Baca baik – baik Cara Install Game N-Gage di Nokia S60v3 dan S60v5 ( E63, E71, dll ), sebelumnya hp kamu harus di hack dulu dengan helloX2.0 setelah itu ikuti Cara Install Game N-Gage di Nokia S60v3 dan S60v5 ( E63, E71, dll ). Hp yang support diantaranya E63, E71, 5630XM, 5320XM, 6210Navigator, 6720 Classic, N78, N79, N81, N85, N86, N95, N96, N97, dan lainnya gag ngerti.. hehehe

Ayo coba

 

Software yang digunakan
1. HelloX – Rom pathcer
2. X-plore
3. N-Gage
4. Game N-Gage

Installasi :

1. Download Aplikasi N-Gage disini dan untuk hp yang layar landscape(tombol qwerty(E63,dkk)) disini ukuran 9MB
2. Install N-gage v1.40(1557) s60v3.sis di memori eksternal
3. Extrack file “N-GAGE_E-SERIES.rar” yang terdiri dari 3 file 10202be9.rar, 20001079.txt, playcommon.mbm
– Extract file dengan x-plore(setting Menu-Tools-Configuration centang semua )
copy file 10202be9.rar —> c:/private/10202be9 trus overwrite
– copy file 20001079.txt —> c:/private/10202be9
– copy file playcommon.mbm  —> c:/resourcer/apps
4. Install N-Gage.fixes.sis

Selesai

Butuh game nya ga ? tu tadi kan cuma aplikasinya….
Nih aku kasih
DOWNLOAD DISINI

Taruh game yang sudah didownload, d ekstrak, dan di lengkapi (.ngage) copy –> E:/ngage
Buka aplikasi N-gage —–> otomatis menginstall

 

Memiliki ponsel bersistem operasi Symbian S60v3/v5 atau OS 9 tanpa punya sertifikat sendiri atau – yang lebih ekstrim – tanpa dihack belumlah menjadi milik kita sepenuhnya . Mau pasang aplikasi mestilah aplikasi bersertifikat, mau dipersonalisasi tingkat lanjut pastilah mustafa (mustahil lah faa, hihihi). Untunglah ada situs yang menyediakan layanan pembuatan sertifikat secara gratis sehingga segala keterbatasan sedikit banyak bisa dilonggarkan.

Dengan adanya sertifikat dan kunci pribadi, kita tak perlu menunggu [hingga kering] sampai pihak pengembang mensertifikasi/men-signing produk mereka dan tak harus menghacking sistem ponsel jika hanya sekedar ingin memasang berbagai aplikasi. Jikalau anda ingin memiliki sertifikat sendiri, di bawah ini ada panduan membuat sertifikat di opda berdasarkan IMEI ponsel. Mengapa kita pilih opda? Karena sertifikat dari opda lebih fleksibel, bisa digunakan dengan SignTools di komputer dan dapat pula dengan FreeSigner yang terpasang di ponsel.

Prosedurnya sebagai berikut :

1. Pergilah ke http://cer.opda.cn/en/, silakan mau menggunakan browser komputer atau Opera Mini di ponsel.

2. Klik Register dan di halaman berikutnya isi formulir pendaftaran yang disajikan. Jangan lupa mengaktifkan gambar pada pengaturan browser agar huruf acak dapat dilihat.

3. Klik Submit and register dan jika registrasinya berhasil langsung saja login.

4. Sukses login, klik di My certificate.

5. Kemudian klik Apply cer di halaman yang berikutnya.

6. Isi beberapa pertanyaan tentang ponsel anda pada formulir yang disodorkan untuk memulai pembuatan sertifikat. Diantaranya adalah IMEI ponsel anda. IMEI ponsel bisa dilihat dengan mengetikkan *#06# dilayar utama atau dengan bantuan aplikasi seperti X-plore atau PhoneInfo.

7. Lalu klik Submit application. Jika tak ada yang salah akan ada notifikasi ”Operation Successfully”.
Selesai dan silakan logout atau kalau anda tertarik boleh menjelajah isi situs tersebut.

Kini anda tinggal menunggu hingga sertifikat tersebut selesai dibuat. Selang waktunya tergantung berapa banyak sertifikat yang mereka mesti buat saat itu. Bisa 2, 3, 4 atau 5 jam atau mungkin lebih. Tapi yang jelas tidak sampai satu hari.

Untuk mendownload sertifikat, login lagi ke http://cer.opda.cn/en/. Klik My certificate dan jika sertifikat anda sudah jadi akan ada link download sertifikat dan key pribadi anda (.cer dan .key). Downloadlah keduanya.

Peralatan yang dibutuhkan untuk sertifikasi juga telah tersedia di situs ini. Ada SignTools untuk PC dan FreeSigner (signed) untuk ponsel.