Makalah Psikologi Abnormal


Kuliah I :

Pengantar Psikologi Abnormal

Abnormalitas atau yang disebut juga perilaku abnormal adalah suatu bentuk perilaku yang maladaptif. Ada juga yang menyebutnya mental disorder, psikopatologi, emotional discomfort, mental illness (penyakit mental), ataupun insanity. Perilaku abnormal merupakan suatu istilah yang terutama banyak berkembang di Amerika Serikat, yang timbul karena masyarakat negara tersebut lebih berdasarkan ilmu pengetahuan, sikap hidup, dan umumnya pemikiran pada mahzab perilaku (behaviorisme). Sedangkan, istilah psikopatologi merupakan istilah yang paling populer dimasa lalu, ketika pusat ilmu pengetahuan berada si daratan Eropa, yang disebut juga bermahzab mental. Orang Eropa daratan (continental) lebih melihat aspek dalam (inner) dari perilaku itu, sehingga perilaku yang menyimpang biasanya dipandang sebagai akibat dari gangguan atau penyakit jiwa tertentu. Orang-orang Amerika lalu, lebih melihat aspek perilaku yang berada diluar individu (over behavior) yang mereka anggap lebih penting dari pada aspek dalam kepribadian (inner personality).

  1. A.    Perilaku Abnormal (Abnormal Behavior)

Perilaku abnormal merupakan tampilan dari kepribadian seseorang, dan tampilan luar atau tampilan atas kedua-duanya. Perilaku abnormal juga merupakan perilaku spesifik, phobia, atau pola-pola peilaku yang lebih mendalam, misalnya skizofren. Perilaku abnormal juga merupakan sebutan untuk masalah-masalah yang berkepanjangan atau bersifat kronis dan gangguan-gangguan yang gejala-gejalanya bersifat akut dan temporer, seperti intoksinasi (peracunan obat-obatan), terutama narkoba.

  1. Psikopatologi (Psychopathology)

Psikopatologi adalah perilaku abnormal, atau mental yang terganggu dimana ditandai dengan adanya kesalahan dalam penyesuaian diri, yang disebut juga perilaku maladaptif, atau penyesuaian diri yang salah. Psikopatologi tidak hanya sekedar menyangkut gangguan-gangguan seperti psikosis atau neurosis, tetapi juga pola-pola individual dan kelompok, seperti perilaku bisnis yang tidak etis atau prasangka rasial yang juga ditadai dengan adanya keterasingan dan sikap apatis.

  1. Gangguan Mental (Mental Disorder)

Istilah ini hampir sama dengan pola perilaku abnormal yang meliputi seluruh cakupan dari  gangguan, mulai dari yang sifatnya sangat ringan sampai dengan yang sangat berat. Gangguan mental yang acapkali digolongkan kedalam pengertian ini adalah gangguan yang berat pada fungsi-fungsi mental. Bahkan digunakan pula untuk perilaku-perilaku yang secara komprehensif tidak efektif.

  1. D.     Gangguan Emosional (Emotional Disturbance)

Istilah ini mengacu pada adanya integrasi kepribadian yang tidak adekuat dan adanya tekanan pribadi (personal distress), yang menimbulkan stress yang sifatnya negatif. Biasanya gangguan-gangguan emosional dipakai untuk perilaku maladaptif pada anak-anak. Dalam psikiatris ada dua istilah yang kadang-kadang diartikan sama yaitu :

Disorder, yaitu ordernya atau keteraturan yang terganggu.

Distrubance, yaitu gangguan yang tidak mengandung perubahan-perubahan secara struktural, melainkan gangguan dari luar yang sifat datangnya sementara.

 

  1. Sakit Mental (Mental Illness)

Istilah ini terkadang digunakan orang karena sama artinya dengan gangguan mental. Akan tetapi, saat ini penggunaannya biasa dibatasi untuk ganggguan-gangguan yang melibatkan patologi otak atau disorganisasi kepribadian berat. Sakit mental, meskipun tampaknya digunakan untuk gangguan-gangguan yang menampilkan ketidakmampuan yang parah, biasanya bersesuaian dengan gangguan yang umumnya merupakan akibat dari false learning.

  1. Gangguan Perilaku (Behavior Disorder)

Istilah ini digunakan dalam perilaku abnormal yaitu gangguan perilaku atau behaviour disorder. Penggunaan istilah ini secara khusus mengacu pada gangguan-gangguan yang berasal dari false learning, baik dari kesalahan dalam mempelajari kompetensi ataupun belajar pola penanggulangan maladaptif. Bisa jadi digunakan secara lebih luas sebagai perilaku sinonim dari perilaku abnormal.

  1. Sakit Mental (Mental Disease)

Awalnya istilah sakit mental ini digunakan untuk gangguan-gangguan yang diasosiasikan dengan patologis pada otak, seperti brain damage disorder. Namun, saat ini tidak banyak digunakan. Penggunaannya merupakan analogi dari istilah kedokteran yaitu sakit, atau lebih tepat sakit fisik.

  1. Gila (Insanity)

Insanity merupakan istilah yang biasa digunakan dikalangan hukum. Insanity mengindikasikan seseorang yang memiliki ketidakmampuan untuk mengelola masalah-masalahnya, atau untuk melihat serta menduga konsekuensi atas perilakunya. Denotasinya yaitu gangguan yang serius.

 

Kuliah II :

SEJARAH DAN PENDEKATAN PSIKOPATOLOGI

Selama rentang sejarah budaya barat, konsep perilaku abnormal telah dibentuk dalam beberapa hal oleh pandangan dunia (worldview) yang berlaku pada saat itu. Juga sepanjang sejarah, keyakinan akan kekuatan supranatural, setan, dan roh jahat telah sangat mendominasi. Perilaku abnormal seringkali dianggap sebagai tanda kerasukan (possession). Pada masa kini yang lebih modern, pandangan dunia secara umumnya meski tak berarti universal, telah berganti pada keyakinan terhadap ilmu dan nalar (reason). Dalam budaya psikologi, perilaku abnormal telah dipandang sebagai produk dari faktor fisik dan psikososial, bukan akibat dari kerasukan setan.

  1. A.      Model Demonologi

Pada zaman prasejarah, para ahli arkeologi telah menemukan kerangka manusia dari zaman batu dengan lubang sebesar telur pada tengkoraknya. Satu asumsi yang muncul terhadap lubang tersebut adalah bahwa nenek moyang kita di zaman prasejarah percaya bahwa perilaku abnormal merefleksikan serangan dari roh-roh jahat terhadap mereka. Mungkin mereka menggunakan cara kasar yang disebut trephination yaitu dengan menciptakan sebuah jalur melalui tengkorak sebagai jalan keluar bagi roh marah tersebut. Pertumbuhan tulang yang baru mendeskripsikan bahwa sejumlah orang mampu bertahan hidup dari siksaan tersebut.

Mengaitkan perilaku abnormal dan penyebab supranatural ataupun hal-hal gaib disebut sebagai model demonologi. Orang zaman purba mengaitkan bencana alam dengan kehendak Tuhan dan arwah. Bangsa Babylonia purba juga percaya bahwa pergerakan bintang dan planet ditentukan oleh perjalanan dan konflik dari para dewa. Disisi lainnya, bangsa Yunani kuno percaya bahwa dewa-dewa mereka memperlakukan manusia sebagai mainan. Saat para dewa itu marah, mereka dapat menciptakan bencana alam untuk mendatangkan malapetaka pada orang-orang yang kurang ajar atau angkuh, bahkan menyelimuti pikiran mereka dengan ketidakwarasan. Pada zaman Yunani kuno, orang yang berperilaku secara abnormal sering dikirim kekuil untuk dipersembahkan pada Aesculapius, yaitu dewa penyembuhan. Para pendeta percaya bahwa Aesculapius akan mengunjungi orang-orang yang menderita ketika mereka tertidur didalam kuil dan memberikan saran penyembuhan melalui mimpi. Istirahat, diet nutrisi, dan olahraga juga dipercaya dapat membantu penanganan. Ketidaksembuhan juga ditentukan oleh kuil dengan membuat orang tersebut tidak sensitif.

  1. Asal Mula Model Medis : Dalam “Cairan Tubuh yang Memicu Penyakit”

Hipocrates (460-377 SM) adalah seorang dokter terkenal pada zaman keemasan Yunani yang menantang keyakinan konservatif pada masanya dengan menyatakan bahwa penyakit pada tubuh dan jiwa merupakan hasil dari penyebab yang naturalis, bukan karena penguasaan oleh kekuatan supranatural. Beliau yakin bahwa kesehatan tubuh dan jiwa tergantung pada keseimbangan cairan tubuh (humors), atau cairan vital, di dalam tubuh : lendir, cairan empedu hitam, darah dan cairan empedu kuning. Orang yang tidak bertenaga atau lambat, diasumsikannya memiliki kelebihan lendir (phlegm), yang kemudian menjadi asal kata plegmatis (phlegmatic). Berlebihnya cairan empedu hitam diyakini menyebabkan depresi, atau melankolia (melancholia). Serta terlalu banyak darah dapat menimbulkan disposisi sanguinis (sanguine) : ceria, percaya diri, dan optimis. Kelebihan cairan empedu kuning membuat orang-orang menjadi murung, dan koleris (choleric), yaitu mudah marah. Meskipun kita tidak lagi menganut teori Hippocrates tentang cairan ketubuhan, teorinya memiliki riwayat historis yang penting karena penyimpangannya dari konsep demonologi kuno. Teori ini juga mengawali perkembangan model medis yang modern, yaitu pandangan bahwa perilaku abnormal merupakan hasil dari proses biologis yang melatar belakanginya. Hipocrates telah mulai mengklasifikasikan pola-pola perilaku abnormal, dengan menggunakan tiga kelas utama yang memiliki sejumlah kesamaan,  dimana melankolia untuk menandai depresi yang berlebihan, manaik untuk mengacu pada kegembiraan yang berlebihan, dan ferenitis utuk menandai bentuk perilaku aneh yang mungkin pada saat ini mencirikan skizofrenia.

  1. Zaman Pertengahan

Keyakinan terhadap penyebab supranatural, terutama doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat, meningkat pengaruhnya ,dan akhirnya mendominasi pemikiran pada zaman pertengahan. Doktrin tentang penguasaan oleh roh jahat meyakini bahwa perilaku abnormal merupakan suatu tanda kerasukan oleh roh jahat atau iblis. Keyakinan ini dibubuhkan kedalam ajaran gereja katolik Roma, yang menjadi kekuatan pemersatu di Eropa Barat, setelah runtuhnya kekaisaran Roma tentunya. Sebagai pilihan dalam menanganani perilaku abnormal adalah dengan pengusiran roh jahat (exorcism). Para pengusir roh jahat dipekerjakan untuk meyakinkan roh jahat bahwa tubuh korban yang mereka tuju pada dasarnya tidak dapat dihuni. Metode-metodenya meliputi berdoa, mengayun-ayunkan tanda salib kehadapan korban, memukul dan mencambuk, bahkan membuat korban menjadi lapar. Apabila korban masih menunjukkan perilaku yang tidak sepatutnya, terdapat pengobatan yang bahkan lebih kuat, seperti penyiksaan, dengan peralatan untuk menyiksa. Tampak jelas bahwa penerima “pengobatan” tersebut akan termotivasi untuk menyesuaikan perilaku mereka sebaik mungkin sesuai dengan harapan sosial.

  1. Ilmu Sihir

Pada akhir abad ke-15 sampai akhir abad ke-17, yang merupakan masa dimana terjadi penganiayaan-penganiayaan terhadap orang-orang yang dituduh memiliki ilmu sihir.  Lalu muncul tes-tes diagnostik yang kreatif untuk mendeteksi penguasaan oleh roh jahat dan ilmu sihir. Dalam kasus tes terapung di air, orang yang tidak bersalah ditenggelamkan sebagaai cara untuk meyakinkan bahwa mereka tidak dirasuki oleh iblis. Tes terapung di air didasarkan pada prinsip bahwa logam murni tetap berada didasar selama peleburan, sedangkan yang tiruan muncul kepermukaan. Tertuduh yang dapat mempertahankan kepala mereka di atas permukaan air dianggap bersekutu dengan iblis. Oleh karenanya mereka benar-benar berada dalam kesulitan. Percobaan ini merupakan sumber  frase yang berbunyi “terkutuklah jika engkau melakukan dan terkutuklah jika tidak” (damn if you do and damn if you don’t). Akademisi modern pernah meyakini bahwa orang-orang yang disebut sebagai penyihir pada abad pertengahan dan zaman renaisensse sebenarnya merupakan orang-orang yang mengalami gangguan secara mental. Mereka diyakini dianiaya karena perilaku abnormal mereka dianggap sebagai bukti bahwa mereka bersekutu dengan iblis. Adalah benar bahwa banyak dari penyihir yang diduga mengaku telah melakukan perilaku yang tidak mungkin, seperti terbang atau melakukan hubungan seksual dengan iblis. Dilain sisi, pengakuan semacam itu mungkin mengacu pada gangguan dalam pikiran dan persepsi yang konsisten dengan diagnosis modern tentang gangguan psikologis, seperti skizofrenia.

Meskipun setan diyakini memainkan peranan baik dalam perilaku abnormal, maupun ilmu sihir, tapi terdapat perbedaan antara keduanya. Korban dari kerasukan oleh roh jahat kemungkinan dipersepsikan dirundung hal itu sebagai balasan atas pelanggaran yang telah dilakukan, tapi beberapa orang yang menunjukkan perilaku abnormal dianggap merupakan korban yang tidak berdosa dari penguasaan setan tersebut. Namun, penyihir diyakini secara sukarela memasuki persekutuan dengan iblis dan meninggalkan Tuhan. Penyihir biasanya dipandang lebih pantas untuk mengalami penyiksaan, dan eksekusi hukuman mati.

  1. Rumah Sakit Jiwa

Pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, rumah sakit jiwa , atau penampungan untuk orang gila, mulai menjamur di seluruh Eropa. Banyak yang sebelumnya merupakan leprosariun (tempat perawatan untuk penderita lepra), yang tidak lagi dibutuhkan karena berkurangnya penyakit lepra pada akhir abad pertengahan. Rumah sakit jiwa acapkali memberikan perlindungan bagi para pengemis sebagaimana orang yang mengalami gangguan, dan kondisi di tempat itu biasanya mengerikan. Para penghuninya acapkali dirantai di tepi tempat tidur mereka dan dibiarkan terbaring di tengah kotoran mereka atau berkeluyuran tanpa ada yang membantunya.

  1. Gerakan Reformasi dan Terapi Mental

Sejak tahun 1784 hingga 1802, Pusin, seorang awam, ditempatkan sebagai penguasa suatu bangsal untuk orang-orang yang dianggap gila tidak tersembuhkan pada La Bicêtre, sebuah rumah sakit mental besar di kota Paris. Orang-orang yang tidak beruntung tersebut telah dianggap terlalu berbahaya dan tidak dapat diramalkan perilakunya jika dibiarkan tidak dirantai. Namun, Pusin meyakini apabila mereka dirawat dengan kebaikan hati, maka mereka tidak perlu dirantai. Sebagaimana yang diperkirakannya, kebanyakan dari mereka yang dikurung menjadi lebih mudah ditangani dan tenang saat rantai mereka dilepaskan. Mereka dapat berjalan di halaman rumah saki dan menghirup udara segar. Pinel (1746-1826) melanjutkan penanganan manusiawi yang telah dimulai oleh Pussin. Ia menghentikan prektek-prektek yang kasar, seperti melukai dan mensucikan penderita, dan memindahkan pasien dari kamar bawah tanah yang gelap kekamar yang memiliki ventilasi yang baik dan terkena sinar matahari. Pinel juga menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbicara dengan para penghuni, dengan keyakinan bahwa dengan memberikan pengertian dan kepedulian akan membantu penyembuhan mereka untuk kembali berfungsi secara normal. Filosofis penanganan yang muncul dari upaya ini disebut terapi moral. Terapi ini didasarkan pada keyakinan bahwa memberikan penanganan yang manusiawi dalam lingkungan yang santai dan layak dapat mengembalikan fungsi individu menjadi normal kembali.

  1. Suatu Langkah Mundur

Pada paruh terakhir abad ke-19, keyakinan bahwa perilaku abnormal dapat berhasil ditangani atau disembuhkan dengan terapi moral menjadi kurang disukai (USDHHS, 1999a). Rumah sakit mental menjadi tempat yang menakutkan. Kondisi rumah sakit yang menyedihkan tetap menjadi hal yang umum hingga pertengahan abad ke-20. Walaupun sejumlah rumah sakit negara yang bagus menyediakan perawatan yang layak dan manusiawi, banyak yang digambarkan tidak lebih sebagai sarang macan bagi manusia. Para penghuni sering dijejalkan di dalam bangsal yang bahkan tidak memiliki sanitasi yang baik. Banyak pasien menerima sedikit perawatan profesional dan diperlakukan tidak manusiawi oleh staf-staf yang kurang terlatih dan kurang mendapatkan pengawasan.

 

Kuliah III :

STRESS, FAKTOR PSIKOLOGIS, DAN KESEHATAN

Istilah stress menunjukkan adanya tekanan atau kekuatan pada tubuh yang dialami individu agar ia mampu beradaptasi atau menyesuaikan dirinya. Dalam batas tertentu stress sehat untuk diri kita, dan stress memantu kita untuk membantu kita agar tetap waspada dan aktif. Ada 2 jenis stress yaitu eustress (stress positif yang berguna bagi individu) dan distress (stress negatif yang cenderung mengacu pada tekanan fisik atau psikis). Stress bersumber dari stressor yang beragam macamnya, bisa fisik maupun psikis. Adakalanya stress yang berlebihan dapat merusak kemampuan coping masalah seseorang. Stress dapat berakibat pada gangguan penyesuaian diri individu.

Gangguan penyesuaian bercirikan reaksi maladaptif individu terhadap suatu stressor tertentu yang nampak dari penurunan yang signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, ataupun akademis individu. Dalam hal ini individu mengalami stress diatas batas ambang normal. Bila ini berlangsung dalam minimal 6 bulan setelah stressor terjadi, maka individu diagnosa mengalami gangguan tersebut. Stressor gangguan ini bisa berupa putus cinta, sehingga individu mengalami hendaya fungsi psikisnya yang terwujudkan dalam penurunan kinerja fungsinya. Berikut ini adalah subtipe gangguan penyesuaian, yaitu :

 

Jenis Gangguan Penyesuaian Diri

Ciri Utamanya

Gangguan Penyesuaian Dengan Gangguan Mood Sedih, menangis, merasa tak punya harapan.
Gangguan Penyesuaian Dengan Kecemasan Khawatir, gelisah, gugup, pada anak mungkin tak mampu
  lepas dari figur kelekatannya, umumnya ibunya.
Gangguan Penyesuaian Dengan Gejala Campuran Antara Kece Merupakan kombinasi antara depresi dan kecemasan.
masan dan Mood Depresi  
Gangguan Penyesuaian Dengan Gangguan Perilaku Melanggar norma sosial, dan hak orang lain, misalnya berke
  lahi, melalaikan kewajibannya.
Gangguan Penyesuaian Dengan Gejala Campuran Antara Komplikasi gangguan emosi, misalnya depresi atau kecema
Gangguan Emosi dan Tingkah Laku san, dan gangguan perilakunya.
Gangguan Penyesuaian Yang Tidak Terklasifikasikan Kategori Residual yang meliputi ciri-ciri yang tidak termasuk
  dalam jenis gangguan penyesuaian lainnya.

 

DSM-IV-TR (APA, 2000).

Stress dapat meningkatkan resiko terkena penyakit fisik, dari mulai gangguan pencernaan hingga penyakit jantung (Cohen, dkk, 1993). Stress mempunyai efek berarti bagi sistem endokrin manusia, yang juga langsung berhubungan dengan sistem sirkulasi darah. Beberapa kelenjar hormon menunjukkan reaksi terhadap stress. Hipotalamus melepaskan hormon tertentu yang menstimulasi kelenjar pituitari untuk menghasilkan adrenocorticotrophic hormone (ACTH) yang kemudian menstimulasi kelenjar adrenalin di ginjal. Dalam pengaruh ACTH, kelenjar adrenalin melepas hormon steroid, dua diantaranya adalah kortisol dan krotison. Kedua hormon ini berperan dalam mereduksi stress, dan membantu perkembangan otot, yang menyebabkan hati melepaskan gula, sebagai energi dalam mereduksi stress. Saat stress, individu juga melepaskan eprinefrina dan noneprinefrina yang berperan dalam neurotransmitters, dan membantu meningkatkan kerja jantung dan menstimulasi hati melepaskan gula. Stress yang kronis dapat memacu aktivitas hormonal dalam tubuh sehingga tubuh manusia tersebut berada di bawah ambang homeostatis, dan gangguan fungsi hormonal tubuh, sehingga dapat berakibat pada terganggunya fungsi tubuh yang lainnya, misalnya sistem imun tubuh.

Stress dapat berupa stress fisik misalnya suara yang bising, maupun stress psikologis misalnya stress karena perceraian. Stress yang berlebihan membuat kita menjadi rentan terhadap penyakit karena lemahnya sistem kekebalan tubuh (Adler, 1999). Nampak dari hasil penelitian tertentu bahwa dukungan sosial mengurangi efek negatif dari stress ini. Misalnya saja motivasi dari orang tua terhadap mahasiswa dapat membantu mereduksi stress pada mahasiswa. Bukti lainnya menunjukkan bahwa menulis mengenai keadaan yang penuh tekanan dapat mereduksi efek negetif dari stress dan meningkatkan optimalisasi respon imun terhadap stress (Carpenter, 2001b; Esterling, dkk, 1999; Smyth, & Pennebaker, 2001). Misalnya dengan menulis cerpen, dan puisi. Sedangkan, menutupi situasi yang penuh tekanan dapat menambah beban tekanan pada sistem saraf otonomik, yang dapat melemahkan sistem imun tubuh, dan kerentanan terhadap stress (Pettie, Booth, & Pennbaker, 1998).

Dalam menjelaskan pola respons individu secara biologis terhadap stress, Hans Selye (1976) mengemukakan General Adaptation Syndrome (GAS). Sindrom ini mengisyaratkan bahwa seseorang melalui siklus stress dengan melampaui 3 tahapannya, yaitu :

Alarm Reaction, dalam tahapan ini individu mengalami suatu reaksi yang terus mengawasi stressor, dan diri akan memberikan daya untuk mereduksinya.

Resistance Stage, dalam tahapan ini individu telah mengalami kepersistensian dari suatu jenis stressor. Tahap ini dikenal juga dengan tahap adaptasi, dimana terjadi upaya diri untuk menghimpun tenaga dan memperbaiki kerusakan dan keadaan pasca stress. Apabila stress berlanjut jua, maka individu akan mencapai pada tahapan selanjutnya.

Exhaustion Stage, dimana persistensian dari stressor membuat suatu kelelahan (exhaustion) diri dalam menanggapinya. Apabila sumber stress menetap maka individu bisa mengalami diseases of adaptation, yang berkisar mulai dari alergi hingga kematian.

Beberapa faktor pencetus stress adalah sebagai berikut :

Perubahan pola hidup menjadi sumber stress bila perubahan hidup tersebut menuntut kita untuk beradaptasi secara berlebihan di luar ambang kemampuan diri kita.

Akulturasi budaya, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap individu Meksiko-Amerika oleh Zamanian, dan rekan-rekannya (1992) mengidentifikasikan bahwa mereka yang menunjukkan akulturasi yang rendah menunjukkan tingkat depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang terakulturasi dan bikultural. Status akulturasi yang rendah menunjukkan rendahnya status sosial ekonomi, kesulitan inilah yang diasumsikan menjadi pemicu tambahan bagi stress, dengan disertai ketidakmampuan berakulturasi terhadap kultur setempat, memungkinkan meningkatkan resiko depresi, dan masalah psikologis lainnya. Menutup diri dari kultur tertentu dapat menghambat individu dalam berkegiatan sebagai mana mestinya, sehingga dirinya mengalami maladjustment.

Metode coping stress diri yang buruk. Ada dua cara coping stress, yang akan dijelaskan berikut ini beserta resikonya terhadap kemunculan stress individu.

ü  Coping stress berfokus pada emosi, misalnya dengan penyangkalan, berkhayal, dan penghindaran diri dari masalah. Beberapa penelitian mengisyaratkan bahwa jenis coping serupa ini dapat memicu buruknya kondisi medis mereka, dan mereka cenderung bisa mengalami distress emosional, dan berakibat pada hendaya fungsi imun tubuh.

ü  Coping stress yang berfokus pada masalah. Jenis coping stress ini cenderung menilai stressor yang dihadapi dan melakukan sesuatu untuk mengubah reaksi guna meringankan efek dari stressor tersebut. Hal ini juga melibatkan strategi untuk menghadapi secara langsung sumber stress.

Harapan akan Self Efficacy meliputi harapan terhadap kemampuan diri dalam mengatasi tantangan hidup, harapan akan kemampuan diri untuk melakukan perilaku terampil, dan harapan terhadap kemampuan diri untuk dapat mengatasi stressor secara efektif.semakin tinggin harapan akan self-efficacy, maka semakin kecil kecenderungan individu dalam hal mengalami stress.

Daya tahan psikologis individu yang buruk. Bagaimana seseorang mengatasi stress dan mengelolanya merupakan bagian dari ketahanan psikologis. Asumsi sebuah studi mengisyaratkan bahwa semakin tinggi komitmen hidup, kepercayaan bahwa perubahan hidup adalah wajar adanya, dan pengendalian hidup yang kuat pada individu, maka semakin tinggi ketahanan psikologis seseorang pada dasarnya (Kobasa, Maddi, & Kahn, 1982, hal. 196-170).

Rasa pesimistis individu. Dalam hal ini ada hubungan antara rasa optimistis dan kesehatan yang lebih baik. Optimisme berkaitan dengan mood dan respon sistem imun tubuh yang lebih baik (Segerstrom, dkk, 1998).

Dukungan sosial yang kurang baik. Dengan adanya dukungan sosial yang cukup dari lingkungan, kita mendapatkan alternatif dalam coping stress dalam menghadapi stressor atau sekadar memberikan dukungan emosional yang dibituhkan selama masa-masa rumit kehidupan.

Identitas etnik. Identitas etnik tertentu pada suatu budaya, misalnya kaum Afrika-Amerika yang menerima diskriminasi budaya dari budaya kulit putih di Amerika, cenderung memiliki resiko kesehatan fisik dan psikis yang tinggi, begitu halnya dengan stress.

Faktor Psikologis Stress, misalnya kepribadian seseorang, emosi-emosi negatif seperti mara dan kecemasan, dan lingkungan sosial. Sebuah penelitian mengemukakan bahwa tipe kepribadian A merupakan faktor resiko psikologis juga terhadap stress. Tipe kepribadian ini dicirikan dengan berkemauan sangat keras, ambisius, tidak sabaran, dan kompetitif yang tinggi.  Sedangkan lingkungan sosial sendiri juga dapat meningkatkan resiok stress, atau sebaliknya.

Faktor-Faktor Gangguan Fisik. Faktor-faktor ini bisa mencakup segala gangguan ringan misalnya sakit kepala. Sebuah studi menunjukkan bahwa stress juga dapat menimbulkan gangguan fisik seperti sakit kepala, cardiovascular diseases, kanker, dan penyakit lainnya. Dan sebaliknya juga, gangguan fisik dapat mengakibatkan stress misalnya AIDS, cacat organ tubuh tertentu, dan sebagainya. Kesemuanya juga saling mempengaruhi, dan mungkin bergantung pada taraf penyesuaian diri seseorang terhadap penyakit, dan lingkungannya.

 

Kuliah IV :

ANXIETY DISORDERS

Anxiety atau kecemasan merupakan suatu keadaan aprehensi atau khawatir yang megeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Kecemasan dikatakan abnormal jika tingkatannya tak lagi sesuai dengan proporsi ancaman yang dicemaskannya, dan apabila datangnya tanpa disertai alasan yang dapat dijadikan penyebab kecemasan itu sendiri. Gangguan kecemasan bisa terjadi kapanpun, tanpa ada rentang masa yang jelas, bisa perhari, perjam, perbulan, bahkan pertahun. Saat stimulus yang dicemaskan muncul, maka kecemasan berlebihan akan terpaparkan, misalnya pada gangguan phobia. Kecemasan terdiri dari beragamnya ciri fisik, kognisi, dan psikomotor. Freud mengatakan bahwa perilaku neurotik misalnya kecemasan ini terjadi karena adanya ancaman bahwa ide-ide pembangkit kecemasan yang tidak dapat diterima muncul kedalam alam sadar. Semua gangguan ini merupakan refleksi ego dalam menjalankan defense mechanismnya. Gangguan Kecemasan meliputi banyak aspek, antara lainnya yaitu : Kesehatan, Relasi Sosial, Karier, Keselamatan, dan Kondisi Lingkungan.

  1. Klasifikasi ganngguan kecemasan

Istilah neurosis diambil dari kata yang berarti suatu kondisi abnormal. Neurosis diasumsikan mempunyai penyebab biologis. Neurosis dipandang sebagai suatu penyakit pada sistem syaraf. Sigmund Freud mengatakan bahwa tingkah laku neurotis terjadi karena adanya ancaman bahwa ide pembangkit kecemasan yang tidak dapat diterima akan muncul kealam sadar. Pada tahun 1980, DSM tidak lagi mempunyai kategori yang disebut neurosis. DSM yang sekarang didasarkan pada similaritas dalam tingkah laku yang diamati dan ciri-ciri khusus dibandingkan dengan asumsi kausal. Orang yang mempunyai gangguan penyesuain, depresi  dan gangguan psikotis juga dapat mempunyai masalah kecemasan. Versi DSM IV, mengakui tipe spesifik dari gangguan kecemasan. Gangguan kecemasan tidak berdiri secara eksklusif, karena penderita seringkali memenuhi lebih dari satu kriteria diagnostik.

Gangguan Panik

Panic Disorder meliputi munculnya serangan panik yang berulang dan tidak terduga. Serangan panik pertama melibatkan reaksi kecemasan yang intens disertai dengan simtom-simton fisik. Terdapat komponen ketubuhan yang lebih kuat pada serangan panik dibandingkan bentuk kecemasan yang lain. Orang yang mengalami serangan panik cenderung sangat menyadari adanya perubahan detak jantung mereka. Serangan panik terjadi tiba-tiba dan mencapai puncak intensitas dalam 10-15 menit. Dalam banyak hal, orang yang mengalami serangan panik membatasi aktivitas mereka untuk menghindari apa yang mereka cemaskan tersebut. Hal ini bisa menyebabkan agoraphobia yaitu ketakutan untuk keluar tempat umum.

Gangguan Kecemasan yang Menyeluruh (GAD)

Gangguan kecemasan menyeluruh atau GAD (Generalized Anxiety Disorder) dicirikan oleh perasaan cemas yang persisten yang nampak mengapung bebas atau tidak terikat pada situasi yang spesifik. Gangguan ini cenderung merupakan gangguan yang stabil. Gangguan ini sering ada bersama dengan gangguan kecemasan lainnya. Ciri-ciri GAD yaitu sebagai berikut :

Aspek pemicu GAD antara lainnya : Keuangan, Kesejahteraan anak atau keluarga,  Hubungan sosial, dan sebagainya.

Gangguan Phobia

Phobia merupakan ketakutan irasional yang berlebihan terhadap suatu situasi atau objek spesifik. Phobia juga mencakup komponen perilaku, penghindaran stimulus phobik, selain ciri-ciri fisik dan kognitif. Jenis gangguan-gangguan phobia antara lain :

1)      Phobia Spesifik, merupakan ketakutan yang berlebihan dan persisten terhadap objek atau situasi spesifik. Terdapat beberapa tipe phobia spesifik, antara lainnya : binatang, lingkungan alam, darah, situasi lainnya. Phobia spesifik seringkali bermula pada masa kanak-kanak. Phobia spesifik adalah salah satu gangguan psikologis yang paling umum. Selain itu, cenderung berlangsung terus selama bertahun-tahun, kecuali bila ditangani dengan efektif.

2)      Phobia Sosial, merupakan ketakutan yang melibatkan perasaan takut yang besar dan muncul karena penilaian negatif orang lain. Penderita biasanya memiliki ketakutan yang kuat pada situasi yang menyengsarakan dan mereka cenderung menjauhi kontak sosial.

3)      Agoraphobia, merupakan ketakutan pada tempat terbuka, dan daerah yang ramai. Ini dapat terjadi dengan atau tanpa serangan panik. Agoraphobia lebih umum terdapat pada perempuan.

Bentuk terapi yang disarankan antara lainnya :

a)    Cognitive Restructuring, yaitu proses terapi yang digunakan untuk membantu penderita dengan cara membuat daftar tentang hal-hal yang ada dalam pikiran meraka dan merusak kontrol, lalu dicari alternatif rasional untuk mengatasi hal yang ada dalam pikirannya itu.

b)   Terapi Kognitif dan Perilaku, merupakan teknik gabungan antara kognitif dan perilaku yang dipadukan. Dalam pendekatan ini, diterapkan teknik relaksasi dan latihan pernapasan. Dengan berjalannya waktu penderita akan mengalami desentisasi terhadap pengalaman.

c)    Terapi Psikososial, yaitu pendekatan keluarga yang diarahkan untuk mendidik dan mendukung usaha perubahan yang dilakukan penderita.

 

Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD)

Obsesi adalah suatu ide, pikiran atau dorongan yang intrusif dan berulang yang sepertinya berada diluar kemampuan seseorang untuk mengontrolnya. Kompulsi adalah tingkah laku yang repetitif atau tindakan mental repetitif yang dirasakan oleh seseorang sebagai suatu keharusan. Obsesi akan meningkatkan kecemasan seseorang. Sedangkan, kompulsi menurunkan kecemasan. Akan tetapi, jika seseorang dipaksa untuk melakukan suatu kompulsi, maka kecemasannya akan meningkat. Obsesif-kompulsif seringkali berkombinasi menciptakan kecemasan. Obsesif kompulsif dialami 2-3 % populasi individu di seluruh dunia. Persentase antara wanita dan pria sama dalam terkena gangguan ini. Seseorang dikatakan mengidap gangguan obsesi-kompulsif, jika menyebabkan distress konkret pada individu, dan dalam durasi lebih dari 1 jam/ hari, mengganggu hal-hal rutin yang normal, fungsi kerja dan fungsi social individu. Gangguan ini juga sering berangkai dengan gangguan tic. Perbedaannya dengan delusi adalah adanya keyakinan pada OCD dapat digoyahkan, jika diberi penjelasan logis terus menerus secara berulang kali.

Gangguan stress akut (ASD) dan Gangguan Stress Pascatrauma (PTSD).

Gangguan stress akut (ASD) adalah suatu reaksi maladaptif yang terjadi pada bulan pertama sesudah pengalaman traumatis. Gangguan stress pascatrauma adalah reaksi maladaptif yang berkelanjutan terhadap suatu pengalaman traumatis. Pada kedua tipe gangguan stress ini terjadi karena terjadinya suatu peristiwa traumatis. Ciri-ciri stres traumatis, antara lain : mengalami kembali peristiwa traumatis, menghindari petunjuk, mati rasa dalam segi emosional, mudah sekali terangsang, dan mengalami gangguan fungsi. Walaupun gangguan cemas telah menjadi subjek dari penelitian yang ekstensif, hanya sedikit perhatian yang diberikan pada perbedaan etnik dalam kaitannya dengan prevalensi dari gangguan-gangguan ini. Contoh Kondisi-kondisi yang dapat menimbulkan stress yaitu : Perang, Bencana Alam, Bencana Teknologis, Kematian seseorang yang berharga, Sakit, Perceraian orang tua, Kekerasan, Pemerkosaan, Kecelakaan, dan sebagainya.

  1. B.      Perspektif Teoritis

Gangguan kecemasan merupakan suatu laboratorium teoritis bagi para ilmuwan. Banyak teori mengenai tingkah laku abnormal dikembangkan dengan pemikiran tentang gangguan ini khususnya kecemasan. Berikut adalah beberapa pandangan mengenai gangguan kecemasan :

  1. a.           Pandangan Psikodinamis

Kecemasan dalam pandangan ini diasumsikan sebagai suatu sinyal bahaya bahwa impuls yang mengancam yang sifatnya seksual atau agresif mendekat kealam kesadaran. Teoretikus psikodinamis memandang gangguan kecemasan sebagai usaha ego untuk mengendalikan munculnya impuls yang mengancam kesadaran melalui defense mechanism individu. Perasan-perasaan akan kecemasan merupakan tanda-tanda peringatan bahwa impuls yang mengancam mendekat kearah kesadaran. Ego menggerakkan defense mechanismnya untuk mengalihkan impuls tersebut, dan kemudian mengarah pada gangguan kecemasan lainnya.

  1. b.           Faktor-faktor Kognitif dalam Gangguan Kecemasan

Faktor-faktor kognitif mungkin juga memegang peranan penting dalam gangguan kecemasan, misalnya saja prediksi berlebihan mengenai ketakutan, keyakinan yang self-defeating dan irasional, sensitivitas berlebihan tentang sinyal-sinyal dan tanda-tanda adanya ancaman, harapan-harapan self-efficacy yang terlalu rendah, dan salah mengartikan sinyal-sinyal tubuh. Para peneliti berusaha untuk menemukan dasar biologis dari gangguan-gangguan kecemasan dengan mempelajari peranan dari faktor-faktor genetis, neurotransmitter, dan induksi rasa panik melalui tantangan-tantangan biologis.

  1. c.            Faktor-faktor Biologis dalam Gangguan Kecemasan

Rata-rata perempuan mengalami agoraphobia dan spesifikasiphobia. Selain itu, menurut penelitian Sandra Searr, dkk mengungkapkan bahwa anak-anak alami mengalami konstelasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak adopsi terhadap orang tuanya. Faktor genetik ini lebih memainkan peranan pada phobia spesifik daripada agoraphobia, karena adanya pengalaman aversif yang mempengaruhi perkembangan phobia spesifik. Aspek biologis dari gangguan panik ditunjukkan dengan sebagian besar penyebab gangguan panik adalah karena terjadinya gangguan pada otak. Gangguan panik juga dapat disebabkan oleh terinfusnya kimiawi sodium laktosa atau kelebihan CO2 dan lebih disebabkan gangguan internal daripada gangguan eksternal.

  1. C.      Penanganan Gangguan Kecemasan

Pendekatan-pendekatan Psikodinamis

Kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan kepada konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi. Terapis psikodinamika yang lebih modern juga menyadarkan klien mengenai sumber-sumber konflik yang berasal dari dalam dirinya. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan pendekatan tradisional, mereka lebih menjejaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaan hubungan yang sekarang ini daripada hubungan di masa lalu, dan mereka mendorong klien untuk mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.

Pendekatan-pendekatan Humanistis

Para teoritikus Humanistis yakin bahwa banyak dari kecemasan kita yang berasal dari represi sosial diri kita yang sesungguhnya. Orang mungkin merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi tanpa mampu untuk mengatakan yang dirasakannya, karena bagian diri yang tidak diakui tidak secara langsung diekspresikan pada kesadaran. Terapis humanis bertujuan untuk membantu penderita dalam memahami, dan mengekspresikan bakat, serta perasaan mereka yang rasakan sesungguhnya.

Pendekatan-pendekatan Biologis

Berbagai variasi obat-obatan digunakan untuk mengobati gangguan-gangguan kecemasan. Orang yang menjadi tergantung kepadanya dapat mengalami serangkaian simtom putus zat bila mereka berhenti menggunakannya secara tiba-tiba. Simtom-simtom tersebut mendorong orang untuk menggunakan kembali obat-obatan tersebut. Masalah potensial dengan terapi obat adalah bahwa pasien kemungkinan menganggap perbaikan klinis yang terjadi disebabkan oleh obat dan bukan karena sumber daya mereka sendiri. Obat-obat ini juga tidak membawa kesembuhan total. Terapi obat kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi kognitif behavioral.

Pendekatan-pendekatan Belajar

Inti dari pendekatan belajar ini adalah usaha untuk membantu individu-individu menjadi lebih efektif dalam menghadapi objek atau situasi yang menimbulkan ketakutan dan kecemasan.

A)     Desentisitisasi Sistematis

Merupakan prosedur untuk mengurangi rasa takut yang diciptakan oleh psikiater Joseph Wolpe. Desensitisasi sitematis adalah suatu proses gradual. Klien belajar menghadapi secara progresif menghadapi stimulus yang makin mengganggu sementara mereka tetap rileks. Para terapis berorientasi pada behavioral, seperti yang Wolpe jelaskan akan manfaat dari desensitisasi sistematis dan terapi serupa melalui prinsip counterconditioning para terapis yang berorientasi kognitif member catatan bahwa dengan berada bersama dengan gambaran stimulus fobik, dan tidak lari darinya, akan meningkatkan harapan self-efficacy.

B)      Pemaparan Gradual

Metode ini dapat menbantu orang dalam mengatasi phobianya melalui pendekatan setapak demi setapak dari pemaparan aktual terhadap stimulus fobik. Pemaparan gradual juga sangat banyak dipakai pada penanganan agoraphobia. Metode yang disebut flooding adalah suatu bentuk dari terapi pemaparan dimana subjek dihadapkan kepada stimulus pembangkit kecemasan tingkat tinggi baik melalui imajinasi ataupun situasi aktual. Melalui teknik flooding, klien secara langsung dihadapkan pada situasi pembangkit ketakutan. Terapi Kognitif , berusaha untuk mengidentifikasi dan mengoreksi keyakinan yang disfungsional. Terapis kognitif membantu orang untuk mengenali cacat logis dalam pemikiran mereka dan membantu mereka untuk memandang situasi secara rasional. Terapi virtual untuk phobia, keuntungan menggunakan terapi virtual ini adalah untuk memberi kesempatan pada kita untuk mengatasi situasi sulit atau hampir tidak mungkin diadakan dalam realitas yang sesungguhnya. Terapi Kognitif-behavioral, dengan memadukan teknik-teknik behavioral seperti restrukturisasi kognitif.

 

Kuliah V :

Gangguan Disosiatif, Gangguan Buatan, dan Gangguan Somatoform

  1. I.          Gangguan disosiatif (dissociative disorder)

Adalah sebuah kelompok gangguan yang ditandai adanya suatu kekacauan atau disosiasi dari fungsi identitas, ingatan, atau kesadaran. Gangguan disosiatif mayor mencakup gangguan identitas disosiatif, amnesia disosiatif, fugue disosiatif, dan gangguan depersonalisasi. Dalam setiap kasus, terdapat suatu gangguan atau disosiasi (perpecahan) pada fungsi-fungsi identitas, ingatan, atau kesadaran yang dalam keadaan normal membuat diri kita menjadi satu kesatuan.

  1. A.   Gangguan Identitas Disosiatif atau Kepribadian Ganda

Adalah suatu gangguan disosiatif dimana seseorang memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda atau kepribadian pengganti. Pada gangguan identitas disosiatif, acapkali disebut sebagai “kepribadian terpecah”, dua atau lebih kepribadian yang masing-masing memiliki trait dan ingatan yang terdefinisikan secara baik, yang menempati tubuh satu orang. Mereka bisa sadar atau tidak sadar akan keberadaan satu dengan yang lainnya. Dalam beberapa kasus, yang tidak dipublikasikan, kepribadian pengganti (disebut juga kepribadian alter) bahkan dapat menunjukkan rekaman EEG, reaksi alergi, dan respon terhadap pengobatan yang berbeda. Juga, hasil pemeriksaan mata dan besar pupil yang berbeda.

Pada beberapa kasus, kepribadian tuan rumah (utama) mungkin tidak sadar akan kehadiran identitas lainnya, sementara kepribadian lainnya sadar akan keberadaan si tuan rumah. Pada kasus-kasus lainnya, kepribadian-kepribadian yang berbeda benar-benar tidak sadar satu sama lain. Acapkali kedua kepribadian bersaing untuk mendapatkan kontrol terhadap orang tersebut. Terkadang ada satu kepribadian dominan atau inti dan ada dua atau lebih kepribadian subordinat. Beberapa dari kepribadian pengganti (kepribadian alter) umumnya mencakup anak-anak dari beragam usia, remaja dengan jenis kelamin berbeda, pekerja seks komersial, serta laki-laki homoseksual dan wanita lesbian. Beberapa kepribadian dapat menunjukkan simtom-simtom psikosis putus dari realitas yang diekspresikan dalam bentuk halusinasi dan pola pikir delusional.

Kepribadian yang dominan sering tidak menyadari keberadaan kepribadian-kepribadian alter. Hal ini sepertinya menunjukkan bahwa mekanisme disosiatif dikontrol oleh proses-proses ketidaksadaran. Meskipun kepribadian dominan tidak menyadari mengenai keberadaan kepribadian lainnya, ia dapat samar-samar merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Bahkan mungkin terjadi “persaingan interpersonalitas” dimana satu kepribadian ingin memusnahkan kepribadaian yang lainnya. Meskipun wanita merupakan mayoritas kasus dari kepribadian ganda, proporsi dari laki-laki yang didiagnosis memiliki gangguan tersebut telah mengalami peningkatan. Wanita yang menderita gangguan tersebut cenderung memiliki lebih banyak identitas pengganti dimana rata-rata 15 atau lebih daipada laki-laki, yang rata-rata sekitar 8 identitas (APA, 2000).

Ciri-ciri dari gangguan identitas disosiatif (sebelumnya disebut kepribadian ganda), yaitu :

Sedikitnya dua kepribadian yang berbeda ada dalam diri seseorang, dimana masing-masing memiliki pola yang relatif kekal dan berbeda dalam memersepsikan, memikirkan dan berhubungan dengan lingkungan serta self.

Dua atau lebih dari kepribadian ini secara berulang mengambil kontrol penuh atas perilaku individu itu.

Ada kegagalan untuk mengingat kembali informasi pribadi penting yang terlalu substansial untuk dianggap sebagai mekanisme lupa biasa.

Ganguan ini tidak terjadi akibat efek dari zat psikoaktif atau kondisi medis umum.

  1. B.    Amnesia Disosiatif

Adalah suatu gangguan disosiatif dimana seseorang mengalami kehilangan ingatan tanpa sebab organis yang dapat teridentifikasi. Amnesia disosiatif  adalah tipe yang paling umum dari gangguan disosiatif. Amnesia berasal dari kata Yunani a-, berarti tanpa, dan mnasthai, berarti untuk mengingat. Dalam amnesia disosiatif (dissociative amnesia), sebelumnya disebut amnesia psikogenik, orang menjadi tidak mampu menyebutkan kembali informasi pribadi yang penting, biasanya melibatkan pengalaman yang traumatis atau penuh tekanan, dalam bentuk yang tidak bisa dianggap sebagai lupa biasa. Kehilangan ingatan ini tidak disebabkan oleh penyebab organik tertentu, seperti kerusakan pada otak atau kondisi medis tertentu, dan juga bukan efek langsung dari obat-obatan atau alkanol. Ingatan yang hilang dalam amnesia disosiatif dapat kembali,  meskipun gangguan ini bisa berlangsung selama beberapa hari, minggu atau bahkan bertahun-tahun. Mengingat kembali dalam amnesia disosiatif dapat terjadi secara bertahap, tetapi sering kali muncul secara tiba-tiba dan spontan. Kebanyakan kasus dari amnesia disosiatif mengambil bentuk amnesia terlokalisasi dimana peristiwa yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu hilang dari ingatan.

Bentuk lain dari amnesia disosiatif mencakup amnesia selektif dan amnesia menyeluruh. Dalam amnesia selektif, orang lupa hanya pada hal-hal khusus yang mengganggu yang  terdapat dalam suatu periode waktu tertentu. Dalam amnesia menyeluruh, orang melupakan seluruh kehidupannya meliputi siapa dirinya ?, apa pekerjaannya ?, dan dimana tempat tinggalnya ?. Orang dengan amnesia menyeluruh tidak dapat mengingat informasi pribadi, tapi cenderung untuk tetap mempertahankan kebiasaan, selera, dan keterampilan mereka. Orang dengan amnesia selektif biasanya lupa pada peristiwa atau periode kehidupan yang traumatis yang membangkitkan emosi negatif yang kuat seperti ketakutan serta rasa bersalah. Pura-pura mengaku amnesia sebagai suatu cara menghindari tanggung jawab disebut malingering, yang mencakup usaha untuk menirukan simtom terkait atau membuat pengakuan palsu demi keuntungan pribadi.

  1. C.     Fugue Disosiatif

Adalah suatu gangguan disosiatif dimana seseorang tiba-tiba pergi dari lingkupan kehidupannya, melakukan perjalanan kelokasi baru, dengan mengasumsikan identitas baru dan mengalami amnesia untuk hal-hal pribadi. Fugue berasal dari bahasa latin fugere, yang berarti melarikan diri. Kata fugitive (pelarian/ buronan) memiliki asal kata yang sama fugue sama seperti amnesia dalam pelarian. Dalam fugue disosiatif (dissociative fugue), sebelumnya disebut fugue psikogenik, penderita melakukan perjalanan secara tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya dari rumah atau tempat kerjanya, ia tidak mampu mengingat kembali informasi personal yang sudah-sudah, dan menjadi bingung akan identitasnya atau mengasumsikan identitas yang baru (baik secara sebagian atau secara lengkap). Selain perilaku yang aneh ini, orang tersebut dapat terkesan normal dan tidak menunjukkan tanda-tanda lain dari gangguan mental. Orang tersebut mungkin tidak memikirkan tentang masa lalu, atau mungkin melaporkan masa lalu yang penuh dengan memori yang salah tanpa menyadari bahwa memori itu salah. Hal yang utama disini yaitu bahwa disosiasi dalam tahap fugue melindungi seseorang dari ingatan traumatis atau sumber pengalaman maupun konflik lain yang menyakitkan secara emosi, yang diyakini oleh perspektif psikodinamik sebagai upaya pertahanan ego. Fugue juga sulit dibedakan dari malingering.

  1. D.   Gangguan Depersonalisasi

Adalah perasaan ketidaknyataan atau keterpisahan dari self atau dari tubuhnya sendiri. Depersonalisasi (depersonalization) mencakup kehilangan atau perubahan temporer dalam perasaan yang biasa mengenai realitas diri sendiri. Dalam suatu tahap depersonalisasi, orang merasa terpisah dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Penderita mungkin merasa seperti sedang bermimpi atau bertingkah laku seperti robot. Derealisasi adalah kehilangan perasaan realitas terhadap lingkungan sekitar, dialami dalam bentuk perubahan yang aneh pada lingkungan atau pada periode waktu. Derealisasi (derealization) adalah suatu perasaan tidak riil  mengenai dunia luar yang mencakup perubahan yang aneh dalam persepsi mengenai lingkungan sekitar, atau dalam perasaan mengenai jangka waktu juga dapat muncul. Gangguan depersonalisasi adalah suatu gangguan yang ditandai oleh episode yang persisten atau berulang dari depersonalisasi. Ciri-ciri diagnostik dari gangguan depersonalisasi, yaitu :

Pengalaman yang berulang atau persisten dari depersonalisasi, yang ditandai oleh perasaan terpisah dari proses mental atau tubuh seseorang, seakan-akan seseorang menjadi pengamat luar dari dirinya sendiri. Pengalaman ini dapat memiliki karakteristik seperti mimpi.

Individu tersebut mampu mempertahankan pengujian realitas, contohnya, membedakan kenyataan dari ketidaknyataan saat keadaan depersonalisasi.

Pengalaman depersonalisasi menyebabkan distress atau hendaya pribadi yang signifikan pada satu atau lebih area fungsi yang penting, seperti fungsi sosial atau pekerjaan individu.

Pengalaman depersonalisasi tidak dapat dimasukkan ke dalam gangguan lain atau tidak merupakan efek langsung dari obat-obatan, alkanol, atau kondisi medis tertentu.

II.     Sudut Pandang Teoritis

Pandangan psikodinamis. Amnesia disosiatif dapat menjadi suatu fungsi adaptif dengan cara memutus atau mendisosiasi alam sadar seseorang dari kesadaran akan pengalaman traumatis atau sumber-sumber lain dari nyeri maupun konflik psikologis. Bagi teoretikus psikodinamis, gangguan disosiatif melibatkan penggunaan represi secara besar-besaran, yang menghasilkan terpisahnya impuls yang tidak dapat diterima dan ingatan yang menyakitkan dari kesadaran seseorang. Dalam amnesia dan fugue disosiatif, ego melindungi dirinya sendiri dari kebanjiran kecemasan dengan mengeluarkan ingatan-ingatan yang mengganggu atau dengan mendisosiasi impuls menakutkan yang bersifat seksual dan agresif. Pada kepribadian ganda, orang mungkin mengekspresikan impuls-impuls yang tidak dapat diterima ini melalui pengembangan kepribadian pengganti. Pada depersonalisasi, orang berada di luar dirinya sendiri, aman dengan cara menjauh dari pertarungan emosional di dalam dirinya.

Pandangan Kognitif dan Belajar. Teoretikus belajar dan kognitif memandang disosiasi sebagai suatu respon yang dipelajari yang meliputi proses tidak berpikir tentang tindakan atau pikiran yang mengganggu dalam rangka menghindari rasa bersalah dan rasa malu yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman tersebut. Spanos percaya bahwa gangguan identitas disosiatif merupakan suatu bentuk permainan peran yang dikuasai melalui observasi, yang melibatkan proses pembelajaran dan reinforcement.

Eklektisitas Perspektif. Meskipun memiliki konseptualisasi yang berbeda akan fenomena disosiatif, para psikolog menyadari bahwa penyiksaan di masa kecil sering memegang peranan penting. Pandangan yang paling banyak dianut dari gangguan identitas disosiatif adalah bahwa gangguan tersebut mewakili sebuah cara untuk mengatasi (coping) dan selamat dari penyiksaan masa kecil yang berat dan berulang, yang pada umumnya dimulai sebelum usia 5 tahun. Anak yang mengalami penyiksaan berat dapat memiliki kepribadian alter sebagai pertahanan psikologis menghadapi penyiksaan yang tak tertahankan. Pembentukan kepribadian alter ini memberi jalan bagi anak-anak seperti itu untuk secara psikologis menyelamatkan diri atau menjauhkan diri dari penderitaan mereka.

III.    Penanganan Terhadap Gangguan Disosiatif

Pada kasus-kasus seperti amnesia, fugue dan depersonalisasi, klinisi biasanya berfokus pada penanganan kecemasan atau depresinya. Untuk gangguan identitas disosiatif, penelitian secara khusus berfokus pada usaha mengintegrasikan keperibadian alter menjadi sebuah struktur kepribadian yang kohesif. Psikoanalisis berusaha membantu orang yang menderita gangguan identitas disosiatif untuk mengungkapkan dan belajar mengatasi trauma-trauma masa kecil. Mereka sering merekomendasikan membangun kontak langsung dengan kepribadian-kepribadian alter.

IV.    FACTITIOUS DISORDER (GANGGUAN BUATAN)

Dalam gangguan ini, penderita dengan sengaja membuat gejala medis dan mental, serta memalsukan sejarah dan gejalanya dengan tujuan mendapatkan peranan orang sakit. Perilaku memiliki kualitas kompulsif, menimbulkan gejala dengan disengaja (volunter), dan memiliki tujuan walaupun penderita tidak dapat mengontrolnya. Gangguan ini sering ditemukan pda pria. Menurut psikodinamika faktor penyebabnya sangat sulit ditemukan karena penderita sulit untuk dilibatkan dalam proses psikoterapi eksploratif. Hal ini disebabkan penderita beranggapan bahwa gejala yang ada secara fisik, sehingga pendekatan yang berorientasi psikologis akan diabaikan. Penderita mendapatkan penyiksaan dan penelantaran pada masa anak yang menyebabkan seringnya perawatan RS selama perkembangan awal. Perawat, dokter menjadi figur pengganti orangtua yang menolak. Mekanisme pertahanan diri yang terjadi adalah represi, identifikasi dengan agresor, regresi, dan simbolisasi. Kriteria Diagnostik Gangguan Buatan yaitu :

a)      Gajala dimunculkan secara sengaja atau dibuat-buat tanda, atau gejala fisik, atau psikologis.

b)      Motivasi perilaku untuk mendapatkan peranan sakit (sickrole).

c)       Tidak mendapatkan keuntungan eksternal untuk perilaku (tujuan ekonomi, menghindari tanggung jawab atau memperbaiki kesejahteraan fisik seperti pada pura-pura.

Tanda dan gejala psikologis yang menonjol jika simtom psikologis menguasai gambaran klinis. Tanda dan gejala fisik yang menonjol jika simtom fisik menguasai gambaran klinis. Kombinasi tanda dan gejala psikologis dan fisik jika keduanya ditemukan tetapi tidak ada yang menguasai gambaran klinis.

V.     Gangguan Somatoform

Gangguan Somatoform merupakan gangguan yang dicirikan dengan adanya simtom fisik yang tidak ditemukan penjelasannya secara medis. Penderita somatoform merasa percaya bahwa mereka punya penyakit yang serius padahal tidak ada kelainan fisik yang ditemukan.

  1. Gangguan Konversi (Histeria Neurosis)

Adalah gangguan yang dicirikan dengan adanya satu atau lebih gejala neurologis (kebutaan, paralisis) yang tidak dapat dijelaskan oleh gangguan neurologis atau medis. Gejala  tersebut tidaklah dibuat secara sengaja. Orang tersebut tidak melakukan malingering. Simtom fisik itu biasanya timbul tiba-tiba dalam situasi yang penuh tekanan. Biasanya penderita mengalami kelumpuhan sebagian atau keseluruhan koordinasi, kejang, mati rasa, anosmia (kehilangan kemampuan membau), aphonia (kehilangan suara). Namun, gejala yang paling sering adalah paralisis, kebutaan dan mutisme. Adapun faktor penyebabnya menurut beberapa perspektif yaitu :

Psikoanalis; adanya represi konflik intrapsikis bawah sadar dan konversi kecemasan dalam gejala fisik. Konflik yang terjadi antara dorongan instinktif (seksual) dengan penghalangan ekspresi.

Behavioral; memanipulasi lingkungan untuk memberikan perhatian khusus pada penderita. Dengan penderitaan sakitnya tersebut, penderita mengendalikan lingkungan untuk mencapai tujuan yang dikehendakinya.

Faktor Biologis; adanya hipometabolisme di hemisfer dominan dan hipermetabolisme di hemisfer nondominan dan melibatkan gangguan komunikasi hemisferis. Pada beberapa pasien ditemukan adanya gangguan serebrum yang tak jelas dalam komunikasi verbal, daya ingat, kewaspadaan, ketidaksesuaian efek dan perhatiannya.

Gambaran Klinis :

Gejala Sensoris                :  melibatkan organ indera spesifik yang menyebabkan ketulian, dan kebutaan.

Gejala Motoris : kelainan pergerakan, cara berjalan, kelemahan, paralitis. Tiks dan gerakan sentakan-sentakan sering ditemukan. Pergerakan biasanya memburuk, jika ada perhatian padanya. Satu gaya berjalan penderita konversi Astasia-abasia : ataksik (tidak terkoordinasi antara otot dan otak) dan sempoyongan yang disertai oleg gerakan batang tubuh yang menyentak, iregular kasar, dan gerakan lengan yang menggelepar dan bergelombang.

Gejala Kejang :  adanya kejang semu (pseudoseizure). Kondisi kejang semu sulit dibedakan dengan kejang biasa.

Ciri penyerta lain :

Tujuan Primer   : mempertahankan konflik internal di luar kesadarn. Adnya nilai simbolik yang mewakili konflik psikologis bawah sadar.

Tujuan Sekunder : mendapatkan keuntungan yang nyata akibat sakit; dimaafkan, mendapat bantuan; bebas kewajiban dan situasi yang sukar, memanipulasi orang lain.

La Belle Indefence : sikap sombong, ketidakacuhan, pandai menahan sikap yang tidak sesuai dengan gejala serius.

Tanda-tanda Gangguan Konversi menurut DSM IV :

Satu atau lebih defisit mengenai fungsi motoris volunter atau sensoris yang mengarah pada kondisi medis atau neurologis.

Didahului konflik atau stressor psikologis.

Gejala tidak dibuat-buat secara sengaja.

Hasil pemeriksaan medis tidak ditemukan kondisi medis umum, efek zat tertentu atau perilaku kultural yang diterima secara akurat.

Meyebabkan penderitaan bermakna secara psikologis.

  1. Hipokondriasis

Ciri utama dari hipokondriasis adalah fokus atau ketakutan bahwa simtom fisik yang dialami seseorang merupakan akibat dari suatu penyakit serius yang mendasarinya, seperti kanker atau masalah jantung. Pada dasarnya tidak ada distorsi atau kemunduran fungsi tubuh. Penderita menginterpretasikan simtom tidak akurat dan menimbulkan rasa ketakutan yang tidak realistis terhadap simtom tersebut, walaupun tidak ditemukan penyebab medis dan menyebabkan gangguan yang bermakna dalam kehidupan sosial penderita. Orang dengan hipokondriasis tidak secara sadar berpura-pura akan simtom fisiknya. Mereka umumnya mengalami ketidaknyamanan fisik, sering kali melibatkan sistem pencernaan atau campuran antara rasa sakit dan nyeri. Biasanya dialami pada usia 20-30 tahun. Kebanyakan yang diduagnosa hipokondria juga menunjukkan tanda-tanda gangguan psikologis seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Diagnosa tanda-tanda hipokondria:

a)      Orang memikirkan dengan ketakutan bahwa mempunyai penyakit yang serius tanpa adanya laporan medis mendukung pernyataannya.

b)      Yang menjadi pokok adalah bukannya intensitas delusi, tetapi emosi yang berada di bawah stress.

c)       Dialami selama enam bulan atau lebih.

d)      Indikasi hipokondria yang terjadi secara eksklusif dengan tanda gangguan lain.

Orang dengan hipokondriasis menjadi sangat sensitif terhadap perubahan ringan dalam sensasi fisik, seperti sedikit perubahan dalam detak jantung dan sedikit sakit serta nyeri. Padahal, kecemasan akan simtom fisik dapat menimbulkan sensasi fisik tersendiri, misalnya keringat berlebihan dan pusing bahkan pingsan. Orang yang mengalami hipokondriasis memiliki lebih lanjut kekhawatiran akan kesehatan, lebih banyak simtrom psikiatris, dan mempersepsikan kesehatan yang lebih buruk daripada orang lain.

  1. Gangguan Somatik (Somatisasi)

Gangguan Somatisasi (somatization disorder), sebelumnya dikenal sebagai Sindrom Briquet. Merupakan gangguan dengan karakteristik banyaknya keluhan atau gejala somatik yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya secara medis. Dibedakan dengan gangguan somatoform lainnya karena banyaknya keluhan dan melibatkan sistem organ multiple (gangguan saraf dan pencernaan). Sifat gangguan ini kronis (dialami selama beberapa tahun dan dimulai sebelum usia 30 tahun) dan disertai dengan penderitaan yang bermakna, gangguan fungsi sosial dan perilaku mencari bantuan medis berlebihan. Adapun Faktor penyebabnya yaitu :

Psikososial : interpretasi gejala sebagai suatu tipe komunikasi sosial yang hasilnya adalah menghindari kewajiban (melakukan hal yang tidak disenangi), mengekspresikan emosi (kebencian), simbolisasi perasaan atau kesakitan (nyeri kepala). Menurut psikoanalisis, simtom merupakan substitusi dorongan instinktif yang direpresikan. Pandangan behavioral melihat adanya proses belajar parental. Di samping itu, juga ditemukan pasien berasal dari rumah yang tidak stabil dan mengalami penyiksaan fisik.

Faktor Biologis : adanya gangguan pada neurologis. Faktor genetika juga dilaporkan mempunyai pengaruh munculnya gangguan somatisasi.

Kriteria diagnostik gangguan somatisasi menurut DSM IV :

Empat gejala nyeri; riwayat nyeri berhubungan setidaknya empat tempat atau fungsi yang berlainan (kepala, perut, punggung, sendi, dada, anggota gerak, sexual intercourse, menstruasi, urine).

Dua gejala gastrointestinal (mual, kembung, muntah selain kehamilan, diare ateu intoleransi terhadap jenis makanan).

Satu gejala seksual (kurang bergairah, ejakulasi dini, menstruasi tidak teratur).

Satu gejala saraf (sulit menelan, hilangnya sensasi sentuh, dissosiatif (amnesia), afonia, kebutaan, kelumpuhan dan hilang ingatan).

Penderita gangguan somatisasi mempunyai banyak keluhan dan riwayat medis yang lama dan sulit, mual, muntah (selama kehamilan), kesulitan menelan, nyeri di lengan dan tungkai, amnesia, komplikasi kehamilan dan menstruasi gejala yang paling sering. Riwayat medis digambarkan secara sepintas, samar-samar, tidak jelas, tidak konsisten, dan tidak sistematis. Penderita wanita biasanya berpakaian secara eksibisionistis, tergantung, berpusat pada diri sendiri, haus pujian, dan manipulatif. Sering disertai dengan adanya gangguan mental lainnya, termasuk depresif berat, gangguan kepribadian, adiksi zat, kecemasan umum, dan phobia.

  1. Body Dysmorphic Disorder (BDD)

Orang dengan gangguan dismorfik tubuh (Body dismorphic disorder/ BDD) sering terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar-besarkan dalam hal penampilan mereka. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam-jam untuk memerikasakan diri di depan cermin dan mengambil perilaku yang ekstrem untuk mencoba memerbaiki kerusakan yang mereka persepsikan. Bahkan, bisa menjalani operasi plastik yang tidak dibutuhkan. Gangguan ini menyebabkan penderitaan yang bermakna bagi penderita, sehingga terganggu fungsi sosial dan kehidupan sehari-hari. Faktor penyebab belum banyak dipelajari. Diperkirakan adanya pengaruh kultural atau sosial yang bermakana karena penekanan konsep mengenai kecantikan yang stereotipe pada keluarga tertentu atau budaya tertentu. Pandangan psikodinamika menjelaskan adanya pengalihan konflik seksual atau emosional ke dalam bagian tubuh yang tidak berhubungan melalui defense mechanism represi, disosiasi, simbolisasi, dan proyeksi. Permasalahan banyak melibatkan kerusakan tubuh yang berhubungan dengan bagian spesifik (dagu). Kadangkala permasalahan terlihat tak jelas dan susah untuk dipahami, seperti permasalahan bentuk bibir yang aneh. Gejala penyerta yang sering adalah ide yang menyangkut diri (ideas of reference), waham yang menyangkut diri (orang lain yang membicarakan kekurangan pada tubuhnya). Hampir semua penderita menghindari pertemuan sosial dan pekerjaan, terus tinggal di rumah karena takut diteretawakan, dan beberapa kasus berusaha untuk melakukan upaya bunuh diri.

Kriteria diagnostik gangguan Somatisasi menurut DSM IV :

Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan. Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, maka individu akan merasakan kekhawatiran yang berlebihan.

Preokupasi menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis, fungsi sosial atau fungsi penting lainnya.

Tidak dapat diterangkan lebih baik dengan mental lain (ketidakpuasan bentuk dan ukuran tubuh pada anoreksia nervosa).

  1. Gangguan Nyeri

Adanya rasa nyeri pada satu atau lebih tempat yang tidak sepenuhnya disebabkan oleh kondisi medis atau neirologis nonpsikiatris. Gejala nyeri disertai penderitaan emosional dan gangguan fungsional, dan gangguan memiliki hubungan kausal yang logis dengan faktor psikologis. Nama lain dari gangguan ini yaitu : gangguan nyeri psikogenik; gangguan nyeri idiopatik, dan gangguan nyeri atipikal eufemestik. Berikut adalah pandangan beberapa perspektif mengenai faktor penyebab gangguan nyeri :

Psikodinamis : merupakan ekspresi simbolik dari konflik intrapsikis melalui tubuh. Beberapa penderita mengalami aleksitima yaitu kesulitan mengartikulasikan perasaan internal ke dalam kata-kata, sehingga tubuh mengekspresikan perasaan. Pengalihan masalah kedalam tubuh menjadikan penderita merasa memiliki kekuasaan untuk memenuhi kebutuhan ketergantungan. Arti simbolis dapat juga berhubungan dengan penebusan dosa, kesalahan ataupun agresi yang ditekan. Beberapa pasien sukar disembuhkan karena merasa pantas untuk menderita. Nyeri dapat berfungsi sebagai cara untuk mendapatkan cinta, hukuman kesalahan, dan cara menebus kesalahan. Pola defens mekanism yang digunakan adalah pengalihan, substitusi, dan represi.

Behavioral : gejala nyeri menjadi kuat jika diikuti oleh perlakuan cemas dan perhatian orang lain atau keberhasilan menghindari aktivitas yang tidak disenangi.

Interpersonal : cara untuk dapat memanipulasi dan mendapatkan keuntungan dalam berhubungan interpersonal, misalnya untuk menjadi anggota keluarga yang paling disayangi atau mempertahankan perkawinan yang rapuh.

Biologis : adanya kelainan limbik atau kelainan kimiawi pada otak.

Kriteria diagnostik gangguan somatisasi menurut DSM IV :

Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan pusat gambaran klinis dan cukup parah.

Menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinis, sosial atau fungsi lainnya.

Adanya faktor psikologis dianggap berperan dalam onset, keparahan, bertahannya nyeri.

Tidak ditimbulkan secara sengaja.

Nyeri tidak dapat diterangkan dengan kecemasan atau gangguan psikotik dan tidak memenuhi dispareunia.

Gangguan nyeri bukan merupakan suatu kelompok yang seragam, akan tetapi simtom yang dikeluhkan sangat heterogen dengan berbagai nyeri, seperti punggung, ataupun kepala. Untuk memenuhi kriteria diagnosis gangguan nyeri diharuskan adanya faktor psikologis yang terlibat secara signifikan dalam gejala nyeri dan permasalahannya. Sering timbul keinginan-keinginan untuk melakukan pembedahan. Pasien sering menyangkal adanya faktor emosional dan menyatakan hidup dalam kebahagiaan kecuali adanya rasa nyeri. Untuk mengatasi rasa nyerinya, biasanya pasien menggunakan alkanol dan zat untuk meringankan penderitaannya.

  1. Sindrom Koro dan Dhat

Sindrom Koro (Koro Syndrome) adalah sebuah sindrom yang terkait dengan budaya yang ditemukan terutama di China dan sejumlah negara timur jauh lainnya (Sheung-Tak, 1996). Orang dengan sindrom koro takut alat genitalnya mengalami pengecilan dan masuk kedalam tubuh, yang mereka percaya dapat menyebabkan kematian. Sindrom ini diidentifikasi terutama pada pria muda, meski beberapa kasus juga dilaporkan pada wanita. Tanda-tanda fisiologis kecemasan yang mendekati proporsi panik umum terjadi, mencakup keringat yang berlebihan, tidak dapat bernapas, dan jantung berdebar-debar. Pria yang menderita koro diketahui menggunakan alat-alat mekanis, seperti sumpit, untuk mencoba mencegah penis masuk ke dalam tubuh. Sindrom Dhat (Dhat Syndrome) ditemukan diantara laki-laki muda di Asia-India dan melibatkan ketakutan yang berlebihan akan kehilangan air mani saat buang air di malam hari (Akhtar, 1988). Beberapa pria dengan sindrom ini juga percaya (secara tidak benar) bahwa air mani bercampur dengan urine dan dikeluarkan saat buang air kecil. Pria dengan sindrom dhat akan berkeliling dari satu dokter ke dokter lain mencari bantuan untuk mencegah pembuangan di malam hari atau hilangnya air mani (yang dibayangkan) yang bercampur dengan urine yang dibuang.

VI.    Treatment

1)      Psikoanalisis

Membuka dan membawa konflik ketidaksadaran yang dimulai pada masa kecil sehingga simptom-simptomnya akan hilang.

2)      Behavioral

Teoretikus Behavioris memfokuskan pada penghilangan secondary reinforcement yang mungkin berhubungan dengan keluhan fisik. Terapis behavioral dapat mengajarkan anggota keluarga untuk menghargai usaha memenuhi tanggung jawab dan mengabaikan tuntutan dan keluhan.

3)      Kognitif-Bahavioral

Pemaparan terhadap Pencegahan respons dan rekstrukturisasi kognitif. Pemaparan dapat dilakukan dengan secara sengaja memunculkan sesuatu yang ditakutinya. Dalam rekstrukturisasi kognitif, terapis menantang keyakinan klien dengan cara menyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan bukti yang jelas. Perhatian akhir-akhir ini beralih pada pengguanaan antidepresan, terutama fluoxetine (Prozac), dalam menangani beberapa tipe gangguan somatoform. Meski kita kekurangan terapi obat yang spesifik untuk gangguan konversi.

 

Kuliah VI :

GANGGUAN IDENTITAS GENDER DAN GANGGUAN SEKSUAL

Gangguan Identitas Gender

Definisi gangguan identitas gender dalam DSM-IV (2000) yaitu adanya perasaan tidak nyaman dengan jenis kelamin yang dimiliki atau adanya perasaan tidak cocok dengan peran gender dari jenis kelamin yang dimiliki. Identitas gender biasanya ditemukan sejak pada awal masa kanak-kanak (usia 18-24 bulan). Seorang anak bisa saja menyukai aktivitas yang kadang terlihat lebih tepat untuk lawan jenisnya, tetapi anak-anak dengan identitas gender yang normal masih melihat dirinya sebagai bagian dari seks biologis mereka sendiri.

  1. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan identitas gender/ transseksualisme dalam Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (1993) yaitu :
    1. Memiliki hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari kelompok lawan jenisnya.
    2. Memiliki perasaan tidak enak atau tidak sesuai dengan anatomi seksualnya.
    3. Menginginkan untuk memperoleh terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.
    4. Faktor-faktor penyebab gangguan identitas gender, antara lain :
      1. Sudut Pandang Biologis ; Faktor hormon seksual yang mempengaruhi neuron otak dan berkontribusi terhadap maskulinisasi atau feminisasi otak yang terjadi pada area hipotalamus.
      2. Sudut Pandang Psikososial ; Mengembangkan identitas gender selaras dengan apa yang diajarkan pada mereka selama masa pengasuhan; dipengaruhi oleh interaksi, temperamen anak, kualitas, dan sikap orang tua.
    5. Penanganan yang disarankan :
      1. Operasi Pergantian Jenis Kelamin ; Alat genital diubah untuk dibuat menyerupai alat genital lawan jenis yang diinginkan (Davidson & Neale, 2001).
      2. Terapi Hormon ; Pemberian hormon untuk memunculkan tanda-tanda kelamin sekunder dari jenis kelamin yang diinginkan.

Penderita gangguan identitas gender mungkin akan mencari pertolongan psikologis, baik untuk membantu mereka dalam mengatasi kesulitan hidup dalam sebuah tubuh yang menimbulkan perasaan tidak nyaman ataupun untuk membantu mereka melewati suatu peralihan jenis kelamin. Beberapa penderita mungkin puas dengan perubahan peranan jenis kelamin mereka tanpa harus melakukan pembedahan; dengan bekerja, tinggal dan berpakaian seperti lawan jenisnya didalam pergaulan. Mereka merubah penampilan luar mereka, meminum obat-obat hormonal, dan memperoleh identitas yang memperkuat perubahannya, tanpa perlu melakukan pembedahan yang mahal dan beresiko.

Gangguan Seksual/ Parafilia

Pada gangguan parafilia, penderita menunjukkan rangsangan seksual dalam respon stimulus yang tidak biasa atau ganjil. Menurut DSM IV, parafiilia meliputi keadaan berulang, dorongan seksual kuat dan mendesak dan pusat-pusat fantasi lainnya :

Objek non-human (pakaian dalam, sepatu kulit dan sutera).

Penghinaan atau pengalaman-pengalaman pahit yang terjadi pada diri sendiri atau orang lain.

Anak-anak atau orang lain yang tidak dapat izin dana bantuan.

Diagnosis penderitanya adalah keadaan berulang, dorongan dan keras kepala selama peride 6 bulan. Faktor penyebab parafilia menurut Kartono (1989):

Genetis/ hereditas.

Pengalaman tahun-tahun awal perkembangan masa kanak-kanak.

Proses belajar selama masa anak-anak.

Kejadian-kejadian yang diasosiasikan dengan tingkah laku seksual pada usia pubertas dan adolesens.

Jenis-jenis parafilia :

Ekshibisionisme ; Ekshibisionisme melibatkan dorongan kuat dan berulang untuk menunjukkan alat kelaminnya dengan tujuan mengagetkan, mengejutkan atau membangkitkan dorongan seksualnya. Orang tersebut dapat bermasturbasi sambil membayangkan atau benar-benar menunjukkan alat kelaminnya (hampir semua kasus terjadi pada pria). Orang yang didiagnosa mengalami ekshibisionisme pada dasarnya tidak ada keinginan untuk mengadakan kontak seksual dengan korbannya, sehingga tidak berbahaya. Beberapa penelitian menunjukkan ekshibisionisme sebagai salah satu maksud ekspresi permusuhan secara tidak langsung pada wanita. Laki-laki penderita ini cenderung pemalu, tergantung serta kurang memiliki ketrampilan sosial dan seksual. Mereka diragukan kejantanannya dan merasa kekurangannya. Perubahan atau dorongan rasa takut dari korban membuat mereka merasa lebih menguasai keadaan dan meningkatkan dorongan seksual.

Fetishisme ; Fetishisme berasal dari bahasa Portugis feitico yang berarti daya tarik ajaib, maksudya disini adalah kemampuan objek untuk merangsang secara seksual. Ciri utamanya adalah dorongan seksual yang kuat dan berulang serta membangkitkan fantasi yang melibatkan objek tak hidup. Misalnya bagian dari pakaian dalam. Normal bagi laki-laki untuk menyukai tampilan, rasa, dan aroma pakaian dalam pasangannya. Tapi bagi laki-laki dengan kelainan ini lebih memilih objeknya daripada orang yang memilikinya dan tidak dapat terangsang tanpa objek tersebut. Mereka sering mengalami kepuasan seks dengan melakukan masturbasi saat menemukan objek, menggosokkan, dan menciumnya saat melakukan aktivitas seks.

Transvestic Fetishism ; Ciri utama transvestic fetishism adalah dorongan yang kuat dan berulang serta fantasi yang melibatkan cross-dressing untuk mendapat rangsangan seksual. Orang dengan fetishisme memperoleh kepuasan dengan menyentuh objek seperti pakaian dalam wanita, tapi bagi penderita transvestic fetishism ingin mengenakannya. Transvestic fetishism hanya terjadi pada pria heteroseksual, dan biasanya dilakukan secara tertutup dengan membayangkan diri mereka menjadi wanita yang dicumbunya. Cross-dress diantara gay dan penderita gangguan identitas gender dilakukan untuk alasan lain seperti menarik perhatian pria lain, dan bukan untuk memperoleh kepuasan seksual, sehingga bukan merupakan bentuk dari transvestic fetishism.

Voyeurism ; Ciri utama voyeurism adalah mengalami distress akibat munculnya dorongan seksual yang kuat dan terus menerus sehubungan dengan fantasi yang melibatkan melihat/ memperhatikan orang, biasanya yang tidak dikenal, yang sedang tidak berpakaian atau membuka pakaian atau sedang melakukan aktivitas seksual dimana mereka tidak menduganya. Tujuannya adalah untuk mencapai rangsangan seksual. Orang dengan gangguan ini biasanya tidak mencari aktivitas seksual dengan korban. Selama tindakan voyeurism mereka biasanya masturbasi sambil melihat/ menonton. Sejumlah orang yang melakukan tindakan voyeuristik menempatkan diri mereka pada situasi yang berisiko, sedangkan adanya kemungkinan tertangkap atau dilukai dapat meningkatkan gairah mereka.

Frotteurisme ; adalah desakan seksual yang kuat, berulang dan berhubungan dengan fantasi yang dilakukan dengan menggosok-gosokkan atau menyentuh orang tanpa izin. Biasanya terjadi di tempat yang padat seperti terminal, bus atau kereta.

Pedophilia ; adalah desakan yang kuat, berulang dan berhubungan dengan fantasi yang melibatkan aktivitas seksual dengan anak-anak prapuber (13 tahun atau yang lebih muda). Sumber pedophilia adalah stereotip yang lemah, pemalu, tidak bersosialisasi, dan pria yang merasa lebih puas melakukan dengan anak-anak karena tidak mengkritik atau memuntut. Pada sejumlah kasus lain, bisa jadi pengalaman seksual masa kanak-kanak dengan anak-anak lain dirasa sangat menyenangkan sehingga pria tersebut, pada saat dewasa, berkeinginan untuk merasakan kembali kegembiraan masa lalu. Ataupun mungkin pada beberapa kasus pedofilia, pria yang teraniaya secara seksual oleh orang dewasa pada masa kanak-kanaknya sekarang bisa membalikkan situasi sebagai usaha untuk mendapatkan perasaan berkuasa. Beberapa penderita pedophilia membatasi aktivitas mereka pada melihat atau melucuti pakaian anak-anak, sedangkan yang lainya terlibat dalam ekshibisionisme, mencium, membelai, seks oral, hubungan seks anal atau seks vaginal. Untuk diagnosa penderita pedophilia setidaknya berusia 16 tahun, dan setidaknya 5 tahun lebih tua dibandingkan anak-anak yang menjadi korbannya.

Masokisme Seksual ; melibatkan dorongan yang kuat, berulang dan fantasi yang terkait dengan tindakan seksual yang melibatkan perasaan dipermalukan, diikat, dicambuk, atau dibuat menderita dalam bentuk lainnya. Hal ini didasari distress personal dan bertujuan untuk mencapai kepuasan seksual. Ekspresi masokisme yang paling berbahaya adalah hipoksifilia, dimana seseorang terangsang secara seksual dengan mengurangi konsumsi oksigennya. Orang yang melakukan aktivitas ini biasanya menghentikannya sebelum mereka kehilangan kesadaran, tetapi terkadang mengakibatkan kematian karena kehabisan napas, yang juga terjadi karena salah perhitungan.

Sadisme Seksual ; melibatkan dorongan yang kuat, berulang serta fantasi yang terkait dengan melakukan tindakan dimana seseorang dapat terangsang secara seksual dengan menyebabkan penderitaan fisik atau rasa malu pada orang lain. Mereka mungkin mencari pasangan yang masokistis atau pekerja seks. Banyak orang yang memilki fantasi yang sadistik atau masokistik pada masa-masa tertentu atau melakukan permainan seks yang melibatkan simulasi atau bentuk ringan sadomasokisme dengan pasangan mereka. Sadomasokisme menggambarkan interaksi seksual yang secara mutual memuaskan yang melibatkan tindakan sadistik atau maskistis.

Paraphilia Yang Lain ; Ada banyak paraphilia yang lain, termasuk berbuat cabul di telepon, necrophilia (desakan seksual atau fantasi yang berkaitan dengan kontak seksual dengan mayat), partialisme (terfokus pada satu bagian tubuh), zoophilia (kontak seksual dengan binatang), coprophilia (rangsangan seksual yang berhubungan dengan feses), obat pencahar (klismophilia) dan urine (urophilia).

Beberapa Persepktif Teoritis mengenai gangguan seksual adalah sebagai berikut :

1)      Teori Psikodinamis ; bahwa paraphilia sebagai pertahanan melawan kecemasan kastrasi dari periode Oedipus. Mereka berpikir bahwa penis mereka akan dikastrasi. Pria yang terjangkit paraphilia kemungkinan menghindari ancaman dari kecemasan kastrasi dengan memindahkan rangsangan seksual pada aktivitas yang lebih aman. Dengan melindungi penisnya di dalam pakaian wanita, pria dengan fetishistik transvestik melakukan tindakan simbolis dari pengingkaran bahwa wanita tidak memiliki penis, yang kemudian dapat mengurangi kecemasan kastrasi dengan secara tidak sadar memberikan bukti atas keselamatan wanita. Pandangan ini masih spekulatif dan kontroversial karena belum ada cukup bukti langsung yang menunjukkan bahwa pria dengan paraphilia memiliki hambatan dalam mengatasi kecemasan akan kastrasi.

2)      Teori Belajar ; bahwa paraphilia sebagai bagian dari pembelajaran, pengkondisian dan observasi. Beberapa objek atau aktivitas yang secara tidak sengaja dihubungkan dengan rangsangan seksual kemudian mendapatkan kapasitas untuk menimbulkan rangsangan seksual. Fetishisme dapat pula terjadi pada masa kanak-kanak awal. Reinisch (1990) menduga bahwa kesadaran akan rangsangan seksual atau respon seksual seperti ereksi yang pertama kali dihubungkan dengan celana karet atau popok sehingga tercipta hubungan antara keduanya, menandakan suatu tahap perkembangan fetishisme.

Paraphilia juga melibatkan faktor biologis, psikologis, dan sosiokultural. Money dan Lamacz (1990) mengembangkan hipotesis model multifaktorial yang melacak perkembangan paraphilia pada masa kanak-kanak, menurut mereka sebaiknya anak-anak memilki pola tertentu atau love map, yang seperti software di otak yang menerjemahkan bentuk-bentuk rangsang dan perilaku yang menjadi rangsangan seksual seseorang. pada kasus paraphilia, love map menjadi vandalis dan pengalaman trauma awal, seperti incest, gangguan fisik, atau kelalaian dan pelanggaran kekerasan anti seksual pada anak. Tidak semua anak pada akhirnya mengembangkan paraphilia. Dan tidak semua orang dengan pengalaman traumatik, mungkin beberapa anak dapat lebih cepat untuk mengembangkan perubahan love map daripada yang lainnya. Penanganan Parafilia yang disarankan yaitu :

Tokoh psikoanalisis mencoba memecahkan masalah Oedipus Complex pada anak-anak dengan cara menyadarkan pada kepibadian orang dewasa, namun penelitian ini kurang mendukung penerapan psikodinamika pada paraphilia.

Ahli terapi perilaku menggunakan kondisi keengganan (aversive) untuk menimbulkan reaksi emosional negatif pada stimulus perangsang paraphilik atau fantasi-fantasi. Pada kondisi aversif, stimulus yang menimbulkan rangsangan seksual seperti kejutan listrik, dengan tujuan stimulus tersebut akan memperoleh sifat-sifat keengganan (aversif). Sensitivisasi (pemekaan) yang tersembunyi merupakan variasi dari kondisi aversif yang merupakan gabungan dari stimulus aversif dan masalah perilaku yang terjadi dalam imaginasi. Sensitivisasi yang tersembunyi adalah bentuk yang paling umum dari terapi aversif dan ini digunakan untuk merawat para pelaku penyimpangan seks di Amerika. Pada sebuah aplikasi dalam skala besar, Maletzky (1980) menggunakan sensitifisasi tersembunyi pada perawatan 8 kasus pedophilia dan 62 kasus ekshibisionisme. Beberapa hasil yang dilaporkan pada penggunaan anti-depresan Prozac dalam perawatan voyeurisme dan fetishisme. Prozac telah digunakan secara efektif pada perawatan gangguan obsesif-kompulsif. Para peneliti mempertimbangkan bahwa paraphilia mungkin termasuk dalam spektrum obsesif kompulsif.

Pada umumnya penderita mempunyai sifat dasar kekurangan kecakapan sosial. Penderita perlu diikutsertakan dalam program terapi yang mengajarkan kecakapan sosial serta empati pada lingkungan sekitarnya. Program ini juga ditambah dengan terapi perilaku secara individual.

Terapi Farmakologi yang meliputi pemberian hormon wanita, anti androgen dan obat-obatan golongan penghambat daur ulang serotonin yang biasanya digunakan untuk mengobati penderita depresi. Hasil terapi ini lebih kepada penurunan nafsu birahi dan lebih efektif digunakan pada penderita parafilia yang bersifat hiperseks.

Perhatian masyarakat terhadap penderita menjadi faktor yang tidak kalah pentingnya. Penderita hendaknya tidak dicemooh dan dikucilkan, tetapi diberi pengarahan agar berusaha menghilangkan kebiasaan tidak lazim yang dideritanya.

Disfungsi Seksual

Definisi disfungsi seksual dalam DSM-IV (2000) yaitu gangguan pada dorongan seksual dan pada perubahan psikofisik dalam siklus respon seksual yang dapat mengakibatkan kesulitan dalam hubungan interpersonal. Siklus respon seksualnya antara lain :

Desire, yaitu adanya fantasi-fantasi seksual dan adanya keinginan untuk melakukan hubungan seksual.

Excitement, yaitu adanya gairah seksual yang diikuti dengan perubahan fisiologis.

Orgasmus, yaitu adanya kenikmatan puncak dalam hubungan seksual.

Resolusi, yaitu pengenduran/ relaksasi otot genital setelah terjadi orgasmus.

Faktor penyebab disfungsi seksual antara lain :

Kesalahan dalam belajar.

Perasaan takut, cemas, dan tidak memadai.

Masalah-masalah interpersonal contohnya : tidak ada kedekatan emosional terhadap pasangan.

Pengaruh sosial budaya.

Gangguan identitas gender.

Homoseksualitas, orientasi seksual terhadap jenis kelamin yang sama.

Dorongan seksual rendah.

Lemahnya otot-otot di sekitar perut dan alat kelamin.

Infeksi kulit yang diakibatkan karena terlalu lembabnya daerah genital akibat pakaian dalam yang terlalu ketat.

Kerusakan struktur dan fungsi organ genital.

Jenis-jenis disfungsi seksual

Sexual Desire Disorder, meliputi gangguan gairah seks hipoaktif dan gangguan seks aversif.

Sexual Arousal Disorder, meliputi ketidakmampuan untuk mencapai atau mempertahankan respon-respon psikologis yang meliputi rangsangan atau kenikmatan seks yang diperlukan untuk melengkapi aktivitas seksual.

Gangguan Orgasmus, mengacu pada penundaan secara terus menerus mencapai orgasmus atau tidak mengalami orgasmus seperti pada fase normal dalam kenikmatan seksual.

Gangguan Nyeri Seksual

1)      Dyspareunia dikaitkan dengan rasa sakit yang menetap dan berulang pada daerah genital pada saat melakukan hubungan seksual dan bukan disebabkan kurangnya lubrikasi vagina.

2)      Vaginismus adalah kejang otot di sekitar vagina ketika penetrasi vagina, sehingga intercourse tidak mungkin dilakukan.

Penanganan disfungsi seksual yaitu :

Pengurangan kecemasan.

Masturbasi terarah.

Pelatihan keterampilan dan komunikasi.

Terapi pasangan.

Prosedur medis dan fisik.

Melakukan latihan-latihan fisik yang bertujuan mengencangkan otot-otot di sekitar perut dan alat kelamin.

Pemeriksaan medis yang teratur.

Pendidikan seks.

 

Kuliah VII :

MOOD DISORDER DAN SUICIDE (BUNUH DIRI)

1)    Mood DISORDER

Mood adalah kondisi perasaan yang selalu ada dalam memberikan corak kehidupan psikologis individu. Perasaan sedih atau depresi bukanlah hal yang abnormal dalam konteks peristiwa atau situasi yang penuh tekanan. Namun, orang dengan gangguan mood mengalami kendala mood yang luar biasa parah, atau bisa berlangsung lama, serta mengganggu kemampuan individu untuk berfungsi memenuhi tanggung jawab secara normal. Gangguan Mood adalah gangguan pada mood yang berlangsung sangat lama, tidak seperti biasanya, atau parah, serta cukup serius sehingga menghambat fungsi individu sehari-harinya. Terdapat beragam jenis gangguan mood, termasuk gangguan depresi (unipolar), seperti gangguan depresi mayor, dan gangguan distimik,dan gangguan yang melibatkan perubahan mood, seperti gangguan bipolar dan gangguan siklotimik.

Gangguan Depresi Mayor

Pada depresi mayor, seseorang mengalami suatu perubahan yang mendasar dalam mood yang menghambat kemampuanya untuk berfungsi sebagaimana mestinya. Ada banyak ciri yang dihubungkan dengan gangguan depresi mayor, termasuk kemampuan mood yang menurun, perubahan selera makan, kendala dalam tidur, berkurangnya rasa bahagia pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati, perasaan lelah atau kehilangan energi, rasa tidak berharga, rasa bersalah yang berlebihan atau yang tidak pada tempatnya, kesulitan berkonsentrasi, berpikir secara jernih, atau kesulitan dalam mengambil keputusan, pikiran berulang akan kematian atau bunuh diri, percobaan bunuh diri, dan bahkan pula  perilaku psikosis (halusinasi maupun delusi).

Gangguan Distimik

Gangguan Distimik adalah suatu bentuk depresi kronis yang lebih ringan dibandingkan gangguan depresi mayor. Namun, tetap dapat diasosiasikan dengan penurunan pada fungsi peran-peran sosial dan fungsi pekerjaannya.

Gangguan Bipolar

Pada gangguan bipolar, orang mengalami kondisi mood yang berfluktuasi, dimana hal tersebut mengganggu kemampuannya dalam berfungsi normal. Gangguan bipolar I diidentifikasikan dengan satu atau lebih episode manik. Bipolar II dicirikan dengan munculnya paling sedikit satu episode depresi mayor dan satu episode hipomanis, tapi tanpa disertai episode manik yang penuh. Ciri-ciri dari suatu episode manik antara lain :

Adanya peningkatan atau ekspansi secara tiba-tiba dari mood dan perasaan self-importance.

Perasaan memiliki energi yang hampir tak terbatas.

Hiperaktivitas.

Sosiabilitas yang ekstrem dimana sering kali dalam bentuk yang menuntut dan sangat mengatur.

Memperlihatkan pembicaraan yang penuh tekanan dan sangat cepat.

Menurunnya kebutuhan untuk tidur.

Gangguan Siklotimik

Gangguan Siklotimik adalah sebuah tipe gangguan bipolar yang ditandai dengan suatu pola yang kronis dari perubahan mood ringan yang kadang kala meningkat menjadi gangguan bipolar. Pandangan teoretis mengenai gangguan mood yaitu :

Hubungan Stress Terhadap Gangguan Mood

Deskripsi terhadap stress kehidupan berkaitan dengan suatu peningkatan resiko dari perkembangan dan kambuhnya gangguan mood, terutama depresi mayor. Namun, sejumlah orang memang lebih tangguh dalam menghadapi stress. Hal ini mungkin karena faktor psikososial seperti dukungan sosial dan pola coping individu yang berbeda-beda.

Teori Psikodinamis Mengkonsepkan Gangguan Mood

Dalam teori psikodinamis klasik, depresi dipandang sebagai bentuk dari rasa marah yang diarahkan kedalam. Orang yang memegang kuat perasaan ambivalen terhadap orang yang telah hilang, atau terancam akan kehilangannya, dapat mengarahkan kemarahan yang belum terselesaikan terhadap representasi didalam dari orang-orang yang mereka rasa telah menyatu atau terintroyeksikan didalam diri mereka, menghasilkan self-loathing, serta depresi. Dalam teori psikodinamika, gangguan bipolar diasumsikan dalam bentuk keseimbangan yang berfluktuasi antara ego dan superego. Psikodinamis yang lebih mutakhir seperti model self-focusing, menggabungkan aspek-aspek psikodinamis dan kognitif untuk menjelaskan depresi dalam kaitannya dengan mengejar objek cinta yang hilang atau tujuan yang akan lebih adaptif bila direlakan.

Teori Humanistik Memandang Depresi

Teoretikus yang bekerja dalam kerangka kerja humanistik memandang depresi sebagai refleksi dari kurangnya arti dan autentisitas dalam kehidupan seseorang.

Teori Belajar Memandang Depresi

Pandangan belajar berfokus pada faktor-faktor situasional dalam menjelaskan depresi , seperti perubahan-perubahan dalam tingkat reinforcement. Saat reinforcement berkurang, orang akan merasa tidak termotivasi dan depresi, yang dapat menyebabkan ketidakaktifan, akhirnya semakin mengurangi kesempatan untuk mendapat reinforcement. Teori interaksi dari Coyne berfokus pada interaksi keluarga yang negatif dapat menyebabkan anggota keluarga dari orang-orang yang mengalami depresi mengurangi pemberian reinforcement kepadanya.

Teori Kognitif Memandang Depresi

Pendekatan Kognitif Beck berfokus pada peran berpikir yang negatif atau terdistorsi dalam depresi. Orang yang rentan mengalami depresi memegang keyakinan yang negatif terhadap dirinya sendiri, lingkungan, dan masa depannya. Segitiga kognitif dari depresi ini menghasilkan kesalahan tertentu dalam berpikir atau distorsi kognitif, dalam berespon pada peristiwa negatif, yang akhirnya dapat menyebabkan depresi. Pendekatan ketidakberdayaan yang dipelajari didasarkan pada keyakinan bahwa orang dapat menjadi depresi, jika mereka memandang dirinya sendiri tidak berdaya dalam mengontrol reinforcement yang ada pada lingkungannya, atau dalam mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.

Faktor -Faktor Biologis Dalam Gangguan Mood

Faktor biologis juga memegang peran penting dalam gangguan mood, terutama dalam menjelaskan gangguan depresi mayor dan gangguan bipolar. Ketidakseimbangan dalam aktivitas neurotransmiter dalam otak tampak terlibat dalam depresi dan maniak. Model-model diatesis-stress digunakan untuk mengasumsikan bahwa diatesis biologis atau psikologis bisa berinteraksi dengan stress dalam perkembangan depresi tersebut.

Penanganan terapis psikodinamis terhadap depresi secara tradisional berfokus membantu orang depresi untuk menggali perasaan ambivalennya terhadap objek yang hilang. Hal ini bertujuan untuk mereduksi kemarahan yang diarahkan kedalam. Pendekatan psikodinamis modern cenderung lebih berfokus pada pengembangan cara-cara yang lebih adaptif dalam mencapai self-worth dan menyelesaikan konflik-konflik interpersonal. Pendekatan teoretikus belajar berfokus dalam membantu orang depresi dalam meningkatkan frekuensi reinforcement pada kehidupannya melalui cara-cara seperti meningkatkan jumlah aktivitas menyenangkan, dimana mereka berpartisipasi dan membimbing mereka dalam mengembangkan ketrampilan sosial yang lebih efektif dalam meningkatkan kemampuannya untuk memperoleh reinforcement sosial dari orang lain. Terapis kognitif berfokus  membentu orang depresi untuk mengidentifikasikan, memperbaiki pikiran-pikiran yang terdistorsi serta disfungsional, dan mempelajari lebih banyak perilaku yang adaptif. Pendekatan biologis berfokus pada penggunaan obat-obatan antidepresan dan pengobatan biologis lainnya, seperti terapi elektrokonvulsif (ECT). Obat-obatan anti depresan dapat menormalkan fungsi neurotransmiter pada otak. Gangguan bipolar biasanya diobati dengan litium.

2)    SUICIDE (BUNUH DIRI)

Gangguan mood sering dihubungkan dengan bunuh diri. Meskipun wanita lebih cenderung untuk mencoba bunuh diri, tetapi faktanya lebih banyak laki-laki yang berhasil, mungkin karena mereka memilih cara yang lebih mematikan. Orang lanjut usia lebih cenderung untuk melakukan bunuh diri, dan angka bunuh diri di antara orang lanjut usia tampaknya meningkat. Orang yang mencoba bunuh diri sering kali depresi, tapi mereka secara umum masih memiliki kontak dengan realitas. Mereka mungkin kurang memiliki keterampilan pemecahan masalah yang efektif dan merasa tidak ada alternatif lain untuk menghadapi stress kehidupan selain bunuh diri. Suatu perasaan tidak berdaya tergambarkan juga secara mencolok pada kasus-kasus bunuh diri. Pendekatan Psikodinamika klasik tentang kemarahan yang diarahkan kedalam, teori Durkeim tentang aliensi sosial, serta pandangan yang berdasarkan belajar, sosial kognitif, dan biologis diharapkan dapat menjelaskan fenomena suicide tersebut. Alasan seseorang untuk melakukan tindakan bunuh diri sesungguhnya dijelaskan sebagai berikut dalam beberapa perspektif :

ü  Orang yang mempertimbangkan bunuh diri pada saat stress kemungkinan kurang memiliki ketreampilan dalam memecahkan masalah serta kurang dapat menemukan alternatif cara untuk coping terhadap stressor.

ü  Psikodinamika : pengalihan ke dalam dari rasa marah terhadap representasi internal atas obyek cinta yang hilang.

ü  Teoritikus Belajar : kurangnya ketrampilan pemecahan masalah menangani tekanan yang berat

ü  Teoritikus Sosial Kognitif : termotivasi dari harapan positif dan legitimasi dari bunuh diri, serta faktor modeling.

ü  Faktor Biologis : penurunan aktivitas serotonin (penghambat sistem syaraf), dan adanya disposisi genetis

ü  Akibat depresi, schizophrenia, penyalahgunaan alkohol dan zat.

Meskipun tidak semua orang yang mengancam akan bunuh diri akan meneruskan tindakannya, banyak juga yang melakukannya. Orang yang bunuh diri sering kali memberikan tanda dari niatnya seperti dengan mengatakan pada orang lain mengenai pikiran-pikiran dan keinginannya untuk bunuh diri.

 

Kuliah VIII :

PENYALAHGUNAAN DAN KETERGANTUNGAN ZAT

Penggolongan Gangguan Yang Berkaitan Dengan Zat

DSM-VI menggolongkan gangguan yang berkaitan dengan zat kedalam dua kategori besar, yaitu :

1)      Gangguan Penggunaan Zat (Substance Disorders)

Penggunaan maladaptif dari zat psikoaktif, meliputi penyalahagunaan zat dan ketergantungan zat.

2)      Gangguan Akibat Penggunaan Zat (substance-incluced disorders)

Adalah gangguan yang muncul karena penggunaan zat psikoaktif seperti intoksikasi (mabuk), putus zat, gangguan mood, derilium, dimensia, amnesia, gangguan psikotik, gangguan kecemasan, disfungsi seksual dan tidur. Menurut DSM penyalahgunaan zat melibatkan pola penggunaan berulang yang menghasilkan konsekuensi merusak. Penyalahgunaan zat dapat berlangsung untuk jangka waktu yang panjang atau meningkat menjadi ketergantungan zat (substance dependence). Tipe gangguan pengunaan obat yang lebih parah dimana penggunaan diasosiakn dengan tanda-tanda fisiologis ketergantungan (toleransi atau gejala putus zat) atau penggunaan kompulsif dari suatu zat. Pengunaan berulang dari zat dapat mengubah reaksi fisiologis tubuh, dan menyebabkan perkembangan toleransi atau gejala putus zat secara fisik. Toleransi (tolerance) adalah kondisi habituasi fisik terhadap suatu obat sehingga dalam penggunaan obat yang sering akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi untuk mendapatkan efek yang sama. Sindrom putus zat (withdrawal syndrome yang juga disebut sindrome abstinensi) mencakup sekelompok karakteristik gejala putus zat yang terjadi saat orang tergantung secara mendadak menghentikan pengunaan zat tertentu setelah periode penggunaan yang berat dan berkepanjangan. Orang yang mengalami gejala putus zat sering kali kembali menggunakan zat untuk menghilangkan rasa tidak nyaman akibat putus zat, yang membuat pola adiksi menetap. Pada beberapa kasus alkoholisme kronis, putus zat menyebabkan kondisi delirium tremens atau DTs. DTs mencakup hiperaktivitas yang intens secara tidak disadari dan derilium (kondisi kekacauan mental dicirikan dengan pembicaraan yang inkoheren, disorientasi, serta kegelisahan yang ekstrem).

Adiksi (addiction) sebagai penggunaan habitual dan kompulsif atau dari suatu obat diikuti dengan bukti ketergantungan fisiologis. Ketergantungan fisiologis (psysiological dependence) berarti bahwa tubuh seseorang telah berubah sedemikian rupa sebagai hasil dari  penggunaan obat-obatan psikoaktif secara teratur sehingga tubuh menjadi tergantung pada pasokan zat yang stabil. Tanda-tanda utama dari ketergantungan fisiologis mencakup perkembangan toleransi dan atau sindrom abstinensi. Ketergantungan psikologis (psychological depende) mencakup penggunaan obat-obatan secara kompulsif dalam memenuhi kebutuhan psikologis seperti tergantung pada obat untuk mengatasi stress. National Comorbidity Survey (NSC) menunjukan bahwa ketergantungan obat sebenarnya kurang umum pada orang kulit putih Amerika non-Hispanik dan tidak lebih banyak pada orang Hispanik Amerika daripada kulit putih Amerika no-nHispanik.

Obat yang PERsalahgunakan

  1. 1.       Depresan

Adalah obat yang menghambat atau mengekang aktivitas sistem saraf pusat. Obat tersebut mengurangi perasaan tegang dan cemas, menyebabkan gerakan kita menjadi lebih lambat, dan merusak proses kognitif kita. Penggunaan dalam dosis tinggi dapat menahan fungsi vital dan menyebabkan kematian. Macam-macam zat depresan, yaitu : Alkanol, Barbiturate, Opioid, Morfin, Heroin.

  1. 2.       Stimulan

Stimulan adalah zat psikoaktif yang meningkatkan aktivitas sistem saraf. Stimulan dapat menyebabkan perasaan euforia dan self-confidence. Macam-macam zat stimulant, yaitu : amfetamin, ekstasi, kokain, nikotin.

  1. 3.       Halusinogen

Halusinogen yang juga dikenal sebagai psychedelics yaitu golongan obat yang menghasilkan distorsi sensori atau halusinasi, termasuk perbuatan perubahan besar dalam persepsi warna dan pendengaran. Halusinogen dapat juga memiliki efek seperti relaksasi dan euforia, atau pada beberapa kasus menyebabkan kepanikan. Macam-macam zat halusinogen, yaitu : Lysergic acid diethylamide (LSD),  obat halusinogen sintesis, Phencyclidine (PCP), Mariyuana.

Perspektif Teoretis

1)      Perspektif Biologis

Berfokus pada neurotransmitter terutama dopamin dan faktor genetis. Obat seperti nikotin, alkohol, amfetamin, dan sejenisnya dapat menyebabkan dampak menyenangkan dengan meningkatkan dopamin dalam sirkuitkenikmatan atau reward pada otak. Peneliti menduga penggunaan kronis obat mengurangi jumlah reseptor pada neuron penerima dimana dopamin berada. Hal itu juga mengurangi kemampuan otak dalam memproduksi dopamin sendiri. Sebagai akibatnya, kemampuan untuk merasa nikmat dari aktivitas hidup sehari-hari menurun. Pengguna obat kronis menjadi tergantung pada obat untuk memproduksi perasaan nikmat yang tidak lagi mampu diproduksi sendiri oleh otak. Selain itu, peneliti juga menduga bahwa seretonin juga mengaktivasi sirkuit  kenikmatan atau reward dalam merespon kokain, alkanol, dan sejenisnya. Ada bukti yang menghubungkan faktor genetis dengan berbagai bentuk penggunaan dan penyalahgunaan zat, termasuk alkoholisme, adiksi opiat, dan bahkan merokok. Alkoholisme cenderung menurun dalam keluarga.

2)      Perspektif Belajar

Teoretikus belajar menyatakan bahwa perilaku yang berhubungan dengan zat sebagian besar dipelajari dan pada prinsipnya dapat dikembalikan kebentuk sebelumnya. Mereka berfokus pada peran operant conditioning dan classical condotioning serta belajar observasional.  Pada awalnya orang menggunakan obat dapat dipengaruhi oleh pengaruh sosial, trial error (coba-coba), atau pengamatan sosial. Adanya penguatan atau reinforcement positif seperti perasaan terbebas emosi negatif menjadikan seseorang kembali mengunakan obat tersebut. Reinforcement negatif seperti gejala putus obat uga dapat menyebebkan seseorang kembali menggunakan obat untuk mengurangi rasa sakit itu. Classical condisioning dapat membantu menjelaskan ketagihan obat yang dialami oleh orang dengan ketergantungan obat. Ketagihan obat memiliki dasar biologis, menggambarkan kebutuhan tubuh untuk memuluhkan tingkat zat adiktif. Namun, ketagihan juga dapat dipicu cue lingkungan yang dihubungkan dengan penggunaan zat sebelumnya. Cue yang berhubungan dengan obat seperti mencium aroma minuman beralkohol dapat menjadi stimulus terkondisi (CS) yang membangkitkan respons terkondisi (CR) dalam bentuk kegiatan yang kuat atau ketagihan obat. Peran belajar melalui modelling dan observasional meningkatkan resiko masalah penyalahgunaan zat pada remaja dalam keluarga dengan riwayat penyalahgunaan atau ketergantungan zat. Sebagai contoh, orang tua yang menjadi model dalam hal minum-minum yang tidak tepat dapat mengakomodasi penggunaan dan penyalahgunaan alkanol pada anak-anak mereka.

3)      Perspektif Kognitif

Keyakinan dan harapan yang dipegang sehubungan dengan efek alkohol dan obat lain jelas mempengaruhi pilihan anda untuk menggunakan zat tersebut atau tidak. Misalnya : ekspektasi positif pada alkanol adalah bahwa alkanol mengurangi ketegangan, membantu mengalihkan perhatian seseorang dari masalahnya, meningkatkan kenikmatan, mengurangi kecemasan, pada situasi sosial dan membuat seseorang lebih terampil dalam keterampilan sosial serta kemampuan alkanol untuk meningkatkan self efficacy. Menurut model penyakit atas alkoholisme, orang yang sudah berhenti minum kemudian menjadi minum berlebihan setelah satu gelas melakukan hal tersebut sebagian besar karena alasan biokimiawi. Riset laboratorium oleh Marlatt dan koleganya menyatakan kecenderungan orang dengan alkoholisme untuk minum berlebih setelah minuman pertama merupakan self fulfilling perophecy bukan ketagihan.

4)      Perspektif Psikodinamika 

Menurut teoretikus psikodinamika klasik, alkoholisme mencerminkan ciri tertentu dari apa yang disebut kepribadian tergantung oral (oral dependent personality). Alkoholisme merupakan sebuah pola perilaku oral. Teoritekus psikodinamika juga memandang merokok sebagai suatu bentuk fiksasi oral.

5)      Perspektif Sosiokultural

Perilaku minum ditentukan sebagian oleh dimana kita tinggal, siapa yang kita hormati, dan norma sosial atau kultural yang mengatur perilaku kita. Sikap kultural dapat mendorong atau menekan masalah minum. Penggunaan obat oleh teman sebaya dan pengaruh teman sebaya untuk menggunakan obat, merupakan pengaruh penting dalam menentukan penggunaan alkanol dan obat dikalangan remaja.

6)      Perspektif Eklektis

Penyalahgunaan dan ketergantungan zat dalam pandangan ini merupakan pola perilaku yang rumit yang melibatkan faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Masalah penyalahgunaan dan ketergantungan zat paling baik didekati dengan meneliti susunan faktor yang berbeda dan  diterapkan pada masing-masing kasus individual. Tidak ada model tunggal atau sekelompok faktor yang akan menjelaskan setiap kasus.

Penanganan Penyalahgunaan dan Ketergantungan Zat

1)      Pendekatan Biologis

Pendekatan biologis pada gangguan penyalahgunaan zat termasuk detoksifikasi, penggunaan obat seperti disulfiram, metadon, nalokson, naltrekson, dan anti depresan ; dan terapi penggatian nikotin.

2)      Penanganan Peka Budaya Untuk Alkoholisme

Contoh penanganannya adalah dengan penggunaan konselor dari kelomppok etnis klien sendiri. Program yang peka secara budaya memperhatikan semua sisi kehidupan manusia termasuk identitas ras dan budaya, yang meghargai kebanggaan etnis dan membantu orang bertahan godaan untuk mengatasi tekanan dengan bahan kimia. Penyedia penanganan juga dapat lebih berhasil, jika mereka mengetahui dan melibatkan teknik penyembuhan asli setempat dalam proses penanganan.

3)      Kelompok Pendukung Nonprofesional

Masalah penyalahgunaan zat sering ditangani oleh orang awam atau nonprofesional. Orang seperti itu sering atau pernah memiliki masalah yang sama. Kelompok ini menyerukan abstinensi dan memberi kesempatan bagi anggotanya untuk mendiskusikan perasaan dan pengalaman mereka dalam lingkup kelompok pendukung. Sebagai contoh pertemuan self-help yang disponsori oleh organisasi Alcoholic Anonymous, Narcotic Anonymous, dan Cocain Anonymous. Anonymous didasari pada keyakinan bahwa alkoholisme adalah penyakit bukan dosa dan pengalaman didalamnya sebagian adalah spiritual.

4)      Pendekatan Residental

Pendekatan ini merupakan penangan dengan melibatkan perawatan di rumah sakit atau tempat terapi. Sejumlah komunitas terapeutik residensial juga digunakan. Mereka berbagi pengalaman hidup untuk saling membantu mengembangkan cara yang lebih produktif untuk mengatasi stress.

5)      Pendekatan Psikodinamika

Psikodinamika memandang penyalahgunaan dan ketergantungan zat sebagai tanda-tanda terjadinya konflik yang berakar pada pengalaman masa kecil. Diasumsikan bahwa jika konflik yang mendasar diatasi, penyalahgunaan juga akan digantikan oleh bentuk yang lebih matang dari pemenuhan kebutuhan yang dicari.

6)      Pendekatan Behavioral

Behavioris menekankan pada modifikasi pola perilaku penyalahgunaan, dependent, dan masalah apakah penyalahguna dapat belajar untuk mengubah perilaku mereka ketika dihadapkan dengan godaan. Strategi self-control, suatu pelatihan self-control berfokus pada membantu penyalahguna mengembangkan keterampilan yang dapat mereka gunakan untuk mengubah perilaku mereka. Terapis perilaku menekankan pada tiga komponen :

a)           Isyarat Anteseden, atau stimuli (A) yang memicu penyalahgunaan.

b)           Perilaku Penyalahgunaan (B) itu sendiri.

c)           Konsekuensi hukuman atau penguatan (C) yang mempertahankan atau mencegah penyalahgunaan.

Aversive Condisioning, stimulus menyakitkan atau yang menolak (aversive) dipasangkan dengan penyalahgunaan zat atau stimulus yang berhubungan dengan penyalahgunaan untuk membuat penyalahgunaan kurang menarik. Pelatihan Keterampilan Sosial dapat membantu orang untuk mengembangkan respon interpersonal yang efeektif dalam situasi sosial yang memicu penyalahgunaan zat. Terapi Perkawinan Behavioral memperbaiki komunikasi dalam perkawinan dan keterampilan dalam meyelesaikan masalah untuk membebaskan stress rumah tangga yang dapat menjadi pemicu penyalahgunaan.

7)      Pelatihan Pencegahan Kambuh

Karena adanya prevalensi kambuh, para terapi beraliran behavioral mendesain sejumlah metode yang disebut pelatihan pencegahan kambuh (relapse prevention training). Pelatihan semacam ini membantu orang dengan masalah penyalahgunaan zat mengatasi situasi beresiko tinggi dan mencegah mereka tergelincir untuk menjadi kambuh total. Pelatihan pencegahan kambuh merupakan teknik kognitif behavioral yang berfokus pada interpretasi seseorang akan kemungkinan kambuh. Klien diajari untuk menghindari apa yang disebut efek pelanggaran abstinensi (abstinence violation effect), kecenderungan untuk berlebihan setelah penggunaan kembali dengan belajar mengatur kembali pikiran mereka tentang hal itu.

 

Kuliah IX :

Skizofrenia dan Gangguan Psikotik Lainnya

Nama awal dari gangguan ini adalah dementia praecox yang dikemukakan oleh Emil Kraepelin, lalu kemudian dinamakan skizofrenia oleh Eugen Bleuler. Skizofrenia dicirikan dengan waham atau delusi, halusinasi, pikiran yang tidak logis, pembicaraan yang tidak koheren, dan perilaku yang aneh. Selain itu, penderita skizofrenia mungkin memiliki emosi dan perasaan hanya saja mereka kehilangan dan tidak mampu untuk merealisasikannya dalam bentuk respon emosional yang tepat. Perbedaan penderita skizofrenia dengan penderita kepribadian ganda yaitu sebagai berikut :

Penderita skizofrenia mengalami perpecahan dalam fungsi kognisi, afeksi, dan psikomotornya, karena pecahnya fungsi otak tersebut menimbulkan respon yang inkoheren dan ketidakmampuan dalam mengintegrasikan fungsi psikisnya.

Pada penderita kepribadian ganda, mengalami pecahnya fungsi kepribadian. Meskipun kepribadian penderitanya mengalami perpecahan menjadi lebih dari satu, tetapi kepribadian-kepribadian tersebut mesing-masing masih menunjukkan integritas kepribadian dalam fungsi afeksi, kognisi, dan psikomotornya.

Eugen Bleuler mengajukan empat simtom primer penderita skizofrenia, yaitu :

Hubungan asosiatif antarpikiran mengalami gangguan.

Afeknya menjadi datar atau tidak sesuai.

Penderita skizofrenia mengalami ambivalensi perasaan terhadap orang lain.

Sedangkan menurut Kurt Schneider, diagnosis skizofrenia dicirikan dengan adanya :

Simtom peringkat utama, yaitu waham dan halusinasi.

Simtom peringkat kedua, misalnya gangguan mood.

Menurut DSM-IV (APA, 2000) diagnosis skizofrenia dicirikan sebagai berikut :

Kondisi-kondisi yaitu waham, halusinasi, inkoherensitas pembicaraan, katatonik, dan gangguan afek secara signifikan muncul selama minimal sebulan.

Fungsi pada bidang-bidang seperti hubungan sosial, pekerjaan, atau perawatan diri selama perjalanan penyakit secara nyata berada di bawah tingkatan yang dapat dicapai sebelum munculnya gangguan. Apabila gangguan muncul pada masa kanak-kanak atau remaja, terdapat suatu kegagalan dalam mencapai tingkat perkembangan sosial yang seharusnya.

Tanda-tanda gangguan nyata terjadi secara kontinuitas selama setidaknya 6 bulan, dan selama itu harus mencapai fase aktif setidaknya sebulan dimana tierjadi simtom waham, halusinasi, inkoherensitas pembicaraan, katatonik, dan gangguan afek.

Gangguan bukan karena penggunaan zat-zat tertentu.

Ada beberapa bentuk-bentuk gangguan psikotik lainnya, yaitu :

1)      Gangguan Psikotik Singkat, berlangsung satu hingga satu bulan dan ditandai dengan minimal satu ciri yaitu halusinasi, waham, inkoherensitatif pembicaraan dan perilaku, dan katatonik.

2)      Gangguan Skizofreniform, yang identik dengan skizofrenia, dikategorikan setelah simtom muncul minimal sebulan dan maksimal 6 bulan. Sedangkan skizofrenia dikategorikan setelah simtom minimal 6 bulan terjadi secara persisten.

3)      Gangguan Delusi, yang diberikan pada seseorang yang mengalami waham yang persisten dan jelas yang acapkali meliputi topik-topik paranoid. Perilaku inidvidu tidak menunjukkan bukti adanya keanehan atau keganjilan sebagaimana dalam skizofrenia. Hanya saja, pikiran penderitanya menjadi kacau seperti penderita skizofrenia. Waham terealisasi dalam persepsi, pikiran, dan dan kepercayaan. Ada 7 macam gangguan delusi, yaitu :

ü  Jenis Erotomanik, dimana delusinya yaitu bahwa orang dengan status sosial yang lebih tinggi jatuh cinta pada penderita.

ü  Jenis Grandiose, dimana delusinya yaitu bahwa penderita memiliki keyakinan bahwa dirinya mempunyai hubungan khusus dengan Tuhan atau orang terkenal.

ü  Jenis Cemburu, dimana delusinya yaitu bahwa kekasih atau pasangan hidupnya tidak setia pada dirinya.

ü  Jenis Persekusi, dimana penderitanya mengalami delusi dengan gambaran adanya konspirasi yang menentang dirinya, diikuti, dimata-matai, dan sejenisnya.

ü  Jenis Somatik, dimana delusinya yaitu bahwa dirinya yakin bahwa dirinya mengalami sesuatu yang mal atau kerusakan, atau penyakit tanpa adanya bukti yang riil.

4)      Gangguan Spektrum Skizofrenia, yang meliputi gangguan yang bervariasi tingkat keparahannya mulai dari skizoid hingga skizofrenia itu sendiri. Salam satunya adalah skizoafektif yang ditandai dengan pencampuran simtom termasuk ciri psikotik layaknya skizofrenia (waham dan halusinasi), bersama dengan gangguan utama dari mood misalnya depresi mayor.

Skizofrenia biasanya berkembang pada masa akhir remaja atau dewasa awal (Cowan & Kandel, 2001; Harrop & Trower, 2001). Semaikin lama penderita skizofrenia akan semakin terlepas dari lingkungan sosialnya, karena gagal berfungsi sebagaimana peran mereka dalam lingkungan sosialnya. Adanya hal ini menimbulkan pengurangan rasa toleran pada penderita skizofrenia. Mereka semakin terkucilkan. Meskipun munculnya pada akhir remaja atau dewasa awal, tetapi gejala awal biasanya muncul pada usia ± 25 tahun (Keith, Regier, & Rae, 1991). Mulanya gejala muncul dengan ditandai penurunan fungsi individu yang mungkin butuh bertahun-tahun untuk memunculkan perilaku psikotiknya. Periode ini disebut Fase Prodromal. Episode akut yang mungkin saja terjadi secara berkala selama rentang hidup penderita. Fase ini ditandai dengan adanya waham dan halusinasi. Kemudian diantara epsiode yang akut tersebut ada Fase Residual dimana simtom yang muncul sama dengan simtom pada fase prodromal.

Mengenai kecenderungan antargender, antarkultur, dan antarusia dalam hal skizofrenia, berikut adalah gambaran umumnya :

Kecenderungan lebih tinggi pada lelaki, dibandingkan dengan perempuan.

Perempuan cenderung mengalaminya pada usia 25 – 30 tahun.

Laki-laki cenderung mengalaminya pada usia 15 – 25 tahun.

Perjalanan penyakitnya cenderung memprihatinkan lebih pada laki-laki. Mengapa ?. Dalam hal ini, dijelaskan berikutnya.

Dalam sejarah penyakitnya, kebudayaan timur lebih cenderung mengalami halusinasi dan waham (Ndetei, & Vadher, 1984). Hal ini disebabkan fakta bahwa budaya timur lebih menekankan pada perasaan dan olah rasa, sedangkan budaya barat cenderung menekankan pada logika dan rasionalitas. Waham dan halusinasi nampaknya lebih berhubungan dengan budaya timur yang lebih mengarah pada olah perasaan ketimbang rasio dan logika.

Beberapa ciri utama pada penderita skizofrenia yaitu bahwa ia mengalami :

Gangguan dalam pikiran dan pembicaraan yang tidak koherentif.

Gangguan pada isi pikiran yang mencakup waham dan halusinasi.

Gangguan dalam bentuk pikiran, dimana penderita skizofrenia cenderung tidak logis. Selain itu, juga mencakup organisasi, pemrosesan, kelonggaran dalam asosiasi, pikiran yang kacau balau, dan kendali pikiran yang terganggu. Penderita skizofrenia dasarnya mengalami juga :

ü  Neologisme, dimana ucapan mereka tidak dipahami orang lain.

ü  Preseverasi, dimana pengulangan kata terjadi secara tidak sesuai.

ü  Clanging, yaitu merangkaikan kata-kata berdasarkan irama atau rima verbal.

Ketidakmampuan dalam konsentrasi atau pemusatan perhatian. Hal ini dikerenakan penderita skizofrenia mengalami kesulitan dalam hal menyaring informasi stimulus yang tidak relevan dan yang relevan, sehingga informasi yang tidak relevan menjadi pengganggu dalam pikiran mereka, mungkin saja ini disebabkan kerusakan genetis mencakup kerusakan pada otak (Grady, 1997a).

Gangguan gerakan bola mata. Hal ini dikarenakan kerusakan pada proses involunter di otak yang berfungsi mengatur perhatian visual seseorang. Masih diduga juga ini melibatkan peran gen dalam gangguan gerakan penelusuran bola mata ini (Sweeney, dkk, 1994).

Kekurangan dalam Event-Related Potentials (ERP). Ini melibatkan kerusakan pada pola aktivitas neurotransmitter dan pola gelombang pada otak, dimana terjadi muatan sensoris yang berlebihan.

Gangguan Persepsi. Ini diasumsikan penyebabnya yaitu kerusakan pada bagian otak tertentu yang saling terkait fungsinya (dalam hal mempersepsikan) sehingga otak menciptakan realitasnya sendiri yang berbeda.

Gangguan Emosi, dimana penderita skizofrenia memiliki afek yang tidak sesuai ataupun datar terhadap stimulus luar dan internal. Terkadang mereka tertawa disaat sedih. Hal ini bukan berarti mereka tidak mampu merasakan emosi, melainkan mereka diasumsikan juga merasakan emosi itu, hanya saja mereka kehilangan kemampuan dalam mengekspresikan afeknya. Ini berkaitan dengan kerusakan pada sistem otak mungkin saja pada korteks prefrontalisnya.

Hendaya Inisiatif, dan komunikasi interpersonal.

Hendaya pada perilaku yang sesuai.

Jenis-jenis skizofrenia dalam DSM-IV ada tiga tipe yaitu :

1)      Tipe Disorganitatif. Tipe ini ditandai dengan perilaku yang tak terorganisasi, waham yang aneh, dan respon yang kurang terhadap lingkungannya. Mereka mungkin bergerak-gerak dan tertawa-tawa tanpa alasan yang jelas. Jelas ini mengalami gangguan afek.

2)      Tipe Katatonik. Tipe ini ditandai dengan gangguan pada aktivitas motorik, seperti stupor katatonik. Mereka umumnya mengalami waxy flexibility yaitu statis pada posisi tertentu yang umumnya sukar dilakukan oleh orang normal. Hal ini bisa berlangsung berjam-jam.

3)      Tipe Paranoid. Tipe ini ditandai dengan waham dan halusinasi audiotoris yang sering terjadi. Perilaku mereka cenderung wajar dan terlihat normal, gangguan terlihat pada reaksinya terhadap waham dan halusinasi yang dialaminya.

Diatas sebelumnya telah penulis singgung ciri dan gangguan skizofrenia, dalam berikutnya akan dijelaskan pandangan berbagai point of view dalam memandang skizofrenia. Berikut adalah penjelasannya.

1)      Teoretis Psikoanalisis.

Dalam pandangan ini, penderita skizofrenia dibanjiri dengan dorongan-dorongan seksual primitif yang berasal dari id. Ini kemudian berkembang menjadi konflik intrapsikis yang kuat. Kerusakan pada fungsi ego disebabkan adanya konflk yang kuat ini, dan oleh karena rusaknya fungsi ego ini realitas dunia dan diri mengalami putus hubungan sehatnya dan menimbulkan waham dan halusinasi. Hubungan yang buruk antara ibu dan anak mungkin mendorong penarikan diri anak dan permusuhan, kemudian anak mengembangkan defense mechanismnya dengan membentuk dunia fantasi pribadinya sendiri yang berbeda dengan realitas. Pendekatan terapi psikodinamika Freudian terhadap pasien skizofrenia mungkin dilakukan untuk membantu menemukan asal penyebab gangguannya sehingga dapat dilakukan penanganan yang sesuai. Asosiasi bebas dapat dilakukan untuk menemukan penyebab gangguan skizofrenia tersebut.

2)      Teoretis Biokimia.

Teoretis biokimia dan kedokteran mengasumsikan adanya gangguan pada otak dan faktor genetika dalam menjelaskan gangguan ini. Skizofrenia cenderung menurun dalam hubungan biologis atau keluarga. Prevalensi akan semakin besar untuk mengidap gangguan ini jika seseorang semakin dekat dalam hubungan genetis keturunan dengan penderita skizofrenia. Kembar satu telur lebih memiliki prevalensi yang tinggi ketimbang kembar dua telur (Onstad, dkk, 1991). Selain itu, juga berhubungan dengan usia orang tua saat melakukan konsepsi berperan dalam kemunculan skizofrenia. Prevalensi akan semakin besar dalam kondisi usia yang jauh lebih tua saat melakukan konsepsi (Fertilisasi). Teori Dopamin menjelaskan pada penderita skizofrenia terjadi terlalu aktifnya reseptor dopamin yang terletak di postsynpatic neuron dimana molekul dopamin terikat (Haber & Fudger, 1997).   Secara umum, bukti menjelaskan adanya ketidakteraturan pada jalur saraf di otak yang memanfaatkan dopamin (Maedor-Woodruff, dkk, 1997).

Mengenai adanya infeksi virus tertentu dalam skizofrenia masihlah bersifat dugaan sementara. Meskipun ini terbukti, penderita skizofrenia hanya sedikit yang mendapatkan penyakitnya dari viru tersebut. Yang pasti adanya kerusakan pada otak jelas mendukung asumsi skizofrenia. Kerusakan otak ditemukan terjadi dengan pembesaran ventrikel di otak yang menandai hilangnya jaringan otak tertentu pada korteks prefrontalis. Asumsi lainnya yaitu terjadi infeksi virus pada masa prenatal, nutrisi janin yang buruk, kerusakan genetis, trauma kelahiran, berkurangnya aktivitas gelombang otak (ERP) pada korteks prefrontalis yang mengatur proses berpikir dan pengaturan otak. Bagian inilah yang juga mengatur fungsi kognitif dan emosional. Terapi yang diajukan teoretis ini yaitu dengan menggunakan obat antipsikotik (neuroleptis) yang bertujuan untuk menormalkan reseptor dopamin yang terlalu aktif pada penderita skizofrenia, sehingga mengurangi tingkat aktivitas dopamin (Kane, 1996). Konsekuensinya, Neoruleptis menghambat transmisi berlebihan dari impuls-impuls neuron yang dapat meningkatkan perilaku skizofrenia.

3)      Teoretis Behaviorisme dan Belajar.

Perspektif teoretis perilaku keluarga menjelaskan ibu yang dingin, angkuh, overprotektif, dan mendominasi memungkinkan menghilangkan kepercayaan, melumpuhkan kemandirian dan memaksa ketergantungan anak pada ibunya. Anak yang didik serupa ini memiliki kecenderungan yang tinggi terkena gangguan skizofrenia, apalagi ditambah dengan ayah yang tidak mampu menetralkan perilaku tersebut. Komunikasi double blind dalam keluarga terutama antara ibu dan anaknya, rupanya berkontribusi juga. Kondisi keluarga seperti ini dapat meningkatkan resiko tersebut. Keluarga yang kaku dan pola ekspresi emosi yang tinggi dapat menjadi sumber stress yang potensial. Terapi yang dapat dilakukan yaitu dengan modifikasi perilaku agar mengembangkan perilaku yang efektf dalam lingkungannya. Model terapinya yaitu :

Pemberian Reinforcement secara selektif terhadap perilaku tertentu yang diharapkan.

Pelatihan keterampilan sosial yang sesuai dengan prinsip belajar. Pelatithan ini mencakup program yang membantu individu memperoleh sejumlah keterampilan sosial dan vokasional. In dilakukan demi menigkatkan fungsi adaptif individu (Hunter, Bedell, & Corrigan, 1997).

Penerapan Terapi Modelling.

Melakukan rehabilitasi sosial penderita skizofrenia. Hal ini bertujuan agar penderita skizofrenia menemukan tempatnya di dalam masyarakat.

4)      Teoretis Model Diatesis-Stress.

Zubin dan Spring (1977) mengemukakan bahwa skizofrenia sebagai interaksi atau kombinasi dari diatesis dalam bentuk predisposisi genetis untuk berkembangnya gangguan, dengan stress lingkungan yang melebihi ambang stress atau coping individu. Adanya kombinasi antara genetis dan lingkungan dalam hal ini. Kerusakan struktural pada otak meliputi gangguan neurotransmitters. Skizofrenia cenderung berkembang pada masa remaja akhir atau dewasa awal ketika individu mengalami tekanan yang berhubungan dengan tantangan perkembangan yang berkaitan dengan pemerolehan kemandirian dan penemuan sebuah peran dalam kehidupan. Stress psikososial mempeburuk simtom yang ada sehingga meningkatkan resiko kambuhnya (King, & Dixon, 1997). Faktor-faktor lingkungan tertentu misalnya pola asuh yang baik mempunyai peran penting dalam hal mencegah perkembangan gangguan tersebut. Intinya model ini menekankan bahwa kerentanan bawaan genetis skizofrenia yang didukung oleh faktor stress potensial dari lingkungan sosialnya dan faktor pelindung sosial yang rendah dapat menyokong perkembangan gangguan skizofrenia.  Terapi dapat dilakukan untuk mempertahankan hubungan antara penderita gangguan skizofrenia dan lingkungannya. Perlunya dukungan sosial sangat menyokong penyembuhan skizofrenia itu sendiri. Inti terapinya yaitu mengatasi faktor stress potensial dan menguatkan faktor pelindung potensialnya.

 

Kuliah X :

Personality Disorder

Kepribadian (Personality) merupakan keseluruhan dari emosi dan perilaku yang relatif stabil dan dapat diramalkan. Penderita gangguan kepribadian cenderung memiliki sifat Alloplastis (mengadaptasi dengan mengubah lingkungan eksternal) dan ego-syntonic yaitu menganggap apa yang terjadi pada individu tersebut sebagai sesuatu yang wajar atau lazim.

Klasifikasi Gangguan Kepribadian

Perilaku Kaku dan Eksentrik

Sulit berhubungan dengan orang lain dan menunjukkan sedikit atau bahkan tidak tertarik untuk membangun hubungan sosial dengan orang lain.

1)      Paranoid

Suatu kecenderungan menginterpretasikan perilaku orang lain sebagai sesuatu yang mengancam atau hendak menyakitinya.

2)      Schizoid

Penyendiri dan eksentrik. Energi afektif sulit untuk disalurkan dalam relasi sosial, tetapi lebih tertarik dengan non-human (matematika, astronomi, hewan) atau segala sesuatu yang tidak memerlukan keterlibatan pribadi.

3)      Schizotypal

Schizotypal tidak mampu mengenali perasaan sendiri, tetapi sangat peka terhadap perasaan orang lain terutama afek negatif.

Perilaku Dramatis, Emosional Atau Perilaku Tidak Menentu

Pola perilaku dari gangguan ini adalah sesuatu yang berlebihan, tidak dapat diprediksi atau self-centered serta sulit memulai dan membina hubungan.

1)      Antisosial

Kecenderungan untuk terus menerus melanggar hak-hak orang lain dan hukum. Cenderung egosentris tidak jujur dengan sering berbohong, menggunakan nama samaran, suka memanipulasi, tidak ada rasa empati, rasa bersalah atau penyesalan. Iritabilitas dan agresif yang ditunjukkan dengan perkelahian fisik atau penyerangan yang berulang dan tidak merasa bersalah atas apa yang telah dilakukannya. Pola psikologis kepribadian ini antara lain :

a.    Mempunyai daya tarik dan inteligensi yang kurang;

b.    Tidak adanya kecemasan dalam situasi yang penuh tekanan;

c.    Tidak tulus dan jujur;

d.    Kurang mempunyai rasa penyesalan dan rasa malu;

e.    Ketidakmampuan merasakan cinta atau emosi yang sesungguhnya;

f.     Tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dipercaya;

g.    Impulsif dan tidak menghargai perilaku yang diterima secara sosial;

h.    Tidak terdapat delusi dan pikiran yang tidak rasional;

i.     Ketidakmampuan untuk belajar dari pengalaman; dan

j.     Tidak mempunyai insight.

2)      Borderline (Kepribadian Ambang)

Borderline dicirikan dengan ketidakstabilan dalam bersosialisasi, self-image, mood dan impulsif. Istilah borderline digunakan bagi individu yang perilakunya berada pada garis batas antara neurosis dan psikosis. Ada ambivalensi dalam bersikap, disatu sisi ada ketergantungan dengan seseorang, tetapi juga memiliki rasa permusuhan.

3)      Histrionik

Adanya emosi dan kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian yang berlebihan, cenderung self-centered dan tidak dapat mentoleransi penundaan kesenangan. Penderita senang mendramatisir kejadian untuk menarik perhatian lingkungan. Kebanyakan penderita mengalami disfungsi seksual, anorgasmik pada perempuan dan impotensi bagi laki-laki.

4)      Narsisistik

Adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh self-image yang membumbung serta tuntutan akan perhatian dan pemujaan. Orang dengan gangguan ini memiliki rasa bangga atau keyakinan yang berlebihan terhadap diri mereka sendiri dan kebutuhan yang ekstrem akan pemujaan. Mereka bersifat self-absorbed dan kurang memiliki empati pada orang lain. Orang dengan gangguan kepribadian ini cenderung terpaku pada fantasi akan keberhasilan dan kekuasaan, cinta yang ideal, atau pengakuan akan kecerdasan atau kecantikan.

Perilaku Kecemasan atau Ketakutan

Pola perilaku yang utama pada gangguan ini adalah adanya ketakutan dan kecemasan.

1)      Avoidant Personality

Merupakan gangguan kepribadian yang dicirikab dengan penghindaran terhadap hubungan sosial karena takut akan penolakan. Ketakutan yang sangat terhadap penolakan dan kritik ini membuat mereka umumnya enggan menjalani hubungan tanpa adanya kepastian akan penerimaaan. Penderita menghindari aktifitas pekerjaan yang membutuhkan kontak interpersonal karena takut adanya kritik dan penolakan, takut berbicara di depan umum, sensitif terhadap komentar, memandang dirinya janggal secara sosial, tidak menarik secara pribadi, dan underestimate terhadap dirinya sendiri atau dengan kata lain malu yang kronis.

2)      Dependent Personality

Merupakan gangguan kepribadian yang ditandai oleh kesulitan dalam membuat keputusan yang mandiri dan perilaku bergantung yang berlebihan. Gangguan ini menggambarkan orang yang memiliki kebutuhan yang berlebihan untuk diurus oleh orang lain yang menyebabkan mereka menjadi sangat patuh dan tergantung dalam hubungan mereka serta sangat takut akan perpisahan. Pola kepribadian ini biasanya menghindari tanggung jawab dan cemas jika dijadikan pimpinan, pesimis, ragu-ragu dan pasif.

3)      Obsessive Compulsive

Adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh cara berhubungan dengan orang lain yang kaku, kecenderungan perfeksionis, kurangnya spontanitas, dan perhatian yang berlebihan akan detail. Cirinya meliputi derajat keteraturan yang berlebihan, perbuatan yang melampaui batas, perfeksionis/ kesempurnaan, kekakuan, kesulitan melakukan coping dengan ketidakpastian/ keadaan ambigu, kesulitan mengekspresikan perasaan dan mendetail dalam kebiasaan kerja, sehingga umumnya tidak dapat menyelesaikan segala sesuatu tepat waktu.

Gangguan yang Tidak Ditentukan

Kategori ini untuk gangguan fungsi kepribadian yang tidak memenuhi kriteria untuk gangguan spesifik, misalkan adanya ciri-ciri lebih dari satu gangguan kepribadian spesifik yang tidak memenuhi kriteria lengkap untuk salah satu gangguan kepribadian.

SUDUT PANDANG TEORETIS

Perspektif Psikodinamika

Teori Freudian berfokus pada konflik Oedipal yang tidak terselesaikan dalam menjelaskan perkembangan kepribadian normal dan abnormal. Teoretikus psikodinamika terkini berfokus pada periode pra-Oedipal dalam menjelaskan perkembangan dari gangguan kepribadian seperti kepribadian narsisistik dan ambang. Bagi Kohut, kegagalan untuk merubah narsisisme masa kanak-kanak dengan penilaian yang lebih realistis tentang self dan orang lain mendasari perkembangan kepribadian

Perspektif Belajar

Ciri perilaku gangguan kepribadian berhubungan dengan pengalaman belajar di masa kanak-kanak, termasuk belajar observasional dari perilaku menyimpang atau agresif. Obsessive-compulsive bisa dihubungkan dengan disiplin dan kontrol orang tua yang berlebihan pada masa kanak-kanak. Kurangnya kesempatan pada masa kanak-kanak untuk mempelajari perilaku eksploratif atrau mandiri menuntun pada trait kepribadian dependen. Kepribadian histrionik terjadi karena pengalaman masa kanak-kanak di mana penguat sosial seperti perhatian dan reinforcement yang tidak konsisten dari orang tua untuk perilaku yang seharusnya mendapatkan perhatian. Kepribadian antisosial terjadi karena pengalaman belajar pertama dan reinforcer yang kurang konsisten dan sulit diprediksi, sehingga gagal merespon orang lain sebagai penguat yang potensial. Menurut Bandura, anak-anak mempelajari hukum-hukum dari belajar melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Biasanya agresivitas timbul akibat dari provokasi dan kepercayaan bahwa mereka akan lebih mendapat penghargaan daripada hukuman dari perilaku tersebut.

Perspektif Keluarga

Gangguan kepribadian terjadi karena gangguan dalam hubungan keluarga. Trauma masa kanak-kanak mendasari berkembangnya borderline personality. Faktor keluarga seperti orang tua yang overprotective dan authoritarian, mempunyai pengaruh dalam perkembangan dependent personality. Obsessive compulsive muncul dalam lingkungan keluarga dengan moralistik yang kuat dan keras yang tidak mengizinkan pelanggaran peraturan atau perilaku yang diharapkan, walau sedikit pun. Antisocial personality terjadi karena penolakan dan pengabaian orang tua pada masa kanak-kanak sehingga anak-anak tidak mengembangkan perasaan hangat dan penuh kasih sayang pada orang lain, yang disebabkan karena terjadinya kegagalan dalam menginternalisasi nilai-nilai orang tua dan kegagalan untuk mengembangkan empati.

Perspektif Kognitif

Pengalaman sosial mempengaruhi perilaku individu. Contohnya : remaja yang anti sosial cenderung mengartikan perilaku orang lain sebagai ancaman yang dikarenakan oleh pengalaman keluarga dan komunitasnya yang cenderung menganggap bahwa orang lain bermaksud menyakiti mereka.

Perspektif Biologis

Faktor Genetis ; Genetik mempunyai peranan dalam derajat yang bervariasi terhadap pengembangan sifat yang mendasari gangguan kepribadian. Orang dengan kecenderungan genetik dengan sifat yang mendasari gangguan kepribadian lebih rentan untuk mengembangkan gangguan kepribadian, jika mereka menghadapi pengaruh lingkungan tertentu, seperti menjadi terbelakang dalam keluarga disfungsional.

Respon Emosi Yang Kurang ; Orang dengan kepribadian antisosial dapat mengendalikan diri dalam situasi tekanan di mana pada kebanyakan orang akan menyebabkan kecemasan. Ketidakcemasan dalam menghadapi situasi yang mengancam dapat menjelaskan kegagalan hukuman untuk membuat orang-orang antisosial menghentikan perilaku sosialnya.

Reaktivitas Sistem Saraf Otonom ; Ketika orang-orang cemas telapak tangannya akan cenderung berkeringat yang disebabkan oleh kelenjar keringat yang aktivitasnya meningkat. Respon kulit ini disebut Galvanic Skin Response (GSR). Orang dengan kepribadian antisosial memiliki tingkat GSR yang lebih rendah dari pada orang normal. Hal ini menunjukkan bahwa sistem syaraf otonom kurang responsif.

The Crafting for Stimulation Model ; Quaiy menyatakan bahwa kepribadian antisosial membutuhkan rangsangan di atas ambang normal untuk mengoperasikan emosi pada puncak efisiensi. Mereka juga lebih cepat jenuh oleh perubahan rangsangan daripada orang normal. Ambang yang lebih tinggi ini menyebabkan terjadinya kejahatan atau perilaku yang nekat.

Perbedaan Pola Gelombang Otak ; Electroencephalograph (EEG) telah digunakan untuk mendeteksi perbedaan biologis kepribadian antisosial. Disimpulkan bahwa cerebral cortex yang berperan dalam berpikir dan belajar matang lebih lambat pada orang dengan kepribadian antisosial. Bentuk gelombang otak yang abnormal dimulai dari kerusakan sistem limbik yang dianggap mengatur emosi-emosi dasar seperti takut dan kecemasan. Kerusakan pada bagian ini menjelaskan bagaimana ancaman hukuman gagal digunakan untuk menghambat perilaku maladaptif pada orang antisosial.

Perspektif Sosiokultural

Kondisi sosial dapat menyebabkan gangguan kepribadian. Dampak dari kemiskinan, penyakit urban dan penyalahggunaan obat dapat menuntun pada disorganisasi dan disintegrasi keluarga, membuat anak semakin kurang menerima pengasuhan dan dukungan yang mereka perlukan untuk mengembangkan pola perilaku yang adaptif secara sosial. Hal ini mengakibatkan anak menjadi kurang empati, tidak mempunyai perasaan, dan tidak menghormati keselamatan orang lain. Teoretikus sosiokultural yakin bahwa faktor seperti itu dapat mendasari perkembangan gangguan kepribadian, terutama gangguan kepribadian antisosial.

TREATMENT

Tidak ada treatmen yang paling tepat, atau tidak mutlak menggunakan satu pendekatan dari teori tertentu tetapi dapat dikombinasikan antara pendekatan-pendekatan yang ada. Terapis dari berbagai aliran mencoba membantu orang yang mengalami gangguan kepribadian umtuk mencapai kesadaran yang lebih baik dengan mengubah pola perilaku self-defeating dan belajar untuk lebih beradaptasi dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Selain itu, dapat pula diterapkan penggunaan terapi psikodinamika yang relatif berjangka pendek dan pendekatan penanganan kognitif-behavioral, yaitu dengan jalan menelusuri jalan pikiran untuk mencari tahu masalah kemudian memperbaiki encodingnya.

 

Kuliah XI :

GANGGUAN MAKAN, OBESITAS, DAN GANGGUAN TIDUR

Gangguan Makan

Gangguan Makan (Eating Disorder) adalah gangguan psikologis yang memiliki karakteristik pola makan yang terganggu dan cara yang maladaptif dalam mengontrol berat badan. Anorexia dan bulimia termasuk gangguan makan. Gangguan ini sering disertai berbagai bentuk psikopatologi, termasuk depresi, gangguan kecemasan dan penyalahgunaan zat. Mayoritas kasus pada wanita. Gangguan ini umumnya mulai muncul pada masa remaja dan dewasa awal ketika tuntutan untuk menjadi kurus sangat kuat. Kira-kira 0,5% (1 : 200) wanita di lingkungan kita mengidap anorexia nervosa (APA, 2000). Tingkat prevalensi penderita bulimia nervosa di kalangan wanita diperkirakan berkisar antara 1% dan 3%. Anorexia dan bulimia pada pria sekitar sepersepuluh jumlah wanita. Berikut adalah jenis-jenis gangguan makan :

Anorexia Nervosa

Anorexia nervosa adalah suatu gangguan makan yang ditandai oleh adanya usaha untuk mempertahankan berat badan di bawah standar normal, citra tubuh yang terdistorsi, ketakutan yang mendalam akan bertambahnya berat badan, dan pada wanita, amenorrhea. Gangguan ini berkembang antara usia 12 dan 18 tahun. Setelah menarche wanita mulai sadar akan pertambahan berat badan dan bersikeras untuk menghilangkannya. Wanita anoreksik mencoba diet yang ekstrem, serta sering kali melakukan latihan fisik secara berlebihan. Usaha ini menjadi lebih giat lagi setelah penurunan berat badan yang diinginkan tercapai. Meskipun individu anoreksik secara sengaja membuat diri mereka lapar, mereka akan menghabiskan hari-hari mereka dengan berpikir dan membicarakan makanan, dan bahkan mempersiapkan makanan untuk orang lain. Berikut adalah karakteristik diagnostik untuk anorexia nervosa :

Menolak untuk mempertahankan berat badan minimal yang normal sesuai usia dan tinggi seseorang.

Ketakutan yang kuat terhadap pertambahan berat badan atau menjadi gemuk, meskipun tubuhnya kurus.

Citra tubuh yang terdistorsi di mana tubuh seseorang dipandang sangat gemuk, walaupun orang lain memandang orang tersebut kurus.

Dalam kasus wanita yang telah mengalami menstruasi, terjadi ketidakhadiran tiga atau lebih periode menstruasi.

Berikut adalah sub tipe dari gangguan Anoreksia Nervosa :

1)      Tipe Makan Berlebihan

Ditandai oleh episode yang sering dari makan berlebihan dan memuntahkannya. Cenderung memiliki masalah yang berhubungan dengan kontrol impuls, di mana peningkatan episode makan berlebih mungkin melibatkan penyalahgunaan zat atau mencuri. Mereka cenderung untuk berganti-ganti antara periode kontrol yang kaku dan perilaku impulsif.

2)      Tipe Menahan

Tidak ditandai dengan memuntahkan makanan. Individu dengan anorexia tipe ini cenderung secara kaku bahkan obsesif mengontrol diet dan penampilan mereka. Berkurangnya berat tubuh sebesar 35 % dapat menimbulkan anemia. Wanita anorexia biasanya juga memiliki masalah kulit seperti kulit kering, kulit pecah, rambut lepek, perubahan warna menjadi kekuningan. Komplikasi kardiovaskular melibatkan gangguan hati, hopotensi, dan pusing saat berdiri, terkadang menyebabkan pingsan. Menurunnya proses pencernaan menyebabkan masalah gastrointestinal seperti konstipasi, sakit pada perut, dan obstruksi atau kelumpuhan dari bowel atau intestines. Otot melemah dan pertumbuhan yang tidak normal pada tulang menyebabkan tinggi tubuh yang berkurang dan osteoporosis. Angka kematian pada anorexia diperkirakan antara 5 – 8 % dalam periode 10 tahun, dengan kebanyakan kematian disebabkan oleh bunuh diri atau komplikasi medis yang dihubungkan dengan penurunan berat badan yang parah.

Bulimia Nervosa

Bulimia Nervosa adalah gangguan makan yang memiliki karakteristik episode yang berulang untuk menelan makanan dalam jumlah besar, diikuti dengan penggunaan cara-cara yang tidak tepat untuk mencegah pertambahan berat badan. Seperti mengeluarkan makanan dengan memaksa diri untuk memuntahkannya menggunakan obat pencahar, diuretics, atau enemas, berpuasa atau latihan fisik yang berlebihan. Individu yang bulimia biasanya memiliki berat badan normal, namun mereka memiliki perhatian berlebih mengenai bentuk tubuh dan berat badan. Usia rata-rata terjadinya bulimia adalah remaja akhir. Komplikasi medis dari bulimia adalah iritasi pada kulit sekitar mulut, terhambatnya air liur, peluruhan enamel gigi, dan karang gigi, rusaknya reseptor pada lidah, sakit pada perut, hiatal hernia, pankreatitis, gangguan menstruasi, dan lain-lain.

Penyebab anorexia dan bulimia nervosa

Faktor Sosiokultural

Menitikberatkan pada tekanan sosial dan harapan dari masyarakat pada wanita muda sebagai kontributor terhadap perkembangan gangguan makan. Tekanan untuk mencapai standar kurus yang tidak realistis, dikombinasikan dengan pentingnya faktor penampilan sehubungan dengan peran wanita dalam masyarakat, dapat menyebabkan wanita muda menjadi tidak puas dengan tubuh mereka sendiri. Model sosiokultural didukung dengan adanya bukti yang menunjukkan bahwa gangguan makan tidak lebih umum, bahkan jarang terjadi, di negara-negara non barat.

Faktor Psikososial

Faktor yang paling sering dihubungkan dengan bulimia adalah setidaknya ada riwayat diet yang kaku. Diet yang kaku ini dapat mengakibatkan berkurangnya kontrol yang diikuti dengan pelanggaran diet dan menghasilkan makan berlebihan yang bersifat bulimik. Ketidakpuasan terhadap tubuh dapat menghasilkan usah-usaha yang maladaptif untuk mencapai berat badan atau bentuk tubuh yang diinginkan. Faktor kognitif berperan dalam pembentukan sikap yang perfeksionis pada wanita anorexia, sehingga mereka berjuang mencapai prestasi yang tinggi. Wanita bulimik cenderung memiliki tipe kognitif disfungsional yang dapat menghasilkan keyakinan berlebihan mengenai konsekuensi negatif dari pertambahan berat badan.

Faktor Keluarga

Gangguan makan sering kali berkembang dari adanya konflik dalam keluarga. Beberapa remaja menggunakan penolakan untuk makan sebagai cara menghukum orang tua mereka karena perasaan kesepian dan keterasingan yang mereka rasakan di rumah. Keluarga dari individu dengan gangguan makan cenderung lebih sering mengalami konflik, kurang memiliki kedekatan dan kurang saling memberi dukungan, namun lebih bersikap overprotektif dan kritis. Orangtua kuran gmampu membangkitkan kemandirian dalam diri anak mereka. Dari perspektif sistem, keluarga adalah sistem yang dikelola sedemikian rupa sehingga meminimalkan ekspresi terbuka dari konflik dan mengurangi kebutuhan segera untuk perubahan nyata. Individu anoreksik dipandang sebagai penolong untuk mempertahankan keseimbangan dan harmoni yang muncul dalam keluarga disfungsional dengan mengalihkan perhatian atas konflik keluarga dan tekanan pernikahan ke dalam diri mereka.

Faktor Biologis

Para ilmuwan menduga bahwa terdapat ketidaknormalan dalam mekanisme otak yang mengatur rasa lapar dan kenyang pada penderita bulimia, kemungkinan besar terkait dengan serotonin kimiawi otak yang berperan dalam pengaturan mood dan nafsu makan. Gangguan makan cenderung menurun dalam keluarga, yang terkait dengan komponen genetis. Dalam pandangan model diatesis-stres, diduga predisposisi genetis yang melibatkan disfungsi aktivitas neurotransmiter berinteraksi dengan faktor keluarga, sosial, budaya, dan tekanan lingkungan dalam menyebabkan berkembangnya gangguan makan.

Penanganan anorexia dan bulimia nervosa

Penderita dapat dirawat di rumah sakit, ditempatkan dalam ruangan dengan pengawasan terus-menerus. Terapi perilaku juga bisa digunakan, dengan sasaran membuat penderita mematuhi aturan dari jadwal makan. Biasanya penguatan yang digunakan mencakup tempat istimewa dan kesempatan sosial. Terapi Psikodinamika terkadang dikombinasikan dengan terapi perilaku untuk menggali lebih dalam konflik psikologis yang ada. Terapi Keluarga juga dapat digunakan untuk membantu mengatasi konflik keluarga yang mendasari. Terapi Kognitif-Behavioral (CBT) berguna dalam membantu penderita bulimia untuk mengatasi pikiran dan keyakinan yang self-defeating, seperti pemikiran yang tidak realistis dan perfeksionis mengenai diet dan berat badan. Untuk menghilangkan kebiasaan memaksa diri memuntahkan makanan, terapis dapat menggunakan teknik pemaparan terhadap pencegahan respons yang dikembangkan untuk penanganan gangguan obsesif-kompulsif. Terapi interpersonal menekankan pada penyelesaian masalah interpersonal dengan keyakinan bahwa fungsi interpersonal yang semakin efektif akan menghasilkan kebiasaan dan sikap makan yang lebih sehat. Obat antidepresan juga memberikan manfaat terapeutik dalam menangani bulimia.

Gangguan makan berlebihan         

Binge-eating disorder (BED)  menunjukkan pola makan secara berlebihan berulang kali  tetapi tidak mengeluarkan makanan tersebut sesudahnya. Makan berlebihan ini setidaknya terjadi 2 hari dalam seminggu selama 3 bulan. BED lebih umum ditemukan di antara individu yang mengalami obesitas. BED mempengaruhi 2% dari populasi. Sering kali diasosiasikan dengan depresi dan usaha yang gagal dalam menurunkan berat badan. Orang BED cendrung berusia lebih tua daripada penderita anoreksia dan bulimia, dan lebih banyak ditemukan pada wanita. Teknik kognitif-behavioral telah menunjukkan efek positif dalam menangani BED.

Obesitas

Obesitas merupakan suatu kondisi kelebihan lemak tubuh, biasanya ditentiukan oleh IMT di atas 30. Dihitung dengan membagi berat badan (dalam kg) dengan kuadrat tinggi badan (dalam meter). Sekitar 1 dari 3 anak-anak mengalami obesitas. Obesitas digolongkan sebagai gangguan medis kronis, bukan gangguan psikologis. Obesitas juga merupakan faktor resiko terbesar untuk penyakit kronis yang secara potensial membahayakan jiwa seperti sakit jantung, diabetes, dan beberapa bentuk dari kanker. Obesitas melibatkan faktor psikologis pada perkembangan dan penangannya. Adapun penyebab obesitas yaitu :

Faktor Genetis

Faktor genetis dan lingkungan sama-berpengaruh pada obesitas

Faktor metabolisme

Ketika kita kehilangan berat badan, terutama dalam jumlah yang signifikan, tubuh bereaksi seakan-akan kelaparan. Tubuh merespons penurunan berat badan dengan memperlambat tingkat metabolisme. Hal ini mempersulit penurunan berat badan lebih lanjut atau sekedar mempertahankan penurunan berat badan.

Sel Lemak

Orang-orang obesitas memiliki lebih banyak sel lemak. Orang yang memiliki lebih banyak jaringan lemak mengirimkan lebih banyak sinyal pengosongan lemak keotak, sehingga mereka lebih cepat merasa membutuhkan makanan.

Faktor Pola Hidup

Orang-orang obesitas biasanya secara fisik kurang aktif. Mereka menetapkan pola makan tinggi lemak dan makan dalam porsi besar.

Faktor Psikologis

Teoretikus psikodinamika yakin bahwa orang-orang yang pada tahap oral terfiksasi oleh konflik ketergantungan dan kemandirian, cenderung akan mengatasi stress dengan aktivitas oral yang berlebihan seperti makan berlebihan. Rendahnya self-esteem, kurangnya self-efficacy, konflik keluarga, dan emosi negatif juga merupakan mempengaruhi obesitas.

Faktor Sosio-ekonomi

Obesitas lebih umum terjadi di kalangan orang-orang dari tingkat sosio-ekonomi rendah.

Akulturasi

Meskipun akulturasi dapat menolong orang-orang imigran untuk beradaptasi dengan baik dalam budaya baru, hal ini juga dapat menjatuhkan jika melibatkan penerapan diet yang tidak sehat dari budaya baru ini.

Faktor Metabolisme

Faktor bilogis, seperti perbedaan genetis dalam tingkat metabolisme, juga dapat berperan dalam memunculkan obesitas. Persoalan dengan terapi obat adalah manajemen pengaturan berat badan untuk jangka panjang melibatkan perubahan gaya hidup dalam pola makan dan olahraga. Orang-orang obesitas dapat mengontrol berat badan mereka dalam batas-batas tertentu dengan melakukan diet yang tepat, meningkatkan level aktivitas dan olahraga, serta melakukan perubahan kebiasaan makan. Program modifikasi perilaku berfokus pada membantu individu mengubah kebiasaan makan yang salah dengan mengubah anteseden dari makan dengan melibatkan pengubahan lingkungan sehingga orang tidak terus-menerus menerima isyarat yang berhubungan dengan makanan, perilaku makan itu sendiri, dan konsekuensi dari makan berlebihan. Orang obesitas memerlukan komitmen jangka panjang untuk mengikuti diet yang tepat dan olahraga yang teratur.

Gangguan Tidur

Gangguan tidur merupakan masalah yang berhubungan dengan tidur yang berulang kali dan terus ada yang menyebabkan distress atau hendaya untuk berfungsi dengan baik. Orang dengan gangguan tidur biasanya menghabiskan beberapa malam di pusat tidur, di mana mereka dihubungkan dengan kabel kealat-alat yang mencatat respons fisiologis mereka selama tidur atau berusaha untuk tidur, tingkat jantung dan pernafasan, dan seterusnya. Evaluasi ini disebut pencatatan polisomnografik (PSG). DSM mengelompokkan gangguan tidur dalam 2 kategori utama, yaitu :

Dissomnia

Adalah gangguan tidur yang memiliki karakteristik terganggunya jumlah, kualitas, atau waktu tidur. Lima tipe khusus disomnia yaitu :

a)      Insomnia

Insomnia ditandai dengan kesulitan untuk tertidur, tetap tidur, atau mencapai tidur yang restoratif. Insomnia yang tidak normal adalah insomnia yang terus ada dan memiliki karakteristik kesulitan berulang-ulang untuk tidur atau tetap tidur. Insomnia primer merupakan insomnia kronis dalam jangka waktu sebulan atau lebih yang tidak disebabkan oleh gangguan fisik atau psikologis, atau oleh efek obat atau pengobatan.

b)      Hipersomnia

Yaitu sebuah pola munculnya rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari. Hipersomnia primer merupakan rasa kantuk yang berlebihan sepanjang hari yang berlangsung sampai sebulan atau lebih. Dapat berbentuk kesulitan untuk bangun setelah periode tidur yang panjang, atau ada episode tidur siang yang muncul setiap hari dalam bentuk yang diharapkan ataupun tidak.

c)       Narkolepsi

Merupakan gangguan tidur yang memiliki ciri episode tidur yang tidak dapat dielakkan dan terjadi secara tiba-tiba. Diagnosis diberikan ketika serangan tidur muncul setiap hari selama periode 3 bulan atau lebih dan dikombinasikan dengan kehadiran salah satu atau kedua kondisi berikut :

  • Cataplexy (kehilangan kontrol secara mendadak), biasanya disebabkan oleh reaksi emosional yang kuat;
  • Gangguan tidur REM dalam tahap transisi antara sadar dan tidur;
  • Gngguan tidur yang terkait dengan pernapasan yaitu terganggunya tidur secara berulang kali karena kesulitan bernapas;
  • Gangguan tidur sirkadia; terganggunya siklus tidur-bangun internal karena perubahan waktu pada pola tidur.

Parasomnia

Gangguan yang terjadi baik saat tidur maupun saat ambang batas antara tidur dan terjaga.

a)      Gangguan Mimpi Buruk

Berulang kali terbangun karena mengalami mimpi buruk.

b)      Gangguan Teror Dalam Tidur

Berulang kali mengalami terror saat tidur yang menyebabkan terjaga secara tiba-tiba.

c)       Gangguan Berjalan Sambil Tidur

Berulang kali mengalami episode berjalan sambil tidur.

Penanganan yang disarankan untuk menangani masalah gangguan tidur, adalah sebagai berikut :

Pendekatan Biologis

Terapi obat dapat digunakan untuk penyembuhan jangka pendek bagi insomnia dan untuk mengatasi gangguan tidur lelap, narkolepsi, dan tidur apnea. Pembedahan atau alat bantu mekanik dapat digunakan untuk membuka jalan udara pada pasien apnea.

Pendekatan Psikologis

Terapi Kognitif-Behavioral membantu seseorang untuk mengubah kebiasaan tidur yang tidak sehat. CBT dapat digunakan untuk mengubah kebiasaan tidur yang maladaptif dan pemikiran atau keyakinan yang disfungsional mengenai tidur.

 

Kuliah XII :

KEKERASAN, PENGANIAYAAN, DAN IMPULSIVE CONTROL DISORDER

I.       KEKERASAN DAN PENGANIAYAAN

Tindakan kekerasan digolongkan kedalam abnormalitas jika konteks kekerasan itu diluar kesepakatan sosial yang ada dalam suatu konteks budaya atau lokasi, serta membahayakan bagi orang yang menjadi objek kekerasan tersebut. Orang dengan gangguan psikologis biasanya rentan melakukan kekerasan. Meskipun demikian, penyalahgunaan obat, alkanol, dan riwayat kriminalitas lebih dekat dengan konteks kekerasan dibandingkan gangguan mental (Bonta, Law, & Hanson, 1998). Kekerasan juga biasanya merupakan karakteristik gangguan kepribadian antisosial dan gangguan perilaku pada anak-anak dan remaja. Kekerasan berkaitan dengan agresi manusia itu. Berikut adalah beberapa point of view terhadap kekerasan.

1)      Pendekatan Biologis.

Agresi merupakan hasil dari insting manusia yaitu pola perilaku yang menetap yang dibawa secara genetis sejak individu itu lahir dari parentalnya, dan sifatnya spesifik bagi tiap-tiap individu. Menilik pendapat Sigmund Freud, bahwa insting mendasari agresi manusia yang disebut insting kematian. Insting menurutnya bersifat self-destructive termasuk bunuh diri. Insting ini perlu untuk diekspresikan dan dilepaskan dalam bentuk tertentu. Ego bertanggung jawab terhadap ekspresi insiting dari id ini. Ego mempertimbangkan situasi sosial yang ada di sekitarnya, apakah memungkinkan untuk penyaluran insting tersebut atau tidak. Jika ya, maka insting itu disalurkan, jika tidak akan direalisasikan dalam bentuk perilaku lainnya atau akan direpresikan oleh defense mechanism ego. Apabila terjadi penumpukan dalam represi ego atau ego menjadi lemah maka sewaktu-waktu insting ini akan keluar dalam wujud perilaku agresi, karena kelebihan ego tekanan.

2)      Pendekatan Sosiobiologis.

Agresi menurut pandangan ini, merupakan hasil pembelajaran individu atas fenomena sosial yang ada di sekitarnya. Individu mungkin mewarisi disposisi-disposisi perilaku secara genetis, tetapi yang menentukannya kemudian adalah lingkungan sosialnya. Budaya, proses belajar, dan pilihan pribadi individulah yang menjadi penentu perilaku agresi itu akan dimunculkan atau tidak (Eagly, & Wood, 1991). Berarti disini terjadi kombinasi antara faktor genetis dan faktor sosial lainnya dalam pemunculan perilaku agresif tersebut (Buss, & Shacelford).

3)      Pandangan Neurobiologis Agresivitas.

Dalam pandangan ini, dijelaskan bahwa agresi muncul karena adanya peran hipotalamus pada mekanisme otak dalam memfokuskan perhatian individu. Hipotalamus mungkin mengontrol kendali perilaku agresif itu sendiri pada beberapa kingdom animalia. Pada manusia, perilaku tergantung pada proses belajar dibandingkan refleks-refleks saraf ini. Selain itu, adanya peran serotonin dalam dalam proses transmitters pada saraf manusia. Selain itu, juga perilaku agresi diasumsikan dengan derajat hormon testosteron laki-laki. Semakin tinggi derajat kuantitas hormon testosteron pada individu maka semakin besar kecenderungan dalam memunculkan perilaku agresi. Serotonin berperan dalam mengatur tepatnya menghambat kerja sistem limbik pada otak. Sistem limbik ini berperan dalam mengatur dorongan-dorongan primitif seperti makan, pengaturan emosi, belajar, ingatan, dan agresi. Tingkat serotonin yang rendah yang menunjukkan abnormalitas otak tentunya cenderung memungkinkan memunculkan perilaku agresif tersebut. Sedangkan, testosteron yang tinggipun demikian adanya pada laki-laki maupun perempuan.

4)      Pandangan Sosio-Kognitif.

Albert Bandura (1973, 1986) berpendapat bahwa agresivitas seseorang merupakan perilaku yang dipelajari dari social learning process. Adanya modelling dan reinforcement atas perilaku agresif ini memungkinkan inidividu mempelajari bahwa perilaku itu baik adanya. Dengan melihat contoh ayahnya yang bertindak kasar terhadap ibunya, mungkin saja seorang anak akan menirukan perilaku ayahnya tersebut (modelling). Atau mungkin karena penguatan yang diberikan oleh lingkungan sosialnya terhadap perilaku agresif tertentu memungkinkan sang anak menirukan perilaku tersebut. Selain itu, adanya peran harapan dan kompetensi dalam perilaku agresif ini jelas adanya. Seseorang yang berharap perilaku agresif yang akan dimunculkan akan menghasilkan implikasi psositif akan lebih mungkin melakukan tindakan tersebut. Berkaitan dengan kompetensi atau kemampuan individu dalam mengelola dan mengontrol sifat agresif dalam dirinya juga nampak bahwa individu yang kurang mampu  dalam mengelola dan mengontrol sifat agresif dalam dirinya memiliki prevalensi yang cukup besar dalam memunculkan perilaku agresif dalam overt behavior.

Para teoretikus sosio-kognitif juga memfokuskan pada cara-cara manusia dalam mengintepretasikan situasi konfrontatif dan konflik (Berkowitz, 1994). Ketika seseorang memandang motif orang lain kepada dirinya penuh dengan kenegativan, maka perilaku agresif ini cenderung untuk muncul. Asumsi orang serupa ini yakin bahwa orang tersebut bermaksud menyakiti, melukai, atau sejenisnya, dimana kebenarannya berlainan adanya. Menurut pandangan ini, sifat agresivitas dan desdruktif tidak dapat dikatarsis melalui beberapa perilaku yang dapat diterima secara sosial misalnya olahraga seperti pandangan klasikal Freudian, menurut mereka ini malahan memberi mereka suatu reinforcement pada sifat agresivitas dan desdruktifnya. Mereka juga mengakui adanya peran modelling dan tentunya reinforcement pada perilaku agresif tersebut. Disini mereka menjelaskan peran orangtua dalam menjelaskan kepada anak bahwa kekerasan yang ditayangkan pada media hanyalah sebuah sensasi belaka adanya, karena pada kenyataannya manusia sebagai individu menangani situasi-situasi konflik dengan cara damai.

5)      Pandangan Sosio-Kultural.

Dalam pandangan sosio-kultural dijelaskan bahwa perilaku agresif berakar dari penyebab sosial yang menyatu secara kompleks mencakup kemiskinan, kesempatan, keretakan keluarga, dan pemaparan modelling dari pihak tertentu termasuk orang tua dalam mencontohkan perilaku agresif. Anak yang dibesarkan dalam status sosial yang miskin memungkinkan mereka mengalami tekanan hidup yang lebih dari lingkungannya, hal ini memungkinkan pemunculan perilaku agresif itu sendiri. Ini sejalan dengan hipotesis frustrasi-agresi yang mengatakan bahwa agresivitas muncul karena terjadinya frustrasi pada individu tersebut. Rasa frustrasi ini disebabkan karena adanya tekanan-tekanan sosial pada mereka. Disposisi budaya seperti pada budaya barat (Amerika, misalnya) yang menunjukkan ciri individualitas dan mungkin memberikan tekanan pada peran maskulin laki-laki dalam hal ini menunjukkan ciri kelaki-lakiannya secara agresif juga mendukung kecenderungan munculnya perilaku agresif individu. Nilai-nilai budaya dan metode pengasuhan yang keras dapat mengembangkan sifat kekerasan dan agresif pada anak. Pembunuhan lebih sering terjadi pada kelompok ras dan etnik minoritas dibandingkan etnik yang mayoritas (Council Of Economic Advisors, 1998). Penyebabnya mungkin karena ras dan etnik minoritas merasa dirrugikan oleh budaya mayor yang ada. Selain itu, juga mungkin peran penggunaan obat tertentu acapkali terkait dengan kriminalitas di jalanan, terutama di kalangan masyarakat miskin.

Penggunaan alkanol memungkinkan terdistorsinya pikiran dan proses neuron tertentu dalam mengatur perilaku sehingga secara tak sadar perilaku agresif dimunculkannya. Efek alkanol dalam merusak kemampuan pengamibilan keputusan pada diri inidividu telah jelas berpengaruh. Alkanol juga memungkinkan menimbulkan efek ketenangan dan mendistorsi kemampuan empati sehingga individu berkurang kepakaannya terhadap rangsangan stimulus eksternal dan petunjuk yang pada dasarnya membangkitkan kecemasan yang terkait dengan kemungkinan hukuman diterima apabila perilaku agresif dimunculkan terdistorsi (dalam pandangan Freud, superego mengalami distorsi fungsi).

6)      Pandangan Eklektistif Agresivitas.

Menggabungkan semua pandangan mengenai kekerasan dan agresivitas merupakan alternatif bijak dalam menjelaskan perilaku agresif itu sendiri. Dalam pandangan ini, agresif disebabkan oleh multifaktoral disposisi. Individu mungkin mewarisi insitingsecara genetis dari parental atau orangtuanya, tetapi kita juga mempertimbangkan peran pembelajaran dan peran budaya dalam hal ini.  Individu belajar dari teman sebaya, televisi, internet, film, tokoh panutan modelling, dan bagaimana peran kognitif individu dalam mempertimbangkan perilakunya, serta bagaimana peran harapan, kompetensi, copping stress, penyaluran agresivitas itu sendiri, faktor fisiologis ,serta faktor neurobiologis, dan lainnya mungkin berperan penting dalam perwujudan perilaku agresif individu tersebut. Beberapa terapi yang disarankan dalam hal ini yaitu :

Pelatihan Empati, yang menolong individu mengidentifikasikan perasaan-perasaan mereka dan menjadi lebih peka terhadap perasaan orang lain.

Pelatihan Pengelolaan Rasa Amarah, dimana individu diajarkan teknik penguasaan keterampilan mengendalikan amarah.

Pelatihan Pengendalian Impuls, dimana individu diajarkan keterampilan menyelesaikan masalah dalam mengelola stiuasi-situasi bermasalah.

Beberapa jenis kekerasan antara lainnya sebagai berikut :

1)      Kekerasan Domestik.

Kekerasan domestik meliputi kekerasan pada rumah tangga atau yangs sering disebut KDRT. Selain resiko fisik yang diterima, korban kekerasan domestik juga rentan terhadap gangguan psikologis lainnya misalnya depresi, self-esteem yang rendah, PTSD (Posttraumatic Stress Disorder), gangguan emosi, gangguan perilaku, kesulitan dalam behubungan sosial secara efektif yang sehat, kekurangan kapasitas empati, kegagalan dalam mengembangkan suara hati dan kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, keinginan untuk bunuh diri, gangguan mood, perilaku yang tidak matang misalnya mengisapi jempolnya, kesulitan untuk mengeksplorasi dunia sosialnya, dan bahkan bertindak agresif pada individu yang lebih rentan. Seorang anak yang menyaksikan perilaku agresif dalam keluarganya, meskipun kekerasan itu nonfisik sifatnya misalnya membanting perabotan di rumah, anak tersebut memilikikecenderungan untuk mengalami gangguan emosiona, depresi, dan perilaku anak tersebut (Jouriles, dkk, 1996).    Sebagian para ahli mengatakan bahwa perempuan yang mengalami kekerasan domestik akan lebih baik dipahami bila dilihat dari survivor trauma daripada masokisme (Strube, 1988). Seperti yang diungkapkan Leonore Walker (1979) dalam istilahnya yaitu sindrom perempuan yang mengalami kekerasan (battered woman syndrome).  Sindrom ini mencakup perasaan tidak tertolong dan rusaknya kemampuan penguasaan yang membuatnya sulit untuk meninggalkan pelaku kekerasan dan menjalani hidup baru lagi sendirian. Alasan ekonomi mungkin bisa menjadi salah satu penyebabnya juga. Artinya perempuan yang berani meninggalkan rumah, adalah mereka yang berani meninggalkan ketakutannya. Beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi efektivitas kemampuan coping perempuan (Follingstad, Neckerman, & Vormbrock, 1988) yaitu :

Menghancurkan anggapan subjektif perempuan mengenai ketidakrentanannya yang membantu mempertahankan rasa aman secara personal dalam sebuah keluarga.

Menurunkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah dan kemampuan menimbang solusi-solusi alternatif dari masalahnya, yang diakibatkan oleh kekerasan tersebut.

Kecenderungan mengalami PTSD yang pada implikasinya menyebabkan makin buruknya kemampuan coping masalah.

Konversi pikiran perempuan dalam memandang pelaku kekerasan terhadap diri mereka secara positif, penuh empati, dan pada saat yang sama mengembangkan asumsi negatif pada individu yang mencoba berperan sebagai penolong.

Menemukan makna dari kekerasan. Hal ini diungkapkan oleh Viktor Frankl (1959) bahwa perempuan yang mengalami kekerasan domestik akan lebih berusaha menemukan makna dari peristiwa tersebut, merasionalisasinya, dan terkadang membenarkannya.

Belajar akan ketidakberdayaan mereka. Hal ini dapat menurunkan motivasinya dalam problem solving masalah, dan dapat membuat pasif individu sehingga mereka enggan mencari bantuan untuk menyelesaikan masalahnya (Walker, 1979; Wilson, dkk, 1992).

Mengalami kesulitan dalam mengelola emosi-emosi terutama yang bersifat menmberatkan dirinya, sehingga mereka susah dalam mengontrol kemarahannya, depresi, menimbulkan perasaan suicide, dan cenderung menyalahkan diri mereka sendiri.

Faktor budaya yang menempatkan peran perempuan untuk selalu mengorbankan diri juga mendorong kesemua hal di atas terjadi riil. Lalu bagaimana penanganan bagi korban dan pelaku kekerasan domestik ?. Terapi pasangan dapat dilakukan sebagai salah satu tindakan penanganannya. Hal ini berguna bagi pasangan atau keluarga dengan sejarah kekerasan domestik (O’Leary, 1995). Dalam terapi ini terapis membantu kedua dari pasangan untuk memahami kemarahan mereka sebagai ekspresi ketidakberdayaan, dan untuk memahami kesakitan emosional keduanya secara lebih empati dan baik. Selain itu, terapi ini juga mengajarkan keduanya dalam pegelolaan amarah, penyelesaian konflik yang efektif, dan beragam cara yang lebih produktif (Mones, & Panitz, 1994). Terapi kelompok juga dapat dilakukan. Terapi ini diaplikasikan guna memberikan penjelasan pada korban kekerasan terhadap siklus kekerasan, mengembangkan strategi penyelamatan diri, alternatif laijn dalam perkawinan, meningkatkan harga diri, dan mengurangi sikap self-blame mereka.

2)      Penganiayaan Terhadap anak.

Ada beberapa jenis jenis penganiayaan terhadap anak, yaitu :

Penganiayaan fisik, mencakup pencelakaan fisik anak.

Penelantaran fisik, mencakup pembiaran fisik tanpa perhatian orangtuanya.

Penganiayaan seksual.

Perlakuan salah secara emosional, termasuk kritik dan selalu menyalahkan sang anak seara berlebihan.

Dalam menjelaskan kekerasan fisik, ada banyak hal yang menyertainya antara lainnya yaitu faktor kognitif seperti terus menerus menyalahkan anak terhadap sebuah kelakuannya yang sewajarnya dalam batasan anak secara sosial. Orangtua seperti ini, cenderung melihat perilaku anak selalu disengaja meski itu tak disengaja. Anggapan orangtua bahwa penggunaan atau pemberian punishment fisik dapat mengatasi perilaku nakal anaknya, dan tentunya dianggap secara sosial hal itu diterima adanya. Disini terlihat peran budaya yang mengajarkan pembenaran dalam penggunaan hukuman fisik terhadap anak tanpa batasan yang jelas.

Beberapa faktor resiko dalam penganiayaan anak antara lainnya (Belsky, 1993; Pogge, 1992) :

Stress mencakup stress kerja, dan sebagainya.

Menyaksikan kekerasan dalam keluarga sendri, dan modelling.

Pernah mengalami kekerasan pada masa kecilnya.

Kurang baiknya kemampuan mengelola amarah, dan coping stress.

Penyalahgunaan alkanol, dan obat-obatan tertentu.

Aturan-aturan budaya yang kaku dalam pengasuhan anak.

Berikut ini adalah efek dari penganiayaan terhadap anak, antara lainnya :

Luka-Luka secara fisik.

Luka emosional yang biasanya berlangsung cukup lama.

Kesulitan dalam membina hubungan relasi yang sehat dan ketertarikan yang sehat dengan teman sebayanya.

Mengalami kekurangan kapasitas emosionalnya.

Gagal mengembangkan suara hati, dan kepedulian terhadap orang lain.

Menurunnya self-esteem, depresi, dan kinerja yang buruk.

Menimbulkan pikiran-pikiran dengan tema bunuh diri (suicide), dan lain sebagainya.

Penanganan dapat dilakukan dengan program pelatihan bagi orangtua yang bertujuan membantu orangua dalam menguasai stress dengan lebih baik, dan meningkatkan interaksi yang sehat dengan anak mereka (DeAngelis, 1995b). Terapi keluarga dalam hal ini juga penting adanya.

3)      Agresi Seksual.

Pemerkosaan tidak digolongkan kedalam gangguan mental, tetapi kebanyakan hal itu berasosiasi dengan simdrom klinis tertentu, misalnya sadisme seksual. Dua tipe pemerkosaan yaitu :

Pemerkosaan yang melibatkan paksaan terhadap korbannya.

Pemerkosaan berdasarkan batasan hukum, dimana korban dianggap belum atau tidak mampu memberikan persetujuan, atau oleh karena ketidakmampuan mental, meskipun korban tidak menolak tindakan yang diakukan pemerkosa.

Semua perempuan beresiko mengalami pemerkosaan, termasuk semua perempuan dari golongan usia, ras, dan tingkat ekonomi manapun. Meskipun demikian, perempuan muda lebih beresiko, terutama remaja. Lebih dari itu, bukan hanya perempuan saja, lelaki juga terkadang menjadi korban pemerkosaan meskipun prevalensinya kecil sekali. Pemerkosaan lebih terkait dengan impuls kekerasan dan isu kekuatan serta pengendalian, daripada pemuasan seksual. Pemerkosa biasanya memiliki perasaan canggung atau malu dan inadekuat dalam dirinya, ketidakmampuan menemukan pasangan, umumnya antisosial, kurang pertimbangan matang. Acapkali mereka pernah mengalami kekerasan seksual pada masa kanak-kanaknya. Dalam hal ini nampak peran faktor sosio-kultural, yaitu meliputi budaya yang kurang kuat mengatur pemerkosaan dan individualitas, dan sosialisasi atas peran gender masing-masing beserta stereotipe dan asumsi yang diharapkan dalam sebuah kehidupan yang benar. Budaya yang mengajarkan peran laki-laki untuk cenderung agresif, dan maskulin membentuk sebuah anggapan stereotipe pada individu yang mendukung terjadinya pemerkosaan. Pemerkosaan pastilah membawa efek negatif pada korbannya. Berikut adalah beberapa efek dari pemerkosaan yang halusnya disebut pelecehan seksual :

Efek pada perempuan mungkin bisa kehilangan selera makan, sakit kepala, mudah tersinggung, cepat marah, ketidakteraturan menstruasi, ketidakrealitisan perilaku dan asumsi.

Bisa menyebabkan depresi, disfungsi seksual misalnya susah mengalami rangsangan seksual dan orgasme, mengalami ingatan yang mengganggu mengenai pelaku pemerkosaan, dan dapat menyebabkan gangguan kecemasan mencakup PTSD, dan lain sebagainya.

Efek pada anak-anak mungkin saja sama dalam beberapa halnya, ditambah masalah psikologis lainnya seperti self-esteem yang buruk, perilaku seksual yang prematur, mengisap jempol, takut gelap, masalah dalam relasi sosial, gangguan kepribadian ambang (Murray, 1993; Weaver, & Clum, 1995), dan ketidakpercayaan terhadap pelaku pemerkosaan apalagi jika pelakunya adalah ayah atau keluarga dekatnya sendiri. Hal ini menyebabkan individu mengalami distorsi pada rasa ketidakpercayaan terhadap mereka yang dahulunya dipercaya mereka, sehingga hal ini terbawa hingga dewasa.

Penanganan terhadap kasus pemerkosaan, dilakukan dalam dua tahapan yaitu :

Mendampingi korban dalam mengatasi situasi setelah pemerkosaan.

Membantu dalam penyesuaian diri korban untuk jangka panjang, dan membantu mengembangkan strategi untuk mengatasi trauma psikis.

Penganiayaan seksual pada anak biasanya jarang melibatkan kekerasan fisik, tetapi lebih kearah penggunaan manipulasi, tipuan, ancaman kekerasan, dan sejenisnya untuk mendapatkan kepatuhan anak. Beberapa terapi dapat diajukan dalam proses penanganannya antara lain dengan terapi seks, dalam hal ini anak dibantu untuk mengatasi disfungsi seksual dan ketakutannya pada masa dewasanya nanti. Terapi kelompok dapat dilakukan untuk membantu menghadapi masalah perasaan dalam lingkungan suportif dengan orang lain yang mengalami trauma yang serupa. Pendekatan multikomponental adalah salah satu cara alternatif yang baik, dimana terapi difokuskan pada penyediaan dukungan bagi anak, membahas ketidakberdayaan dan pengkhianatan, dan membantu anak memahami bahwa ia bukanlah pihak yang harus disalahkan. Lalu bagaimana menagani pelaku pemerkosaan dan pelecehan seksual ?. Dalam hal ini dapat dilakukan juga terapi kelompok dengan teknik terapi kognitif-behavioral, serta pelatihan empati dalam meningkatkan kepekaan sosial pelaku terhadap korban. Penggunaan obat berbasis bologis juga dapat dilakukan, yaitu pemberian obat antiandrogen yang bisa menurunkan kadar testosteron. Hal ini diibaratkan karena kebanyakan kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual melibatkan tingginya tingkat testosteron dalam tubuh pelakunya. Anti androgen ini dapat membantu ketika digabungkan penggunaannya dengan konseling psikologis (Leary, 1998).

II.     IMPULSIVE CONTROL DISORDER (ICD)

Gangguan Impuls Kontrol (ICD) adalah gangguan yang disebabkan oleh ketidakmampuan seseseorang dalam mengendalikan dorongan atau godaan untuk melakukan perbuatan tertentu. Tanda dari gangguan ini adalah ketidakmampuan individu untuk menghentikan impuls-impuls yang dapat membahayakan mereka sendiri ataupun orang lain. DSM-IV-TR memasukkan lima gangguan pengendalian impuls tambahan yaitu :

  1. Intermitten explosive disorder : dimana seseorang bertindak berdasarkan impuls-impuls agresif yang menghasilkan tindakan tindakan penyerangan serius atau perusakan harta benda (American Psychiatric Association, 2000). Diduga,  faktor psikososial seperti stress, gaya asuh orang tua, dan sebagainya. Berpengaruh dalam memicu gangguan tersebut. Biasanya diderita oleh lak-laki, dan meliputi agresivitas yang meledak-ledak yang menuntun untuk melakukan penyerangan dan perusakan properti. Ledakan ini tidak diprovikasi atau kelihatan sebagai bagian dari suatu peristiwa yang mendahului mereka.
  2. Kleptomania : ketidakmampuan seseorang menolak dorongan berulang untuk mencuri barang barang yang seebenarnya tidak diperlukan untuk kegunaan pribadi atau yang dicuri bukan karena nilai uangnya. Tindakannya mengikuti pola tertentu yaitu merasakan ketegangan tepat sebelum mencuri dan diikuti rasa puas atau lega saat pencurian dilakukan (Mc. Elroy dan Arnold, 2001). Kleptomania biasanya diderita oleh perempuan.
  3. Piromania : gangguan pengendalian impuls yang melibatkan adanya dorongan yang tidak dapat ditolak untuk melakukan pembakaran. Polanya sama dengan kleptomania, dimana muncul perasaan puas atau lega saat api mulai membakar. Biasanya diderita oleh laki-laki, dan menyangkut pembakaran untuk merasakan kesenangan dan pengurangan ketegangan
  4. Judi Patologis : Adanya kebutuhan untuk mempertaruhkan uang dalam jumlah yang semakin banyak dari waktu ke waktu dan timbul gejala gelisah ketika berusaha berhenti (withdrawal). Trikotilomania : Adanya dorongan untuk mencabuti rambut sendiri dari bagian tubuh yang manapun, termasuk rambut di kulit kepala, alis dan bulu bulu tangan. Hal ini kerapkali dimulai sejak masih kanak-kanak, dan sering diasosiasikan dengan depresi mayor atau gangguan defisit/ hiperaktif perhatian.

Selain kelima macam gangguan tersebut, juga terdapat dorongan tidak terkendali lainnya seperti dorongan berbelanja (oniomania), mutilasi diri, kebiasaan menggigit kuku, kecanduan internet dan sebagainya. Penyebab sebenarnya dari gangguan impulsif kontrol belum diketahui pasti. Beberapa kasus gangguan impulsif kontrol kelihatan sebagai efek dari kondisi pengobatan pada umumnya. Beberapa dewasa akhir dengan penyakit Parkinson menjadi penjudi kompulsif sebagai perkembangan penyakitnya. Pemikirannya bahwa perilaku berjudi ini sebagai akibat dari penggunaan obat-obatan, sebagaimana ini tidak memberi respon terhadap perlakuan standard untuk judi kompulsif tetapi hanya untuk mengubah pengobatan pasien.  Traumatic Brain Injury mungkin menghasilkan beberapa individu berkembang perilaku impulsif atau gangguan impulsif kontrol. Terutama sekali ketika terjadi kerusakan pada daerah korteks frontal (lebih lanjut, baca Jentsch & Taylor, 1999).

Penyalahgunaan zat kimia, tampaknya umum diasosiasikan dengan impulsivitas. Meskipun demikian, peneliti telah mengobservasi bahwa individu yang menyalahgunakan berbagai macam zat kimia lebih menunjukkan perilaku impulsif dibandingkan yang menyalahgunakan satu macam zat kimia. Beberapa gangguan mental utama sering diasosiasikan dengan impulsivitas ketika individu dalam keadaan psikosis. Ini berkaitan dengan gangguan bipolar dimana perilaku impulsif paling banyak dihubungkan dengan tahap manik. Gangguan impuls kontrol sering tampak dalam sejumlah jenis gangguan kepribadian, terutama borderline, anti-sosial, narsistik, dan histrionik. Diagnosis pada beberapa gangguan impulsif kontrol hanya dapat dibuat setelah pengobatan dan gangguan psikiatri yang bisa menyebabkan simtom yang sama telah diputuskan. Intermitten explosive disorder meliputi tindakan penyerangan keras atau bersifat perusak. Kleptomania menyangkut pencurian benda-benda yang tidak dibutuhkan dan tidak menghasilkan uang. Piromania ditandai dengan tindakan yang secara sengaja membakar sesuatu lebih dari sekali. Judi patologis adalah gangguan berjudi yang terus berlangsung dan berulang-ulang meskipun kalah dan adanya ketidakcukupan keuangan. Tipikal gangguan ini dimulai pada masa muda, dan individu sering merasa kompetitif, mudah bosan, gelisah, dan dermawan. Trikotilomania adalah gangguan yang ditandai oleh kerontokan rambut kepala yang berulang-ulang. Kombinasi dari konseling psikologis dan pengobatan adalah perlakuan yang lebih baik bagi penderita gangguan impulsif kontrol. Anak-anak penderita trikotilomania sering ditolong dengan pengobatan antidepresi. Pada kasus gangguan ekplosif, pengelolaan kemarahan dan pengobatan  bisa digunakan dalam kasus agresi yang ekstrim. Gangguan biasanya dapat dikontrol dengan penggunaan obat, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama dan berkesinambungan untuk membantu mencegah ledakan agresivitas berikutnya. Konseling jangka panjang adalah hal yang biasanya dibutuhkan. Dukungan kelompok dan pertemuan-pertemuan juga mampu menolong individu penderita gangguan ini. Prognosis untuk Intermitten explosive disorder, Kleptomania dan Piromania cukup wajar. Sedikit yang diketahui tentang prognosis untuk trikotilomania, dan studi menunjukkan bahwa kondisi dapat hilang untuk waktu yang lama (bulan hingga tahun) tanpa konseling psikologi. Untuk judi patologis, prognosis sangat bervariasi dari orang satu ke orang yang lain. Secara alami, beberapa gangguan impuls kontrol dapat menghasilkan perilaku kriminal dan ilegal.

 

SELESAI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s