Contoh Penyusunan Skala Psikologi: Efikasi Diri


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Dalam beberapa hal kehidupan manusia hidup dengan kekurangan-kekurangan tertentu, baik itu yang sifatnya diperoleh dari lingkungan aataupun yang dibawa sejak tahun awal kelahirannya. Individu pada dasarnya dilahirkan dengan berjuta masalah, dimana masalah terbesar yang dihadapinya adalah hidup di dunia yang merupakan sarang kehidupan. Eksistensi manusia yang penuh penderitaan ini mengisyaratkan hal bahwa manusia harus berupaya mengaktualisasikan dirinya dalam rangka mengkompensasikan kelemahan-kelemahannya tersebut.

Jika dihadapkan dengan masalah penyakit mungkin sebagian besar dari kita akan menganggap agar hal itu tidak terjadi pada dirinya, karena hal penyakit bisa membuat kita terkekang dan tak berdaya. Lalu, bagaimana sebagian dari manusia yang kurang beruntung? Yang dalam hal ini mengidap penyakit yang mungkin tidak dapat tersembuhkan lagi atau belum dapat tersembuhkan? Tentunya respons individu akan berbeda-beda dalam hal menanggapi masalah ini. Idealnya pendapat mengatakan jika hal itu terjadi tentunya dunia serasa telah di telapak kaki, tinggal menunggu waktu saja.

Satu hal yang dapat anda percayai menurut Rene Descartes adalah kepastian kesadaran itu bersumberdari diri anda sendiri, sebab setiap kali anda bekata pada diri anda bahwa anda sedang berpikir, maka anda benar sekalipun pancindera anda sedang menipu anda. Jadi jika anda berpikir hidup anda menyedihkan, maka itulah realitas anda. Ini berkaitan dengan konsep efikasi diri yaitu kepercayaan pada kemampuan diri dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam rangka pencapaian hasil usaha. Jadi efikasi diri ini bisa mempengaruhi segi-segi vital kehidupan dalam berkarya dan beraktivitas sehari-hari.

  1. Tujuan

Adapun tujuan dari pengukuran ini adalah untuk mengetahui bagaimana dinamika efikasi diri seorang yang mengalami gangguan kronis atau menahun. Pembatatasan usia yang menjadi tolak ukur pengukuran adalah remaja hingga dewasa akhir.

  1. Manfaat

Manfaat dari penulisan ini dapat dikonstruksikan dalam beberapa kriteria utama yaitu antara lain sebagai berikut :

  1. Memberikan paparan dinamika efikasi diri pada penderita gangguan kronis, sehingga memperkaya khasanah ilmu pengetahuan psikologis.

  2. Mampu memberikan masukan teoretis berkaitan dengan konstruk efikasi diri pada penderita gangguan kronis.

  3. Mengembangkan model pengukuran psikologis yang terstandarisasi.

BAB II

LANDASAN TEORETIS

  1. Efikasi Diri

Beberapa pakar psikologi seperti Adler mengatakan bahwa gangguan kronis yang dialami diri seseorang bisa menjadi salah satu sumber munculnya perasaan inferioritas diri bahkan kompleksnya, karena gangguan kronis diasumsikan secara subjektif sebagai kelemahan diri. Respons individu terhadap gangguan yang dihadapinya oleh Adler akan melahirkan kompensasi atas kelemahan tersebut. Indvidu dapat secara optimal merasa baik atau buruk atas responsnya itu tergantung dari mekanisme ego yang bekerja (Freud melalui Hall, 2003).

Bandura pernah berasumsi bahwa perasaan lemah atas bagian-bagian tertentu secara fisik maupun psikis, bisa berpengaruh pada self-regulation dan self-efficacy seseorang. Efikasi diri merupakan keyakinan atas kemampuan dirinya. Efikasi ini dibentuk dari penilaian pribadi atas kondisi dirinya dengan mengadopsi pemikiran-pemikiran lingkungan sosialnya tentunya.

Freud (melalui Nevid, dkk, 2003) pernah mengilustrasikan bahwa ide-ide pembangkit anxietas yang muncul dalam kesadaran dan tidak dapat diterima oleh ego atas pertimbangan realitas dapat menyebabkan perilaku neurotik seseorang berkembang. Adanya ego defense mechanism dalam diri individu mendorong ego untuk mempertahankan eksistensinya melawan simtom-simtom pembangkit anxietas atau kecemasan, dimana ide-ide tersebut ditekan dan dipendam ke alam ketidaksadaran manusia. Secara struktural, ego seseorang masing-masing memiliki ambang toleransi terhadap mekanisme pertahanan diri, sehingga ide-ide pembangkit anxietas (kecemasan) yang berlebihan terhadap ambang toleransi ego akan bergerak keperilaku overt, karena ketidakmampuan ego untuk menekan semuanya keketidaksadaran melalui fungsi defense yang dimiliki ego.

Pada hakikatnya hidup manusia itu penuh dengan berbagai masalah yang menuntut perhatian manusiawi individu dalam kehidupan. Kierkegaard menambahkan bahwa pengalaman subjektif manusia merupakan sumasi dari pemikiran positif dan pemikiran negatif, dimana keduanya ini secara bersama-sama membentuk efikasi diri seseorang sebagai individu. Hal ini dijelaskan Kierkegaard karena pemikiran subjektif memikirkan kehampaan yang meresapi keberadaannya (esistensinya). Kierkegaard menjelaskan juga bahwa kesadaran merupakan penyebab munculnya masalah-masalah pribadi diri.

Sejalan dengan konsep Rene Descartes (1596-1650) yang mengatakan “de omnibus dubitandum est” (segala sesuatu harus diragu-ragukan). Descartes juga mengatakan bahwa “Dengan berpikir, maka aku ada” yang menjadi landasan bagi Kierkegaard dalam menguraikan tentang kesadaran. Kierkegaard berasumsi bahwa kita tidak dapat mempercayai pikiran sehat atau cara biasa kita berpikir tentang dunia, sebab mustahillah untuk membuktikannya secara pasti pada saat khusus manapun bahwa kita tidak bermimpi meskipun dalam keadaan jaga sekalipun.

Satu hal yang dapat anda percayai menurut Rene Descartes adalah kepastian kesadaran anda sendiri, sebab setiap kali anda bekata pada diri anda bahwa anda sedang berpikir, maka anda benar sekalipun pancindera anda sedang menipu anda. Kierkegaard juga mengatakan bahwa kesadaran mempersatukan pasangan-pasangan kontradiksi. Dalam kesadaran, apa yang ada (aktualitas) dihadapkan pada apa yang tidak ada (kemungkinan).

Berpikir itu merupakan pintu tunggal menuju ke alam kesadaran. Pintu yang dapat terbuka suatu kali dan dapat tertutup suatu ketika, sehingga mengurung diri dalam kehampaan. Inilah alasan mengapa Kierkegaard mengatakan bahwa kesadaran menjadi penyebab adanya ketegangan atau masalah dalam diri psikis pada individu. Pada saat diri dihadapkan dengan masalah tertentu, misalnya pada penderita gangguan kronis, maka kontradiksi-kontradiksi tertentu terjadi.

Kesadaran mempersatukannya dengan kontradiksi pertentangannya, sehingga menimbulkan rasa kecemasan, ketakutan, pasrah, putus asa. Kesadaran kemudian mengeksternalkannya pada realita perilaku, sehingga muncul simtom tertentu yang menunjukkan gejala penderitaan. Kesadaran inilah yang seharusnya diubah. Dengan mengubah perspektif kesadaran, maka realita eksistensialis penderitaan itu tidak seharusnya dirasakan meskipun terjadi riil.

Asumsi di atas dapat menjelaskan bahwa bagi penderita gangguan kronis, faktor gangguan tersebut menjadi beban yang cukup berat. Beban ini secara spekulatif tetapi pasti mempengaruhi perkembangan individu, termasuk dalam efikasi dirnya. Pemaknaan terhadap dirinya yang memiliki gangguan sebagai inferior factor adalah buah hasil kesadaran yang normal terjadi pada manusia.

Permasalahan ini semakin kompleks ketika individu berada pada masa perkembangan dewasa awal, dimana terdapat tuntutan yang besar secara intern maupun eksternal atas pengambilan tanggung jawab pribadi dan kemandirian personal. Kesemuanya ini mempengaruhi perkembangan dan pembentukan efikasi diri. Arah perkembangan efikasi ini bisa positif maupun negatif pada penderita gangguan kronis, tergantung dari multifaktor dalam kehidupan individu yang bersangkutan.

Bandura (1997, hal 3) mendefinisikan efikasi diri sebagai kepercayaan pada kemampuan diri dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam rangka pencapaian hasil usaha. Efikasi diri menurut Bandura akan mempengaruhi segala rangkaian tindakan yang dilaksanakan individu, sebarapa lama individu akan kuat dan gigih dalam menghadapi masalah-masalahnya, kegagalan upaya, keuletan di dalam kesengsaraan hidupnya, jumlah stress dan depresi yang dialami dalam menghadapi tuntutan sosial dari lingkungannya yang bersifat menekan, dan tingkat prestasi yang diperoleh.

Di sisi lainnya Baron dan Byrne (1997, hal 183) memaparkan bahwa efikasi diri sebagai evaluasi diri terhadap kemampuan dan kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan, mencapai suatu tujuan dan dalam menghadapi kendala yang terjadi. Sejalan dengan itu, Corsini (1994, hal 368) menyebutkan efikasi diri sebagai pernyataan subjektif berupa keyakinan individu akan kemampuan dirinya dalam mengontrol perilaku dan tuntutan sosial lingkungan, sehingga memperoleh hasil yang maksimal bagi dirinya. Jelasnya, Corsini menyebut adanya aspek keyakinan dalam mengontrol lingkungan dan perilakunya bagi individu yang bersangkutan.

Efikasi diri beragam dalam tiap-tiap situasi, individu dapat memiliki efikasi diri yang relatif tinggi dalam satu situasi, tetapi tidak pada situasi lainnya, misalnya. Hal ini tergantung dari kompetensi dirinya bagi aktivitas yang berbeda-beda dalam tuntutan, tingkat persaingan diantara individu, predisposisi pribadi dalam menghadapi kegagalan, dan kondisi fisiologis berkaitan juga dengan kesehatan diri secara fisikal mapun psikis.

Di sisi lainnya, efikasi juga dipengaruhi oleh penilaian pribadi tentang hal kemampuan dirinya tersebut. Penilaian yang salah atau keliru terhadap kemampuan diri akan berdampak signifikan terhadap efikasi diri orang tersebut. Penilaian diri yang tepat akan mendorong individu untuk melakukan suatu tugas atau tantangan dengan realistis dan memberikannya motivasi internal untuk pengembangan diri dalam mencapai proses aktualisasi diri yang sehat (Maslow, melalui Hall, 1993).

Berkaitan dengan fungsi efikasi diri yang lainnya, Bandura (1986, hal 393-395) mengungkapkan fungsi efikasi diri sebagai penentu aktif tindakan atau perilaku yang harus dipilih, menentukan besarnya usaha yang harus dilakukan, serta mempengaruhi pola pikir dan reaksi emosi yang harus dilakukan individu.

Secara esensial efikasi diri memiliki dua pengertian penting, yaitu :

  1. Efikasi diri atau efikasi ekspektasi (self effication – efficacy expectation) adalah Persepsi diri sendiri mengenai seberapa bagus diri dapat berfungsi dalam situasi tertentu.Efikasi diri berhubungan  dengan keyakinan bahwa diri memiliki kemampuan melakukan tindakan yang diharapkan; dan

  2. Ekspektasi hasil (outcome expectation) atau perkiraan atau estimasi diri bahwa tingkah laku yang dilakukan diri itu akan mencapai hasil tertentu.

Efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Efikasi ini berbeda dengan aspirasi (cita-cita), karena cita-cita menggambarkan sesuatu yang ideal yang seharusnya (dapat dicapai), sedang efikasi menggambarkan penilaian kemampuan diri.Perubahan tingkah laku dalam sistem Bandura kuncinya adalah perubahan ekspektasi efikasi (efikasi diri). Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan, atau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi empat sumber yakni :

  1. Pengalaman menguasai sesuatu prestasi (performance accomplishment),

  2. Pengalaman Vikarius (vicarious experience),

  3. Persuasi Sosial (Social Persuation) dan

  4. Pembangkitan Emosi (Emotional/ Psysilogical states).

Berikut ini adalah strategi pengubahan sumber efikasi diri :

Sumber

Cara Induksi

Pengalaman Performasi

Participant Modelling

Meniru model yang berprestasi

Performance desensilization

Menghilangkan pengaruh buruk prestasi masa lalu

Performance Exposure

Menonjolkan keberhasilan yang pernah diraih

Self-instructed performance

Melatih diri untuk melakukan yang terbaik

Pengalaman Vikarius

Live Modelling

Mengamati Model yang nyata

Symbolic Modelling

Mengamati model simbolik, film, komik, cerita

Persuasi Verbal

Sugestion

Mempengaruhi dengan kata-kata berdasar kepercayaan

Exhortation

Nasihat, peringatan yang mendesak/memaksa

Self-instruction

Memerintah diri sendiri

Intrepretive Treatment

Interpretasi baru memperbaiki interpretasi lama yang salah

Pembangkitan Emosi

Attribution

Mengubah atribusi, penanggungjawab suatu kejadian emosional

Relaxation biofeedback

Relaksasi

Symbolic desensilization

Menghilangkan sikap emosional dengan modeling simbolik

Symbolic Exposure

Memunculkan emosi secara simbolik

Efikasi yang tinggi atau rendah, dikombinasikan dengan lingkungan yang responsif atau tidak responsif akan menghasilkan empat kemungkinan prediksi tingkah laku, yaitu : 

Efikasi

Lingkungan

Prediksi hasil tingkah laku

Tinggi

Responsif

Sukses, melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuannya

Rendah

Tidak Responsif

Depresi, melihat orang lain sukses pada tugas yang dianggapnya sulit

Tinggi

Tidak Responsif

Berusaha keras mengubah lingkungan menjadi responsif, melakukan protes, aktivitas sosial, bahkan memaksakan perubahan

Rendah

Responsif

Orang menjadi apatis, pasrah, merasa tidak mampu

Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil. Menurut Bandura (1994), individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak merasa ragu, karena ia memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. Individu ini menurut Bandura (1994) akan cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang ia alami.

BAB III

PERENCANAAN SKALA

  1. Nama Skala

Skala ini berjudul Skala Efikasi Diri Pada Penderita Gangguan Kronis.

  1. Konseptualisasi

Berdasarkan uarian pada subbab di atas, dapat dikonsepkan bahwa efikasi diri merupakan keyakinan seseorang pada kemampuan dan kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan, mencapai suatu tujuan, dan dalam menghadapi kendala yang terjadi, serta dalam dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam rangka pencapaian hasil usaha.

  1. Definisi Nominal

Adapun berdasarkan konseptualisasi di atas, terdapat beberapa aspek utama dari efikasi diri, yaitu :

  1. Aspek Keyakinan Diri

Keyakinan Diri merupakan kemampuan untuk menilai diri sendiri secara positif dalam hal potensi yang dimiliki untuk melakukan suatu tugas, kendala, atau tauntutan sosial.

  1. Aspek Afeksi

Afeksi merupakan kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan isyarat atau gejolak mental, termasuk perasaan, emosi, maupun suasana hati.

  1. Aspek Motivasional

Motivasional merupakan keinginan untuk melakukan suatu tugas, kendala, mapun tuntutan sosial dalam rangka pencapaian hasil yang maksimal.

  1. Aspek Seleksi

Seleksi adalah kemampuan untuk memilah situasi sosial yang dihadapi dan menyesuaikan diri dengan situasi tersebut secara tepat.

  1. Definisi Operasional

Adapun indikator perilaku pada setiap aspek efikasi diri adalah sebagai berikut :

  1. Aspek Keyakinan Diri

Indikator Perilaku :

  1. Merasa mampu untuk melakukan tugas yang diemban dengan baik

  2. Menganggap penyakit yang dideritanya adalah cobaan yang bisa ia lalui

  3. Merasa mampu menghadapi kendala yang terjadi dengan baik

  4. Memiliki keyakinan bahwa ia mampu meraih hasil yang ia harapkan dari sesuatu yang ia kerjakan

  1. Aspek Afeksi

Indikator Perilaku :

  1. Menghindari mengatakan dan memikirkan hal-hal yang bermotif kematian

  2. Merasa tidak ada gunanya meratapi nasib hidup yang hanya akan membuat sedih

  1. Aspek Motivasional

Indikator Perilaku :

  1. Lebih menonjolkan kisah-kisah keberhasilan dirinya ketimbang kegagalan

  2. Mampu melihat gambaran sisi kehidupan secara positive thinking

  3. Menganggap penyakit yang dihadapinya justru menjadi motivasinya untuk lebih maju

  1. Aspek Seleksi

Indikator Perilaku :

  1. Tenang dalam menghaadapi tugas, cobaan hdiup yang dirasakan cukup berat

  2. Jika menghadapi tugas yang sulit cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan.

 

  1. Subjek

Subjek yang memenuhi kriteria kawasan ukur skala ini adalah penderita gangguan kronis atau menahun. Jenis gangguan atau penyakit kronis tidak dibatasi. Rentang usia yang memenuhi kriteria ukur adalah usia remaja (11 tahun) hingga dewasa akhir. Dengan asumsi baru pada usia remaja itulah pemikiran-pemikiran operasinal formal berkembang dengan baik, sehingga seseorang mampu melakukan self-introspection dengan efektif. Berkaitan dengan jenis kelamin, tidak dipertimbangkan dalam pemilihan sampel.

  1. Tujuan Pengukuran

Tujuan pengukuran dalam hal ini adalah untuk mengetahui bagaimana dinamika efikasi diri pada pednerita gangguan kronis atau menahun pada usia remaaja hingga dewasa awal.

  1. Waktu

Lama pengisian skala adalah 15 detik untuk setiap item pada skala tersebut. Total waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh item pada skala yaitu kurang lebih 25 menit. Penyebaran skala dilakukan selama satu minggu yaitu pada tanggal 1 Januari 2009 hingga 7 Januari 2009.

  1. Blue Print

Aspek

Indikator Perilaku

F

UF

Frek

%

Keyakinan Diri merupakan kemampuan untuk menilai diri sendiri secara positif dalam hal potensi yang dimiliki untuk melakukan suatu tugas, kendala, atau tauntutan sosial.

  1. Merasa mampu untuk melakukan tugas yang diemban dengan baik

  2. Menganggap penyakit yang dideritanya adalah cobaan yang bisa ia lalui

  3. Merasa mampu menghadapi kendala yang terjadi dengan baik

  4. Memiliki keyakinan bahwa ia mampu meraih hasil yang ia harapkan dari sesuatu yang ia kerjakan

5

5

5

5

5

5

5

5

40

40

Afeksi merupakan kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan isyarat atau gejolak mental, termasuk perasaan, emosi, maupun suasana hati.

  1. Menghindari mengatakan dan memikirkan hal-hal yang bermotif kematian

  2. Merasa tidak ada gunanya meratapi nasib hidup yang hanya akan membuat sedih

4

3

5

3

15

15

Aspek Motivasional merupakan keinginan untuk melakukan suatu tugas, kendala, mapun tuntutan sosial dalam rangka pencapaian hasil yang maksimal.

  1. Lebih menonjolkan kisah-kisah keberhasilan dirinya ketimbang kegagalan

  2. Mampu melihat gambaran sisi kehidupan secara positive thinking

  3. Menganggap penyakit yang dihadapinya justru menjadi motivasinya untuk lebih maju

4

4

7

4

3

8

30

30

Aspek Seleksi adalah kemampuan untuk memilah situasi sosial yang dihadapi dan menyesuaikan diri dengan situasi tersebut secara tepat.

  1. Tenang dalam menghaadapi tugas, cobaan hdiup yang dirasakan cukup berat

  2. Jika menghadapi tugas yang sulit cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan

3

5

3

4

15

15

Total Item Soal =

50

50

100

100

Rekaan Teoritik

Komponen

Indikator

Butir Pertanyaan

FAVOURABLE

UNFAVOURABLE

Efikasi Diri merupakan keyakinan seseorang pada kemampuan dan kompetensi dirinya untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan, mencapai suatu tujuan, dan dalam menghadapi kendala yang terjadi, serta dalam dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan dalam rangka pencapaian hasil usaha. Keyakinan Diri

Merasa mampu untuk melakukan tugas yang diemban dengan baik

Saya sanggup menyelesaikan pekerjaan sesuai harapan saya

Saya mengalami kesusahan dalam menyelsaikan pekerjaan sesuai harapan saya

Tugas yang diberikan kepada saya dapat saya selesaikan dengan baik

Tugas yang diberikan kepada saya mustahil saya selesaikan dengan baik

Menganggap penyakit yang dideritanya adalah cobaan yang bisa ia lalui

Penyakit yang saya derita hanyalah sebagian kecil dari cobaan hidup

Penyakit yang saya derita adalah jalan hidup yang terasa berat bagi saya

Saya mampu menghadapi dengan tegar hidup saya sekalipun penyakit yang saya derita cukup terasa membebani saya

Saya merasa rapuh menjalani kehidupan saya dengan penyakit yang saya derita ini

Merasa mampu menghadapi kendala yang terjadi dengan baik

Saya mampu menghadapi beban hidup saya dengan baik

Saya seringkali sukar menghadapi beban hidup saya dengan baik

Bagi saya, saya mampu menjalani hidup yang penuh rintangan

Sukar bagi saya dalam menjalani hidup yang penuh rintangan

Memiliki keyakinan bahwa ia mampu meraih hasil yang ia harapkan dari sesuatu yang ia kerjakan

Saya yakin apa yang saya kerjakan akan membawa selalu keuntungan bagi saya

Saya sering ragu apakah sesuatu yang saya kerjakan membawa selalu keuntungan bagi saya

Saya percaya sesuatu yang saya kerjakan akan sesuai dengan apa yang saya harapkan

Seringkali saya ragu apakah sesuatu yang saya kerjakan akan sesuai dengan harapan saya

Afeksi

Menghindari mengatakan dan memikirkan hal-hal yang bermotif kematian

Saya lebih suka memikirkan apa yang dapat saya kerjakan dalam hidup saya

Saya benci memikirkan apa yang dapat saya kerjakan dalam hidup saya

Saya sebisa mungkin menghindari perkataan yang bermotif kematian

Saya lebih suka mengatakan hal-hal yang bermotif kematian

Merasa tidak ada gunanya meratapi nasib hidup yang hanya akan membuat sedih

Bagi saya meratapi nasib hidup adalah hal yang sia-sia

Saya suka meratapi nasib hidup saya yang terkadang bisa membuat saya sedih

Saya merasa meratapi kesedihan hidup adalah hal yang membuang waktu saja

Bagi saya meratapi kesedihan hidup memang perlu

Aspek Motivasional

Lebih menonjolkan kisah-kisah keberhasilan dirinya ketimbang kegagalan

Saya lebih suka menceritakan kisah keberhasilan dalam hidup saya

Saya benci menceritakan kisah keberhasilan dalam hidup saya

Saya merasa lebih banyak keberhasilan yang saya dapatkan dalam hidup ketimbang kegagalan

Saya merasa lebih banyak kegagalan yang saya dapatkan dalam hidup ketimbang keberhasilan

Mampu melihat gambaran sisi kehidupan secara positive thinking

Saya melihat kehidupan saya lebih berarti

Saya melihat kehidupan yang saya jalani sia-sia saja

Saya lebih suka berpikir postif dalam menjalani hidup

Saya benci berpikir postif dalam menjalani hdiup

Menganggap penyakit yang dihadapinya justru menjadi motivasinya untuk lebih maju

Penyakit yang saya derita adalah suatu motivasi tersendiri bagi saya untuk lebih maju

Penyakit yang saya derita adalah suatu hambatan hidup tersendiri bagi saya untuk lebih maju

Dalam keadaan saya ini, saya lebih tertantang untuk sukses

Dengan keadaan saya ini, saya pasrah dengan nasib saya

Aspek Seleksi

Tenang dalam menghaadapi tugas, cobaan hdiup yang dirasakan cukup berat

Saya lebih tenang dalam menghadapi tugas yang saya rasa cukup berat

Saya gelisah dalam menghadapi tugas yang saya rasa cukup berat

Saya cukup tenang menghadapi cobaan hidup

Saya resah menghadapi cobaan hidup

Jika menghadapi tugas yang sulit cenderung memikirkan cara-cara untuk meraih kesuksesan.

Ketika menghadapi tugas, saya lebih memikirkan cara untuk menyelesaikannya

Ketika menghadapi tugas, saya sering memikirkan hambatan-hambatan dalam menyelesaikannya

Dalam menghadapi tugas, saya cenderung memikirkan peluang kesuksesan saya

Dalam menghadapi tugas, saya cenderung memikirkan kekurangan yang saya miliki

Referensi Acuan

Erikson, E. H. 1968. Identity: Youth and Crisis. New York : Norton

Kroger, J. 1993. Ego Identity : An Overview In J. Kroger (Ed) : Discussion on Ego Identity. Hillsdale, NJ : Elbaum

Mönks, F. J, Knoers, A. M. P. & Haditono, S. R. 2001. Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Santrock, J. W. 1995. Life Span Development – Perkembangan Masa Hidup, Alihbahasa Ahmad Chusairi, Jakarta : Erlangga

———-. Relationship : Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 77. No. 5, 942-966

Hall, Calvis S; Gardner Lindzey. 1993. Teori-teori Sifat dan Behavioristik. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian – Edisi Revisi. Malang : UMM Press

Davindoff. Linda L. 1981. Psikologi Suatu Pengantar. Jakarta : Erlangga

Abidin, Zainal. 2002. Analisis Eksistensial Untuk Psikologi dan Psikiatri. Bandung : Refika

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://www.indopos.co.id/index .php?act=cetak&id=28. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pem bicaraan:Resiliensi&action=edit. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://one.indoskripsi.com/. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://adianfuadi.wordpress.com/2008/04/23/super ioritas-dan-inferioritas/#comments. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

___. 2008. Diadaptasikan Dari Situs Online : http://smartpsikologi.blogspot.com/. Diadaptasi Pada Tanggal : 31 Oktober 2008

 Download versi MS Word: http://upload.ugm.ac.id/210Skala Individual Menjelang AjaL.docx

About these ads

5 thoughts on “Contoh Penyusunan Skala Psikologi: Efikasi Diri

  1. Assalamu’alaikum, Senang sekali bisa berjumpa dengan blog ini, kalau boleh saya minta alamat email atau yang lainnya yang sekiranya bisa dihubungi
    Saya anak psikologi, salam kenal!

    • Jika ingin mengontak saya, bisa mengirimkan email terlebih dahulu yang berisi nama asli dan nomor handphone. saya akan membalas segera. terima kasih. salam kenal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s