Tes-Tes Berbasis Psikologi


Sejarah Asesmen Psikodiagnostika

Sejarah tes psikologi dapat dihubungkan dengan praktek sehari-hari. Tes psikologi selalu berkembang. Tes psikologi pada awalnya berfokus pada pengukuran intelegensi di Eropa selama abad ke-19 dan di awal perang dunia pertama. Sebenarnya tes-tes berbasis psikologis ini telah digunakan di Cina sekitar tahun 2200 sebelum masehi. Kerajaan Cina menggunakan tes tertulis untuk memilih para pejabat negara. Hingga pada pertengahan tahun 1800an, beberapa fisikawan dan psikiatris mengembangkan prosedur standar untuk mengungkap gejala alam dan gejala-gejala sakit mental serta kerusakan pada otak.

Awal dari penyusunan tes psikologis secara sistematis diawali dari Teori Darwin dengan Teori Evolusinya pada tahun 1860. Kecerdasan setiap spesies makhluk hidup berbeda-beda dan semua makhluk berevolusi mulai dari taraf makhluk yang paling rendah hingga ke taraf makhluk yang sempurna. Hal ini berlaku pula pada manusia. Ini yang mengakibatkan beberapa orang meyakini bahwa manusia memiliki strata kemampuan berkaitan dengan akalnya. Tahun 1900, Alfred Binnet, Psikolog dari Prancis yang tertarik pada anak dan pendidikan. Bersama dengan temannya, Theodore Simon diminta oleh Menteri Pendidikan untuk dapat memprediksi kondisi anak mana yang menanggung resiko mengalami kegagalan dalam sekolah mereka. Berdasakan pengalaman mereka, mereka membuat pertanyaan-pertanyaan yang diklaim dapat menentukan tingkat keberhasilan anak dalam belajar. Tes yang dibuat sangat kental dengan kemampuan-kemampuan sekolah yang menekankan pada kemampuan-kemampuan sekolah. Hingga muncul tes psikologi Binnet-Simon dan diikuti oleh tes-tes psikologi lainnya. Tes psikologi yang semula hanya mengukur kemampuan akademis seseorang mulai diyakini bahwa bila seseorang meraih nilai yang tinggi dari tes tersebut maka akan berdampak bahwa orang tersebut akan berhasil di masa depan, sebaliknya bila seseorang meraih nilai yang rendah dari tes tersebut, maka orang tersebut dipastikan akan gagal di masa depan. Ini merupakan asumsi yang keliru.

Asesmen psikologi memiliki rentang cakupan yang luas. Dalam asesmen, Psikolog mengintegrasi informasi dari berbagai sumber, salah satunya tes psikologi. Tes psikologi merupakan instrumen penting dalam proses asesmen. Awalnya fungsi tes psikologi adalah untuk mengukur perbedaan-perbedaan antara individu atau antara reaksi individu yang sama dalam situasi yang berbeda. Namun, dewasa ini tes psikologi digunakan untuk pemecahan permasalahan praktis yang berskala luas, baik di bidang pendidikan, klinis, maupun organisasi. Asesmen psikologi merupakan tahapan yang penting sebelum intervensi psikologis dapat dilakukan. Dengan melakukan asesmen psikologi, psikolog dapat memperoleh informasi mengenai individu.

Konsep Dasar Instrumen Asesmen

Tes pada dasarnya adalah alat ukur atribut psikologis yang objektif atas sampel perilaku tertentu. Bagi Anda sebagai pendidik, tes merupakan salah satu instrumen asesmen yang banyak digunakan untuk menggali informasi tentang sejauh mana tingkat penguasaan kompetensi siswa terhadap kompetensi yang dipersyaratkan. Tes pada dasarnya merupakan alat ukur pembelajaran yang paling banyak digunakan dalam melakukan asesmen proses dan hasil belajar siswa dalam pengajaran klasikal.

Terdapat lima jenis atau cara pembagian tes yaitu: a) Pembagian jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan, b) Jenis tes berdasarkan waktu penyelenggaraan, c) Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan, d) Pembagian jenis tes berdasarkan cara penyusunan, e) Pembagian jenis tes berdasarkan bentuk jawaban.

Jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan terdiri dari Tes Seleksi, Tes Penempatan, Tes Hasil Belajar, Tes Diagnostik, dan Tes Uji Coba. Sedangkan Jenis tes berdasarkan tahapan atau waktupenyelenggaraannya meliputi Tes Masuk (Entrance Test), Tes Formatif (Formative Test),Tes Sumatif (Summative Test), Pra-Testdan Post-Test. Secara umum, tes dapat dikerjakan secara tertulis dan secara lisan dalam bentuk tes essai maupun objektif.

FUNGSI, TARAF VALIDASI, DAN APLIKATIF TES-TES PSIKOLOGI

Secara mendasar, fungsi tes psikologi adalah untuk mengestimasi perbedaan antara individu serta reaksi-reaksi individu yang muncul pada situasi yang sama ataupun berbeda.

Awalnya tes psikologi berkembang dari asumsi untuk mengidentifikasi individu yang mengalami keterbelakangan mental, hingga sekarang penggunaannya secara klinis mencakup subjek-subjek dengan gangguan emosional yang parah maupun masalah-masalah perilaku yang lainnya. Salah satu motivasi perkembangan tes psikologi juga mendasar pada kebutuhan untuk memberikan penilaian dalam bidang pendidikan, misalnya Tes Inteligensi Binnet yang masih digunakan hingga sekarang. Selain itu, peranan lainnya adalah untuk menyeleksi dan klasifikasi sumber daya manusia yang digunakan dalam industri-industri dalam memilih karyawannya, dalam memilih personil militer, dan lain sebagainya.

Penggunaan tes psikologi dalam konseling perorangan mencakup dari aspek perencanaan pendidikan, pekerjaan, hingga pada semua aspek kehidupan yang lebih luas, misalnya kestabilan emosi, pola-pola hubungan interpersonal, pemahaman diri, pengembangan diri, hingga sarana untuk mencari solusi bagi beragam gangguan dan disfungsi psikologis seperti gangguan perilaku pada remaja, bahkan lebih luas lagi berguna dalam penelitian-penelitian dasar.

Suatu tes psikologi akan berbeda fungsinya dengan tes psikologi lainnya. Ini mengilustrasikan bahwa suatu tes psikologi disusun dengan sifat-sifat tes dan fungsi yang berbeda. Beberapa tes berfokus pada penilaian ciri-ciri atau kognitif yang berkisar mengestimasi kemampuan dan potensi pada individu hingga keterampilan sensorimotor yang spesifik.

Secara paktis, tes psikologi adalah alat ukur yang objektif dan dibakukan atas sampel perilaku tertentu. Dalam penyeleksian item-item soal tes juga dipertimbangkan dengan jumlah subjek yang menjadi sampel perilaku yang melewati tiap item soal tersebut. Hal ini memungkinkan ada sejumlah item tes akan dieliminasi. Mengenai seberapa besar keakuratan suatu alat tes psikologi nampaknya tidak dapat ditentukan secara pasti. Kadang-kadang dalam suatu situasi kehandalannya dapat teruji. Di sisi lainnya, pendapat-pendapat subjektif, dugaan-dugaan, dan bias-bias pribadi bias mengarah pada klaim-klaim berlebihan mengenai apa yang dicapai oleh tes tersebut. Evaluasi objektif tes-tes psikologi adalah suatu solusi untuk mengetahui validitas dan kehandalan alat tes dalam situasi-situasi khusus.

Langkah-langkah Menyusun tes

Penyusunan tes sangat besar pengaruhnya terhadap peserta yang akan mengikuti tes, untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran maka tes harus direncanakan secara cermat. Dalam perencanaan tes ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan tester yaitu :

1.Menentukan cakupan materi yang akan diukur. Ada tiga langkah dalam mengembangkan kisi-kisi tes dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dasar, yaitu (1) Menulis kompetensi dasar, (2) Menulis materi pokok, (3) Menentukan indikator, dan (4) Menentukan jumlah soal.

2. Memilih Bentuk Tes. Pemilihan bentuk tes akan dapat dilakukan dengan tepat bila didasarkan pada tujuan tes, jumlah peserta tes, waktu yang tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes, cakupan materi tes, dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan.

3. Menetapkan panjang Tes. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah soal, yaitu : bobot masing-masing bagian yang telah ditentukan dalam kisi-kisi, kehandalan yang diinginkan, dan waktu yang tersedia.

Kriteria Tes Yang Baik

Ada beberapa kriteria yang dapat dipakai untuk menyusun butir-butir tes yang berkualitas yaitu a) Valid, b) Relevan, c) Spesifik, d) Representatif, e) Seimbang, f) Sensitif , g) Fair, dan h) Praktis. Kualitas instrumen sebagai alat ukur ataupun alat pengumpul data diukur dari kemampuan alat ukur tersebut untuk dapat mengungkapkan dengan secermat mungkin fenomena-fenomena ataupun gejala yang diukur. Kualitas yang menunjuk pada tingkat keajegan, kemantapan, serta konsistensi dari data yang diperoleh itulah yang disebut dengan validitas dan reliabilitas.

Validitas alat ukur menunjukkan kualitas kesahihan suatu instrument, Alat pengumpul data dapat dikatakan valid atau sahih apabila alat ukur tersebut mampu mengukur apa yang seharusnya diukur/ diingikan. Jenis-jenis validitas yang dapat dipakai sebagai kriterium, dalam menetapkan tingkat kehandalan tes, diantaranya adalah : a) Validitas Permukaan (Face Validity), b) Validitas Konsep (Construct Validity), dan c)Validitas Isi (Content Validity).

Kerlinger (1986:443) mengemukakan bahwa reliabilitas dapat ukur dari tiga kriteria yaitu: (1) Stabilityyaitu kriteria yang menunjuk pada keajegan (konsistensi) hasil yang ditunjukan alat ukur dalam mengukur gejala yang sama pada waktu yang berbeda. (2) Dependability yaitu kriteria yang mendasarkan diri pada kemantapan alat ukur atau seberapa jauh alat ukur dapat diandalkan. (3) Predictability: Oleh karena perilaku merupakan proses yang saling berkait dan berkesinambungan, maka kriteria ini mengidealkan alat ukur yang dapat diramalkan hasilnya dan meramalkan hasil pada pengukuran gejala selanjutnya.

Cara mencari koefisien reliabilitas alat ukur, dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, dimana masing-masing cara mempunyai kekurangan dan keunggulan tersendiri. Berbagai pilihan tentang cara menetapkan tingkat reliabilitas alat ukur tersebut adalah : a) Teknik Pengulangan (Test and Re Test Reliability, b). Teknik Bentuk Paralel (Alternate Form Reliability), c) Teknik belah dua (Split Half reliability). Oleh karenanya, untuk mendapatkan gambaran koefisien secara keseluruhan, koefisien antar belahan tersebut masih perlu dikoreksi dengan formula berikut ini : N r x1 x2

Reliability = 1 + r x1 x1

Dimana :

x1adalah skor dari belahan satu,

x2 adalah skor dari belahan kedua, dan

n adalah banyaknya subjek pada setiap bagian (belahan).

d) Kuder Richardson Reliability. Cara ini diberlakukan bila instrumen digunakan untuk mengukur satu gejala psikologis atau perilaku yang sama, artinya alat ukur tersebut dapat dikatakan reliabel bila terbukti ada konsistensi jawaban antaritem yang satu dengan item yang lain. e) Cronbach Alpha Reliability. Cara ini juga dikembangkan untuk menguji konsistensi internal dari suatu alat ukur.Perbedaan pokok dengan Model Kuder Richardson adalah bahwa teknik ini tidak hanya untuk instrumen dengan dua pilihan tetapi tidak terikat pada dua pilihan saja, sehingga penerapannya lebih luas, misalnya untuk menguji reliabilitas skala pengukuran sikap dengan 3, 5 atau 7 pilihan.

Macam-Macam tes Psikologis

Berdasarkan aspek mental dan psikologis yang diungkap, maka secara garis besar tes psikologis dibagi menjadi dua macam berdasarkan sasaran yang hendak dicapai, yaitu:

1. Mengungkap aspek kognitif (intelegensi)

  1. Tes Binnet

  2. Tes Wechsler (Wechsler Adult Intelligence Scale, Wechsler Intelligence Scale for Children, Wechsler Preschool and Primary Scale for Intelligence)

  3. Tes Raven (Standard Progressive Matrices, Coloured Progressive Matrices, Advanced Progressive Matrices)

  4. TIKI (Tes Intelegensi Kolektif Indonesia)

2. Mengungkap aspek kepribadian

a. Teknik Non-Proyektif (Objektif)

  1. EPPS (Edwards Personal Preference Schedule)

  2. MMPI (Minessota Multiphasic Personality Inventory)

  3. 16 PF

  4. CAQ (Clinical Analysis Questionnaire)

b. Teknik Proyektif

  1. TAT (Thematic Apperception Test)

  2. Tes Grafis

  3. Tes Wartegg

  4. SSCT (Sack Sentence Completion Test)

  5. Tes Szhondi (sarana proyeksinya foto)

  6. Tes Rorschach (salah satu tes bercak tinta)

Tes Kepribadian Laporan diri

Tes kepribadian adalah instrumen untuk mengukur ciri-ciri emosi, motivasi, antarpribadi, dan sikap, yang dibedakan dari kemampuan. Dalam perkembangan tes kepribadian, berbagai pendekatan yang digunakan dewasa ini antara lain berdasarkan pada relevansi isi, pemasukan kriteria empiris, analisis faktor, dan teori kepribadian. Pendekatan tersebut saling melengkapi satu sama lain. Dalam pratek sesungguhnya, inventori saat ini menggunakan dua atau lebih prosedur laporan diri ini.

Beberapa prosedur pendekatan tes kepribadian antara lain adalah :

  1. Prosedur yang terkait dengan isi butir soal

Keuntungan : sederhana dan langsung, relatif ringkas, ekonomis, kemungkinan manipulasi hasil lebih rendah dibanding metode lain.

Kerugian : sulit diandalkan menjadi dasar dalam mengambil keputusan apapun karena efek bias dan subjektivitas yang sangat besar.

1). Lembar Data Pribadi Woodworth

- Dikembangkan untuk digunakan selama perang dunia I

- Dibuat sebagai upaya untuk membakukan wawancara psikiatris dan prosedur testing secara massal.

- Pertanyan inventori : perilaku menyimpang seperti phobia, obsesi kompulsi, mimpi buruk dan gangguan tidur lain, kelelahan yang berlebihan, simtom psikosomatis, perasaan tidak nyata, dan gangguan motorik yang tidak nyata.

2). Symptom Checklist-90-Revised

SCL-90-R dirancang untuk menyaring masalah sosial dan simtom psikopatologi.

Butir soalnya diorganisir dalam Sembilan dimensi psikopatologi, yaitu somatisasi, depresi, kecemasan, permusuhan, psikotisme, sensitivitas antar pribadi, kecemasan fobia, ideasi paranoid, dan gejala-gejala obsesif kompulsif.

  1. Pemasukan Kriteria Empiris

Pemasukan kriteria empiris merujuk pada pengembangan kunci scoring dalam kaitan dengan kriteria ekternal tertentu.

1) Minnesota Multiphasic Personality Inventories

Contoh terkenal tentang pemasukan kriteria empiris dalam penyusunan tes kepribadian adalah MMPI. MMPI adalah tes kepribadian yang paling luas digunakan dan paling dalam diteliti. Saat ini, MMPI telah direvisi dan disusun ulang menjadi dua versi yang berbeda, MMPI-2 (1989), dan MMPI-Adolescent (MMPI-A;1992). MMPI dihasilkan tahun 1930an oleh Starke R. Hathaway, seorang psikolog klinis dan J. Charnley McKinley, seorang neuropsikiater. MMPI pada awalnya diterbitkan sebagai rangkaian artikel pada tahun 1940an untuk berfungsi sebagai alat bantu dalam proses diagnosis psikiatris.

MMPI-2

Butir soal MMPI-2 terdiri dari 567 pertanyaan afirmatif yang ditanggapi peserta dengan jawaban “Benar” dan “Salah.” Butir soalnya mempunyai rentang yang sangat luas dalam isi, mencakup bidang-bidang seperti kesehatan umum; simtom afektif, neurologis, motorik, sikap, pertanyaan tentang pendidikan, pekerjaan, keluarga, dan pernikahan, dan berbagai macam manifestasi perilaku neurotis. Ilustrasi pertanyaannya antara lain :

  • Tidur saya gelisah dan terganggu

  • Saya percaya ada yang berkomplot terhadap saya

  • Saya cemas terhadap seks

MMPI-2 memberikan skor pada 10 skala klinis dasar :

1. Hs : Hipokondriasis 6. Pa : Paranoia

2. D : Depresi 7. Pt : Psikasthenia

3. Hy : Histeria 8. Sc : Schizophrenia

4. Pd : Penyimpangan Psikopatis 9. M : Mania

5. Mf : Maskulinitas-Femininitas 0. Si : Introversi Sosial

Segi yang menonjol dari MMPI adalah penggunaan tiga skala yang disebut skala-skala validitas. Skor validitas mencakup :

  1. Skor Bohong (L) : didasarkan pada sekelompok butir soal yang tampaknya dipahami dengan baik oleh responden tetapi tidak mungkin dijawab dengan benar dalam arah yang dikehendaki (missal : saya tidak suka setiap orang yang saya kenal).

  2. Skor Infrekuensi (F) : ditentukan dari seperangkat 60 soal yang dijawab dalam arah yang diskor tidak lebih daripada 10% kelompok standardisasi MMPI. Skor F bisa menunjukkan kesalahan pemberian skor, kurangnya perhatian dalam pemberian respon, atau kepura-puraan yang disengaja.

  3. Skor Koreksi (K) : skor K yang tinggi mengindikasikan sifat defensive atau usaha untuk “memalsukan yang baik.” Skor K rendah menunjukkan sikap terus terang yang berlebihan dan kritik diri atau usaha sengaja untuk “memalsukan yang buruk”.

Skor L dan F digunakan untuk evaluasi secara keseluruhan atas dokumen tes, jika salah satu skor tersebut melampaui nilai yang khusus, maka dokumen tersebut dianggap tidak valid. Skor K dirancang sebagai variabel penekan.

Diantara 21 skala suplementer MMPI-2, ada tiga indikator “validitas” baru yang dapat menaksir tingkat perhatian dan ketelitian para peserta tes, yaitu: skala Back F (Fb), Variable Response Inconsintency Scale (VRIN), dan True Response Inconsistency Scale (TRIN). Fb adalah perluasan skor F, sedangkan VRIN dan TRIN adalah skala baru yang terdiri dari pasangan butir soal dengan makna yang sama atau bertentangan dan bertujuan mendeteksi respon yang inkonsisten dan kotradiktoris.

MMPI-A

MMPI-A adalah bentuk baru MMPI yang dikembangkan secara spesifik untuk digunakan untuk digunakan pada remaja. MMPI A memuat hampir semua segi dari MMPI dan MMPI-2, menckup 13 skala dasar yang terdiri dari 478 butir soal. Soal-soal tersbeut mencakup bidang seperti sekolah dan keluarga, dan di atas segala-segalanya, persyaratan, norma kecocokan usia.

  1. Analisis faktor

Contohnya adalah Kuesioner 16 faktor kepribadian (16-PF)

  1. Teori kepribadian

Contohnya: Milloen Clinical Multiaxial Inventory, Edwards Personal Preference Schedule.

PROJECTIVE APPROACHES

        Dalam tes-tes kepribadian dengan pendekatan proyektif, klien berespon terhadap stimulus yang tidak terstruktur dan ambigu, sehingga tanpa sadar klien mengungkap struktur dasar dan dinamika kepribadiannya. Beberapa teknik proyektif yang terkenal dan digunakan secara luas antara lain tes Rorschach, Thematic Apperception Test (TAT), Children’s Apperception Test (CAT), tes Draw-A-Person (DAP), tes Make-A-Picture Story (MAPS), Michigan Picture Story Test, dan Sentence Completion Test.

  1. Thematic Apperception Test (Tat)

Dalam tes ini, klien diminta membuat cerita dari beberapa kartu bergambar yang disajikan satu persatu. Klien dapat menulis sendiri ceritanya atau examiner yang menulis cerita klien. Tugas klien adalah menceritakan apa yang sedang terjadi saat ini, sebelumnya (situasi apa yang menimbulkan peristiwa saat ini), bagaimana pikiran dan perasaan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita, dan bagaimana akhir dari cerita yang dibuat klien.

Cerita yang dibuat klien dianggap memiliki implikasi terhadap konflik ataupun masalah yang dialami klien. Interpretasi klinis yang dilakukan terfokus pada dimensi-dimensi seperti bagaimana tokoh-tokoh berinteraksi, tingkat kehangatan atau konflik dari interaksi tokoh-tokoh, impian atau cita-cita tokoh, harapan tokoh terhadap diri dan lingkungannya, dan level kematangan secara umum yang diindikasikan dari bentuk cerita. Tema-tema dari TAT dapat menggambarkan fungsi kepribadian secara luas dan bermanfaat dalam mengidentifikasi sumber utama konflik sehingga dapat ditentukan intervensi terapeutik yang sesuai. Cerita TAT pada dasarnya menggambarkan lingkungan seperti apa yang klien lihat di sekitar dirinya dan orang-orang seperti apa yang ia rasakan tinggal bersamanya di dunia ini.

Bentuk modifikasi dari TAT adalah CAT (Children’s Apperception Test) yang menyediakan gambar yang terfokus pada konflik, hubungan orangtua, permusuhan dengan saudara kandung, toilet training, dan situasi lain yang sering ditemui pada anak-anak.

Tes lain yang mirip dengan TAT dan CAT adalah Michigan Picture Story Test (MPST)terdiri dari material yang menggambarkananak-anak dalam hubungannya dengan orangtua, polisi, dan figur otoriter lainnya, juga teman-teman. Tes ini sangat bermanfaat dalam melihat struktur dari sikap anak-anak terhadap orang dewasa dan teman-teman, sekaligus mengevaluasi masalah yang mungkin timbul.

Selain itu, ada juga tes Make-A-Picture Story (MAPS), yang memiliki kesamaan dengan MPST dalam hal tujuan dan potensi interpretasi yang dimiliki. Perbedaan MAPS dengan tes lain yaitu, pada MAPS klien diperbolehkan memilih karakter yang akan diletakkan pada latar belakang panggung yang kecil, untuk kemudian klien membuat cerita berdasarkan situasi tersebut.

  1. Figure Drawing

Beberapa pendekatan dalam mengevaluasi kepribadian dengan menggunakan gambar yang dibuat klien telah berkembang. Dalam hal ini, kemampuan menggambar bukanlah faktor utama. Salah satu bentuk tesnya adalah Draw-A-Person (DAP), dimana klien diminta untuk menggambar seorang lelaki dan perempuan menggunakan pensil dan kertas. Gambar orang dapat memberikan kesan pertama dengan segera, seperti sikap bermusuhan atau agresif, atau orang yang pasif dan submisif. Interpretasi juga didasarkan pada ukuran gambar, posisi, postur, apakah gambar orang terlihat percaya diri, ramah, dan sebagainya. Sebaiknya, dalam menginterpretasi DAP juga dikaitkan dengan temuan-temuan dari tes-tes lain.

  1. Incomplete Sentence Test

Dalam metode proyektif ini, klien diberikan sejumlah kalimat yang belum selesai dan diminta untuk melengkapi kalimat sehingga menjadi kalimat yang memiliki arti. Kalimat-kalimat ini memiliki kecenderungan dalam aspek-aspek seperti preokupasi terhadap seksual, perasaan religius, hubungan dengan orang tua, teman, rasa takut, cemas, perasaan bersalah, sikap bermusuhan dan impuls agresi. Bentuk respon klien dapat memberikan insight ke dalam area konflik, termasuk juga kelebihan dan kekurangan dari kepribadian klien.

  1. Competency Screening Test

Psikolog terkadang dipanggil ke pengadilan untuk mengevaluasi status mental atau inteligensi seseorang untuk membantu pengadilan terkait dengan kasus orang tersebut. Untuk keperluan inilah Competency Screening Test dikembangkan. Tes ini dilakukan dengan cara melengkapi 22 kalimat, dimana setiap kalimat terkait dengan aspek peran terdakwa dalam pengadilan kriminal. Setiap item diskor 0, 1 atau 2 secara manual. Terdakwa yang mendapatkan skor 21 ke atas telah terbukti kompeten dalam pengadilan dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Tes ini membutuhkan waktu sekitar 15-20 menit.

  1. Rorschach Test

Metode proyektif yang paling dikenal dan digunakan secara luas dalam melihat kepribadian seseorang adalah tes Rorschach. Dalam tes ini, klien diperlihatkan sepuluh kartu dengan bentuk ambigu hasil dari cipratan tinta yang hampir simetris. Lima kartu berwarna hitam, putih dan abu-abu yang berbayang, sedangkan lima kartu lainnya memiliki warna. Kebanyakan ahli setuju bahwa tes Rorschach ini merupakan teknik psikodiagnostik yang signifikan dan sensitif. Tes ini mengevaluasi emosi-emosi yang dialami klien dalam hidupnya, tingkat intelektual dan membantu menjelaskan komponen-komponen kepribadian seseorang.

Ada tiga kategori penting dalam memberikan skor pada tes ini, yaitu lokasi yang menunjukkan pada bagian mana respon dilihat oleh klien dalam kartu, determinan yang menunjukkan bagaimana respon tersebut dilihat, dan konten yang menunjukkan apa yang dilihat klien dalam kartu.

Para psikolog ahli yang sudah berpengalaman dalam tes ini, menemukan bahwa respon yang diberikan klien, baik anak-anak maupun dewasa, mengindikasikan beberapa tipe dari gangguan kepribadian dengan karakteristik respon tertentu. Misalnya pada gangguan psikotik dan skizofrenia lainnya, ditemukan bahwa respon yang diberikan seringkali ganjil dan aneh, kualitas bentuk biasanya lemah, dan ada ketidaksesuaian antara yang dilihat klien dengan stimulus sebenarnya dalam kartu. Klien-klien ini biasanya memfokuskan seluruh perhatian mereka pada detail-detail sementara komponen-komponen utama diabaikan. Kadang-kadang mereka juga terlalu melibatkan emosi mereka pada kartu-kartu dan mempersonalisasikan persepsi mereka dalam cara tertentu, sehingga mereka tidak mampu membedakan antara diri mereka dan kartu Rorschach.

Dalam beberapa kasus diagnostik dimana terdapat gangguan psikologis seperti gangguan pikiran yang signifikan, penggunaan tes Rorschach sangat disarankan. Tidaklah sulit dalam mengadministrasi maupun menskor tes ini.Namun, dalam menginterpretasi dibutuhkan psikolog yang handal dan berpengalaman.

Pentingnya Pengembangan Asesmen Psikodiagnostik

Asesmen psikologi sedang berada dalam lajur perubahan yang cepat. terdapat pergeseran orientasi, aliran tetap yang konstan dari tes-tes baru, bentuk-bentuk tes lama yang direvisi, dan data tambahan yang bisa menghaluskan atau mengubah interpretasi skor-skor pada tes yang ada. Laju perkembangan yang semakin cepat ini mendorong dikembangkannya alat-alat psikodiagnostika yang telah ada, agar mutu tes dan efek testing terhadap kesejahteraan individu dapat menjadi lebih baik.

Teori Kecerdasan Berganda (Theory of Multiple Inteligences) adalah salah satu penemuan yang paling penting dalam perkembangan pendidikan saat ini. Howard Gardner, seorang psikolog dari Universitas Harvard yang mengembangkan teori ini berdasarkan dari Teori Psikologi Perkembangan dan Teori Kognisi. Dalam bukunya, Frame of Mind tahun 1983 mendefinisikan tujuh dasar kecerdasan manusia dan kemudian berkembang menjadi sembilan kecerdasan yang meruntuhkan Teori Psikologi Tradisional dengan tes IQ-nya. Pangkal dari teori kecerdasan berganda adalah pengakuan sepenuhnya pada perbedaan individu (individual deferences). Setiap orang memiliki kekhususan dalam mengembangkan kemampuannya. Gardner mengelompokkan kecerdasan tersebut dalam tujuh kecerdasan, yaitu :

  1. Kecerdasan Linguistik/Bahasa (Linguistic-intelligence)

Merupakan kecerdasan yang mewakili kemampuan bahasa secara keseluruhan.

  1. Kecerdasan Logika-Matematika (Logical-matematical Intelligence)
    Merupakan kemampuan mengenai logika-matematika di samping kemampuan ilmu pengetahuan.

  2. Kecerdasan Ruang (Spacial Intelligence)

Adalah kemampuan membentuk model mental dari dunia ruang dan mampu melakukan berbagai tindakan operasional menggunakan model itu.

  1. Kecerdasan Musik (Musical Intelligence)

  2. Kecerdasan Gerak Badan-Kinestetik (Body-kinesthetic Intelligence)

Adalah kemampuan menyelesaikan masalah menggunakan seluruh anggota badan atau sebagian badan.

  1. Kecerdasan AntarPribadi (Interapersonal Intelligence)

Adalah kemampuan untuk memahami orang lain mencakup apa yang memotivasi mereka, bagai mana mereka bekerja, serta bagaimana bekerja sama.

  1. Kecerdasan Intra-pribadi (Intrapersonal Intelligence)

Merupakan kemampuan yang mengarah ke dalam diri, yaitu kemampuan membentuk model yang akurat, dapat dipercaya dari diri sendiri dan mampu menggunakannya untuk berprestasi dalam hidup.

Dalam perkembangannya, jumlah aspek kecerdasan bertambah terus. Ada juga yang menambahkan Kreativitas Intuitif sebagai satu aspek kecerdasan manusia, yang paling tinggi. Malah belakangan, Gardner sendiri menambahkan satu lagi unsur kecerdasan yang disebutnya Kecerdasan Eksistensial yang lebih mirip dengan kecerdasan spiritual. Kedua kecerdasan ini belum terdefinisi secara spesifk, namun ada anggapan bahwa Gardner sedikit mengakui kecerdasan spiritual dalam kecerdasan eksistensialnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anastasi, Anne, Susana Urbina. 1997. Tes Psikologi : Psychological Testing 7th Edition : Edisi Bahasa Indonesia; Jilid 2. Jakarta : Prenhallindo

___.Inisiasi II Asesmen Pembeljaran SD (Mengembangkan Tes Sebagai Instrumen Asesmen). Dikutip Dari : http://fip.uny.ac.id/pjj/wp-content/uploads/2008/03/ semester_3_inisia si_2_asesmen pembelajaran_sd_2.pdf. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

___.Sejarah dari Psikometri. Dikutip Dari : http://muhamadikhsan.multi ply.com/item/reply/muhamadikhsan:journal:2?xurl=/journal/item/2/KETIKA_KECERDASAN_DI_TATA_ULANG_Telaah_Ulang_Makna_dari_Kecerdasan_Manusia. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

___.Tes Psikologis. Dikutip Dari : http://hil4ry.wordpress.com/2007/08/05/tes-psikologis/. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

___.Unit Pengembangan Alat Psikodiagnostika. Dikutip Dari : http://psikologi.ugm.ac.id/ utama/artikel.php?p=15&n=1. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

___.Unit Pengembangan Alat Psikodiagnostika. Dikutip Dari : upap_psikologi ugm@yahoo.co.id. Dikutip Online Pada Tanggal 2 September 2008

Download File format MS word: http://upload.ugm.ac.id/342Edo.docx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s