TEORI PERKEMBANGAN EMOSIONAL REMAJA


EMOSI

  1. Pengertian Emosi

Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah ditanamkan secara berangsur-angsur. Dalam kamus Oxford English Dictionary, emosi diartikan sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan,nafsu,setia kegiatan mental yang hebat atau meluap-luap. Emosi dalam kamus psikologi (Kartono & Gulo, 2000, h.146) berarti tergugahnya perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, misalnya otot-otot yang menegang, debaran jantung yang cepat dan sebagainya. Emosi menurut J.P Chaplin sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme, mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan ada perubahan perilaku. Emosi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang artinya menggerakkan, bergerak. Hal ini berarti kecenderungan bertindak merupakan hal yang mutlak dalam emosi. Emosi yang memancing tindakan dapat kita amati dari anak-anak atau binatang, tidak begitu terlihat pada orang dewasa. Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan suatu keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) atau pada tingkat yang lebih mendalam. Jadi emosi merupakan keadaaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus), cenderung terjadi dalam kaitanyya denga perilaku yang mengarah (approach) atau meghindari (avoidance) terhadap sesuatu. Perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi 

  1. Teori-teori Emosi
  2. Emosi Dua Faktor Schachter-Singer

Teori ini berorientasi pada rangsangan. Reaksi fisiologik dapat saja sama (hati berdebar, tekanan darah tinggi, napas bertambah cepat) namun jika rangsangannya menyenangkan seperti diterima diperguruan tinggi idaman, emosi yang timbul dinamakan senang. Sebaliknya jika rangsangannya membahayakan (misal melihat ular berbisa) emosi yang timbul dinamakan takut. Para ahli psikologi melihat teori ini lebih sesuai dengan teori kognisi.

Schachter dan Singer memulai analisis mereka dengan mempertanyakan pandangan bahwa emosi tertentu merupakan fungsi dari reaksi-reaksi tubuh tertentu. Menurut Schachter dan Singer, kita tidak merasa marah karena keteganagan otot kita, rahang kita berderak, denyut nadi kita menjadi cepat, dan sebagainya, tetapi karena kita secara umum jengkel, dan kita mempunyai berbagai kognisi tertentu tentang sifat kejengkelan kita.

Ketika seseorang menghadapi kejadian yang membangkitkan emosi, umumnya pertama-tama ia akan mengalami gangguan fisiologis netral dan tidak jelas. Secara teoritis, yang terjadi kemudian bergantung apakah ia mengetahui mengapa ia merasa jengkel dan bagaimana perasaannya jika ia tidak yakin mengenai emosi apa yang dirasakannya,ia kemungkinan akan mencari jawabannya pada situasi yang mungkin membantunya memahami apa yang sedang dirasakannya. Namun jika sejak awal ia menyadari apa yang menggangu pikiran dan perasaan yang sedang dialaminya,ia tidak harus mencari informasi tentang apa yang sedang terjadi, ia sudah tahu. Menurut Schachter dan Singer, orang yang jengkel itu kemudian akan membentuk keyakinan tentang apa yang dirasakannya, dan koginisi ini aakan membentuk kejengkelan umum yang tidak jelas menjadi suasana emosional tertentu.          

  1. Teori Emosi James-Lange

Dalam teori ini disebutkan bahwa emosi timbul setelah terjadinya reaksi psikologik.menurut teori ini, emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar. Misalnya jika seseorang melihat harimau, reaksinya adalah peredaran darah semakin cepat karena denyut jantung semakin cepat, paru-paru lebih cepat memompa udara dan sebagainya. Respon-respon tubuh seperti ini kemudian dipersepsikan dan timbullah rasa  takut.

Emosi menurut kedua ahli ini, terjadi karena adanya perubahan pada sistem vasomotor (otot-otot). Suatu peristiwa dipersepsikan menimbulkan perubahan fisiologis dan perubahan psikologis yang disebut emosi.

James melihat adanya empat langkah dalam proses terjadinya suasana emosional, yaitu : (1) kejadian itu dipahami; (2) impuls bergerak dari sistem saraf pusat ke otot, kulit, dan organ dalam; (3) sensasi yang disebabkan perubahan-perubahan bagian-bagian tubuh tersebut yang disalurkan kembali ke otak; (4) impuls balik itu kemudian dipahami oleh otak, dan setelah dikombinasikan dengan persepsi stimulus pertama, menghasilkan objek dirasakan secara emosional.   

  1. Teori “Emergency” Cannon

Cannon dalam teorinya menyatakan bahwa gejolak emosi itu menyiapkan seseorang untuk mengatasi keadaan yang genting, orang-orang primitif yang membuat respon semacam itu bias survive dalam hidupnya.

Teori ini menyebutkan, emosi (sebagai pengalaman subjektif psikologik) timbul bersama-sama dengan reaksi fisiologik (hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin dialirkan dalam darah, dan sebagainya). Teori ini mengatakan pula bahwa emosi adalah reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergency (darurat). Teori ini didasarkan pada pendapat bahwa antagonisme (fungsi yang bertentangan) antara saraf-saraf simpatis dengan cabang-cabang oranial dan sacral daripada susunan saraf otonom. Jadi, kalau saraf-saraf simpatis aktif, saraf otonom nonaktif, dan sebaliknya.

  1. Perkembangan Emosi Remaja Menurut Ali, M dan Asrori, M (2004, h.67-69)

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, social, dan emosional. Umumnya, masa ini berlangsung sekitar umur tiga belas tahun sampai umur delapan belas tahun, yaitu masa anak duduk dibangku sekolah menengah. Masa ini biasanya dirasakan sebagai masa sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga atau lingkungannya. Remaja memiliki energy yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian. Secara garis besar masa remaja dapat dibagi ke dalam empat periode yaitu:

a)      Periode pra remaja

Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara remaja pria ataupun wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk. Gerakan-gerakan mereka mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat terhadap rangsangan dari luar dan respon mereka biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau nahkan meledak-ledak. 

b)      Periode remaja awal

Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin. Karena perubahan alat kelamin semakin nyata, remaja seringkali mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya. Control terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar.    

c)      Periode remaja tengah

Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja, yaitu mampu memikul sendiri juga masalah tersendiri bagi mereka. Karena tuntutan peningkatan tanggung jawab tidak hanya datang dari orang tua atau anggota keluarganya tapi juga dari masyarakat sekitarnya. Tidak jarang masyarakat juga menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat yang seringkali juga menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui, tidak jarang remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orangtua atau orang dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal menurut mereka.     

d)     Periode remaja akhir

Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan, pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu orangtua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka.

  1. Bentuk-bentuk Emosi

Selama masa remaja, kondisi-kondisi yang membangkitkan emosi sangat berbeda-beda. Emosi terlibat dalam segala hal, di mana si remaja terlibat di dalamnya. Di antara lingkungan-lingkungan yang penting dalam membangkitkan emosi para remaja adalah semua hal yang bertentangan dengan atau yang menyinggung perasaan bangga akan dirinya, atau harapan-harapan yang ia tempatkan pada dirinya, atau hal-hal yang membangkitkan perasaan was-was mengenai dirinya.

a)      Cinta kasih sayang

Satu hal penting dari kehidupan emosional para remaja adalah kemampuan untuk memberi kasih sayangnya kepada orang lain. Kemampuan untuk memberi ini sama pentingnya dengan kemampuan untuk menerima.

Cinta remaja terjadi apabila mereka jatuh cinta terhadap lawan jenisnya dan mereka yakin bahwa cintanya itu adalah cinta sejati. Kadang-kadang remaja mengalihkan rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap orang tua, rumah, binatang piaraan. Perasaan untuk mencintai dan dicintai itu sangat penting bagi para remaja, nampak dalam hal kesetiaannya dan pembaktiannya terhadap gang nya. Keinginan untuk mengerjakan hal-hal yang idealistis juga merupakan usaha untuk mencari dan memberikan rasa cintanya.

            Tidak ada remaja yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari. (Sunarto, 2002:152).

Kebutuhan akan kasih sayang dapat diekspresikan jika seseorang mencari pengakuan dan kasih sayang dari orang lain, baik orang tua, teman dan orang dewasa lainnya. Kasih sayang akan sulit untuk dipuaskan pada suasana yang mobilitas tinggi. Kebutuhan akan kasih sayang dapat dipuaskan melalui hubungan yang akrab dengan yang lain. Kasih sayang merupakan keadaan yang dimengerti secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati, kegagalan dalam mencapai kepuasan kebutuhan kasih sayang merupakan penyebab utama dari gangguan emosional (Yusuf , 2005:206)

Simpati dan merasakan perasaan orang lain telah mulai berkembang dalam usia remaja awal. Remaja berusaha bersikap sesuai dengan norma-norma kelompoknya. Sikap penyesuaian diri (conform) dengan teman-teman sebaya selalu dipertahankan. Strang menyimpulkan konformitas adolescence seperti dalam berpakaian menunjukkan keinginan mereka untuk diterima masuk sebagai anggota (to belong) dan rasa takut mereka dari ketaksamaan atau terkucil

b)      Gembira dan bahagia

Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya itu mandapat sambutan oleh yang dicintai. Bahagia muncul karena remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain atau berasal dari terlepasnya energi emosional dari situasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.

c)      Kemarahan dan Permusuhan

Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai soerang pribadi yang mandiri. Perasaan marah pada remaja digunakan juga untuk menyatakan tuntutan dan minat-minatnya. Tapi kemudian melalui berbagai pengalamanlah yang menentukan pula rasa marah itu dinyatakan atau ditekan. Di dalam memahami rasa marah pada para remaja, adalah lebih mengidentifikasi apa yang menyebabkan kemarahannya daripada mengatakan mengapa sesuatu hal menjadi ia marah.

Penelitian Block (1937) menemukan bahwa banyak kondisi-kondisi di rumah yang menimbulkan marah para remaja yaitu antara lain peraturan tentang cara berpakaian, pengawasan yang ketat, perbedaan pendapat antara para remaj dan orang tua mengenai hal-hal yang benar (misalnya memakai lipstik). Pembatasan-pembatasan dalam berbagai hal juga disebut-sebut sebagai hal yang membangkitkan rasa marah.

Hal-hal lain yang menimbulkan marah para remaja adalah perlakuan-perlakuan dari orang tua, sifat-sifat dan kebiasaan orang tua (Scott,1940). Di tingkatan akademik, kritik yang tidak bijaksana dari orang tua, diperlakukan seperti anak kecil, pertentangan pendapat dengan orang tua, bentrok dengan saudara-saudara sebagai hal yang menimbulkan marah pada mereka (Williams,1950)

Mereka merasa canggung akan pertambahan tinggi badan yang dirasa aneh dan mengganggu sehingga mudah tersinggung kesal hati, dan tertekan, ingin marah. Dalam keadaan emosi yang belum stabil ini celaan atau kritikan dari lingkungan seringkali ditanggapi secara sungguh-sungguh dan sering ditafsirkan sebagai ejekan atau meremehkannya. Akibatnya mereka sering bersikap antipati dan melawan. Bila lingkungan keluarga, orang tua dan sekolah mengabaikan keadaan emosi remaja, misalnya anak-anak yang tidak disukai karena tampangnya kurang menguntungkan, kurang cerdas, sehingga melihat dengan sebelah mata dan sinis, biasanya remaja tersebut menjurus pada perilaku yang maldjusment dan sering pada tindakan delinkuency.

d)     Frustasi dan Dukacita

Frustasi merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhannya, terutama bila hambatan tersebut muncul dari dirinya sendiri. Konsekuensi frustasi dapat menimbulkan perasaan rendah diri.

Rasa sedih merupakan sebagian emosi yang sangat menonjol dalam masa remaja awal. Remaja sangat peka terhadap ejekan-ejakan yang dilontarkan kepada diri mereka. Kesedihan yang sangat akan muncul, jika ejekan-ejekan itu datang dari teman-teman sebaya, terutama pujian terhadap diri atau hasil usahanya. Penampakan rasa gembira ini memang berbeda di antara para remaja yang barangkali dipengaruhi oleh tipe kepribadian mereka masing-masing. Bagi remaja yang ekstrovert, rasa gembira akan lebih nampak dibandingkan dengan remaja yang introvert. Perasaan-perasaan gembira yang didapat si remaja akibat penghargaan terhadap dirinya dan hasil usahanya (prestasinya) memegang peranan penting dalam menumbuhkan rasa percaya diri mereka.

Perasaan yang sangat ditakuti atau frustasi oleh remaja di antaranya tercermin pula bahwa mereka sangat takut terkucil atau terisolir dari kelompoknya. Hal demikian itu menyebabkan remaja sangat intim dan bersikap-perasaan terikat dengan teman sepergaulannya. Perasaan konformitas erat hubungannya dengan sumbangan yang diterima remaja dari sepergaulannya, sehingga ia merasa dibutuhkan, merasa berharga dalam situasi pergaulan. Perasaan dibutuhkan dan berharga menimbulkan kesukarelaannya untuk menyumbangkan sesuatu kepada teman sepergaulannya.

Perasaan yang sangat ditakuti oleh remaja di antaranya tercermin pula bahwa mereka sangat takut terkucil atau terisolir dari kelompoknya. Hal demikian itu menyebabkan remaja sangat intim dan bersikap-perasaan terikat dengan teman sepergaulannya. Perasaan konformitas erat hubungannya dengan sumbangan yang diterima remaja dari sepergaulannya, sehingga ia merasa dibutuhkan, merasa berharga dalam situasi pergaulan. Perasaan dibutuhkan dan berharga menimbulkan kesukarelaannya untuk menyumbangkan sesuatu kepada teman sepergaulannya.

Dalam hal emosi yang negatif umumnya remaja belum dapat mengontrolnya dengan baik. Sebagian remaja dalam bertingkah laku sangat dikuasai oleh emosinya. Kebiasaan remaja (dengan latihan) menguasai emosi-emosi yang negatif dapat membuat mereka sanggup mengontrol emosi dalam banyak situasi. Kesempurnaan dalam kontrol emosi umumnya dicapai oleh remaja dalam tahapan remaja akhir. Penguasaan emosi yang terlatih, remaja dapat mengendalikan emosinya dapat mendatangkan kebahagiaan bagi remaja.

Hurlock berpendapat bahwa pemuda-pemuda dapat menghilangkan unek-unek atau kekuatan-kekuatan yang ditimbulkan oleh emosi yang ada dengan cara mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan emosi-emosi itu dengan seseorang yang dipercayainya. Menghilangkan kekuatan-kekuatan emosi yang terpendam tersebut disebut emotional catharsis. Cara-cara yang ditempuh dalam usaha menemukan atau membongkar kekuatan emosi yang terpendam itu dapat dilakukan dengan cara bermain, bekerja dan lebih baik lagi adalah dengan mengatakannya kepada seseorang yang dapat menunjukkan gambaran masalah-masalah yang dihadapi remaja yang bersangkutan

Ada berbagai macam emosi yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, juga dengan variasinya. Sejumlah teoritikus mengelompokkan emosi dalam golongan-golongan besar yaitu(Ali, M & Ansori, M2004, h.63):

  • Amarah

Meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, permusuhan, tindakan kekerasan, dan kebencian patologis.

  • Kesedihan

Meliputi pedih,sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, ditolsk, putus asa, dan depresi.

  • Takut

Meliputi cemas, takut, gugup, khawatir,was-was, perasaan takut sekali, sedih, tidak tenang, ngeri, phobia, dan waspada.

  • Kenikmatan

Meliputi gembira, bahagia, riang, senang sekali, dan mania.

  • Cinta

Meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kasih sayang, kebaikan hati, hormat, dan kasmaran.

  • Terkejut

Meliputi terkesiap, takjub, dan terpana

  • Jengkel

Meliputi jijik, tidak suka, mual, muak, benci, hina, dan tidak suka.

  • Malu

Meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, aib, dan hati hancur lebur.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi Emosi

Emosi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

  1. Pematangan

Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang belum kita mengerti, memperhatikan suatu rangsangan, yang lebih lama, memutuskan ketegangan emosi pada suatu objek. Dengan demikian kita menjadi lebih reaktif terhadap rangsanganyang tadinya tidak mempengaruhi kita pada usia yang lebih muda.

  1. Belajar

Pengalaman belajar menentukan reaksi potensial mana yang akan digunakan untuk menyatakan kemarahan. Belajar merupakan faktor yang lebih dapat dikendalikan

B. Perkembangan Emosional Pada Remaja

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas perkembangan emosi yang tinggi akibat perubhan fisik dan kelenjar di masa puber. Sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan emosi sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilku dan harapan social yang baru terhadap diriny. Meskipun emosi remaja serinkali sangat kuat, tidak terkendali dan tampaknya irasional, tetapi pada umumnya dari tahun ke tahun terjadi perbaikan perilaku emosional (Hurlock, 1980, h.213). pada usia remajaawal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitive dan reaktif, yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi social, dan cenderung temperamenl. Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya.

Hurlock menyatakan (1980, h.213) pola emosi pada remaja sama dengan pola emosi ada masa kanak-kanak. Perbedaaanya terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan khususnya pada pengendalian latihan indivdu terhadap ungkapan emosi mereka , misalnya perlakuan “anak kecil” membuat remaja sangat marah, dbandingakan dengan hal-hal lain. Remaja tidak lai mengungkapkan rasa amarahnya dengan cara yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu atau tidak mau berbicara. Ia tidak mengeluh atau menyesali diri seperti yang dilakukan anak-anak,. Namun terkadang dalam beberapa kasus seorang remaja juga dapat mengalami regresi yaitu bertingkah laku seperti anak kecil, minta perhatian dengan merajk atau marah-marah. Karena dengan tingahlakunya diharapkan orang lai akan menghiburnya atau lebih memperhatikannya.

Seringkali orang beranggapan bahwa emosi remaja cenderung menimbulkan hal-hal negative, namun jika ditinjau lebih lanjut ternyata memiliki beberapa fungsi penting. Empat fungsi emosi  (Coleman dan Hammen, 1974, h.462)

  1. Pembangkit energi

Emosi dapat membangkitkan dan memobilisasi energy kita. Tanpa emosi kita tidak akan dapat merasa, mengalami, bereaksi, dan bertindak terhadap berbagai situasi yang kita hadapi.

  1. Pembawa informasi

Kita dapat mengetahui bagaimana keadaan diri kita melalui emosi kita. Ketika marah, kita tahu kita dihambat atau diganggu; sedih berarti kehilangan sesuatu yang kita senangi; bahagia berarti kita memperoleh apa yang kita senangi atau berhasil menghindari hal yang tidak kita senangi

  1. Pembawa pesan dalam komunikasi

Komunikasi dengan orang lain dapat berlangsung dengan baik jika masing-masing pihak mampu mempelajari dan memahami bahasa tubuh lawan bicara sebagai ekspresi emosi.

  1. Sumber informasi tentang keberhasilan kita

Keberhasilan kita dalam mencapai sesuatu dapat kita ekspresikan dengan rasa senang atau gembira. Sedang kegagalan dapat kita ungkapkan dengan kesedihan.

Mencapai kematangan emosi merupakan yugas-tugas perkembangan yang cukup sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutamma lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Apalagi lingkungan tersebut cukup kondusif dalam arti kondisinya diwarnai oleh hubungan yang harmonis, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, maka remaja cenderung dapat mencapai kematangan emosi. Sebaliknya, apabila kurang dipersiapkan untuk memahami pesan-pesannya dan mendapatkan perhatian yang tidak sesuai dari orang tua adan dukungan teman sebaya, mereka cenderung aan mengalami kecemasan, perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional

Kematangan emosi pada remaja dapat dilihat dari :

  1. Tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain, tetapi menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengngkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih diterima.
  2. Remaja mampu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional
  3. Memberikan emosi yang stabil, tidak berubah dari satu emosi/suasaba hati ke suasana hati yang lain.

Untuk mencapai kematangan emosi remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang  situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional dengan cara terbuka terhadap perasaan dan masalanya pada orang lain. Selain itu remaja juga harus belajar menggunakan katarsis emosi untuk menyalurkan emosinya. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis.

Perkembangan emosi seseorang pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah lau. Perkembangan emosi remaja juga demikian halnya. Kualitas atau fluktuasi gejala yang tampak dalam tingkah laku itu sangat tergantung pada tingkat fluktuasi emosi yang ada pada individu tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari dsering kita lihat beberapa tingkah laku emosional, misalnya agresi, rasa takut berlebihan, sikap apatis, dan tingkah laku menyakiti diri, seperti melukai diri sendiri. Sejumlah factor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah sebagai berikut :

  1. Perubahan jasmani

Perubahan jasmani yang ditunjukkan dengan adanya pertumbhan yang sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan pertumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang tidak terduga pada perkembangan emosi remaja. Tidak setiap remaja dapat menerima perbahan kondisi tubuh seperti itu, lebih-lebih jika perbahan tersebut menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat.

  1. Perubahan pola interaksi dengan orang tua

Pola asuh orang tua terhadap anak, termasuk remaja, sangat bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada pula yang dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini dapat berpengarh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja.

Pemberontakan terhadap orang tua menunjukkan bahwa mereka berada dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasan orang tua. Mereka tidak merasa puas kalau tidak pernah sama sekali menunjukkan perlawanan terhadap orang tua karena ingin menunjukkan seberapa jauh dirinya telah berhasil menjadi orang yang lebih dewasa. Jika mereka berhasil dalam perlawanan terhadap orang tua sehingga menjadi marah, mereka pun belum merasa puas karena orang tua tidak menunjukkan pengertian yang merekainginkan. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi remaja.

  1. Perubahan interaksi dengan teman sebaya

Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivits bersama dengan embentuk semacam geng. Interaksi antar anggota dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi. Pembentukan kelompok dalam bentuk geng seperti ini sebaiknya diusahakan terjadi pada masa remaja awal saja karena biasanya bertujuan positif, yakni untuk memenuhi minat mereka bersama. Usahakan dapat menghindarkan pembentukan kelompok geng itu ketika sudah memasuki masa remaja tengah dan remaja akhir. Pada masa ini para anggotanya biasanya membutuhkan teman-teman untuk melawan otoritas atau melakukan perbuatan yang tidak baik atau bahkan kejahatan bersama.

Factor yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Pada masa remaja tengah, biasanya remaja benr-benar mulai jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Gejala ini sebenarnya sehat bagi remaja, tetapi tidak jarang juga menimbulkan konflik atau gengguan emosi pada remaja jika tidak diikuti bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa. Oleh sebab itu, tidak jarang orang tua justru merasa tidak gembira atau bahkan cemas ketika anak remajanya jatuh cinta. Gangguan emosional yang mendalam dapat terjadi ketika cinta remaja tidak terjawab atau karena pemutusan hubungan cinta dari satu pihak sehingga dapat menimbulkan kecemasan bagi orang tua dan bagi remaja itu sendiri.

  1. Perubahan pandangan luar

Faktor penting yang dapat memperngaruhi perembangan emosi remaja selain perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu sendiri adalah pandangan dunia luar dirinya. Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut :

  1. Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten. Kadang-kadang mereka dianggap sudah dewasa, tetapi mereka tidak mendapat kebebasan penuh atau peran yang wajar sebagaimana orang dewasa. Seringkali mereka masih dianggap anak kecil sehingga menimbulkan kejengkelan dalam diri remaja. Kejengkelan yang mendalam dapat berubah menjadi tingkah laku emosional.
  2. Dunia luar atau masyarakat masih menetapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan remaja perempuan. Kalau remaja laki-laki memiliki banyak teman perempuan, mereka mendapat predikat popular dan mendatangkan kebanggaan. Sebaliknya, apabila remaja putrid memiliki banyak teman laki-laki sering dianggap tidak baik atau bahkan mendapat predikat yang kurang baik. Penerapan nilai yang berbeda semacam ini jika tidak disertai dengan pemberian pengertian secara bijaksana dapat menyebabkan remaja beringkahlaku emosional.
  3. Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak beranggung jawab, yaitu denagn cara melibatkan remaja tersebut kedalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar niali-nilai moral. Misalnya, penyalahgunaan obat terlarang, minum minuman keras, serta tindak criminal dn kekerasan. Perlakuan dunia luar semacam ini akan sangat merugikan perkembangan emosional remaja.
  4. Perubahan interaksi dengan sekolah

pada masa kanak-kanak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat pendidikan yang diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka, karena selain tokoh intelektual, guru juga meruakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu, tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada orangtuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategisbila digunakan untuk pengembangan emosi anak melaui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif.

Namun demikian, tidak jarang terjadi bahwa mereka figure sebagai tokoh tersebut, guru memberikan ancaman-ancaman tertentu kepada para peserta didiknya. Peristiwa semacam ini sering tidak disadari oleh para guru bahwa dengan ancaman-ancaman itu sebenrnya dapat menambah permusuhan saja dari anak-anak setelah mereka menginjak masa remaja. Cara-cara seperti ini akan memberikan stimulusnnegatif bagi perkembangan emosi anak.

Dalam pembaran, para remaja sering terbentur pada nilai-nilai yang tidak dapat mereka terima atau yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai yang menarik bagi mereka. Pada saat itu, timbullah idealisme untuk mengubah lingkungannya. Idealisme seperti ini tentunya tidak boleh diremehkan dengan anggapan bahwa semuanya akan muncul jka mereka sudah dewasa. Sebab, idealism yang dikecewakan dapat berkembang menjadi tingkah laku emosional yang destruktif. Sebaliknya, kalau remaja berhasil diberikan penyaluran yang positif untuk mengembangkan idealismenya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan mereka sampai memasuki masa dewasa.

Strategi untuk mendukung perkembangan sosio-emosional remaja :

  1. Memahami kepentingan masing-masing dan adanya pola kelekatan
  2. Hindari adanya konflik yang berlarut-larut
  3. Pahami arti penting dari teman sebaya, oranisasi, dan pengajar mereka
  4. Bantu remaja untuk lebih memahami perbedaan dan nilai konflik
  5. Membiarkan remaja mengeksplorasi diriny untuk mencari identitasnya

Gangguan emosi pada remaja :

  1. Depresi

Merupakan gangguan yang mendalam dimana individu merasa putus asa dantidak berharga

  1. Phobia

Merupakan ketakutan yang abnormal, tidak rasional, tidak bias dikontrol terhadap situasi/objek tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya

  1. Gangguan bipolar (manik-depresif)

Penderita berselang-seling mengalami depresi dengan mood normal

  1. Eat disorder, contoh : anorexia, dan bulimia

Bunga adalah seorang remaja putri berusia 18 tahun yang periang dan memiliki cukup banyak teman dalam pergaulannya. Ia adalah seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi sebuah Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Purwokerto. Bunga bahkan mendapat predikat remaja gaul yang diberikan oleh teman-temannya di lingkungan kampus, dikarenakan keramahannya, kebiasaannya yang suka sekali menebar senyum, dan gayanya yang modis. Teman-teman yang satu geng dengannya semua adalah perempuan dan memiliki cirri-ciri yang hamper sama, yaitu anak orang kaya, modis, pergaulan lumayan bebas, sering keluar larut malam, dan ada beberapa diantara mereka yang merokok. Namun dibalik wajahnya yang selalu ceria itu, ternyata ia memiliki konflik di lingkungan keluarganya. Ia sering kali berbeda pendapat dengan orang tuanya dan tak jarang mereka terlibat pertengkaran hebat.

Suatu ketika Bunga menceritakan perihal kedekatannya dengan seorang laki-laki teman sekampusnya kepada ibundanya. Bunga bermaksud menyampaikan berita gembira di mana ia telah memiliki pujaan hati yang dapat semakin membuatnya terpacu dengan studinya. Mendengar cerita dari Bunga, kemudian sang ibunda memberi nasihat dan wejangan kepada Bunga tentang bahayanya pergaulan remaja jaman sekarang. Ibunda bermaksud mengarahkan dan memberi Bunga pegangan dalam bergaul, karena sebagai anak tunggal, Bunga adalah satu-satunya harapan orang tuanya. Mendengar nasihat-nasihat yang diberikan ibundanya, Bunga menjadi kesal karena ia merasa dihakimi, dikekang, dan merasa ditentang. Ia merasa bahwa orang tuanya terlalu kolot, tidak bisa mengikuti perkembangan jaman, tidak fleksibel, dan ingin selalu mengurungnya. Bunga merasa orang tuanya tidak menyetujui kedekatannya dengan laki-laki pujaan hatinya itu. Bunga pun melontarkan kata-kata kasar dan mengancam kepada ibundanya, bahwa ia akan meninggalkan rumah jika ibundanya terus menerus menasihati dan menghakiminya. Dalam hitungan detik, Bunga pun berlalu meninggalkan ibundanya yang sedang mencoba menenangkan dirinya. Ia benar-benar menjalankan ancamannya itu.

Setelah dilacak oleh orang tuanya selama kurang lebih 3 bulan tenyata Bunga berada di Jakata , di rumah laki-laki yang konon menjadi raja di hatinya itu. Orang tuanya pun kemudian menjemput Bunga ke Jakarta. Namun kedatangan orang tuanya ke Jakarta justru disambut dengan berita menghentakkan jiwa orang tuanya. Bunga telah hidup serumah dengan laki-laki itu dan kini telah mengandung 2 bulan. Harapan dan usaha orang tuanya selama ini dalam mendidik dan membesarkan Bunga pun putus bak jutaan pedang yang dihujamkan oleh anak mereka sendiri.

Pembahasan

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode storm and stress, suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi akibat perubahan fisik dan kelenjar. Pertumbuhan pada tahun-tahun awal masa puber terus berlangsung tetapi berjalan agak lambat. Pertumbuhan yang terjadi terutama bersifat melengkapi pola yang sudah terbentuk di masa puber. Meningginya emosi terutama yang terjadi pada masa remaja disebabkan karena di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru.

Namun tidak semua remaja mengalami storm and stress, ada sebagian remaja yang mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai kopnsekuensi dari penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru, misalnya masalah yang berhubungan dengan percintaan ini merupakan masalah yang pelik dalam periode itu. Bila kisah cinta berjalan lancar, remaja merasa bahagia. Tetapi mereka menjadi sedih manakala percintaan mereka tidak lancar. Remaja yang telah mendapat status sosialnya yang jelas dalam usia dini, tidak menampakkan gejolak emosi yang terlalu menonjol seprti rekan-rekannya yang lain yang harus menjalani masa transisi dalam tempo yang cukup panjang.

Pada dasarnya emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus), cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menghindari (avoidance) terhadap sesuatu. Perilaku tersebut umumnya disertai adanya ekspresi kejasmaniahan sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa orang tersebut  sedang mengalami emosi.

Pada kasus Bunga yang tertera di atas, dapat dilihat bahwa Bunga mempunyai kecenderungan emosional dan juga mengambil tindakan dengan terburu-buru tanpa memikirkan akibat atau konsekuansi yang harus diterimanya. Usia Bunga yang masih berada di masa remaja ini, membuatnya merasa ingin diberi otonomi dalam menjalankan perannya yang sudah bukan anak-anak lagi. Namun karena orang tuanya yang sangat perhatian dan khawatir kepadanya orang tuanya pun memberikan nasihat-nasihat yang sewajarnya diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Tetapi Bunga justru merasa tidak mendapatkan dukungan dari orang tuan terhadap cintanya kepada laki-laki teman sekampusnya tersebut. Bunga merasa dihakimi dan ditentang oleh orang tuanya. Ia pun mulai membentak dan mengancam orang tuanya untuk meninggalkan rumah. Emosinya meninggi saat itu dan tidak berhasil diredamnya sehingga Bunga mengambil langkah untuk minggat dari rumah agar bisa mendapatkan kebebasan yang selama ini didambakannya.

Macam emosi yang dialami oleh Bunga adalah amarah, kesedihan, takut dan juga jengkel. Perasaan itu muncul karena ia merasa orang tuanya tidak mnyetujui hubungannya dengan sang laki-laki pujaan hatinya itu. Adapaun faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah:

  1. Pematangan

Karena perkembangan intelektualnya, maka remaja semakin reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi ketika mereka berada pada usia yang lebih muda. Remaja semakin reaktif ketika ada seseorang yang mengusik ketenangannya, seperti pada kasus ini adalah Bunga yang merasa terusik ketenangannya dan merasa terhakimi oleh orang tuanya. Karena itulah Bunga menjadi reaktif, berpikir dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah meninggalkan orang tuanya.

Seiring betambahnya usia seseorang diharapkan orang tersebut memiliki kematangan emosi yang baik.

  1. belajar

pengalaman belajar remaja akan menentukan reaksi potensial mana yang akan digunakan untuk menyatakan kemarahannya. Belajar ini merupakan faktor yang bisa dikendalikan. Dalam kasus tersebut, Bunga pergi meninggalkan rumahnya meskipun pada akhirnya ditemukan juga. Perilaku yang dipilih oleh Bunga merupakan hasil dari proses belajar. Mungkin saja dari fenomena yang ia amati langsung atau melalui media massa baik cetak maupun elektronik. Pilihan perilaku yang diambil oleh Bunga sudah tentu tidak lepas dari peranan lingkungan yang mengelilinginya.

Masa remaja merupakan puncak emosiononalitas- perkembangan emosi tinggi. Pertumbuhan fisik terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembanganya emosi. Mencapai kematangan emosional merupakan tugas perkembangan yang cukup sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio emosional di lingkungannya, terutama teman sebaya dan kelompok teman sebayanya. Apabila lingkungan tersebut cukup kondusif, dalam arti kondisinya diwarnai hubungan yang harmonis, saling mempercayai, dan penuh tanggung jawab maka remaja cenderung dapat mencapai kematangan emosionalnya. Sebaliknya apabila remaja kurang dipersiapkan untuk memahami peran-perannya dan mendapatkan perhatian yang tidak sesuai, baik kurang atau lebih dari orang tua maupun teman sebaya mereka cenderung mengalami kecemasan, perasaan tertekan dan ketidaknyamanan emosional.

Oleh karena itu diperlukan startegi-strategi untuk mendukung perkembangan emosional remaja agar dapat berkembang dengan optimal dan terarah pada emosi-emosi yang positif. Berikut beberapa cara untuk orang tua mendukung perkembangan sosio-emosional remaja:

  1. memahami kepentingan masing-masing dan adanya pola kelekatan

Stereotip bahwa remaja tidak memerlukan kelekatan sebagaimana pada masa kanak-kanak adalah salah. Remaja memerlukan orang tuanya sebagai panutan dan juga pendukung anak, terutama di saat anak merasa tertekan. Orang tua juga perlu menghargai motivasi anak untuk menjadi remaja yang mandiri. Bagaimanapun seorang remaja harus tetap diawasi walaupun tidak sesering ketika ia masih kecil. Biarlah seorang remaja itu mendapatkan kebebasan untuk menunjukkan tanggung jawabnya.

  1. hindari adanya konflik antar orang tua dengan remaja yang berlarut-larut dan Gunakan kemampuan komunikasi untuk berkomunikasi yang baik dengan anak.

Perkembangan sosio-emosional remaja akan menguntungkan ketika tingkat adanya konflik dengan keluarag rendah. Tetaplah berkomunikasi dengannya, jadilah pendengar yang aktif dan menunjukkan rasa kepedulian.

  1. pahami arti penting dari teman sebaya, organisasi dan pengajar mereka.

Seorang remaja butuh untuk bersosialisasi dengan cara bergaul dengan teman sebayanya dan ikut aktif dalam suatu organisasi untuk mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Peran pengajar dalam hal ini juga turut mendukung.

  1. bantu remaja untuk lebih memahami perbedaan dan nilai konflik.

Seorang remaja memerlukan dukungan untuk mempunyai pendapat yang berbeda. Mereka juga harus didukung untuk lebih banyak belajar tentang orang lain yang berbeda latar belakangnya dan memahami adanya individual differences antar individu dan kelompok. Seorang remaja juga perlu untuk lebih memahami lagi tentang bagaimana sebuah konflik itu terjadi dalam antar kelompok.

  1. membiarkan remaja mengeksplorasi dirinya untuk mencari identitasnya

Karena masa remaja adalah masa untuk mencari identitas, maka diharapkan orang tua dapat membantu dengan menunjukkan kepeduliannya.

Selain itu menurut Adams & Gullota (1983) ada 5 aturan dalam menghadapi dan membantu remaja yaitu:

  1. Trustwotrhiness (kepercayaan) di mana kita harus saling percaya kepada siapapun remaja yang kta hadapi.
  2. Genuineness yaitu maksud murni yang tidak pura-pura
  3. Emphaty yaitu kemampuan untuk ikut merasakan apa yang dirasakan remaja
  4. Honesty yaitu menampilkan kejujuran dan kepercayaan ketika menghadapi remaja.

 

Referensi

Psikologi Remaja Andi Mappiere

Psikologi Remaja Dadang Sulaeman

http://wangmuba.com/2009/02/22/perkembangan-emosi-remaja/

http://anakciremai.blogspot.com/2008/07/ tentang-emosional.html

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/remaja.html

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s