Sejarah Terapi Naratif


Pada subpokok bahasan ini, akan dijelaskan secara singkat sejarah perkembangan terapi naratif. Penjelasan ini diperlukan untuk memberikan wawasan pada terapis mengenai asal mula terbentuknya paradigma naratif dan penerapannya hingga saat ini. Paradigma naratif dalam bidang keilmuan mulai dikenal pada tahun 1980-an, sejalan dengan pergerakan konstruksi sosial dan pendekatan interpretif lainnya dalam ilmu sosial, dan mendapatkan dukungan dari tradisi hermeneutik serta psikologi pemahaman narasi (psychology of narrative knowing).

Dalam terapi naratif, terbentuk asumsi implisit tentang sebab-musabab munculnya pemikiran (the social nature of the mind), sebagaimana peran bahasa dalam mengembangkan pemahaman intersubjektif. Morgan (2002) menyampaikan bahwa ketika seseorang mendengar tentang terapi naratif maka ia akan mengarah pada beberapa cara memahami identitas seseorang, permasalahan, dan pengaruh permasalahan tersebut pada kehidupannya. Terapi ini menawarkan cara-cara untuk membuka pembicaraan dengan klien tentang hidup dan permasalahan yang dialaminya.

Pada awalnya, terapi naratif berkembang dalam tradisi terapi keluarga sebagaimana telah dipraktekkan oleh para terapis Palo Alto di California yang memodifikasi praktek di lingkup keluarga untuk mengolah makna yang diberikan oleh keluarga tersebut atas peristiwa kehidupan yang telah mereka jalani. Model narasi dalam penggalian inquiri telah memberikan sumbangan pada ketertarikan baru atas pendekatan ideografik, yang disebut pendekatan studi kasus dan penggunaan informasi dari sejarah kehidupan personal. Pendekatan ini sangat membantu dalam menggeneralisasikan hipotesis dalam penelitian dan penyusunan pola induktif yang diperlukan untuk pengembangan teori. Karena perlunya melibatkan pemahaman atas konteks, terutama terkait dengan studi kasus, maka metode ini dianggap memiliki kekayaan dalam upayanya memaknai sesuatu. Berdasarkan alasan ini, terapi naratif dianggap sesuai digunakan untuk memahami pengalaman manusia.

Ketika mengaitkan terapi naratif dengan terapi lain dalam konteks berkembangnya terapi keluarga, maka terapi naratif akan sejajar dengan terapi keluarga struktural (Minuchin), terapi keluarga sistemik (Bowen), terapi keluarga konstruktivis, terapi singkat/brief therapy, terapi solution-focused (de Shazer), pendekatan sistem linguistik, dan banyak lagi lain. Terapi naratif merupakan bidang baru dalam pengembangan kerangka kerja psikologi dan oleh karenanya, pemahaman tentang teori naratif perlu dilakukan untuk memantapkan pemahaman penggunaan terapi ini dalam praktiknya.

Inquiri naratif dapat diasosiasikan dengan etnographic-grounded theory dan metode fenomenologis, sebagaimana teori dan metode ini berbagi argumentasi dalam penalaran narasi, kaya akan dekripsi induktif, dan proses analisis interprasinya didasarkan pada pemahaman hubungan antarbagian dengan keseluruhan konteks faktual yang ada. Ketiganya pun setara dalam mengasumsikan keterkaitan kolaboratif antara peneliti, inquirer, atau terapis dan subjek manusia yang menjadi sumber pemaknaan pribadi. Kesemuanya ini telah menjadi bagian dari terapi naratif. Banyak terapis dalam terapi naratif berawal dari perspektif terapi keluarga sistemik atau terapi keluarga interaksional.

Terapi naratif merupakan bagian dari terapi keluarga, namun juga digunakan secara meluas oleh praktisi dari kalangan luas dengan latar belakang profesi dan perspektif yang beragam, mulai dari pekerja sosial dan komunitas, guru dan konselor di sekolah, akademisi, antropolog, pekerja untuk bidang pengembangan masyarakat, hingga pembuat film atau video dokumenter. Gagasan bahwa terapi adalah seni pembicaraan yang peduli pada isi pembicaraan dengan merekam dan memperluas jumlah narasi klien, telah menarik perhatian dalam bidang terapi keluarga dan terapi psikologis individual (Morgan, 2002). Hal ini lah yang mengarahkan pada pengembangan kreatif dalam pemikiran dan praktik naratif sebagai terapi untuk kasus individual. 

TEORI PERKEMBANGAN EMOSIONAL REMAJA


EMOSI

  1. Pengertian Emosi

Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah ditanamkan secara berangsur-angsur. Dalam kamus Oxford English Dictionary, emosi diartikan sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan,nafsu,setia kegiatan mental yang hebat atau meluap-luap. Emosi dalam kamus psikologi (Kartono & Gulo, 2000, h.146) berarti tergugahnya perasaan yang disertai dengan perubahan-perubahan dalam tubuh, misalnya otot-otot yang menegang, debaran jantung yang cepat dan sebagainya. Emosi menurut J.P Chaplin sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme, mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam sifatnya, dan ada perubahan perilaku. Emosi berasal dari bahasa latin yaitu movere yang artinya menggerakkan, bergerak. Hal ini berarti kecenderungan bertindak merupakan hal yang mutlak dalam emosi. Emosi yang memancing tindakan dapat kita amati dari anak-anak atau binatang, tidak begitu terlihat pada orang dewasa. Sarwono berpendapat bahwa emosi merupakan suatu keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) atau pada tingkat yang lebih mendalam. Jadi emosi merupakan keadaaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus), cenderung terjadi dalam kaitanyya denga perilaku yang mengarah (approach) atau meghindari (avoidance) terhadap sesuatu. Perilaku tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi 

  1. Teori-teori Emosi
  2. Emosi Dua Faktor Schachter-Singer

Teori ini berorientasi pada rangsangan. Reaksi fisiologik dapat saja sama (hati berdebar, tekanan darah tinggi, napas bertambah cepat) namun jika rangsangannya menyenangkan seperti diterima diperguruan tinggi idaman, emosi yang timbul dinamakan senang. Sebaliknya jika rangsangannya membahayakan (misal melihat ular berbisa) emosi yang timbul dinamakan takut. Para ahli psikologi melihat teori ini lebih sesuai dengan teori kognisi.

Schachter dan Singer memulai analisis mereka dengan mempertanyakan pandangan bahwa emosi tertentu merupakan fungsi dari reaksi-reaksi tubuh tertentu. Menurut Schachter dan Singer, kita tidak merasa marah karena keteganagan otot kita, rahang kita berderak, denyut nadi kita menjadi cepat, dan sebagainya, tetapi karena kita secara umum jengkel, dan kita mempunyai berbagai kognisi tertentu tentang sifat kejengkelan kita.

Ketika seseorang menghadapi kejadian yang membangkitkan emosi, umumnya pertama-tama ia akan mengalami gangguan fisiologis netral dan tidak jelas. Secara teoritis, yang terjadi kemudian bergantung apakah ia mengetahui mengapa ia merasa jengkel dan bagaimana perasaannya jika ia tidak yakin mengenai emosi apa yang dirasakannya,ia kemungkinan akan mencari jawabannya pada situasi yang mungkin membantunya memahami apa yang sedang dirasakannya. Namun jika sejak awal ia menyadari apa yang menggangu pikiran dan perasaan yang sedang dialaminya,ia tidak harus mencari informasi tentang apa yang sedang terjadi, ia sudah tahu. Menurut Schachter dan Singer, orang yang jengkel itu kemudian akan membentuk keyakinan tentang apa yang dirasakannya, dan koginisi ini aakan membentuk kejengkelan umum yang tidak jelas menjadi suasana emosional tertentu.          

  1. Teori Emosi James-Lange

Dalam teori ini disebutkan bahwa emosi timbul setelah terjadinya reaksi psikologik.menurut teori ini, emosi adalah hasil persepsi seseorang terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh sebagai respon terhadap berbagai rangsangan yang datang dari luar. Misalnya jika seseorang melihat harimau, reaksinya adalah peredaran darah semakin cepat karena denyut jantung semakin cepat, paru-paru lebih cepat memompa udara dan sebagainya. Respon-respon tubuh seperti ini kemudian dipersepsikan dan timbullah rasa  takut.

Emosi menurut kedua ahli ini, terjadi karena adanya perubahan pada sistem vasomotor (otot-otot). Suatu peristiwa dipersepsikan menimbulkan perubahan fisiologis dan perubahan psikologis yang disebut emosi.

James melihat adanya empat langkah dalam proses terjadinya suasana emosional, yaitu : (1) kejadian itu dipahami; (2) impuls bergerak dari sistem saraf pusat ke otot, kulit, dan organ dalam; (3) sensasi yang disebabkan perubahan-perubahan bagian-bagian tubuh tersebut yang disalurkan kembali ke otak; (4) impuls balik itu kemudian dipahami oleh otak, dan setelah dikombinasikan dengan persepsi stimulus pertama, menghasilkan objek dirasakan secara emosional.   

  1. Teori “Emergency” Cannon

Cannon dalam teorinya menyatakan bahwa gejolak emosi itu menyiapkan seseorang untuk mengatasi keadaan yang genting, orang-orang primitif yang membuat respon semacam itu bias survive dalam hidupnya.

Teori ini menyebutkan, emosi (sebagai pengalaman subjektif psikologik) timbul bersama-sama dengan reaksi fisiologik (hati berdebar, tekanan darah naik, nafas bertambah cepat, adrenalin dialirkan dalam darah, dan sebagainya). Teori ini mengatakan pula bahwa emosi adalah reaksi yang diberikan oleh organisme dalam situasi emergency (darurat). Teori ini didasarkan pada pendapat bahwa antagonisme (fungsi yang bertentangan) antara saraf-saraf simpatis dengan cabang-cabang oranial dan sacral daripada susunan saraf otonom. Jadi, kalau saraf-saraf simpatis aktif, saraf otonom nonaktif, dan sebaliknya.

  1. Perkembangan Emosi Remaja Menurut Ali, M dan Asrori, M (2004, h.67-69)

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, social, dan emosional. Umumnya, masa ini berlangsung sekitar umur tiga belas tahun sampai umur delapan belas tahun, yaitu masa anak duduk dibangku sekolah menengah. Masa ini biasanya dirasakan sebagai masa sulit, baik bagi remaja sendiri maupun bagi keluarga atau lingkungannya. Remaja memiliki energy yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang, dan khawatir kesepian. Secara garis besar masa remaja dapat dibagi ke dalam empat periode yaitu:

a)      Periode pra remaja

Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara remaja pria ataupun wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk. Gerakan-gerakan mereka mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat terhadap rangsangan dari luar dan respon mereka biasanya berlebihan sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau nahkan meledak-ledak. 

b)      Periode remaja awal

Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin. Karena perubahan alat kelamin semakin nyata, remaja seringkali mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka cenderung menyendiri sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau mempedulikannya. Control terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar.    

c)      Periode remaja tengah

Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja, yaitu mampu memikul sendiri juga masalah tersendiri bagi mereka. Karena tuntutan peningkatan tanggung jawab tidak hanya datang dari orang tua atau anggota keluarganya tapi juga dari masyarakat sekitarnya. Tidak jarang masyarakat juga menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat yang seringkali juga menunjukkan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui, tidak jarang remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orangtua atau orang dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal menurut mereka.     

d)     Periode remaja akhir

Selama periode ini remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan, pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu orangtua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka.

  1. Bentuk-bentuk Emosi

Selama masa remaja, kondisi-kondisi yang membangkitkan emosi sangat berbeda-beda. Emosi terlibat dalam segala hal, di mana si remaja terlibat di dalamnya. Di antara lingkungan-lingkungan yang penting dalam membangkitkan emosi para remaja adalah semua hal yang bertentangan dengan atau yang menyinggung perasaan bangga akan dirinya, atau harapan-harapan yang ia tempatkan pada dirinya, atau hal-hal yang membangkitkan perasaan was-was mengenai dirinya.

a)      Cinta kasih sayang

Satu hal penting dari kehidupan emosional para remaja adalah kemampuan untuk memberi kasih sayangnya kepada orang lain. Kemampuan untuk memberi ini sama pentingnya dengan kemampuan untuk menerima.

Cinta remaja terjadi apabila mereka jatuh cinta terhadap lawan jenisnya dan mereka yakin bahwa cintanya itu adalah cinta sejati. Kadang-kadang remaja mengalihkan rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap orang tua, rumah, binatang piaraan. Perasaan untuk mencintai dan dicintai itu sangat penting bagi para remaja, nampak dalam hal kesetiaannya dan pembaktiannya terhadap gang nya. Keinginan untuk mengerjakan hal-hal yang idealistis juga merupakan usaha untuk mencari dan memberikan rasa cintanya.

            Tidak ada remaja yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari. (Sunarto, 2002:152).

Kebutuhan akan kasih sayang dapat diekspresikan jika seseorang mencari pengakuan dan kasih sayang dari orang lain, baik orang tua, teman dan orang dewasa lainnya. Kasih sayang akan sulit untuk dipuaskan pada suasana yang mobilitas tinggi. Kebutuhan akan kasih sayang dapat dipuaskan melalui hubungan yang akrab dengan yang lain. Kasih sayang merupakan keadaan yang dimengerti secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati, kegagalan dalam mencapai kepuasan kebutuhan kasih sayang merupakan penyebab utama dari gangguan emosional (Yusuf , 2005:206)

Simpati dan merasakan perasaan orang lain telah mulai berkembang dalam usia remaja awal. Remaja berusaha bersikap sesuai dengan norma-norma kelompoknya. Sikap penyesuaian diri (conform) dengan teman-teman sebaya selalu dipertahankan. Strang menyimpulkan konformitas adolescence seperti dalam berpakaian menunjukkan keinginan mereka untuk diterima masuk sebagai anggota (to belong) dan rasa takut mereka dari ketaksamaan atau terkucil

b)      Gembira dan bahagia

Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya itu mandapat sambutan oleh yang dicintai. Bahagia muncul karena remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain atau berasal dari terlepasnya energi emosional dari situasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.

c)      Kemarahan dan Permusuhan

Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai soerang pribadi yang mandiri. Perasaan marah pada remaja digunakan juga untuk menyatakan tuntutan dan minat-minatnya. Tapi kemudian melalui berbagai pengalamanlah yang menentukan pula rasa marah itu dinyatakan atau ditekan. Di dalam memahami rasa marah pada para remaja, adalah lebih mengidentifikasi apa yang menyebabkan kemarahannya daripada mengatakan mengapa sesuatu hal menjadi ia marah.

Penelitian Block (1937) menemukan bahwa banyak kondisi-kondisi di rumah yang menimbulkan marah para remaja yaitu antara lain peraturan tentang cara berpakaian, pengawasan yang ketat, perbedaan pendapat antara para remaj dan orang tua mengenai hal-hal yang benar (misalnya memakai lipstik). Pembatasan-pembatasan dalam berbagai hal juga disebut-sebut sebagai hal yang membangkitkan rasa marah.

Hal-hal lain yang menimbulkan marah para remaja adalah perlakuan-perlakuan dari orang tua, sifat-sifat dan kebiasaan orang tua (Scott,1940). Di tingkatan akademik, kritik yang tidak bijaksana dari orang tua, diperlakukan seperti anak kecil, pertentangan pendapat dengan orang tua, bentrok dengan saudara-saudara sebagai hal yang menimbulkan marah pada mereka (Williams,1950)

Mereka merasa canggung akan pertambahan tinggi badan yang dirasa aneh dan mengganggu sehingga mudah tersinggung kesal hati, dan tertekan, ingin marah. Dalam keadaan emosi yang belum stabil ini celaan atau kritikan dari lingkungan seringkali ditanggapi secara sungguh-sungguh dan sering ditafsirkan sebagai ejekan atau meremehkannya. Akibatnya mereka sering bersikap antipati dan melawan. Bila lingkungan keluarga, orang tua dan sekolah mengabaikan keadaan emosi remaja, misalnya anak-anak yang tidak disukai karena tampangnya kurang menguntungkan, kurang cerdas, sehingga melihat dengan sebelah mata dan sinis, biasanya remaja tersebut menjurus pada perilaku yang maldjusment dan sering pada tindakan delinkuency.

d)     Frustasi dan Dukacita

Frustasi merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhannya, terutama bila hambatan tersebut muncul dari dirinya sendiri. Konsekuensi frustasi dapat menimbulkan perasaan rendah diri.

Rasa sedih merupakan sebagian emosi yang sangat menonjol dalam masa remaja awal. Remaja sangat peka terhadap ejekan-ejakan yang dilontarkan kepada diri mereka. Kesedihan yang sangat akan muncul, jika ejekan-ejekan itu datang dari teman-teman sebaya, terutama pujian terhadap diri atau hasil usahanya. Penampakan rasa gembira ini memang berbeda di antara para remaja yang barangkali dipengaruhi oleh tipe kepribadian mereka masing-masing. Bagi remaja yang ekstrovert, rasa gembira akan lebih nampak dibandingkan dengan remaja yang introvert. Perasaan-perasaan gembira yang didapat si remaja akibat penghargaan terhadap dirinya dan hasil usahanya (prestasinya) memegang peranan penting dalam menumbuhkan rasa percaya diri mereka.

Perasaan yang sangat ditakuti atau frustasi oleh remaja di antaranya tercermin pula bahwa mereka sangat takut terkucil atau terisolir dari kelompoknya. Hal demikian itu menyebabkan remaja sangat intim dan bersikap-perasaan terikat dengan teman sepergaulannya. Perasaan konformitas erat hubungannya dengan sumbangan yang diterima remaja dari sepergaulannya, sehingga ia merasa dibutuhkan, merasa berharga dalam situasi pergaulan. Perasaan dibutuhkan dan berharga menimbulkan kesukarelaannya untuk menyumbangkan sesuatu kepada teman sepergaulannya.

Perasaan yang sangat ditakuti oleh remaja di antaranya tercermin pula bahwa mereka sangat takut terkucil atau terisolir dari kelompoknya. Hal demikian itu menyebabkan remaja sangat intim dan bersikap-perasaan terikat dengan teman sepergaulannya. Perasaan konformitas erat hubungannya dengan sumbangan yang diterima remaja dari sepergaulannya, sehingga ia merasa dibutuhkan, merasa berharga dalam situasi pergaulan. Perasaan dibutuhkan dan berharga menimbulkan kesukarelaannya untuk menyumbangkan sesuatu kepada teman sepergaulannya.

Dalam hal emosi yang negatif umumnya remaja belum dapat mengontrolnya dengan baik. Sebagian remaja dalam bertingkah laku sangat dikuasai oleh emosinya. Kebiasaan remaja (dengan latihan) menguasai emosi-emosi yang negatif dapat membuat mereka sanggup mengontrol emosi dalam banyak situasi. Kesempurnaan dalam kontrol emosi umumnya dicapai oleh remaja dalam tahapan remaja akhir. Penguasaan emosi yang terlatih, remaja dapat mengendalikan emosinya dapat mendatangkan kebahagiaan bagi remaja.

Hurlock berpendapat bahwa pemuda-pemuda dapat menghilangkan unek-unek atau kekuatan-kekuatan yang ditimbulkan oleh emosi yang ada dengan cara mengungkapkan hal-hal yang menimbulkan emosi-emosi itu dengan seseorang yang dipercayainya. Menghilangkan kekuatan-kekuatan emosi yang terpendam tersebut disebut emotional catharsis. Cara-cara yang ditempuh dalam usaha menemukan atau membongkar kekuatan emosi yang terpendam itu dapat dilakukan dengan cara bermain, bekerja dan lebih baik lagi adalah dengan mengatakannya kepada seseorang yang dapat menunjukkan gambaran masalah-masalah yang dihadapi remaja yang bersangkutan

Ada berbagai macam emosi yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, juga dengan variasinya. Sejumlah teoritikus mengelompokkan emosi dalam golongan-golongan besar yaitu(Ali, M & Ansori, M2004, h.63):

  • Amarah

Meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, permusuhan, tindakan kekerasan, dan kebencian patologis.

  • Kesedihan

Meliputi pedih,sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, ditolsk, putus asa, dan depresi.

  • Takut

Meliputi cemas, takut, gugup, khawatir,was-was, perasaan takut sekali, sedih, tidak tenang, ngeri, phobia, dan waspada.

  • Kenikmatan

Meliputi gembira, bahagia, riang, senang sekali, dan mania.

  • Cinta

Meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kasih sayang, kebaikan hati, hormat, dan kasmaran.

  • Terkejut

Meliputi terkesiap, takjub, dan terpana

  • Jengkel

Meliputi jijik, tidak suka, mual, muak, benci, hina, dan tidak suka.

  • Malu

Meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, aib, dan hati hancur lebur.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi Emosi

Emosi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

  1. Pematangan

Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang belum kita mengerti, memperhatikan suatu rangsangan, yang lebih lama, memutuskan ketegangan emosi pada suatu objek. Dengan demikian kita menjadi lebih reaktif terhadap rangsanganyang tadinya tidak mempengaruhi kita pada usia yang lebih muda.

  1. Belajar

Pengalaman belajar menentukan reaksi potensial mana yang akan digunakan untuk menyatakan kemarahan. Belajar merupakan faktor yang lebih dapat dikendalikan

B. Perkembangan Emosional Pada Remaja

Masa remaja merupakan puncak emosionalitas perkembangan emosi yang tinggi akibat perubhan fisik dan kelenjar di masa puber. Sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan emosi sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilku dan harapan social yang baru terhadap diriny. Meskipun emosi remaja serinkali sangat kuat, tidak terkendali dan tampaknya irasional, tetapi pada umumnya dari tahun ke tahun terjadi perbaikan perilaku emosional (Hurlock, 1980, h.213). pada usia remajaawal, perkembangan emosinya menunjukkan sifat yang sensitive dan reaktif, yang sangat kuat terhadap berbagai peristiwa atau situasi social, dan cenderung temperamenl. Sedangkan remaja akhir sudah mampu mengendalikan emosinya.

Hurlock menyatakan (1980, h.213) pola emosi pada remaja sama dengan pola emosi ada masa kanak-kanak. Perbedaaanya terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan khususnya pada pengendalian latihan indivdu terhadap ungkapan emosi mereka , misalnya perlakuan “anak kecil” membuat remaja sangat marah, dbandingakan dengan hal-hal lain. Remaja tidak lai mengungkapkan rasa amarahnya dengan cara yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu atau tidak mau berbicara. Ia tidak mengeluh atau menyesali diri seperti yang dilakukan anak-anak,. Namun terkadang dalam beberapa kasus seorang remaja juga dapat mengalami regresi yaitu bertingkah laku seperti anak kecil, minta perhatian dengan merajk atau marah-marah. Karena dengan tingahlakunya diharapkan orang lai akan menghiburnya atau lebih memperhatikannya.

Seringkali orang beranggapan bahwa emosi remaja cenderung menimbulkan hal-hal negative, namun jika ditinjau lebih lanjut ternyata memiliki beberapa fungsi penting. Empat fungsi emosi  (Coleman dan Hammen, 1974, h.462)

  1. Pembangkit energi

Emosi dapat membangkitkan dan memobilisasi energy kita. Tanpa emosi kita tidak akan dapat merasa, mengalami, bereaksi, dan bertindak terhadap berbagai situasi yang kita hadapi.

  1. Pembawa informasi

Kita dapat mengetahui bagaimana keadaan diri kita melalui emosi kita. Ketika marah, kita tahu kita dihambat atau diganggu; sedih berarti kehilangan sesuatu yang kita senangi; bahagia berarti kita memperoleh apa yang kita senangi atau berhasil menghindari hal yang tidak kita senangi

  1. Pembawa pesan dalam komunikasi

Komunikasi dengan orang lain dapat berlangsung dengan baik jika masing-masing pihak mampu mempelajari dan memahami bahasa tubuh lawan bicara sebagai ekspresi emosi.

  1. Sumber informasi tentang keberhasilan kita

Keberhasilan kita dalam mencapai sesuatu dapat kita ekspresikan dengan rasa senang atau gembira. Sedang kegagalan dapat kita ungkapkan dengan kesedihan.

Mencapai kematangan emosi merupakan yugas-tugas perkembangan yang cukup sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio-emosional lingkungannya, terutamma lingkungan keluarga dan kelompok teman sebaya. Apalagi lingkungan tersebut cukup kondusif dalam arti kondisinya diwarnai oleh hubungan yang harmonis, saling mempercayai, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab, maka remaja cenderung dapat mencapai kematangan emosi. Sebaliknya, apabila kurang dipersiapkan untuk memahami pesan-pesannya dan mendapatkan perhatian yang tidak sesuai dari orang tua adan dukungan teman sebaya, mereka cenderung aan mengalami kecemasan, perasaan tertekan atau ketidaknyamanan emosional

Kematangan emosi pada remaja dapat dilihat dari :

  1. Tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain, tetapi menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengngkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih diterima.
  2. Remaja mampu menilai situasi secara kritis terlebih dahulu sebelum bereaksi secara emosional
  3. Memberikan emosi yang stabil, tidak berubah dari satu emosi/suasaba hati ke suasana hati yang lain.

Untuk mencapai kematangan emosi remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang  situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional dengan cara terbuka terhadap perasaan dan masalanya pada orang lain. Selain itu remaja juga harus belajar menggunakan katarsis emosi untuk menyalurkan emosinya. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis.

Perkembangan emosi seseorang pada umumnya tampak jelas pada perubahan tingkah lau. Perkembangan emosi remaja juga demikian halnya. Kualitas atau fluktuasi gejala yang tampak dalam tingkah laku itu sangat tergantung pada tingkat fluktuasi emosi yang ada pada individu tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari dsering kita lihat beberapa tingkah laku emosional, misalnya agresi, rasa takut berlebihan, sikap apatis, dan tingkah laku menyakiti diri, seperti melukai diri sendiri. Sejumlah factor yang mempengaruhi perkembangan emosi remaja adalah sebagai berikut :

  1. Perubahan jasmani

Perubahan jasmani yang ditunjukkan dengan adanya pertumbhan yang sangat cepat dari anggota tubuh. Pada taraf permulaan pertumbuhan ini hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu saja yang mengakibatkan postur tubuh menjadi seimbang. Ketidakseimbangan tubuh ini sering mempunyai akibat yang tidak terduga pada perkembangan emosi remaja. Tidak setiap remaja dapat menerima perbahan kondisi tubuh seperti itu, lebih-lebih jika perbahan tersebut menyangkut perubahan kulit yang menjadi kasar dan penuh jerawat.

  1. Perubahan pola interaksi dengan orang tua

Pola asuh orang tua terhadap anak, termasuk remaja, sangat bervariasi. Ada yang pola asuhnya menurut apa yang dianggap terbaik oleh dirinya sendiri saja sehingga ada yang bersifat otoriter, memanjakan anak, acuh tak acuh, tetapi ada pula yang dengan penuh cinta kasih. Perbedaan pola asuh orang tua seperti ini dapat berpengarh terhadap perbedaan perkembangan emosi remaja.

Pemberontakan terhadap orang tua menunjukkan bahwa mereka berada dalam konflik dan ingin melepaskan diri dari pengawasan orang tua. Mereka tidak merasa puas kalau tidak pernah sama sekali menunjukkan perlawanan terhadap orang tua karena ingin menunjukkan seberapa jauh dirinya telah berhasil menjadi orang yang lebih dewasa. Jika mereka berhasil dalam perlawanan terhadap orang tua sehingga menjadi marah, mereka pun belum merasa puas karena orang tua tidak menunjukkan pengertian yang merekainginkan. Keadaan semacam ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosi remaja.

  1. Perubahan interaksi dengan teman sebaya

Remaja seringkali membangun interaksi sesama teman sebayanya secara khas dengan cara berkumpul untuk melakukan aktivits bersama dengan embentuk semacam geng. Interaksi antar anggota dalam suatu kelompok geng biasanya sangat intens serta memiliki kohesivitas dan solidaritas yang sangat tinggi. Pembentukan kelompok dalam bentuk geng seperti ini sebaiknya diusahakan terjadi pada masa remaja awal saja karena biasanya bertujuan positif, yakni untuk memenuhi minat mereka bersama. Usahakan dapat menghindarkan pembentukan kelompok geng itu ketika sudah memasuki masa remaja tengah dan remaja akhir. Pada masa ini para anggotanya biasanya membutuhkan teman-teman untuk melawan otoritas atau melakukan perbuatan yang tidak baik atau bahkan kejahatan bersama.

Factor yang sering menimbulkan masalah emosi pada masa ini adalah hubungan cinta dengan teman lawan jenis. Pada masa remaja tengah, biasanya remaja benr-benar mulai jatuh cinta dengan lawan jenisnya. Gejala ini sebenarnya sehat bagi remaja, tetapi tidak jarang juga menimbulkan konflik atau gengguan emosi pada remaja jika tidak diikuti bimbingan dari orang tua atau orang yang lebih dewasa. Oleh sebab itu, tidak jarang orang tua justru merasa tidak gembira atau bahkan cemas ketika anak remajanya jatuh cinta. Gangguan emosional yang mendalam dapat terjadi ketika cinta remaja tidak terjawab atau karena pemutusan hubungan cinta dari satu pihak sehingga dapat menimbulkan kecemasan bagi orang tua dan bagi remaja itu sendiri.

  1. Perubahan pandangan luar

Faktor penting yang dapat memperngaruhi perembangan emosi remaja selain perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri remaja itu sendiri adalah pandangan dunia luar dirinya. Ada sejumlah perubahan pandangan dunia luar yang dapat menyebabkan konflik-konflik emosional dalam diri remaja, yaitu sebagai berikut :

  1. Sikap dunia luar terhadap remaja sering tidak konsisten. Kadang-kadang mereka dianggap sudah dewasa, tetapi mereka tidak mendapat kebebasan penuh atau peran yang wajar sebagaimana orang dewasa. Seringkali mereka masih dianggap anak kecil sehingga menimbulkan kejengkelan dalam diri remaja. Kejengkelan yang mendalam dapat berubah menjadi tingkah laku emosional.
  2. Dunia luar atau masyarakat masih menetapkan nilai-nilai yang berbeda untuk remaja laki-laki dan remaja perempuan. Kalau remaja laki-laki memiliki banyak teman perempuan, mereka mendapat predikat popular dan mendatangkan kebanggaan. Sebaliknya, apabila remaja putrid memiliki banyak teman laki-laki sering dianggap tidak baik atau bahkan mendapat predikat yang kurang baik. Penerapan nilai yang berbeda semacam ini jika tidak disertai dengan pemberian pengertian secara bijaksana dapat menyebabkan remaja beringkahlaku emosional.
  3. Seringkali kekosongan remaja dimanfaatkan oleh pihak luar yang tidak beranggung jawab, yaitu denagn cara melibatkan remaja tersebut kedalam kegiatan-kegiatan yang merusak dirinya dan melanggar niali-nilai moral. Misalnya, penyalahgunaan obat terlarang, minum minuman keras, serta tindak criminal dn kekerasan. Perlakuan dunia luar semacam ini akan sangat merugikan perkembangan emosional remaja.
  4. Perubahan interaksi dengan sekolah

pada masa kanak-kanak, sebelum menginjak masa remaja, sekolah merupakan tempat pendidikan yang diidealkan oleh mereka. Para guru merupakan tokoh yang sangat penting dalam kehidupan mereka, karena selain tokoh intelektual, guru juga meruakan tokoh otoritas bagi para peserta didiknya. Oleh karena itu, tidak jarang anak-anak lebih percaya, lebih patuh, bahkan lebih takut kepada guru daripada kepada orangtuanya. Posisi guru semacam ini sangat strategisbila digunakan untuk pengembangan emosi anak melaui penyampaian materi-materi yang positif dan konstruktif.

Namun demikian, tidak jarang terjadi bahwa mereka figure sebagai tokoh tersebut, guru memberikan ancaman-ancaman tertentu kepada para peserta didiknya. Peristiwa semacam ini sering tidak disadari oleh para guru bahwa dengan ancaman-ancaman itu sebenrnya dapat menambah permusuhan saja dari anak-anak setelah mereka menginjak masa remaja. Cara-cara seperti ini akan memberikan stimulusnnegatif bagi perkembangan emosi anak.

Dalam pembaran, para remaja sering terbentur pada nilai-nilai yang tidak dapat mereka terima atau yang sama sekali bertentangan dengan nilai-nilai yang menarik bagi mereka. Pada saat itu, timbullah idealisme untuk mengubah lingkungannya. Idealisme seperti ini tentunya tidak boleh diremehkan dengan anggapan bahwa semuanya akan muncul jka mereka sudah dewasa. Sebab, idealism yang dikecewakan dapat berkembang menjadi tingkah laku emosional yang destruktif. Sebaliknya, kalau remaja berhasil diberikan penyaluran yang positif untuk mengembangkan idealismenya akan sangat bermanfaat bagi perkembangan mereka sampai memasuki masa dewasa.

Strategi untuk mendukung perkembangan sosio-emosional remaja :

  1. Memahami kepentingan masing-masing dan adanya pola kelekatan
  2. Hindari adanya konflik yang berlarut-larut
  3. Pahami arti penting dari teman sebaya, oranisasi, dan pengajar mereka
  4. Bantu remaja untuk lebih memahami perbedaan dan nilai konflik
  5. Membiarkan remaja mengeksplorasi diriny untuk mencari identitasnya

Gangguan emosi pada remaja :

  1. Depresi

Merupakan gangguan yang mendalam dimana individu merasa putus asa dantidak berharga

  1. Phobia

Merupakan ketakutan yang abnormal, tidak rasional, tidak bias dikontrol terhadap situasi/objek tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya

  1. Gangguan bipolar (manik-depresif)

Penderita berselang-seling mengalami depresi dengan mood normal

  1. Eat disorder, contoh : anorexia, dan bulimia

Bunga adalah seorang remaja putri berusia 18 tahun yang periang dan memiliki cukup banyak teman dalam pergaulannya. Ia adalah seorang mahasiswi Fakultas Ekonomi sebuah Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Purwokerto. Bunga bahkan mendapat predikat remaja gaul yang diberikan oleh teman-temannya di lingkungan kampus, dikarenakan keramahannya, kebiasaannya yang suka sekali menebar senyum, dan gayanya yang modis. Teman-teman yang satu geng dengannya semua adalah perempuan dan memiliki cirri-ciri yang hamper sama, yaitu anak orang kaya, modis, pergaulan lumayan bebas, sering keluar larut malam, dan ada beberapa diantara mereka yang merokok. Namun dibalik wajahnya yang selalu ceria itu, ternyata ia memiliki konflik di lingkungan keluarganya. Ia sering kali berbeda pendapat dengan orang tuanya dan tak jarang mereka terlibat pertengkaran hebat.

Suatu ketika Bunga menceritakan perihal kedekatannya dengan seorang laki-laki teman sekampusnya kepada ibundanya. Bunga bermaksud menyampaikan berita gembira di mana ia telah memiliki pujaan hati yang dapat semakin membuatnya terpacu dengan studinya. Mendengar cerita dari Bunga, kemudian sang ibunda memberi nasihat dan wejangan kepada Bunga tentang bahayanya pergaulan remaja jaman sekarang. Ibunda bermaksud mengarahkan dan memberi Bunga pegangan dalam bergaul, karena sebagai anak tunggal, Bunga adalah satu-satunya harapan orang tuanya. Mendengar nasihat-nasihat yang diberikan ibundanya, Bunga menjadi kesal karena ia merasa dihakimi, dikekang, dan merasa ditentang. Ia merasa bahwa orang tuanya terlalu kolot, tidak bisa mengikuti perkembangan jaman, tidak fleksibel, dan ingin selalu mengurungnya. Bunga merasa orang tuanya tidak menyetujui kedekatannya dengan laki-laki pujaan hatinya itu. Bunga pun melontarkan kata-kata kasar dan mengancam kepada ibundanya, bahwa ia akan meninggalkan rumah jika ibundanya terus menerus menasihati dan menghakiminya. Dalam hitungan detik, Bunga pun berlalu meninggalkan ibundanya yang sedang mencoba menenangkan dirinya. Ia benar-benar menjalankan ancamannya itu.

Setelah dilacak oleh orang tuanya selama kurang lebih 3 bulan tenyata Bunga berada di Jakata , di rumah laki-laki yang konon menjadi raja di hatinya itu. Orang tuanya pun kemudian menjemput Bunga ke Jakarta. Namun kedatangan orang tuanya ke Jakarta justru disambut dengan berita menghentakkan jiwa orang tuanya. Bunga telah hidup serumah dengan laki-laki itu dan kini telah mengandung 2 bulan. Harapan dan usaha orang tuanya selama ini dalam mendidik dan membesarkan Bunga pun putus bak jutaan pedang yang dihujamkan oleh anak mereka sendiri.

Pembahasan

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode storm and stress, suatu masa di mana ketegangan emosi meninggi akibat perubahan fisik dan kelenjar. Pertumbuhan pada tahun-tahun awal masa puber terus berlangsung tetapi berjalan agak lambat. Pertumbuhan yang terjadi terutama bersifat melengkapi pola yang sudah terbentuk di masa puber. Meningginya emosi terutama yang terjadi pada masa remaja disebabkan karena di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru.

Namun tidak semua remaja mengalami storm and stress, ada sebagian remaja yang mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai kopnsekuensi dari penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru, misalnya masalah yang berhubungan dengan percintaan ini merupakan masalah yang pelik dalam periode itu. Bila kisah cinta berjalan lancar, remaja merasa bahagia. Tetapi mereka menjadi sedih manakala percintaan mereka tidak lancar. Remaja yang telah mendapat status sosialnya yang jelas dalam usia dini, tidak menampakkan gejolak emosi yang terlalu menonjol seprti rekan-rekannya yang lain yang harus menjalani masa transisi dalam tempo yang cukup panjang.

Pada dasarnya emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu (khusus), cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menghindari (avoidance) terhadap sesuatu. Perilaku tersebut umumnya disertai adanya ekspresi kejasmaniahan sehingga orang lain dapat mengetahui bahwa orang tersebut  sedang mengalami emosi.

Pada kasus Bunga yang tertera di atas, dapat dilihat bahwa Bunga mempunyai kecenderungan emosional dan juga mengambil tindakan dengan terburu-buru tanpa memikirkan akibat atau konsekuansi yang harus diterimanya. Usia Bunga yang masih berada di masa remaja ini, membuatnya merasa ingin diberi otonomi dalam menjalankan perannya yang sudah bukan anak-anak lagi. Namun karena orang tuanya yang sangat perhatian dan khawatir kepadanya orang tuanya pun memberikan nasihat-nasihat yang sewajarnya diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Tetapi Bunga justru merasa tidak mendapatkan dukungan dari orang tuan terhadap cintanya kepada laki-laki teman sekampusnya tersebut. Bunga merasa dihakimi dan ditentang oleh orang tuanya. Ia pun mulai membentak dan mengancam orang tuanya untuk meninggalkan rumah. Emosinya meninggi saat itu dan tidak berhasil diredamnya sehingga Bunga mengambil langkah untuk minggat dari rumah agar bisa mendapatkan kebebasan yang selama ini didambakannya.

Macam emosi yang dialami oleh Bunga adalah amarah, kesedihan, takut dan juga jengkel. Perasaan itu muncul karena ia merasa orang tuanya tidak mnyetujui hubungannya dengan sang laki-laki pujaan hatinya itu. Adapaun faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah:

  1. Pematangan

Karena perkembangan intelektualnya, maka remaja semakin reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi ketika mereka berada pada usia yang lebih muda. Remaja semakin reaktif ketika ada seseorang yang mengusik ketenangannya, seperti pada kasus ini adalah Bunga yang merasa terusik ketenangannya dan merasa terhakimi oleh orang tuanya. Karena itulah Bunga menjadi reaktif, berpikir dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari rumah meninggalkan orang tuanya.

Seiring betambahnya usia seseorang diharapkan orang tersebut memiliki kematangan emosi yang baik.

  1. belajar

pengalaman belajar remaja akan menentukan reaksi potensial mana yang akan digunakan untuk menyatakan kemarahannya. Belajar ini merupakan faktor yang bisa dikendalikan. Dalam kasus tersebut, Bunga pergi meninggalkan rumahnya meskipun pada akhirnya ditemukan juga. Perilaku yang dipilih oleh Bunga merupakan hasil dari proses belajar. Mungkin saja dari fenomena yang ia amati langsung atau melalui media massa baik cetak maupun elektronik. Pilihan perilaku yang diambil oleh Bunga sudah tentu tidak lepas dari peranan lingkungan yang mengelilinginya.

Masa remaja merupakan puncak emosiononalitas- perkembangan emosi tinggi. Pertumbuhan fisik terutama organ-organ seksual mempengaruhi berkembanganya emosi. Mencapai kematangan emosional merupakan tugas perkembangan yang cukup sulit bagi remaja. Proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosio emosional di lingkungannya, terutama teman sebaya dan kelompok teman sebayanya. Apabila lingkungan tersebut cukup kondusif, dalam arti kondisinya diwarnai hubungan yang harmonis, saling mempercayai, dan penuh tanggung jawab maka remaja cenderung dapat mencapai kematangan emosionalnya. Sebaliknya apabila remaja kurang dipersiapkan untuk memahami peran-perannya dan mendapatkan perhatian yang tidak sesuai, baik kurang atau lebih dari orang tua maupun teman sebaya mereka cenderung mengalami kecemasan, perasaan tertekan dan ketidaknyamanan emosional.

Oleh karena itu diperlukan startegi-strategi untuk mendukung perkembangan emosional remaja agar dapat berkembang dengan optimal dan terarah pada emosi-emosi yang positif. Berikut beberapa cara untuk orang tua mendukung perkembangan sosio-emosional remaja:

  1. memahami kepentingan masing-masing dan adanya pola kelekatan

Stereotip bahwa remaja tidak memerlukan kelekatan sebagaimana pada masa kanak-kanak adalah salah. Remaja memerlukan orang tuanya sebagai panutan dan juga pendukung anak, terutama di saat anak merasa tertekan. Orang tua juga perlu menghargai motivasi anak untuk menjadi remaja yang mandiri. Bagaimanapun seorang remaja harus tetap diawasi walaupun tidak sesering ketika ia masih kecil. Biarlah seorang remaja itu mendapatkan kebebasan untuk menunjukkan tanggung jawabnya.

  1. hindari adanya konflik antar orang tua dengan remaja yang berlarut-larut dan Gunakan kemampuan komunikasi untuk berkomunikasi yang baik dengan anak.

Perkembangan sosio-emosional remaja akan menguntungkan ketika tingkat adanya konflik dengan keluarag rendah. Tetaplah berkomunikasi dengannya, jadilah pendengar yang aktif dan menunjukkan rasa kepedulian.

  1. pahami arti penting dari teman sebaya, organisasi dan pengajar mereka.

Seorang remaja butuh untuk bersosialisasi dengan cara bergaul dengan teman sebayanya dan ikut aktif dalam suatu organisasi untuk mengembangkan kecerdasan emosional mereka. Peran pengajar dalam hal ini juga turut mendukung.

  1. bantu remaja untuk lebih memahami perbedaan dan nilai konflik.

Seorang remaja memerlukan dukungan untuk mempunyai pendapat yang berbeda. Mereka juga harus didukung untuk lebih banyak belajar tentang orang lain yang berbeda latar belakangnya dan memahami adanya individual differences antar individu dan kelompok. Seorang remaja juga perlu untuk lebih memahami lagi tentang bagaimana sebuah konflik itu terjadi dalam antar kelompok.

  1. membiarkan remaja mengeksplorasi dirinya untuk mencari identitasnya

Karena masa remaja adalah masa untuk mencari identitas, maka diharapkan orang tua dapat membantu dengan menunjukkan kepeduliannya.

Selain itu menurut Adams & Gullota (1983) ada 5 aturan dalam menghadapi dan membantu remaja yaitu:

  1. Trustwotrhiness (kepercayaan) di mana kita harus saling percaya kepada siapapun remaja yang kta hadapi.
  2. Genuineness yaitu maksud murni yang tidak pura-pura
  3. Emphaty yaitu kemampuan untuk ikut merasakan apa yang dirasakan remaja
  4. Honesty yaitu menampilkan kejujuran dan kepercayaan ketika menghadapi remaja.

 

Referensi

Psikologi Remaja Andi Mappiere

Psikologi Remaja Dadang Sulaeman

http://wangmuba.com/2009/02/22/perkembangan-emosi-remaja/

http://anakciremai.blogspot.com/2008/07/ tentang-emosional.html

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/remaja.html

Sekilas Materi Psikodinamika


PENDAHULUAN

  1. Sinta, perempuan, 23tahun, lebih kurang tiga tahun yang lalu, ketika sedang menunggu bis kota di sebuah perhentian bis saat pulang kuliah, dikejutkan oleh kecelakaan lalu lintas, tabrakan antara sebuah mobil dan sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang laki-laki dewasa disertai seorang anak perempuan kecil yang membonceng di belakangnya; kecelakaan itu terjadi tiga meter di hadapannya. Tubuh anak perempuan itu cedera berat, banyak darah mengalir di tubuhnya, kulit dan ototnya tampak terobek. Beberapa saat kemudian Sinta muntah-muntah, lalu terhuyung dan merasa seperti mau pingsan. Selama seminggu berikutnya, ia sulit tidur, sering terbangun waktu malam; bila makan ia sering merasa mual. Keadaannya berangsur pulih, namun hingga sekarang, bila berada di tengah jalan raya yang padat dan di tengah kesibukan lalu lintas serta bila mendengar pembicaraan tentang kecelakaan, ia merasa takut dan kadang-kadang disertai cemas.

 

  1. Adi seorang laki-laki, 46 tahun, wirausahawan yang dulunya cukup sukses, lebih kurang empat tahun yang lalu, mengalami kerugian besar dan perusahaannya jatuh; istrinya sering marah-marah, menghina, sering meminta bercerai dan akhirnya meninggalkannya satu tahun yang lalu. Menurutnya ia selalu berusaha untuk optimis, namun ia mengeluh bahwa dadanya terasa nyeri, seperti ditimpa barang berat dan nafasnya sering sesak. Ia memeriksakan diri ke dokter dan dikatakan bahwa jantungnya memang agak lemah; hal itu membuatnya merasa ‘terpukul’ dan optimismenya pun hilang. Sebulan terakhir ini ia lebih sering menarik diri dan kadang timbul pemikiran untuk bunuh diri.

 

Peristiwa seperti yang disampaikan di atas, tidak jarang kita dengar baik dalam pengalaman kedokteran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi, bagaimana hal itu dapat terjadi dan bagaimana penjelasannya? Biasanya, suatu organ dinyatakan patologis bila ditemukan adanya kelainan atau kerusakan pada organ itu. Namun tidak demikian halnya dengan yang terjadi pada jiwa seseorang; seseorang dapat mengalami nyeri kepala, atau muntah-muntah, atau tidak dapat melihat misalnya, tetapi setelah diperiksa secara lengkap ternyata tidak dijumpai kelainan apapun pada organnya. Secara anatomis, organnya normal, tetapi secara nyata diketahui bahwa fungsinya berubah atau menyimpang atau terganggu.

 

Telah lama diketahui bahwa kegentingan jiwa dapat berpengaruh pada alat-alat tubuh. Peristiwa yang dialami oleh Sinta dan Adi pada contoh di atas, menunjukkan berbagai unsur esensial dalam hubungan antara goncangan jiwa dan gangguan fungsi-fungsi tubuh:

  1. suatu peristiwa yang menggoncangkan emosi dapat mencetuskan gangguan fungsi atau penyakit tubuh;
  2. semua respons emosional biasanya disertai perubahan fisiologik tertentu (rasa jijik disertai mual, putus asa disertai hilangnya nafsu makan, rasa takut disertai keringat) dan gangguan fisiologik seringkali merupakan penyerta fisiologik yang berlebihan;
  3. respons fisik dapat menjadi berkepanjangan dan jauh melampaui masa rangsangnya berlangsung, sehingga dapat berupa penyakit yang mengganggu baik jasmani maupun jiwa, yang akibatnya kadang-kadang gawat;
  4. sikap, perilaku dan perkataan dokter berperan penting dalam perbaikan atau memburuknya kondisi pasien.

 

Berubahnya fungsi suatu organ atau deviasi yang tampak pada perilaku dan pikiran seseorang, dapat disebabkan atau dicetuskan oleh pelbagai faktor organik, antara lain kerusakan sel-sel otak, ketidakseimbangan hormon, atau terjadinya degenerasi jaringan, yang muncul dalam bentuk perubahan perilaku, pikiran dan perasaan (misalnya perilaku gaduh gelisah pada delirium akibat tifus abdominalis, tumor otak atau intoksikasi zat tertentu, dll). Di lain pihak, malfungsi ini dapat pula disebabkan oleh atau merupakan manifestasi dari konflik psikologik. Yang juga sering terjadi ialah bahwa kondisi malfungsi itu disebabkan oleh gabungan antara faktor organik dan psikologik, yaitu substrat organiknya sudah ada kelainan walau tidak tampak dari luar, tetapi kondisinya sedemikian rupa sehingga konflik dapat tumbuh subur.

Untuk menjelaskan hal-hal tersebut (termasuk kondisi yang diceritakan pada contoh di atas), dalam psikiatri dikenal suatu pendekatan yang disebut dengan psikodinamik, yaitu pendekatan yang biasanya digunakan untuk memahami apa yang terjadi secara fungsional pada jiwa seseorang. Untuk itu kita membuat suatu model dari jiwa (mind) yang seolah-olah mempunyai struktur atau anatomi tertentu, dan mempunyai kekuatan yang dapat bergerak di dalam dan ke luar struktur itu, untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dengan arah yang tertentu pula. Tentunya yang terjadi sebenarnya belum tentu atau bisa jadi tidaklah demikian; tetapi, untuk mempelajari sesuatu secara ilmiah, sering kita memerlukan suatu model tertentu, agar mudah dibayangkan sehingga lebih mudah dimengerti. Mungkin hal ini tidak mudah, karena semua bidang dalam ilmu kedokteran mengacu pada kuantitas (hal-hal yang kongkrit), dan bukannya kualitas, sebagaimana yang akan dibahas dalam konsep psikodinamik ini.

Pengetahuan mengenai psikodinamika diperlukan oleh seorang dokter untuk dapat  mengerti dan memahami pasien melalui gejala dan keluhannya, disamping juga untuk menegakkan diagnosis dan untuk mencapai hasil terapi yang diinginkan serta untuk melengkapi, walaupun tidak selalu mutlak diperlukan, dalam keseluruhan tatalaksana  pasien secara komprehensif (disamping pemberian medikasi psikotropik serta pelbagai macam bentuk terapi lain dalam psikiatri).

Dalam mempelajari psikodinamika, hendaknya terlebih dahulu kita mengetahui hal yang mendasarinya, yaitu konsep tentang dinamik, serta aplikasi konsep tersebut dalam fenomena  psikologik.

 

APAKAH  YANG  DIMAKSUD  DENGAN  DINAMIK ?

Dinamika merupakan suatu konsep ilmiah, yang mempelajari  peristiwa-peristiwa, dengan meninjaunya dari segi kekuatan-kekuatan, struktur atau bentuk, dan arah (direction) dari gerakan. Misalnya, peristiwa beriaknya gelombang laut; gelombang itu mempunyai bentuk atau struktur, yang bergerak atau berubah ke arah tertentu, dipacu oleh suatu kekuatan tertentu.

Struktur, arah dan kekuatan-kekuatan ini saling berkaitan (interrelated) dan masing-masing tergantung (interdependent) satu sama lain dengan cara tertentu. Dengan mempelajari hal ini, kita dapat menemukan hukum ilmiah (scientific laws).  Hukum ilmiah merupakan ekspresi matematis dari hubungan antara ketiga faktor tersebut di atas (struktur, kekuatan dan arah); hal tersebut dapat membantu kita menjelaskan fenomena-fenomena secara kausalitas, yaitu dapat menjelaskan dan memprediksi suatu hal dalam hubungan kausalitas. Hal ini dapat diterapkan pada hampir semua peristiwa fisik; misalnya, terjadinya badai, atau mengapa dan bagaimana terjadinya gempa bumi. Oleh karena itu terdapatlah termodinamik, elektrodinamik, hidrodinamik, aerodinamik, kemodinamik, dsb.  Dalam konteks yang sedang kita pelajari ini, kita berusaha untuk menjelaskan tidak hanya peristiwa fisik, namun juga peristiwa biologik, psikologik dan sosial. Kesulitannya ialah bahwa terhadap fenomena-fenomena biologik, psikologik dan sosial, biasanya hanya dapat dilakukan prediksi dan dijelaskan secara kausalitas sebagian saja, dan tidak dapat dijelaskan secara menyeluruh; fenomena biologik dapat dijelaskan sebagian, psikologik lebih sedikit, dan fenomena sosial akan lebih sedikit lagi.

Apabila kita membahas suatu peristiwa fisik, kita lalu akan bertanya:“Apakah penyebabnya?” Dalam membahas peristiwa-peristiwa biologik, psikologik dan sosial, kita tidak hanya bertanya mengenai penyebabnya, melainkan juga tentang tujuan dan latar belakangnya (hal-ihwal fisik tersebut biasanya tidak menerangkan tentang makhluk hidup, sebagaimana hal-hal yang bersifat biologik, terlebih psikologik dan sosial). Jadi, bila kita berbicara tentang dinamik dan yang kita maksud adalah fenomena fisik, maka yang dimaksud adalah mengenai struktur, kekuatan dan arahnya; sedangkan apabila kita membahas mengenai dinamik dalam biologik, psikologik dan sosial, bila kita bertanya tentang mengapa fenomena tersebut terjadi, kita akan bertanya bukan hanya apa penyebabnya, namun juga tujuannya, dengan maksud untuk menjelaskan dan mencoba  melakukan prediksi. Dengan demikian, bila kita berbicara mengenai psikodinamik, yang akan kita bahas yaitu mengenai peristiwa-peristiwa psikologik, bukan hanya struktur, kekuatan dan arahnya, namun juga mengenai pertumbuhan, perkembangan dan tujuan (purpose). Misalnya, kita mempelajari jantung yang sedang dalam keadaan palpitasi; tentu kita akan mempelajari anatomi, fisiologi, kekuatan-kekuatan yang dapat menyebabkan denyut jantung menjadi lebih cepat, serta bagaimana pertumbuhan, perkembangan serta tujuan atau maksud dari keadaan palpitasi tersebut. Contoh lainnya, kita melihat seseorang sedang berlari dan tampak di belakangnya berlari pula seorang polisi. Tentunya kita akan bertanya, mengapa ia berlari? apa yang menyebabkannya? karena dikejar polisi atau dapat pula karena sebab lain? serta, apa maksudnya? misalnya untuk menyelamatkan diri, atau hanya kebetulan saja mereka berlari secara berurutan.

 

APAKAH  PSIKODINAMIK?

Ialah suatu pendekatan konseptual yang memandang proses-proses mental sebagai gerakan dan interaksi kuantitas-kuantitas energi psikik yang berlangsung intra-individual (antar bagian-bagian struktur psikik) dan inter-individual (antar orang).

Berkaitan dengan definisi tersebut, dalam mempelajari psikodinamika, kita akan mempelajari struktur (yaitu kepribadian), kekuatan (yaitu dorongan, drive, libido, instincts), gerakan (movement, action), pertumbuhan (growth) dan perkembangan (development), serta tentang maksud dan tujuan fenomena-fenomena psikologik yang ada pada seseorang.

Dalam mempelajari struktur kepribadian individu, kita akan mengacu pada suatu model yang dasarnya ialah teori psikoanalisis klasik Sigmund Freud (seorang pakar yang memperkenalkan dan mengembangkan psikoanalisis). Walaupun teori ini kini tidak selalu dapat digunakan dalam menganalisis dan digunakan dalam tatalaksana pasien, namun sebagai dasar, kita tetap perlu mempelajarinya. Dalam buku ini pun hanya akan dibahas secara garis besar dan singkat,sebagai dasar agar lebih mudah mempelajari teori-teori pasca-Freud yang kinitelah berkembang pesat.

Dalam mempelajari struktur kepribadian, tidak akan terlepas dan akan bertumpang tindih dengan pertumbuhan dan perkembangannya, serta dengan gerakan dari kekuatan (teori libido). Menurut teori ini, libido atau energi psikis yang mempunyai kekuatan tertentu, bergerak intra-individu dan inter-individu. Dalam keadaan seimbang, distribusinya sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan individu, dan disebut sebagai keadaan  equilibrium atau homeostasis

Struktur kepribadian seseorang terdiri atas 3 komponen yaitu id, ego dan superego. Id (naluri, drive, instincts), telah ada sejak individu dilahirkan ke dunia ini. Selain mempunyai struktur (yang bentuknya belum jelas ketika lahir), id juga mempunyai kekuatan berupa dorongan.Dorongan ini merupakan dorongan untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia, antara lain instink bernapas, lapar, seks. Id biasanya mendominasi individu pada usia bayi hingga lebih kurang satu setengah tahun. Pada saat itu pula konsentrasi libido berada pada daerah mulut (menurut teori ini, konsentrasi libido akan berpindah-pindah sesuai dengan perkembangan psikoseksual anak serta daerah erogen pada fase perkembangan tersebut).

Dalam perkembangannya, sebagian dari id akan mengalami diferensiasi menjadi ego. Ego terbentuk karena pertentangan (konflik) antara id dengan lingkungan yang tidak selalu dapat memenuhi kebutuhannya. Prinsip yang dianut oleh id yaitu pleasure principle, sedangkan ego menganut prinsip realitas, bahwa kebutuhan atau dorongan dapat ditunda sesuai dengan realitas yang ada. Konsentrasi libido selanjutnya bergerak dari mulut ke daerah anus (fase perkembangannya disebut sebagai fase anal).

Superego terbentuk dari hasil absorbsi dan pengambilan nilai-nilai norma dalam kultur, agama, hal-hal kebaikan yang ditanamkan oleh orang tua; jadi bukan merupakan diferensiasi dari id sebagaimana ego. Superego merupakan wakil orang tua dalam diri anak, yang mengingatkan akan hal-hal yang baik dan buruk, yang boleh dan yang tidak. Terbentuk pada usia antara 3 hingga 5 atau 6 tahun. Pada saat ini konsentrasi libido terpusat pada daerah falus (fase perkembangannya disebut sebagai fase falik atau Oedipal).

Ketiga elemen struktur  kepribadian tersebut saling berinteraksi, dengan kandungan energi psikis yang terdistribusi secara merata sesuai tingkat perkembangan individu. Bila terjadi konflik di antaranya, individu akan mengalami ketegangan, ketidakpuasan, kecemasan, dan atau gejala-gejala psikologik lain. Sebaliknya, bila seorang anak tidak pernah mengalami konflik sama sekali pun (disebut sebagai pemanjaan atau over indulgence), akan mengalami hal yang sama. Menurut Freud, konflik perlu dialami dalam batas tertentu agar seorang individu belajar menunda keinginan, menyadari realitas sehingga mampu mengatasi masalah-masalah yang dialami dalam hidupnya nanti. Tetapi, kalau konflik yang dialami itu berlebihan dan berat derajatnya, maka perkembangan kepribadian individu tidak akan optimal; perkembangan itu akan terhambat karena ada sebagian energi psikik yang tertahan pada suatu fase perkembangan tertentu (disebut sebagai fiksasi), sehingga energi yang bergerak ke fase berikutnya akan berkurang jumlahnya. Bila pada suatu saat, misalnya pada fase selanjutnya atau setelah dewasa nantinya, individu mengalami suatu tekanan atau stresor psikososial yang relatif berat untuknya, ia dapat kembali ke fase perkembangan saat fiksasi itu dialami (disebut sebagai regresi). Cara-cara individu tersebut mengatasi stresor itupun biasanya sesuai dengan tingkat regresi yang dialaminya. Menurut Freud, psikopatologi akan timbul, bila konflik yang bermakna dialami oleh individu pada masa lima tahun pertama kehidupannya.  Sulitnya, kita biasanya menjumpai pasien setelah dewasa sehingga penelusuran penghayatan hal-hal psikologik yang bermakna tidak mudah dilakukan, karena banyak faktor yang mempengaruhi, antara lain daya ingat, mekanisme defensi individu (akan dibahas kemudian), serta hal-hal nirsadar lainnya. Teori klasik ini kini telah berkembang dan banyak mengalami modifikasi, namun sebagai dasar, hingga kini teori ini tetap digunakan sebagai acuan, agar lebih mudah mempelajari teori-teori baru. Psikodinamika yang kini digunakan telah banyak berubah berdasarkan kemajuan perkembangan teorinya, hasil-hasil penelitian serta pengalaman empirik, antara lain dasar teorinya bukan hanya teori psikoanalisis klasik ini, melainkan juga teori relasi-objek dan psikologi self.

Psychodynamic psychiatry (psikiatri dengan pendekatan psikodinamik) atau psikiatri dinamik, telah berusia lebih kurang seabad; istilah dinamik pertama kali digunakan oleh Leibniz untuk menekankan perbedaannya dengan yang statis. Dalam abad ini,  psikiatri dinamik modern disebutkan sebagai suatu cabang psikiatri yang menjelaskan fenomena mental sesuai dengan perkembangan konflik. Namun, dalam dua dekade terakhir ini, psikiatri dinamik bukan hanya berpegangan pada konflik untuk menjelaskan fenomena-fenomena mental dan gangguan jiwa. Sebetulnya orientasi psikodinamik bukan satu teori, melainkan lebih merupakan ciri dari sejumlah teori yang mempunyai kesamaan atau tumpang tindih dalam konsep-konsep, esensi, struktur dan funksi kepribadian, psikopatogenesis, psikopatologi, terapi dan hubungan terapeutik. Kini, psikodinamik didefinisikan sebagai: ‘suatu pendekatan dalam psikiatri, untuk mendiagnosis dan memberikan terapi, yang dicirikan oleh cara berpikir baik mengenai pasien maupun klinikusnya, yang didalamnya termasuk konflik nirsadar, defisit dan distorsi struktur intrapsikik, serta relasi-obyek internal. Yang penting diingat sekali lagi ialah bahwa psikodinamik merupakan suatu pendekatan konseptual, yang merupakan salah satu cara memandang suatu fenomena psikologik, yang amat bermanfaat dalam menganalisis pasien serta merencanakan tatalaksana yang komprehensif. Sebagaimana kita maklumi, hingga saat ini fenomena psikologik yang terjadi pada manusia masih belum dapat dijelaskan secara menyeluruh, apalagi untuk menjelaskannya secara kausal, walaupun kini telah ditemukan pelbagai fenomena biologik yang berupaya menjelaskan hal-hal yang masih menjadi misteri tersebut yang bermanfaat dalam tatalaksana pasien (misalnya penemuan beberapa neurotransmiter yang diketahui berperan pada beberapa gangguan jiwa, antara lain depresi, skizofrenia, dll.).

MEKANISME  DEFENSI

 

Dalam menjalani kehidupannya, seorang individu biasanya berusaha – sedapat mungkin – untuk memenuhi kebutuhannya, dengan segala kemampuan fisik dan intelektual yang ada, di lingkungan tempat ia berada. Hal ini senantiasa menghadapkan individu tersebut dengan masalah, oleh karena kemampuan fisik dan intelektualnya pada saat tertentu berada dalam batas tertentu, dan, lingkungannya tidak dengan sendirinya bekerjasama dengannya, menyediakan hal-hal yang dibutuhkan, bahkan kadang sebaliknya, justru melawan kebutuhan tersebut. Jadi, dalam upaya memenuhi kebutuhannya, individu menghadapi kemungkinan bahwa kebutuhannya tidak dipenuhi, atau tidak terpenuhi dengan memuaskan, atau dengan kata lain terancam kegagalan.

Dalam upaya pemenuhan kebutuhannya, individu selalu atau senantiasa melakukan perbuatan dan berperilaku sedemikian rupa demi tercapainya tujuan tersebut, dan setidaknya menghindarkan atau meminimalkan kegagalan.Untuk hal tersebut, manusia memiliki kemampuan yang besar, karena, bila seseorang kurang berhasil mencapai pemuasan kebutuhannya dalam realitas dan kurang berhasil menghindarkan ancaman kegagalan dalam realitas, ia dapat “bergeser” (atau menggunakan) ke fantasinya.

Untuk menghadapi masalah tersebut, individu memiliki seperangkat cara atau metode atau teknik, yang dapat dikerahkan, dan akan digunakan bila diperkirakan efektif untuk menanggulangi masalah yang sedang dihadapi.Cara-cara ini disebut mekanisme pertahanan atau defensi.

Mekanisme defensi dapat ditinjau dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas, yaitu semua cara penanggulangan masalah, baik yang rasional maupun irasional, yang sadar maupun nirsadar, yang realistik maupun yang fantastik. Dalam arti sempit, ialah mekanisme yang dipakai ego untuk menyingkirkan ansietas dan yang mengandung  potensi patogen (potensi untuk membentuk gejala psikopatologik), yaitu mekanisme yang berlangsung dengan pemindahan (shift) ke fantasi dan pengolahan fantasi itu dilakukan dengan berbagai cara, yang tidak disadari dan tidak rasional; dalam kepustakaan psikiatri istilah ini lazim dipakai dalam arti sempit.

Lalu, apa yang dilakukan oleh individu bila menghadapi masalah? Biasanya ia akan:

a. Mengadakan perubahan terhadap situasi yang dihadapi, mungkin  memang  itu  pernah

dialaminya  dan  ia  tahu  cara mengatasinya;  mungkin juga situasi  itu baru sehingga ia

harus bereksperiman terlebih dahulu sebelum menemukan cara yang tuntas.

b. Menghindar dan menjauhkan diri dari situasi yang dihadapi.

Dari kedua macam cara ini kemungkinannya akan berhasil sehingga ia merasa aman dan puas, atau bila kurang berhasil tetap ada sisa ketidakamanan dan ketidakpuasan.

c. Berusaha dan belajar untuk hidup dengan ketidakamanan dan ketidakpuasan.

Dalam hal ini, individu menggunakan mekanisme defensi untuk menghadapi dan mengatasi masalah-masalah kehidupan tersebut. Tidak ada seorang pun dari kita yang tidak menggunakan mekanisme defensi ini. Semua mekanisme defensi dilakukan oleh ego melawan tuntutan instinktual dari id. Mekanisme defensi diklasifikasikan dari yang paling imatur atau patologik hingga yang matur (merupakan suatu kontinum).

Beberapa mekanisme defensi yang tergolong matur (Vaillant), yaitu:

1. Supresi:  membuang  pikiran-pikiran  dan  perasaan  yang  tidak  dapat  diterima  secara

sadar

2. Altruisme: menangguhkan atau menganggap tidak penting kebutuhan atau minat pribadi

dibandingkan dengan orang lain.

3. Sublimasi: mengganti dorongan-dorongan  atau  harapan-harapan (secara nirsadar)

yang tidak dapat diterima oleh alam sadar dengan alternatif lain yang dapat diterima

secara sosial.

4. Humor: kemampuan membuat hal-hal yang lucu untuk diri sendiri  atau  pada  situasi

tempat  individu berada, yang merupakan bagian dari jiwa yang sehat.

Beberapa mekanisme defensi yang lain (yang potensial patologik), yaitu 1,5 :

1. Penyangkalan ( denial ) :

yaitu  menganggap  tidak  ada  sensasi-sensasi  nyeri  atau  antisipasi  suatu peristiwa yang tidak menyenangkan. Mungkin inilah mekanisme yang paling sederhana. Cara ini lazim digunakan untuk meringankan ansietas. Contohnya antara lain anak kecil yang “tidak merasa sakit” ketika disuntik, orang dewasa yang meyakini diri sendiri bahwa perkawinan, atau perceraian, atau penggantian pekerjaan akan membereskan segala persoalan.

2. Represi :

perasaan-perasaan dan impuls yang nyeri atau tidak dapat diterima (memalukan, membangkitkan rasa bersalah, membahayakan)  didorong ke luar kesadaran, tidak diingat, “dilupakan”. Ini dapat membentuk gejala karena materi yang dilupakan itu mencari penyaluran dalam fungsi-fungsi sistem badaniah tertentu (misalnya dalam sindrom histeria), atau terjadi “lowongan” dalam pola ingatan. Hal-hal yang direpresikan dapat juga bermanifestasi dalam ide-ide atau perasaan-perasaan yang dipegang teguh dan kaku tanpa alasan yang masuk akal.

3. Proyeksi :

kegagalan diri sendiri dipersalahkan kepada orang lain atau pada “situasi”, misalnya kalah dalam pertandingan karena wasitnya curang, tidak lulus ujian karena dosennya sentimen, usaha merosot karena situasi umum. Cara ini dapat meringankan kecemasan, rasa bersalah dan rasa gagal. Proyeksi dapat meningkat sampai taraf ekstrim yang disertai penyimpangan persepsi lingkungan, yaitu berupa waham kejaran dan halusinasi.

4. Introyeksi :

arti harafiahnya yaitu “memasukkan ke dalam diri”. Individu dapat menyingkirkan ketakutan terhadap seseorang dan impuls-impuls permusuhan terhadapnya dengan cara mengambil-alih (memasukkan ke dalam diri) sifat-sifat orang tersebut. Hal ini dapat menjadi gejala psikopatologik bila ia kemudian merasa “terancam dari dalam” yang menjelma dalam kecenderungan untuk “menghukum diri” dan perasaan bersalah irasional yang tidak dapat dikuasai.

5. Pembentukan reaksi (reaction formation)  :

mekanisme ini mempunyai hubungan dengan represi sebagai jalan untuk mengolah  atau  menyalurkan materi yang direpresi. Terhadap impuls-impuls dalam dirinya yang dirasakannya sebagai ancaman, individu menyusun sikap reaktif terhadapnya; dengan  demikian  ia  akan  merasa aman  dan  percaya  bahwa  impuls-impuls  tersebut  tidak  ada.  Namun, sikap reaktif ini sering bersifat kaku dan seperti berlebihan, dan dapat membentuk gejala obsesi dan kompulsi. Contohnya, seseorang yang merasa terancam misalnya oleh  impuls agresif atau seksual yang tercela (dari dalam dirinya), dapat menjadi seorang dengan fanatisme religius yang kaku dan menentang segala bentuk kesenangan bagi  dirinya sendiri.

6. Peniadaan  (undoing) :

Mekanisme ini biasanya berkaitan dengan reaction formation. Terdiri atas perbuatan-perbuatan ritualistik yang mempunyai arti simbolik untuk meniadakan, menghapus, melupakan suatu kejadian, pemikiran atau impuls. Individu tidak mengetahui (tidak menyadari) hal yang “ditiadakan” olehnya; ia hanya mengalami suatu dorongan yang kuat  untuk melakukan suatu perbuatan tertentu, yang biasanya berulang kali.Contoh, seseorang kadang-kadang berkumur untuk “menghapus” perkataan yang baru dikatakannya namun disesalkan karena terdengar memalukan.

7. Isolasi :

Mekanisme ini memisahkan ingatan tentang peristiwa traumatik (peristiwa yang membangkitkan ansietas) dari penghayatan emosinya. Pasien dapat mengingat dan menceritakan peristiwa asalnya, tanpa menghayati emosi yang berkaitan dengan peristiwa itu; emosi itu disalurkan pada obyek-obyek lain yang tampaknya tidak relevan.

8. Penghalangan ( blocking ) :

Digunakan bila seseorang tidak dapat mengatasi emosinya dengan penyangkalan dan represi; dengan demikian suatu fungsinya dihentikan, dihadang. Mekanisme ini praktis selalu bersifat patologik; misalnya frigiditas sebagai mekanisme defensi terhadap hal-ihwal seksual, pasivitas yang ekstrim pada orang yang sebenarnya sangat hostil (bermusuhan) atau sangat takut.  Emosi yang “dihadang” demikian dapat disalurkan terhadap obyek atau situasi lain yang tampaknya tak bersangkut paut.

9. Regresi :

Mundur kembali pada jenis adaptasi yang lebih dini. Digunakan dalam usaha untuk mengatasi atau menyesuaikan diri dengan situasi yang amat sukar atau situasi buntu. Tingkat regresi memainkan peran penting dalam penentuan sifat reaksi, apakah neurotik atau psikotik, yang dipertunjukkan seseorang bila situasinya tidak dapat dihadapi secara konstruktif.

10. Splitting:

merupakan mekanisme defensi yang primitif, yang bermanifestasi secara klinis dalam bentuk:a). Ekspresi perasaan dan perilaku yang berubah-ubah secara cepat, b). Kemampuan pengendalian impuls berkurang secara selektif, c). Memisahkan orang-orang di lingkungannya menjadi dua macam, yaitu yang baik dan yang buruk, d).Representasi self yang berubah-ubah secara bergantian dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam. Banyak dijumpai pada pasien dengan gangguan kepribadian ambang.

11. Identifikasi proyektif:

Merupakan sarana masuknya splitting intrapsikik kedalam splitting interpersonal. Terdiri atas tiga tahap, yaitu: a). Pasien memproyeksikan representasi self dan obyek kepada terapis, b). Terapis secara nirsadar mengidentifikasi hal-hal yang diproyeksikan itu dan mulai berperilaku sesuai atau seperti yang diproyeksikan sebagai respons terhadap tekanan interpersonal dari pasien, c). Materi yang diproyeksikan diolah secara psikologik dan dimodifikasi oleh terapis dan kemudian dikembalikan kepada pasien (re-introyeksi) Materi yang dikembalikan itu akan mengubah represntasi self dan obyek dalam pola hubungan interpersonal.

PUSTAKA ACUAN :

  1. Lubis DB.  Pengantar Psikiatri Klinik, Balai Penerbit FKUI, 1993, 43-5, 105.
  2. Gabbard GO. Long-term Psychodynamic Psychotherapy A Basic Text. Washinton DC, London. American University Press 2004: 99-100
  3. Gabbard GO. Psychodynamic Psychiatry in Clinical  Practice, The DSM-IV Edition, American Psychiatric Press, Washington, 2000,  3-5, 32-4.
  4. Lubis DB & Elvira SD. Penuntun Wawancara Psikodinamik dan Psikoterapi. Balai Penerbit FKUI, 2005: 13.
  5. Nemiah JC. Foundations of Psychopatology. Jason Aronson Inc New York 1983: 7-8.
    1. Lubis DB. Ikhtisar Teori dan Klinik Neurosa, Bumi Grafika Jaya, 1979,5-6.
    2. Elvira SD. Kumpulan Makalah Psikoterapi. Balai Penerbit FKUI, 2005: 64.
    3. Fenichel O. The Psychoanalytic Theory of Neurosis, Basic Book, W.W. Norton & Co.,Inc., New York, 1972, 53-63.
    4. Karasu T.B.  Psychotherapies:  An Overview, American J. Psychiatry, 134: 8, 1977,  857- 8.

SEFT


SEFT merupakan suatu terapi Psikologi yang pertama kali ditujukan untuk melengkapi alat psikoterapi yang sudah ada, seperti contohnya metode desensitisasi atau pengurangan sensitifitas terhadap pemicu Phobia atau ketakutan yang amat sangat yang seringkali diluar rasio pada sesuatu.

Metode ini dapat berlangsung lama, bahkan bisa tahunan dan pasien akan merasakan ketakutan yang amat sangat karena diajak langsung berinteraksi dengan subyek ketakutannya, misalnya , takut bulu maka klien akan diminta memegang bulu. sungguh tidak nyaman dan berat untuk klien yang bersangkutan.

Kemudian muncul suatu pandangan yang menyatakan bahwa sebetulnya manusia tidak bisa dipisahkan dari segi jasmani dan rohaninya, dimana masing-masing sumber memiliki energi. Sebagai gambaran mudah, bila anda sedang marah, yang notabene adalah energi psikologi, anda akan merasakan gejala fisik misalnya kepala berdenyut-denyut, tensi meningkat, jantung berdebar lebih keras, aliran darah ke wajah semakin banyak atau gejala fisik yang lain.

Gambaran berikutnya, bila anda tidak ingin merasakan gejala fisik yang saya sebutkan diatas, anda harus membebaskan diri dari energi Psikologi yang negatif, dalam hal ini marah.

Jadi, pembebasan dari energi negatif adalah sesuatu yang esensial dalam SEFT.
SEFT sendiri bukanlah suatu teori yang baru, dimana prinsip awalnya sudah ditemukan lebih dari 5000 tahun yang lalu dimana diyakini bahwa tubuh manusia terdiri dari Cakra dan median yang membawa energy baik psikologis maupuin fisik dimana kedua energy ini saling berkaitan dan saling mempengaruhi.

Mungkin anda bertanya, “kok rasanya seperti teori akupuntur? “ anda tidak salah karena baik SEFT maupun Akupuntur berangkat dari teori yang sama, namun seperti yang anda ketahui bahwa akupuntur adalah sesuatu yang sangat rumit yang tidak semua orang bisa menguasainya. Disamping itu , akupuntur memerlukan waktu untuk bisa menimbulkan efek seperti yang diharapkan selain juga membuat pasien tergantung kepada terapisnya.

Akupuntur terdiri dari ratusan titik yang harus dihapal satu persatu. sedang SEFT, hanya terdiri dari 18 titik yang HANYA DIKETUK PERLAHAN, tanpa perlu penusukan jarum, dan dalam beberapa kasus phobia yang bisa dilakukan psikoterapi selama bertahun-tahun, dapat disembuhkan dengan SEFT hanya dalam waktu 20 MENIT ! SEFT sendiri dapat dilakukan sendiri oleh setiap orang (karena begitu mudahnya) bahkan anak berusia 5 tahun pun dapat diajari menggunakan terapi ini. Banyak yang meragukan efektifitas terapi ini , yang mereka bilang too good to be true, karena terlihat begitu simple , dan (terkesan) seperti main-main . Memang , terkadang secara kelirumologi banyak orang lebih tertarik kepada sesuatu yang rumit dan mahal dibandingkan dengan sesuatu yang simple seperti SEFT . Kemudian banyak orang mempertanyakan nilai ilmiah dari SEFT seperti bagaimana mekanisme bekerjanya ? dalam hal ini SEFT bisa dijelaskan seperti ini :

1. SISTEM ENERGI TUBUH. Tubuh kita mengandung energy berupa energy listrik. Dalam ilmu Biologi pernah kita mendapatkan pelajaran ini , namun bagi yang menginginkan contoh nyata adalah pada saat kita melakukan pemeriksan EKG ( Elektro Kardiogram ) yang notabene merupakan system listrik jantung. Dengan mengetahui system listrik tubuh , seorang terapis bisa memperkirakan penyakit dan membuat diagnosis terhadap suatu penyakit , Contoh lain adalah pada saat anda menyentuh setrika panas , secara instant anda akan merasakan rasa panas menjalar . Hal ini disebabkan rasa sakit dijalarkan secara elektrik ke otak kita . Tanpa adanya mekanisme ini , kita juga tidak akan bisa merasakan , mendengar , membau atau mengindera apapun .

2. KERUSAKAN SISTEM TUBUHSetelah kita belajar system energy tubuh , sekarang kita belajar tentang energy negative . Sekarang bayangkan pesawat TV anda mengalami gangguan pada hal kecil , misalnya kabelnya ada yang putus . tentu anda tidak akan mendapatkan gambar yang baik . Besar kemungkinan gambar TV anda akan terputus-putus , atau TV anda mendadak mati . Demikian juga dalam kehidupan anda . Pengalaman Psikologis yang buruk ( trauma ) akan disimpan sebagai kenangan yang buruk pula dan akan mengendap sehingga mempengaruhi energy Psikologis anda .Dalam hal ini anda akan mulai terserang stress , phobia atau kejadian yang lain yang juga mempengaruhi kondisi fisik . Misialnya seorang yang phobia air , akan merasakan sakit perut setiap kali dibawa ke kolam renang.

3. COMPLETING THE MISSING ONE Misalnya , anda kehilangan uang .Akan berbeda rasanya apabila anda mengikhlaskan uang yang sudah hilang dibandingkan dengan anda merasa marah oleh karenanya . Sulit ? Pasti ! Hanya bila anda ingin terbebas dari emosi negative , and harus berani MENERIMANYA . Mungkin anda bertanya , mengapa emosi negative harus kita terima, bukannya dibuang ? Saudara, dengan menerima setiap permasalahan kita , akan muncul perasaan pasrah dan menerima yang dalam survey terbukti meningkatkan kekebalan tubuh kita dari penyakit . Dalam hal psikologi , dengan menerima permasalahan kita akan melatih alam “kesadaran “ ( Supra Conciousness) kita sehingga akan tumbuh sikap “manusia mengendalikan masalah , dan bukan sebaliknya “ . SEFT sendiri menyandarkan diri pada 3 hal , yaitu KIP ( Khusyuk , Ikhlas , dan Pasrah ) dalam terapinya . Dengan menerima keadaan anda , anda akan menemukan bagian dari diri anda yang “hilang “

4. MENGGANTI 100 % SISTEM TUBUH . Langkah selanjutnya adalah dengan mengganti 100 % Sistem tubuh . Bukan maksud saya untuk anda ganti organ tubuh , tapi anda memperbaiki sistem tubuh anda baik energy Psikologis maupun fisik . SEFT sendiri berlangsung dengan mengaktifkan cakra (kumparan energy) yang ada pada tubuh kita dengan KETUKAN RINGAN pada 18 titik tubuh. Sangat mudah , cepat dan efisien .Dengan asumsi bahwa apabila kita membebaskan cakra dari energy negative , maka cakra yang merupakan kumparan energy kita akan berjalan lancar dan semua permasalahan Psikologis maupun Fisik kita akan hilang . BAGAIMANA MELAKUKAN SEFT ? Seperti yang saya tulis dibagian awal , bahwa SEFT adalah pengembangan dari EFT ( atau Emotional Freedom Technique ) dimana factor “S”adalah factor Spiritual . Hal ini sangat penting karena seringkali factor ini sangat berperan tatkala terapi EFT konvensional kurang maksimal memberikan hasil . Faktor Spiritual sangat penting karena merupakan hal esensial dan hubungan vertical “paling tulus” antara hamba dan penciptnya . Tidak ada perbedaan agama dalam pemberian terapi SEFT . Apapun kepercayaan atau agama anda , bisa menerima terapi ini .

Pedoman Wawancara Klien RSJ Oleh Psikologi


  1. Nama lengkap dan nama panggilan
  2. Tempat tanggal lahir, usia, dan urutan kelahiran
  3. Agama
  4. Jenis kelamin
  5. Pendidikan dan pekerjaan
  6. Suku
  7. Status marital
  8. Alamat
  9. Keluarga: Nama, usia, pendidikan, pekerjaan, alamat, hubungan persaudaraan, status marital
  10. Keluhan, riwayat keluhan, perilaku yang memicu dan setelah terjadinya pemicu
  11. Pola asuh keluarga, tinggal bersama siapa dan sudah berapa lama, hubungan sosial dengan keluarga
  12. Mengapa dibawa ke RSJ ? Sejak kapan? Karena apa? Benarkah demikian menurut klien?
  13. Apa yang anda rasakan dan pikirkan saat ini?
  14. Apa yang sudah dikatakan dokter, perawat, atau psikolog kepada klien?
  15. Merasa nyamankah atau tidak berada di RSJ?
  16. Bagaimana perasaan anda jika berada di rumah dan di RSJ? Bandingkan!
  17. Sudah pernahkah anda mengikuti terapi (fisioterapi, psikologi, farmakoterapi, dsb) ?
  18. Apa yang anda inginkan saat ini?
  19. Perawat → bagaimana perilaku klien selama di bangsal atau di RSJ?
  20. Perawat → sudah pernah dijenguk?, apakah klien sering/ pernah mengamuk? Kepribadian premorbid?, riwayat sakit klien, perawatan diri, kepatuhan terhadap aturan, dsb.
  21. Dokter → Obat apa yang sudah dikonsumsi klien?, riwayat keluhan klien.
  22. Keluarga → riwayat perjalanan keluhan klien, riwayat hidup klien, sikap dan perilaku, hubungan sosial klien, dsb.

Pengaruh Stres Dalam Kemunculan Hipertensi


Stres merupakan istilah yang dikenal luas dalam masyarakat. Batasan atau pengertian tentang istilah stres sendiri berragam. Umumnya yang dimaksudkan dengan stres adalah pola adaptasi umum dan pola reaksi menghadapi stresor, yang dapat berasal dari dalam di individu maupun dari lingkungannya. Bila proses adaptasi berhasil dan stresor yang dihadapi dapat diatasi secara memadai, maka tidak akan timbul stres. Baru bila gagal dan terjadi ketidakmampuan, timbullah stres. Menurut Hans Selye: Stres tidak selalu merupakan hal yang negatif. Hanya bila individu menjadi terganggu dan kewalahan serta menimbulkan distres, barulah stres itu merupakan hal yang merugikan.

Reaksi tubuh terhadap stresor, bahaya atau tantangan dimulai dengan reaksi awal di hipotalamus yang memulai reaksi rantai melalui serabut saraf dan reaksi biokimiawi, selanjutnya melalui sistem saraf otonom simpatik menimbulkan berbagai perubahan di seluruh tubuh. Individu menjadi waspada penuh, dan tersedia energi untuk menghadapi tantangan, baik untuk nenghadapi ancaman bahaya maut, berlomba, atau hanya sekadar mengejar jadual waktu. Terjadi peninggian tekanan darah, mama jantung, intake oksigen, dan aliran darah ke otot, dan terhimpunlah tenaga, energi dan konsentrasi pikir yang diperlukan. Bagian tubuh lain juga terpengaruh oleh reaksi tersebut misalnya pencernaan terhenti (hingga misalnya timbul nyeri dan tukak lambung), kulit berkeringat dan otot tegang sebagai persiapan untuk mengambil suatu tindakan, termasuk pilihan fight or flight.

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di negara maju maupun negara berkembang. Prevalensi hipertensi yang tinggi dikhawatirkan dapat mengganggu pembangunan yang ada. Peningkatan kejadian hipertensi tidak terlepas dari perubahan perilaku masyarakat. Jika hipertensi tidak ditangani dengan baik, maka akan menyebabkan komplikasi penyakit degeneratif seperti gagal ginjal, gagal jantung dan penyakit pembuluh darah tepi. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor apa saja yang dapa menghambat (protektif) dan meningkatkan (pemicu) kejadian hipertensi, sehingga dapat dilakukan pengelolaan dan pencegahan hipertensi maupun komplikasinya.

Menurut hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 yang dilakukan oleh Balitbangkes Depkes RI kondisi hipertensi berkaitan dengan karakteristik umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, tipe wilayah, status perkawinan, pengeluaran perkapita; aktivitas fisik (aktivitas fisik berat, sedang, berjalan kaki/bersepeda kayuh), kebiasaan makan (konsumsi buah dan sayur, makanan manis, makanan asin, makanan berlemak, jeroan, makanan yang diawetkan, konsumsi alkohol, minuman berkafein), kebiasaan merokok, pengendalian stres, dan status gizi. Rata-rata umur risiko hipertensi adalah kisaran usia 35-54 tahun (dewasa menengah). (Hurlock 1980).  Berdasarkan gaya hidup, prevalensi hipertensi tertinggi dialami oleh orang yang kurang melakukan aktivitas fisik (49.8%) dan konsumsi buah sayur(49.4%); tidak melakukan aktivitas fisik berat (49.6%), aktifitas fisik sedang (54.5%), dan berjalan kaki/ bersepeda kayuh (53.2%); tidak pernah mengkonsumsi makanan asin (60.0%), makanan berlemak (58.2%), makanan awetan (51.6%), dan minuman beralkohol (49.8%); mengkonsumsi makanan/ minuman manis 1-2 kali per minggu (54.0%), jeroan >1 kali per hari (62.1%), dan minuman berkafein 1 kali per hari (52.3%); sebelumnya merokok (68.8%), dan stres (52.9%).

Faktor umur, status perkawinan, tingkat pengeluaran perkapita, aktivitas fisik sedang, aktivitas berjalan kaki/bersepeda kayuh, konsumsi makanan asin, makanan berlemak, jeroan, makanan awetan, minuman beralkohol dan stres berhubungan nyata positif dengan hipertensi; sedangkan pendidikan, rata-rata batang rokok yang dihisap per hari dan status gizi berhubungan nyata negatif dengan hipertensi.

Peningkatan aktivitas fisik, pembatasan konsumsi makanan asin dan makanan/minuman manis, dan peningkatan konsumsi buah dan sayur perlu dipromosikan kepada masyarakat, mengingat profil perilaku tersebut terhadap kejadian hipertensi masih mendominasi daerah tersebut. Istirahat yang cukup, hubungan yang baik dengan orang lain, dan berpikir positif dapat dilakukan untuk menghindari stres. Mempertahankan status gizi normal dapat dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara energi yang dikonsumsi dan yang dikeluarkan.

Hipertensi merupakan kondisi fisik yang juga memiliki hubungan dengan stres. Stres merupakan salah satu alasan meningkatnya tekanan darah sehingga dapat menyebabkan hipertensi. Adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara tekanan darah  dengan stres. Selain terapi medis, klien juga memerlukan adanya terapi psikologis. Tertawa merupakan aktivitas psikologis yang dapat mengontrol tekanan darah dengan menurunkan produksi hormon penyebab stress naiknya. Selain tertawa, gelombang otak merupakan alternatif terapi yang juga dapat digunakan untuk mencapai kondisi rileks. Program Pengelolaan diri dengan tertawa dan penggunaan gelombang otak pada penderita hipertensi terbukti efektif untuk menurunkan stres.

Hipertensi merupakan salah satu penyakit sistem kardiovaskuler yang cenderung banyak ditemui di masyarakat. Jumlah penderita hipertensi di seluruh dunia diperkirakan 972 juta jiwa atau setara dengan 26,4 persen populasi orang dewasa, sementara prevalensi di Indonesia berdasarkan riskesdas (riset kesehatan dasar) 2007 mencapai 30 persen dari populasi, dan 60 persennya berakhir pada stroke. Pada data profil kesehatan Indonesia tahun 2006, hipertensi esensial berada pada peringkat 2 dari Pola 10 Penyakit Terbanyak pada Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit di seluruh Indonesia (Depkes, 2007). Hipertensi adalah suatu keadaan terjadinya gangguan mekanisme pengaturan tekanan darah. Hipertensi merupakan tekanan darah persisten, dimana tekanan darah sistoliknya di atas 140 mg dan diastoliknya di atas 90 mg (Smith Tom, 1995), sementara hipertensi dengan kondisi grade berat apabila tekanan darah sistoliknya berada di atas 180 mg dan diastoliknya di atas 100 mg (ridha-zulfajri.blogspot.com, 2010). Pada umumnya hipertensi tidak memiliki penyebab spesifik. Sampai saat ini penyebab hipertensi esensial tidak diketahui dengan pasti.

Hipertensi primer tidak disebabkan oleh faktor tunggal dan khusus. Hipertensi ini disebabkan berbagai faktor yang saling berkaitan. Hipertensi sekunder disebabkan oleh faktor primer yang diketahui yaitu seperti kerusakan ginjal, gangguan  obat tertentu, stres akut, kerusakan vaskuler dan lain-lain (Anggraini, Waren, Situmorang, Asputra, dan Siahaan, 2009). Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan kardiak output atau peningkatan tekanan perifer, namun ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi terjadinya hipertensi, antara lain; genetik, stress, kebiasaan hidup, ciri perseorangan hilangnya elastisitas jaringan arterisklerosis pada orang tua serta pelebarang pembuluh darah, dan penyakit lainnya.

   Hipertensi juga berkaitan dengan risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan keparahan dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi. Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara  lain faktor genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres, obesitas dan nutrisi (Anggraini, dkk, 2009). Beberapa profesi memiliki resiko yang cenderung tinggi terhadap munculnya stress yang mengarah pada terjadinya hipertensi.

Profesi seperti guru dan dosen merupakan contoh pekerjaan yang cenderung rentan dengan kondisi burnout (Herpansi, 2009), yang dapat menjadi pemicu stres. Selain mengajar, menulis laporan penelitian, membuat jurnal ilmiah, juga kerja-kerja administratif yang dilakukan dalam tenggat waktu dan ketergesaan, seorang dosen juga dapat mengajar sampai 11 mata kuliah per minggu (Meka, 2008). Kondisi pekerjaan yang demikian dapat menjadi faktor stres tersendiri, di samping kondisi lain seperti faktor genetis, pola hidup, usia, dan penyakit lainnya, karena pada dasarnya hipertensi tidak hanya dipengaruhi oleh satu penyebab spesifik. Pada Mills, Karina, Noha (2004) beberapa penelitian menunjukkan bahwa stres pekerjaan memiliki pengaruh terhadap tekanan darah, namun hal tersebut tidak terlepas dari kondisi demografik pasien.

Beragamnya faktor yang dapat menyebabkan hipertensi, maka di samping pemberian terapi farmakologis, perlu adanya pemberian terapi non farmakologis yang dapat mengontrol tekanan darah pasien.  Adanya stres dapat menyebabkan produksi hormon vasokonstriksi yang besar dan meningkatkan tekanan darah, sehingga salah satu cara untuk mencegah terjadi hipertensi adalah dengan mengatur tekanan darah dan stress hormon yang terdiri dari kortisol, epinephrine, adrenaline, dopamine dan growth hormon. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi (ridha-zulfajri.blogspot.com, 2010). Pada saat itu, sistem saraf simpatetislah yang bekerja, maka dari itu kondisi rileks diperlukan untuk mengaktifkan sistem saraf parasimpatetis yang bekerja berlawanan dengan saraf simpatetis, maka tubuh akan mereduksi produksi stress hormon. Tertawa dapat membantu untuk mengontrol tekanan darah dengan menurunkan stress hormon serta memunculkan kondisi rileks. Eksperimen menunjukkan adanya penurunan tekanan 10-20 mm setelah berpartisipasi dalam sesi tertawa selama 10 menit (www.healthsmartsantafe.com). Pada penelitian Kanji, White, Ernst (2006) menunjukkan adanya penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik setelah 8 minggu pemberian intervensi, dan dibandingkan dengan grup dengan terapi autogenik, serta grup tanpa intervensi. Dr llona Papoussek terapi tawa dapat menurunkan tekanan darah pada penderita stroke  (www.laughteryoga.org 2004; Perry, 2005 ).

Kebutuhan tubuh akan rileks juga dapat dihasilkan dari gelombang otak. Frekuensi gelombang otak memiliki asosiasi dengan aktivitas yang sedang dilakukan. Sebagai contoh pada frekuensi gelombang otak delta (1-4Hz) berasosiasi dengan kegiatan tidur yang dalam keadaan nyenyak; theta (4-8Hz) berasosiasi dengan tidur ringan/ light sleep, insight, dan kreatif; alpha (8-12Hz) berasosiasi dengan aktivitas berpikir, serta beta (20-31Hz) berasosiasi dengan kondisi cemas. Metode brainwaves entraiment menstimulasi otak pada frekuensi yang diinginkan melalui auditori tones (Huang dan Charyton, 2008).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas program mengetahui efektifitas program pengelolaan diri dengan tertawa; gelombang otak pada penderita hipertensi dalam menurunkan stres. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah program pengelolaan diri dengan tertawa; gelombang otak efektif pada penderita hipertensi dalam menurunkan kondisi stres.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Anggraini, A.D., Waren, A.,  Situmorang, E., Asputra, H., dan  Siahaan, S. S. 2009. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi Pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Dewasa Puskesmas Bangkinang Periode Januari Sampai Juni 2008. Http://yayanakhyar.wordpress.com.

Asuhan Keperawatan Pada Penderita Hipertensi. 2010. http://ridha.zulfajri.blogspot.com.

 

Herpansi, Y. 2009. Hubungan Antara Kejenuhan(Burnout) Dengan Kompetensi Dosen Dalam Proses Pembelajaran. Http://yherpansi.wordpress.com.

Huang, T.L., dan Charyton, C. 2008. A Comprehensive Review of The Psychological Effect of Brainwave Entrainment. Aterlnative Therapies, Vol. 14. No.5.

Kanji, N., White, A., dan Ernst, E. 2006. Autogenic training to reduce anxiety in nursing students: randomized Controlled trial. Journal of Advanced Nursing 53(6),729–735.

Malpani, A. Health Benefits Of Laughter Therapy. www.healthsmartsantafe.com.

Meka, H. 2008. Seputar kesehatan dosen, kerja dosen, stres tinggi & umur pendek. http://www.mail-archive.com.

Mills, P.J.,  Karina, W. D., dan Noha, H. F. 2004. Work Stress and Hypertension: A Call From Research Into Intervention. The Society of Behavioral Medicine.

Perry, M. 2005. Is There A Place For Humour And Laughter Therapy In Stroke Rehabilitation. Journal of the Australian Rehabilitation Nurses’ Association Volume 8, Number 3.

Profil Kesehatan Indonesia 2007. 2007.www.depkes.go.id.

Kisah Dua Karung Beras


Cerita tentang dua buah karung beras yang mempunyai berat yang sama, saling jatuh cinta. Mereka menaiki anak tangga berdua untuk mencapai tangga paling atas. Mereka saling memberi semangat ketika lelah dan patah semangat. Karung yang laki-laki berwarna hijau, karung perempuan berwarma orange. Karung hijau ketika dia sakit, dan karungnya berlubang, cara untuk menyembuhkan lubang itu dengan cara melubangi karung orange, dan karung orange ini juga melubangi dirinya sendiri agar karung hijau kembali bersemangat, tak peduli banyak beras yang dikeluarkannya.

 

Ketika karung orange berbuat kesalahan, kesalahan yang membuat karung hijau berlubang, karung hijau melubangi bertubi-tubi karung orange, dan karung orange untuk menyelesaikan masalah ini dia melubangi dirinya sendiri… Sekarang karung orange tidak punya beras lagi.. tidak punya tempat untuk dilubangi lagi… Tapi karung hijau datang.. dia menginjak karung orange itu karena karung orange ini salah.. selama ini lubang-lubang yang dibuat oleh karung orange pada dirinya sendiri adalah kebohongan. Inilah harga mati yang harus dibayar oleh karung orange.

 

Sekarang karung hijau meninggalkan karung orange tanpa peduli beras itu habis dan karung itu penuh lubang… Dia berjalan naik tangga sendiri, dengan hanya mempedulikan karung dan berasnya sendiri… Sekarang karung orange menuruni tangga, mengambil berasnya yang tercecer tapi tetap keluar dari tubuhnya.. karungnya penuh lubang dan betapa sulitnya menambal lubang-lubang itu. Sekarang karung orange berada ditangga paling bawah, dengan beras pungutan seadanya.. dengan karung yang penuh lubang. Kita tentang cerita selanjutnya apa karung mampu menaiki anak tangga itu.. yang pasti karung hijau sudah tak terlihat dari tangga paling bawah.