Kesurupan Dalam Perspektif Psikologi


Dalam perkembangan peradaban di Indonesia saat ini, fenomena psikologis semakin berkembang. Sebut saja fenomena kesurupan. Menurut keyakinan sebagian warga kesurupan merupakan keadaan dimana seseorang diganggu oleh makhlus halus atau setan. Benakah demikian? Dalam perspektif psikologi, kesurupan merupakan keadaan trans yang dialami seseorang dimana simbol-simbol, arketipe-arketipe, shadow, dan anima secara tidak sengaja tidak mampu direpresi oleh ego, sehingga muncul ke dalam alam kesadaran. Simbol-simbol yang merupakan akumulasi pengalaman sepanjang hidup direpresi dalam bentuk fiktif berupa simbol. Setiap simbol memiliki arti tertentu. Jung berusaha menjelaskan beberapa simbol bawah sadar ini, tetapi beragam dan kompleksnya simbol bawah sadar membuat identifikasi terhadap simbol bawah sadar nampaknya bisa bersifat individual, artinya bisa saja satu simbol dimaknai berbeda oleh seseorang dan orang lainnya. Kesurupan merupakan keadaan trans karena beratnya tekanan represi, sehingga ego tidak mampu menekan keadaan simbolis ini sebagai pengalaman bawah sadar. Fenomena kesurupan hampir menyerupai keadaan skiziod ataupun skizofrenia pada penderita gangguaan jiwa. Pada penderita skizofrenia, pengalaman-pengalaman simbolis bawah sadar tidak dapat ditekan oleh ego sehingga ide-ide tersebut muncul ke kesadaran. Secara singkat, terjadinya kerapuhan pada batas antara kesadaran dan bawah sadar, sehingga penderitanya tidak mampu membedakan antara realita dan khayalan. Khayalan ini disebut waham dan halusinasi. Maraknya kasus kesurupan seperti yang dijelaskan dalam media-media Indonesia saat ini, fenomena itu dapat dijelaskan tekanan-tekanan psikis yang dirasakan oleh seseorang akibat kehidupan. Tekanan yang dirasakan seseorang semakin meningkat serta kurangnya dukungan sosial dari orang lain, memfaktori gejala kesurupan semakin menguat. Kesurupan di Indonesia sering terjadi pada siswa-siswa atau pelajar sekolah. Siswa sekolahan dalam tahap perkembangan masih dalam rentang usia remaja. Usia remaja merupakan masa storm and stress, artinya pada masa ini seseorang sangat rentan dengan pengaruh lingkungan sosial. Tuntutan dari orangtua, guru, dan teman-teman mungkin saling bertentangan. Selain itu, anak remaja sebagai individu yang memasuki masa peralihan menuju kedewasaan seringkali mengalami problem psikis apabila kurangnya dukungan psikologis dari orang terdekatnya. Dalam kondisi seperti ini, ego selalu berupaya melakukan mekanisme pertahanan diri, tetapi dalam batas ambang ego tidak dapat menekan beberapa ide-ide yang mendasari probelm remaja, sehingga individu dalam keadaan stressful. Jika sudah demikian, stimulus perangsang kecilpun bisa dimanifestasikan sebagai stimulus besar. Dalam kondisi ini, remaja berada dalam tingkat sugestibilitas yang tinggi dan ketika satu stimulus penghantar sekaligus pembangkit stress diberikan ke remaja, maka remaja tersebut akan masuk kedalam keadaan trans. Sama halnya dalam keadaan hipnosis, individu mendapatkan anchor dari pihak kedua, sehingga masuk ke keadaan trans. Pada dasarnya, orang yang mengalami kesurupan masuk kedalam keadaan trans dimana dirinya berada dalam level ketidaksadaran bukan pada kesadaran. Dalam level ketidaksadaran, seseorang secara spontan merespons segala sesuatu stimulus yang muncul di sekitarnya. Dalam masa ini fungsi otak yang berperan adalah hipotalamus. Pergerakan otak dilakukan secara instingtif dan refleks. Dalam keadaan kesurupan, simtom-simtom bawah sadar yang pernah ditekan dalam-dalam naik kesadaran dan menjadi ide-ide yang irasional dalam bentuk simbolisme. Bisa saja simtom ibu dimanifeskan dalam simbol rumah atau simtom musuh dimanifeskan dalam simbol hantu, dan sebagainya. Pembahasan mengenai dunia bawah sadar telah lama dipersandingkan dengan fenomena ghaib dalam keyakinan masyarakat Indonesia. Tidak dapat dipungkiri masyrakat kita masih banyak yang lebih percaya bahwa kesurupan merupakan peristiwa ghaib daripada ilmiah (Calvin, 2001). Dalam keadaan kesurupan saat simtom-simtom naik ke kesadaran muncullah ide-ide bawah sadar dalam simbol-simbol. Hal ini yang menjelaskan pada saat seseorang mengalami kesurupan memungkinkan menggumam hal-hal yang aneh. Perilaku aneh yang muncul  merupakan manifes trauma yang ditekan oleh ego dalam bawah sadar seseorang. Mungkin itulah penjelasan yang pantas untuk menjelaskan fenomena kesurupan yang akhir-akhir ini merebak di masyarakat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s