Merpati Senja


Karya: Aswendo Dwitantyanov

(Created Date: 12 April 2008)

 

Masa kecil yang indah. Itulah yang tersirat dalam hidup Rita. Hidup anak-anak memanglah indah. Siang berganti malam. Hujan berganti cerah. Semuanya tidak berasa sedikitpun. Entah karena belum mampu merasa pahitnya kehidupan atau memang kehidupan belum bersikap pahit kepadanya. Itulah jalan hidup Rita mungil dalam pangkuan mesra ayah dan ibunya. Periang dan sangat beride cemerlang.

Kabut dalam hidup Rita mulai terasa, ketika itu, sore hari yang mendung Rita harus mengalami kepahitan hidup. Karena kelalaian seorang pemuda, kini ia hanya bisa menikmati indahnya dunia dari sisi kursi rodanya. Kursi roda yang akan menemani hari-hari depannya. Oh betapa sayangnya, begitu selalu pikir ibunya sedih meratapi nasib anaknya itu.

Hidup Rita bagaikan katak hendak menjadi lembu. Tiada berarah dan tiada berpeluang berubah. Ia berubah menjadi sosok yang pendiam dan pemurung. Hidupnya selalu penuh ratapan dan tangisan ketika melihat hujan. Ibu dan ayahnya bingung dan sedih melihat anak satu-satunya itu yang banyak menghabiskan waktu dengan menangis itu.

Suatu sore dari kejauhan halaman rumahnya, ia melihat beberapa anak-anak tengah berlarian di jalanan seberang rumahnya. “Ma, aku pengen ikut bermain”, kata Rita kecil. “Mama, antar kamu ke sana yah!”. “Gak usah ma, aku mau kesana sendiri saja”. “Hati-hati ya nak”.

Dengan penuh semangat, Rita menggerakkan kursi rodanya menuju anak-anak itu. “Bolehkan aku ikut main?”, sapa Rita kepada mereka. “Bagaimana mungkin anak cacat kayak kamu bisa ngejar kami, hahaha…” sahut seorang bocah sebayanya. “Hush, jangan gitu, ntar kita kualat loh, yuk pergi aja” sahut anak yang lain.

Betapa sedihnya hati Rita. “Oh, Tuhan, kenapa aku harus cacat seperti ini, sungguh Kamu tidak adil kepadaku, engkau biarkan hidupku menderita” Tangis Rita. Ia bergerak kembali kerumahnya dengan penuh sesal. Masuk ke kamar dan menutup pintu erat-erat. Ibunya sedih melihat hal itu.

5 tahun kemudian. Rita mungil itu telah memasuki masa remaja. Baginya masa remaja seperti tahanan dalam hidup. Betapa tidak, bukan jarang ia mendapatkan ejekan dari teman-temanya, entah itu anak cacat, anak berkaki empat. Kian lama semakin murung wajah Rita. Suatu ketika sepulang sekolah seperti biasanya ia menuju gerbang pagar sekolah dimana ibunya sedang menunggu kehadirannya. Ia bergerak sambil menutup telinganya agar terhindar dari ejekan teman-temannya. Tapi alangkah terkejutnya, saat menemukan ibunya tidak ada seperti biasanya. Ia mengangkat HP nya dan menghubungi ibunya. “Tunggu 15 menit lagi ya nak, ibu ntar lagi sampai, lagi ada tamu di kantor nih”. Ia mendesah. “Mau apalagi, terpaksa menunggu ibu” kesalnya.

“Hai, namaku Alan” seorang anak laki-laki kurus tiba-tiba sudah berada di sampingnya. “Eh, eh, iya, aku Rita, kamu murid baru itu kan” sahut Rita sedikit canggung. “Iya, aku pindahan dari Malang”. “Aku lihat kamu tidak akur ya sama teman-teman kamu” kata Alan. “Hmm” angguk Rita. “Kamu kan tahu aku seperti ini, mana ada orang yang mau berteman dengan aku” kata Rita. “Jangan ngomong ngawur kamu” kata Alan.

“Mengapa?”. “Karena kamu masih beruntung dibandingkan orang lain yang mungkin lebih buruk keadaannya dari kamu” Kata Alan. “Apa beruntungnya aku?”. Alan tersenyum. “Hahaha, dasar manusia hanya bisa mengeluh saja”. “Bagaimana dengan kamu? Apa kamu mau berteman dengan anak cacat seperti aku” tanya Rita menantang. “Tentu saja bodoh” kata Alan sembil tersenyum. “Selama kamu masih manusia, bukan alien, aku mau jadi temanmu” Lanjut Alan. “Ha…apa? kamu bilang aku alien, awas kamu”.

Beberapa lembar kehidupan Rita sedikit demi sedikit berubah dengan kehadiran Alan. Mereka berteman dengan baik. Ternyata benar kata Alan, tidak semua teman-teman di sekolahnya benci sama keadaannya itu. Rita mempunyai beberapa teman dekatnya. Ia mulai bisa merasakan senyum hadir dalam hidupnya lagi.

“Hey, ta..kamu tahu gak, kalo’ aku nih indigo” kata Alan. “apaan tuh, Lan? Makanan yah” Rita kebingungan. “Bukan dudul, itu sebutan orang yang merasa punya indra keenam gitu”. “Ah masa? Kamu?” tanya Rita tidak percaya. “Yah, udahlah kalo’ kamu gak percaya lagi ma aku”. “Percaya sih, tapi buktinya mana?” Tanya Rita.

“Mau bukti?”. “Iya” sahut Rita. “Aku bisa tahu kalau ntar lagi kamu kena siram air”. Tiba-tiba Alan menyiramnya dengan air. “Selamat ulang tahun Rita”. “Ah, kamu brengsek” keluh Rita.

Perjalanan kedua remaja itu semakin erat semenjak kelulusan mereka di SMA. Alan menyatakan cintanya kepada Rita. Sejak itu, Rita serasa mendapatkan hidup keduanya. Sedikit kesedihan terbesit di hati Rita, tatkala Alan mengatakan ia akan melanjutkan studinya ke Jakarta. Sedangkan Rita sendiri akan melanjutkan studinya ke Semarang. Bukan soal gampang bagi Rita menjalani hubungan jarak jauh itu.

“Kamu percaya komitmen kita kan?” tanya Alan. “Hmm…”. “Rit, aku tahu ini akan susah, tapi yang harus kamu yakini aku tidak akan berpaling darimu”. “Janji?” kata Rita. “Tentu saja”.

Hubungannya berjalan semakin baik. Semakin baik ketika dokternya mengatakan Rita bisa berjalan lagi tanpa kursi roda. Oh, serasa dunia ini bertambah luas sepuluh kali lipat saja, pikir Rita. “Semua akan baik-baik saja” kata hati Rita.

Selama perjalanan hidupnya Alan adalah sosok yang begitu berarti setelah ibu dan ayahnya. Apalagi ia anak tunggal, jadi tidak pernah merasakan kasih sayang dari saudara-saudaranya.

“Kamu kenapa Lan?” tanya Rita suatu ketika berjalan bersama Alan saat hari libur. Rita kaget melihat wajah Alan begitu pucat dan dari hidung Alan keluar darah. “Ah, gak pa pa kok”.

Rita semakin curiga dengan Alan. Bukan hanya sekali hal itu terjadi, malah berkali-kali ia melihat tanda-tanda aneh pada diri Alan. Hingga suatu ketika, sore hari yang gerimis, Rita mendapati sosok Alan terbaring di sebuah kamar rumah sakit. “Lan, tadi aku ke rumahmu, dan sekarang aku jadi bingung kenapa kamu bisa ada di sini?, tolong jujur sama aku, bukannya kamu dulu bilang kalau kita harus saling jujur kan?” tanya Rita.

“Owh, akhirnya aku harus jujur sama kamu ya” kata Alan sambil tersenyum. “Rita, aku terkena Leukemia” sahut Alan lirih. “Sejak kapan Lan?”. “Sejak SMP” kata Alan. “Jadi kamu?ah…” Rita tak kuasa menahan air matanya. “Kenapa kamu gak cerita dari dulu?”. “Aku Cuma gak mau kamu mengasihani aku dan bersedih, padahal waktu itu keadaanmu sendiri udah bikin kamu sedih”. “Rita, tolong kamu jangan berubah sikap ya setelah tahu kondisiku seperti ini”. “Tentu saja tidak, bodoh” kata Rita.

“Lan, boleh gak aku nemenin kamu di sini?” tanya Rita. “Hmm, boleh-boleh saja sih, tapi apa kamu gak capek”. “Gak, aku mau nemenin kamu di rumah sakit, aku mau balas kebaikanmu ke aku dulu waktu aku masih duduk di kursi roda”. “Yang mana, Rit?”.

“Aku senang banget Lan, karena waktu itu tidak ada yang mau berteman dengan aku, tapi kamu ikhlas mau berteman dengan anak cacat seperti aku dulu” kata Rita.

“ Rit, manusia itu hidup seperti yin dan yang. Selalu ada kelebihan dan pasti ada kekurangan. Dengan menghargai kekurangan pada diri seseorang dan memandang berarti semua orang itulah sinergi yang bijak dari hidup”

“Ah, kamu…udah tidur sana udah malam” kata Rita.

Malam semakin larut. Rita tidur di kursi tepat di samping ranjang Alan terbaring. Dalam mimpinya ia melihat masa depannya yang bahagia.

Sebulan telah berlalu, kini Rita baru sadar bahwa ia harus bangkit. Begitu janjinya pada Alan. Alan telah tertidur dan tak pernah lagi membuka matanya untuk menatap senyum Rita sejak hari itu. Rita begitu sedih, tapi ia mencoba tegar menghadapi itu semua. Ia sangat beruntung dipertemukan dengan Alan dalam hidupnya. Berkat sosok itu ia semakin dewasa dan sadar tentang kebijaksanaan dalam hidup.

“Yah, sekalipun aku bodoh dan bingung soal yin yang yang kamu jelasin dulu, tapi aku mengerti bahwa itulah hidup” pikir Rita.

Rita membuka buku catatan harian Alan yang sempat diberikan kepadanya sebelum tertidur.

“Aku ingin menjadi merpati yang terbang hingga siang berganti senja, dan senja menutupiku. Dengan begitu, saat aku pergi tiada orang yang akan sedih”.

“Kata dokter hidupku tinggal 3 bulan lagi… ah, sesal yang ada saja. Betapa bahagianya orang yang tidak perlu tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya di masa depan, tidak perlu takut seperti aku ini…masa depanku serasa sudah dapat kulihat, mungkin aku indigo, hahaha….”

Rita terpegun membaca buku harian Alan itu. Betapa menyesalnya ia, saat ia mengingat pernah berpikir betapa senangnya orang yang bisa melihat masa depannya sendiri. Ah, konyolnya aku, pikir Rita.

Yah, begitulah hidup, terkadang mengetahui masa depan lebih dulu itu menyakitkan. Berlainan dengan yang Rita pikirkan dari dulu. Alan engkau telah menjadi merpati senjaku, kata Rita. ”Sekalipun begitu, jika nanti malam berganti pagi, aku berharap dapat melihatmu terbang kearah mana dan akan kuikuti lagi arah kepak sayapmu itu.

 

 

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s