Stres


Stres adalah suatu reaksi dari tubuh (respon) terhadap lingkungan yang dapat memproteksi diri kita dan merupakan sebuah defense mechanism alami yang membuat kita tetap hidup. Stres tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Stres dalam kadar ringan dapat membuat Anda berpikir dan berusaha dalam menjawab tantangan hidup sehari-hari. Stres dalam kadar ringan juga dapat menjadi motivasi untuk menjadi seseorang  yang  lebih baik dan stres dapat membuat hidup menjadi lebih penuh ‘warna’. Namun stres yang berlebihan dan berkepanjangan akan menimbulkan gangguan pada kesehatan tubuh kita.

 

Jenis – Jenis Stres

Stres pada dasarnya ada dua jenis yaitu stres positif (Eustress) dan stres negatif (Distress). Stres bersifat positif bila Anda dapat menghadapinya dan meningkatkan kemampuan kita untuk menghadapinya. Stres positif disebut dengan eustress. Sedangkan stres bersifat negatif bila Anda tidak memiliki kemampuan cukup untuk menghadapinya, timbul gangguan kesehatan, timbul ketakutan, kecemasan, dan keinginan untuk ‘melarikan diri’. Stres negatif disebut dengan distress.

 

Reaksi Tubuh terhadap Stres

Reaksi tubuh terhadap stres dibagi menjadi empat bagian.

  1. Reaksi fisik

Reaksi ini adalah reaksi yang paling terlihat. Contohnya adalah sakit kepala (seperti pada gambar), jatung deg-deg an, lidah menjadi kelu, kehilangan nafsu makan, insomnia, dan masih banyak lagi.

  1. Reaksi emosi

Reaksi ini contohnya marah-marah, cemas, mudah tersinggung, menjadi pesimis, dan masih banyak lagi lainnya.

  1. Reaksi kognitif

contohnya adalah berpikir negative, sulit konsentrasi, sulit berpikir, dan masih banyak lagi.

  1. Reaksi tingkah laku

contohnya adalah menarik diri dari lingkungan (withdrawal), tidur berlebihan,   jadi pendiam, jadi jutek, dan masih banyak lagi.

 

Dampak Stres

Stres dan depresi, yang dianggap sebagai penyakit zaman kita, tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tapi juga mewujud dalam berbagai kerusakan tubuh. Gangguan umum yang terkait dengan stres dan depresi adalah beberapa bentuk penyakit kejiwaan, ketergantungan pada obat terlarang, gangguan tidur, gangguan pada kulit, perut dan tekanan darah, pilek, migrain (sakit kepala berdenyut yang terjadi pada salah satu sisi kepala dan umumnya disertai mual dan gangguan penglihatan) , sejumlah penyakit tulang, ketidakseimbangan ginjal, kesulitan bernapas, alergi, serangan jantung, dan pembengkakan otak. Tentu saja stres dan depresi bukanlah satu-satunya penyebab semua ini, namun secara ilmiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan-gangguan kesehatan semacam itu biasanya bersifat kejiwaan.

Stres, yang menimpa begitu banyak orang, adalah suatu keadaan batin yang diliputi kekhawatiran akibat perasaan seperti takut, tidak aman, ledakan perasaan yang berlebihan, cemas dan berbagai tekanan lainnya, yang merusak keseimbangan tubuh. Ketika seseorang menderita stres, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan tanda bahaya, sehingga memicu terjadinya beragam reaksi biokimia di dalam tubuh: Kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat; penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah; tekanan darah meningkat dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik, dan semua ini memunculkan masalah bagi tubuh.

Oleh karena stres yang parah, khususnya, mengubah fungsi-fungsi normal tubuh, hal ini dapat berakibat sangat buruk. Akibat stres, kadar adrenalin dan kortisol di dalam tubuh meningkat di atas batas normal. Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama berujung pada kemunculan dini gangguan-gangguan seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan, penyakit pernapasan, eksim dan psoriasis (sejenis penyakit kulit yang ditandai oleh pembentukan bintik-bintik atau daerah berwarna kemerahan pada kulit, yang tertutupi oleh lapisan tanduk berwarna perak) . Kadar kortisol yang tinggi dapat berdampak pada terbunuhnya sel-sel otak. Sejumlah gangguan akibat stres digambarkan dalam sebuah sumber sebagaimana berikut:

Terdapat kaitan penting antara stres dan tegang (penegangan), serta rasa sakit yang ditimbulkannya. Penegangan yang diakibatkan stres berdampak pada penyempitan pembuluh darah nadi, gangguan pada aliran darah ke daerah-daerah tertentu di kepala dan penurunan jumlah darah yang mengalir ke daerah tersebut. Jika suatu jaringan mengalami kekurangan darah hal ini akan langsung berakibat pada rasa sakit, sebab suatu jaringan yang di satu sisi mengalami penegangan mungkin sedang membutuhkan darah dalam jumlah banyak dan di sisi lain telah mendapatkan pasokan darah dalam jumlah yang kurang akan merangsang ujung-ujung saraf penerima rasa sakit. Di saat yang sama zat-zat seperti adrenalin dan norepinefrin, yang mempengaruhi sistem saraf selama stres berlangsung, juga dikeluarkan. Hal ini secara langsung atau tidak langsung meningkatkan dan mempercepat penegangan otot. Demikianlah, rasa sakit berakibat pada penegangan, penegangan pada kecemasan, dan kecemasan memperparah rasa sakit.

Akan tetapi, salah satu dampak paling merusak dari stres adalah serangan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang agresif, khawatir, cemas, tidak sabar, dengki, suka memusuhi dan mudah tersinggung memiliki peluang terkena serangan jantung jauh lebih besar daripada orang yang tidak memiliki kecenderungan sifat-sifat tersebut.

Alasannya adalah bahwa rangsangan berlebihan pada sistem saraf simpatetik (yakni sistem saraf yang mengatur percepatan denyut jantung, perluasan bronkia, penghambatan otot-otot halus sistem pencernaan makanan, dsb.), yang dimulai oleh hipotalamus, juga mengakibatkan pengeluaran insulin yang berlebihan, sehingga menyebabkan penimbunan kadar insulin dalam darah. Ini adalah permasalahan yang teramat penting. Sebab, tak satu pun keadaan yang berujung pada penyakit jantung koroner memainkan peran yang sedemikian paling penting dan sedemikian berbahaya sebagaimana kelebihan insulin dalam darah.

Para ilmuwan telah mengetahui bahwa semakin parah tingkat stres, maka akan semakin lemahlah peran positif sel-sel darah merah di dalam darah. Menurut sebuah penelitian yang dikembangkan oleh Linda Naylor, pimpinan perusahaan alih teknologi Universitas Oxford, pengaruh negatif berbagai tingkatan stres pada sistem kekebalan tubuh kini dapat diukur.

Terdapat kaitan erat antara stres dan sistem kekebalan tubuh. Stres kejiwaan memiliki dampak penting pada sistem kekebalan dan berujung pada kerusakannya. Saat dilanda stres, otak meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh, yang melemahkan sistem kekebalan. Atau dengan kata lain, terdapat hubungan langsung antara otak, sistem kekebalan tubuh dan hormon. Para pakar di bidang ini menyatakan:

Pengkajian terhadap stres kejiwaan atau stres raga telah mengungkap bahwa selama stres berat berlangsung terjadi penurunan pada daya kekebalan yang berkaitan dengan keseimbangan hormonal. Diketahui bahwa kemunculan dan kemampuan bertahan dari banyak penyakit termasuk kanker terkait dengan stres.

Singkatnya , stres merusak keseimbangan alamiah dalam diri manusia. Mengalami keadaan yang tidak normal ini secara terus-menerus akan merusak kesehatan tubuh, dan berdampak pada beragam gangguan fungsi tubuh. Para ahli menggolongkan dampak buruk dari stres terhadap tubuh manusia dalam sejumlah kelompok utama sebagaimana berikut:

–       Cemas dan Panik: Suatu perasaan yang menyebabkan peristiwa tidak terkendali.

–       Mengeluarkan keringat yang semakin lama semakin banyak

–       Perubahan suara: Berbicara secara gagap dan gugup

–       Aktif yang berlebihan: Pengeluaran energi yang tiba-tiba, pengendalian diabetik yang lemah

–       Kesulitan tidur: Mimpi buruk

–       Penyakit kulit: Bercak, bintik-bintik, jerawat, demam, eksim dan psoriasis .

–       Gangguan saluran pencernaan: Salah cerna, mual, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan

–       Penegangan otot: gigi yang bergesekan atau terkunci, rasa sakit sedikit tapi terus-menerus pada rahang, punggung, leher dan pundak

–       Infeksi berintensitas rendah: pilek, dsb.

–       Migrain

–       Denyut jantung dengan kecepatan yang tidak wajar, rasa sakit pada dada, tekanan darah tinggi

–       Ketidakseimbangan ginjal, menahan air

–       Gangguan pernapasan, pendek napas

–       Alergi

–       Sakit pada persendian

–       Mulut dan tenggorokan kering

–       Serangan jantung

–       Melemahnya sistem kekebalan

–       Pengecilan di bagian otak

–       Perasaan bersalah dan hilangnya percaya diri

–       Bingung, ketidakmampuan menganalisa secara benar, kemampuan berpikir yang rendah, daya ingat yang lemah

–       Rasa putus asa yang besar, meyakini bahwa segalanya berlangsung buruk

–       Kesulitan melakukan gerak atau diam, memukul-mukul dengan irama tetap

–       Ketidakmampuan memusatkan perhatian atau kesulitan melakukannya

–       Mudah tersinggung dan sangat peka

–       Bersikap yang tidak sesuai dengan akal sehat

–       Perasaan tidak berdaya atau tidak berpengharapan

–       Kehilangan atau peningkatan nafsu

 

Dampak stres pada wanita boleh jadi berbeda dengan laki-laki. Pada wanita, stres berdampak kelelahan, rambut rontok, kulit kusam, insomnia (gangguan tidur), gangguan siklus menstruasi, gairah seks yang rendah, juga jarangnya mencapai orgasme saat hubungan intim. Sudah banyak bukti yang menunjukkan, stres yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko terhadap masalah yang lebih serius seperti gangguan tekanan darah dan penyakit jantung.

Temuan terbaru para ahli mengungkapkan bahwa stres pada wanita ternyata menyebabkan penimbunan lemak di daerah perut. Menurut Elissa Epel, Ph.D., salah seorang peneliti, penimbunan lemak tersebut disebabkan oleh tingginya hormon stres dalam tubuh. Contoh, seseorang yang mengalami stres dengan tingkat hormon kortisol tinggi, akan mengalami penumpukkan lemak di rongga perut atau sering disebut visceral fat. Lemak jenis ini cukup berbahaya, karena dianggap sebagai penyebab terbesar penyakit jantung, tekanan darah tinggi, stroke, serta diabetes.

Namun demikian, tidak semua stres yang dialami itu mengeluarkan kortisol dalam jumlah yang tinggi. Artinya, banyak faktor di balik tingginya kortisol sebagai penyebab bertimbunnya lemak di sekitar perut. Selain stres, keadaan yang mengganggu hormon adalah merokok, mengonsumsi alkohol. Malasnya berolah raga pun disebut-sebut sebagai biang keladinya. Sebaliknya, tidur yang cukup serta rajin berolah raga menurut Epel c.s. ampuh menurunkan tingkat kortisol serta lemak di sekitar perut.

Sebuah studi terhadap 5.872 wanita hamil di Denmark menunjukkan, perempuan yang berada dalam tingkat stres sedang hingga tinggi pada trimester terakhir, punya kans 1,2 – 1,75 kali lebih besar untuk melahirkan prematur.

 

Proses Terjadinya Stres

  1. Seorang yang dilanda ”stres”, tubuhnya akan memanfaatkan zat gizi ekstra dibandingkan dengan ketika seorang dalam kondisi normal.
  2. Tanpa disadari cadangan energi yang tersimpan di dalam tubuh dapat terkuras habis dan pada saat ini terjadi yang disebut ”kelelahan mental” atau ”stres”.
  3. Tahap selanjutnya adalah berat badan turun drastis (kurus pada umumnya) atau over weight (kasus khusus karena makan terus tidak peduli lagi pada efek negatif makanan)
  4. Efek yang umum terjadi adalah  kehabisan energi, stamina terkuras dan daya tahan tubuh melemah sehingga penyakit dengan mudah masuk ke dalam tubuh kita.

Penyakit akan lebih mudah masuk bila mana orang tersebut sudah mempunyai ”bakat” menderita penyakit misalnya maag, migren atau hypertensi. Stres dapat memicu / merangsang munculnya semua penyakit. Dalam keadaan stres, sel-sel radikal bebas yang tadinya ”tidur tenang” jadi terangsang untuk tumbuh dan berkembang biak. Tidak heran jika orang yang menderita stres terlihat lebih tua dari umur sebenarnya. Hal ini terjadi karena salah satu efek negatif radikal bebas adalah mempercepat proses penuaan dini. Pecahnya radikal bebas juga dapat memicu pertumbuhan sel-sel kanker sehingga mempercepat penyakit menuju stadium lanjut.

  1. Akibat yang lebih parah adalah  stres dapat mempengaruhi ”kejernihan” pola berpikir seseorang karena otak sudah tidak mempunyai cukup energy untuk bekerja normal (bayangkan hp yang low bat – sering error). Dalam keadaan ini orang dapat mengalami perasaan mulai dari resah, gelisah, cemas, perasaan takut sampai pada ”frustasi berat” / ”putus asa”.

 

Faktor – faktor Psikologis yang mengurangi Stres

  1. Cara Coping Stres : ada dua yakni : coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) dan coping yang berfokus pada masalah (emotion-focused coping).
  2. Harapan akan Self-Efficacy : kita mungkin dapat mengelola stres dengan lebih baik, termasuk stres karena penyakit, apabila kita percaya diri dan yakin bahwa kita mampu mengatasi stres (memiliki harapan yang tinggi).
  3. Ketahanan Psikologis : merupaka sekumpulan trait individu yang dapat membantu dalam mengelola stres yang dialami.
  4. Optimisme : dalam studi tentang hubungan antara optimisme dan kesehatan didapatkan bahwa orang yang memiliki optisme yang lebih tinggi, cendrung mengalami kegaja fisik yang lebih sedikit, seperti kelelahan,pusing, pegal – pegal, dan penglihatan yang kabur. Dengan kata lain dapat kita simpulkan  bahwa orang yang lebih optimis maka ia lebih sehat.
  5. Dukungan Sosial : sebuah studi menunjukkan bahwa semakin luasnya jaringan kontak sosial yang dimiliki seseorang berhubungan dengan semakin besarnya resistansi/ketahanan terhadap berkembangnya infeksi ketika seseorang terkena flu biasa. Kontak sosial yang luas membantu melindungi sistem kekebalan tubuh terhadap stres.
  6. Identitas Etnik : memiliki dan memelihara kebanggan terhadap identitas etnik dan warisan budaya dapat membantu dalam menghadapi stres yang terkait rasisme.

 

Cara Mengatasi Stres

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, ada baiknya kita menghindari stres dengan cara sebagai berikut:

  1. Energi positif

Keluarkan energi positif di dalam diri kita dengan selalu berpikiran optimis dalam menghadapi setiap permasalahan. Sadarilah bahwa dalam setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Sebaiknya jangan bersikap terlalu keras pada diri sendiri karena setiap rencana yang telah kita buat belum tentu dapat tercapai. Bersikaplah lebih fleksibel sehingga kita dapat lebih menikmati indahnya hidup.

  1. Menjaga kesehatan

Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Jagalah kesehatan tubuh kita dengan olah raga yang teratur, tidur yang cukup, dan konsumsi makanan yang bergizi. Olah tubuh dapat merangsang keluarnya endorphine, yaitu zat yang membuat tubuh merasa nyaman, sehingga orang yang berolahraga teratur biasanya tampak sehat dan bahagia. Olah raga teratur sebaiknya didukung juga dengan pola makan yang sehat dan istirahat yang baik.

  1. Kendalikan emosi

Cara termudah untuk mengendalikan emosi adalah dengan minum air putih yang banyak saat emosi mulai memuncak. Air putih dapat menenangkan emosi dan membantu kita untuk berpikir lebih jernih. Emosi yang berlebihan justru dapat menjadi memicu terjadinya stres. Bersikaplah lebih sabar dan berpikir lebih luas agar dapat memahami setiap masalah dengan jernih.

  1. Istirahat sejenak

Luangkan sedikit waktu untuk beristirahat. Gunakanlah akhir pekan dengan baik, khususnya untuk memanjakan diri dan keluar dari rutinitas sehari-hari. Berkumpul bersama keluarga atau teman-teman merupakan salah satu cara untuk menumbuhkan energi positif serta semangat baru.

  1. Terbuka

Jangan pendam masalah kita sendirian. Seperti ada pepatah yang mengatakan, that?s what friends are for. Dengan berbagi cerita kepada orang yang kita percaya, maka beban kita akan terasa lebih ringan dan tidak mengendap di dalam pikiran.

  1. Tingkatkan rasa humor

Secara klinis, humor dapat digunakan untuk mengatasi rasa stres. Di Indonesia, sekarang ini sudah banyak tersedia terapi tertawa yang biasanya dilakukan oleh sekelompok orang minimal 5 orang, selama 5 sampai 10 menit. Humor memang perlu dilakukan agar syaraf tidak terlalu tegang dan tubuh dapat berelaksasi.

  1. Lakukan Hobby (atau hal-hal menyenangkan positif menurut kita) karena hobby dapat membuat kita rilex dan melupakan ”sejenak” rutinitas atau masalah yang ada misalnya olah raga, mendengarkan musik, masak, jahit, ngutak ngutik mobil/motor /sepeda dll.
  2. Jangan terpaku pada ”rutinitas”, berani berubah, tidak malu dan ragu. Hal sederhana yang dapat dilakukan adalah mulai dari menata ulang meja kerja, ruang tidur, rumah, menempuh route yang berbeda ke kantor, sekali waktu makan siang/malam di mall sekaligus cuci mata, creambath di salon, pijat reflexi, berendam di air hangat dll yang  merupakan salah satu cara untuk memperlancar aliran darah dan meredakan ketegangan. Selain itu bila ada rejeki lebih kita  perlu juga melakukan penggantian barang-barang lama kita misalnya mengganti hp dengan model baru, ganti velg racing / tambah accesories pada kendaraan kita atau sedikit merubah penampilan kita dengan sepatu baru, model rambut dll (secara phsikologi hal ini membawa ”semangat” baru)
  3. Murah senyum, tertawa lepas, bersenandung /  bernyanyi dan bersosialisasi dengan teman / lingkungan (perlu teman curhat, tidak memendam masalah sendiri). Kegiatan semacam ini dapat merangsang endorphine dan serotonin dalam tubuh sehingga otak lebih tenang.
  4. Yang terakhir tetapi merupakan hal terpenting adalah Beribadah dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa tidak pada masa sulit saja, berbuat baik kepada semua orang, bersyukur terhadap setiap hasil usaha kita, baik yang berhasil maupun yang tidak berhasil, mensyukuri rejeki dll.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s